Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Nasehat Sari Hassan


__ADS_3

Davina menatap Kareem yang sedang memandang dirinya. Sebagai seorang wanita dewasa, usianya juga sudah 25 tahun, pasti ingin memiliki kehidupan berumahtangga seperti para sepupunya. Kini ada seorang pria yang terang-terangan ingin meminang dirinya selain Ali Khan, membuatnya dilema.


"Dav, apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Kareem sambil menyingkirkan anak rambut Davina.


Davina tidak menjawab. Kareem tetap menatapnya dengan wajah bertanya tapi dia mau menunggu gadis itu bercerita sendiri.


"Kita makan dulu." Davina lalu menyuap nasinya. Kareem penasaran tapi dia menurut permintaan Davina.


Keduanya pun makan dalam diam meskipun sesekali Kareem melirik gadis yang tampak tidak nyaman itu. Ada apa?


***


Davina membereskan semua peralatan makan bekas mereka makan, hanya tinggal dua gelas yang berisikan es teh yang sudah mencair esnya.


Kareem duduk menyamping dan kini dia hanya mengenakan kaus putih setelah jaketnya dia lepaskan. Wajah tampannya menatap ke arah Davina meminta penjelasan.


"Aku... Ada pria yang menyukai diriku dan kami bisa dikatakan dekat hampir enam bulan terakhir ini. Dia sama dengan dirimu, rekan bisnis mas Arjuna, namanya Ali Khan, asal India." Kareem masih menyimak. "Mantan ku, Lee Ye-jun secara tidak sengaja bertemu dengan ku saat acara pernikahan kakak iparnya mas Bara."


Davina mengangkat kepalanya dan berusaha agar pengalaman buruk itu diingatnya lagi. "Ye-jun membiusku dan melecehkan aku secara sek**sual. Beruntung Ali Khan disana menolong ku."


Tangan Kareem mengepal. Kurang ajar pria itu!


"Sejak saat itu, Ye-jun selalu menguntit ku dan aku sampai harus bersembunyi darinya di apartemen milik Ali. Hingga keluargaku bekerja sama dengan DEA dan Miami Dade Police untuk menangkap Ye-jun beserta anak buahnya karena dia memiliki daftar kejahatan yang panjang."


"Kamu masih mencintai pria Korea itu?" tanya Kareem penasaran.


"Dulu iya, sekarang tidak."


"Bagaimana dengan Ali Khan?"


"Aku tidak tahu."


Kareem menaikkan sebelah alisnya. "How? Apakah kamu mencintainya?"


"He saved my life. Dia sudah meminta ku pada papaku. Tapi...dua bulan terakhir ini dia ke Mumbai dan sudah dua Minggu ini dia tidak memberikan kabar. Out of the blue, siang tadi bilang akan ke Jakarta dan meminta untuk dinner denganku malam Minggu besok."


Ingin rasanya Kareem melarang Davina pergi tapi siapa lah dirinya yang tidak ada hubungan apa-apa dengan gadis itu.


"Apakah selama dua Minggu terakhir ini dia tidak pernah kirim pesan wa, email atau SMS gitu?"


Davina menggeleng.


"Dav, jika seorang pria benar-benar mencintai wanitanya, sesibuk apapun pasti akan memberi kabar setiap hari. Tidak ada alasan tidak memberi kabar. Aku sendiri begitu saat masih bersama Maryam. Sesibuk apapun, aku selalu memberi kabar." Wajah Kareem menjadi sendu saat membicarakan almarhum istrinya.

__ADS_1


"Tapi kita tidak boleh suudzon tanpa mengetahui alasan sebenarnya" Kareem menatap Davina lembut.


"Iya..." ucap Davina pelan.


"Do you love him?"


"I don't know..."


"Just follow your heart, Dav. Berdoalah di sepertiga malam agar hatimu tenang" senyum Kareem.


Davina mengangguk.


***


Kareem menundukkan wajahnya diatas meja. Damn it! Davina masih meragu. Saat ini Davina sudah pulang dijemput oleh pengawalnya, Yono.



"Kareem..." panggil Sari Hassan.


"Ibu" senyum Kareem sambil berdiri dan berjalan menuju tempat tidur ibunya.


"Tadi ada Davina ya nak?"


