Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Bonchap - Safira Pratomo


__ADS_3

"Memang ada apa dengan mama saya, Oom?" tanya Safira.


"Tidak apa-apa. Dimana mama kamu?" tanya Bagas.


Safira mengedarkan pandangannya dan melihat sang mama sedang ngobrol dengan Opa Javier.


"Itu mama sama Opa" tunjuk Safira yang membuat Bagas manyun. Haddeeeehhh! Kok ya ada tuan Javier.


"Ya sudah aku kesana dulu" ucap Bagas.


"Oom mau apa sama mama saya? Mau bilang kalau saya bikin jas mahal Oom kena daging kambing? Aduh jangan dong Oom! Bisa diomeli saya Oom" cerocos Safira sambil mengikuti Bagas yang jalan cepat ke arah Haura Randall Pratomo.


Ya ampun! Cewek satu ini cerewetnya! Cantik sih tapi tuh bibir nyerocos terus. Bagas merasa pusing mendengar ocehan anak remaja itu.


"Safira!"


"Ya Oom?" Safira mengehentikan langkahnya sebelum dirinya menubruk punggung lebar Bagas.


"Kamu umur berapa sih?"


"Ih si Oom. Tidak sopan tanya umur sama wanita" cebik Safira.


Bagas tertawa. "Wong kamu itu belum jadi wanita, baru anak remaja saja lho." Bagas melanjutkan jalannya.


"Aku sudah 20 tahun, Oom. Bukan remaja lagi!" desis Safira yang terdengar oleh Bagas.


Bagas mengehentikan langkahnya dan kali ini Safira tidak sempat berhenti dan menubruk punggung liat Bagas.


"Yakin kamu sudah 20 tahun?" selidik Bagas ke arah belakang saat Safira mengusap hidungnya yang mancung.


"Oom! Kalau mau berhenti bilang dong! Hidung Fira bisa pesek ini!" omel Safira.


"Hidungmu tidak akan pesek!" balas Bagas.


"Oom nyebelin!" umpat Safira.


Bagas mengacuhkan umpatan Safira dan tetap menuju tempat Haura dan Javier sedang mengobrol.


"Dokter Haura" sapa Bagas. "Tuan Javier."


"Lho? Bagas Hadiyanto? Apa kabar nak?" sapa Haura ramah.


"Lho Haura. Kamu kenal Bagas?" tanya Javier bingung.

__ADS_1


"Kenal lah. Aku yang mengobati Yudistira sewaktu dia di New York sebelum kejadian mengenaskan itu." Haura menatap Javier. "Bagas dan pak Kresno waktu itu kan mengurus jenazah Yudistira dan menemukan obat untuk nyeri kepala dia. Keduanya mengetahui bahwa aku adalah dokternya Yudistira."


"Kamu sempat kerja di New York ya sebelum pindah ke Singapore kumpul sama Nathan lagi" gumam Javier.


"Iya dan Pak Kresno serta Bagas banyak bertanya soal kondisi Yudistira makanya aku kenal" ucap Haura.


"Saya berterima kasih pada dokter Haura yang sudah berusaha mengobati mas Yudi." Bagas menatap Haura dan Javier bergantian.


"Sayang, umur Yudistira tidak panjang" ucap Haura sendu.


"Ngomong-ngomong, itu jasmu kenapa?" tanya Javier melihat noda di jas Bagas.


"Oh ini. Kena kambing guling" senyum Bagas sambil melirik ke arah Safira yang baru saja datang.


"Safiraaa" Haura menatap putrinya. "Kamu kan yang bikin perkara? Bikin jasnya Bagas kena noda."


Safira melongo. "Kok mama tahu?" cicit Safira dengan wajah panik.


"Tahu lah! Mama lihat kok! Kamu tanggung jawab ya sama jas nya Bagas."


"Iya ma. Oom nanti aku minta jasnya buat di dry clean." Wajah Safira yang imut itu tampak manyun.


"Oom?" seru Haura dan Javier bersamaan.


"Aku masih 28 tahun Safira!"


Safira melongo. "Se mas Rama? Tapi kok lebih tua ya kelihatannya" gumam gadis cantik itu.


Rasanya Bagas ingin menciwel pipi chubby gadis itu.


"Kamu sudah minta nomor ponsel mas Bagas belum Fira?" tanya Haura.


"Nomorku sudah disimpan Oom Bagas."


"Bagas. A word. Haura, Safira bentar ya" ajak Javier ke pria yang sedang melotot ke arah Safira. Bagas pun mengikuti Javier ke sebuah meja kosong.


"Apakah kamu ada maksud mendekati Safira?" tanya Javier tanpa basa-basi.


"Tidak, tuan Javier" jawab Bagas apa adanya. "Sebab saya masih kesal jas saya terkena noda."


"Gas, saya tidak tahu apakah kamu ada jodoh dengan keluarga kami atau tidak. Jika kamu bisa konsisten dengan hijrah kamu dan memang kamu ada jodoh dengan salah satu cucu perempuan saya, mungkin kami akan berubah pikiran."


Bagas tersenyum. "Tuan Javier, saya tahu saya sulit untuk lolos dari screening kalian semua karena masa lalu saya. Soal hijrah, insyaallah saya tetap Istiqomah dan melakukannya karena kesadaran saya sendiri dan demi kebaikan saya sendiri."

__ADS_1


"Bagus. Insyaallah kamu akan diberikan jodoh yang terbaik dari Allah SWT entah siapapun itu."


"Aamiin. Terimakasih tuan Javier."


***


Freya menatap wajah suaminya yang menggemaskan dengan suit hitam putih...tanpa dasinya. Entah kemana itu dasinya, Freya tidak peduli, yang penting sudah sah untuk dipelukable, cipokable dan sentuhable.


Bayangan dirinya melakukan boing boing diatas tubuh Haris sudah membuat dirinya salting dan travelingable kemana-mana.


"Freya?" panggil Haris yang tahu istrinya lagi tidak fokus. "Kamu lihat penampakan?"


Lihat lah! Penampakan tubuh adorable yang sudah halal gue apa-apain! Duh, gak sabar ke apartemen si cumi halalku!


"Freyaaaa" desis Haris gemas melihat istri sintalnya yang hari ini mengenakan gaun pengantin yang lebih sopan dari Falisha yang memang seksih tapi entah kenapa Haris lebih suka gaun milik Freya.


Apa karena gue halalnya sama Freya ya jadi seperti pakai kacamata kuda kagak lihat yang lain. Wong satu ini ajah belum gue apa-apain dan gak habis-habis, udah melirik yang lain. Apa kata dunia? Bisa-bisa beneran gue digantung di pohon beringin oleh tuan Javier.


"Apa Haris sayang?" goda Freya yang membuat pria itu merinding.


Sabar... Sabaaarrr.


"Jadi kan runaway bride ke apartemen aku?" tanya Haris.


"Jadilah! Yang benar saja gak jadi!" protes Freya.


"Bagus!" seringai Haris sambil mencium pipi Freya.




***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Update nanti malam soalnya mau unboxing termasuk Summer. Jadi sesiangan ini ga update dulu.


Ohya, Duda Untuk Davina mau tamat tapi aku udah siapin kok meskipun agak flashback.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2