"Tolong tempat tidurnya dinaikkan, nak" pinta Sari Hassan.


Kareem pun mematuhi permintaan ibunya dan sekarang posisi Sari Hassan setengah duduk.


"Mau yang srikaya nak." Kareem pun mengambilkan dua potong roti kekinian itu. "Hhhmm enak, apalagi yang membawakan calon menantu..."


"Uhuk...uhuk... uhuk!" Kareem tersedak roti yang sedang dikunyahnya.


Sari tertawa melihat putranya gugup.


"Bu... janganlah begitu" ucapnya dengan suara serak setelah menghabiskan segelas air putih.


"Tapi ibu ingin gadis itu menjadi menantu ibu."


Kareem menatap ibunya. "Apa ibu mendengar pembicaraan kami?"


"Tentu saja ibu dengar dan ibu mengintip bagaimana kamu gombal dengan Davina." Sari Hassan menatap putranya. "Gadis itu masih di persimpangan perasaan, Kareem. Dia ada beban hutang nyawa dengan pria bernama Ali tapi ibu lihat dia tidak ada semangat disana saat menyebut nama pria itu. Berbeda saat dia membicarakan Ye-jun, ada mata berpijar sedikit disana dan tampaknya pria jahat itu mampu menembus isi hati Davina hingga dia ada kesulitan menerima pria baru."


"Ibu, bagaimana ibu tahu Davina seperti itu?"

__ADS_1


"Kareem, ibu sudah lima puluh tahun hidup di dunia, sudah mengalami asam garam manis pahit kehidupan. Bertemu dengan banyak orang, mengetahui karakter masing-masing dan ibu seorang wanita." Sari tersenyum. "Dan ibu tahu rasanya jatuh cinta."


"Apa yang harus Kareem lakukan Bu?"


"Kamu mau menikungnya? Lakukan seperti yang kamu sarankan ke Davina. Doa di sepertiga malam, dan kamu dekati Davina. Gadis itu butuh kepastian, perhatian dan atensi hangat. Lakukan seperti kamu lakukan ke ibu. Simpel attention is meaning a lot for her."


Kareem melongo menatap ibunya. How my mom knows that?


"Kamu tahu apa yang membuat ibu jatuh cinta pada ayahmu? Perhatiannya. Ayahmu tidak pernah lupa tanggal kami bertemu, jadian, menikah dan ulang tahun ibu dimana banyak pria yang tidak memperdulikan itu."


Kareem mendengarkan semua cerita cinta kedua orangtuanya. Faiz Hassan adalah pria yang romantis dan itulah yang membuat ibunya jatuh cinta.


"Bersabarlah dengan Davina, Kareem. Dia gadis yang introvert dan dia mau bercerita kepadamu, berarti dia ada rasa percaya padamu. Dia berbeda dengan keluarganya yang lain..."


"Davina wanita yang rapuh, Bu. Bisa dilihat bagaimana semua kakak-kakaknya berusaha melindunginya" potong Kareem.


"Dia tidak sekuat yang tampak sebenarnya" senyum Sari. "Wanita itu butuh support yang nyata. Davina memang mendapatkan dari keluarganya tapi ada di dalam dirinya dia ingin mendapatkan support dari pria yang menarik hatinya."


"Aku kira semua keturunan klan Pratomo akan kuat seperti biasanya." Kareem menatap foto Davina bersama keluarganya.


"Tidak semua bisa kuat karena masing-masing memiliki kepribadian berbeda. Davina kuat di bisnis, pekerjaan tapi sebagai wanita dia rapuh, Kareem. Itu yang menjadi kelemahannya dan pria psycho memanfaatkannya. Ibu berpesan, jika kamu memang mencintainya, cintailah seperti kamu mencintai ibu. Karena jika kamu berani menyakitinya, sama saja kamu menyakiti ibu."


Kareem mengangguk. "Bu, sudah jam dua belas malam, ayo istirahat."


"Ibu kelamaan tidur. Bosan" ucap Sari Hassan sambil manyun.


"Ya sudah, aku tidur dulu ya Bu." Kareem mencium pipi ibunya.


"Goodnight sayang."


Sari melihat ponsel Kareem yang berubah wallpaper nya menjadi foto Davina.


Semoga kalian memang berjodoh.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2