Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Terkapar


__ADS_3

Ali masih harus menetralisir nafasnya yang rasanya menghilang setelah dadanya tadi seperti terkena hantaman bola meriam. Benar-benar rasanya menyesakkam dan nyawanya mirip tercabut dari raganya.


Netra coklatnya masih harus memfokuskan diri dan yang kabur. Rasanya aku mau pingsan. Dia hanya mendengar suara teriakan Davina saat peluru itu mengenai tubuhnya. Davina. Seketika Ali berusaha untuk bangkit.


"Whoo... Whoo. Sabar Al!" sebuah suara terdengar di telinganya. "Gimana rasanya terkena peluru?"


Ali berusaha bangkit. "Da...vi...na" suaranya terdengar serak.


"Ji, tampaknya rusuknya kena deh!" ucap seseorang lagi. Ali berusaha memfokuskan suara orang satunya.


"Kak Fuji! Gimana Ali?" suara Davina terdengar di telinganya.


"Dia akan hidup cuma ya harus dibawa ke rumah sakit."


Ali merasa tubuhnya diangkat oleh dua orang pria dan berjalan keluar resort.


"Aku tidak apa-apa" bisiknya pelan. "Hanya nyeri di dada." Dirinya sudah bisa fokus dan kembali.


"No, Al, kamu harus dibawa ke rumah sakit. Kayaknya rusukmu ada yang retak" ucap Nathan. Ali melihat kiri dan kanannya terdapat Nathan dan Fuji Al Jordan. Ketiganya keluar dan Ali bisa melihat bagaimana para sepupunya Davina tampak memakai baju hitam-hitam ala ninja menatap dirinya kasihan dan... geli.


"Bisa ambruk juga kamu Al" ledek Arjuna yang berdiri bersebelahan dengan Ashley. Ali juga bisa melihat Bara, Arya, Rhett, Marco, Mario, Ezra, Iwan dan Aidan disana. Semuanya tampak badass. Benar-benar baik keturunan Pratomo ataupun menantunya harus bisa sama mengerikan.


"Thanks Al, jadi tameng Davina" cengir Aidan.


"Aku hanya bisa itu" ucap Ali sebelum masuk ke dalam mobil milik Fuji.


Davina pun memeluk saudaranya satu persatu.


"Terimakasih" ucap gadis itu yang mendapatkan pelukan dan ciuman di pelipisnya dari Arjuna.


"Hei, kamu adik kami. Siapa yang mengganggu, kita hajar lah. Sayang, si rusuh nggak bisa ikut karena bininya mau lahiran" kekeh Arjuna.


"Rugi Levi. Dia yang atur strategi sama Oom Javier, malah dia yang ga bisa ikut" kekeh Aidan.


"Sudah, kamu temani Ali ke rumah sakit." Marco mengusap kepala adik iparnya.


***


Davina memandang Ali yang masih memegang dadanya yang masih terasa nyeri.


"Maaf Al" bisik Davina.


"It's okay, Vina. Hanya...aku tidak menyangka begini rasanya terkena peluru" senyum Ali menenangkan gadis itu.


"Tapi kamu berani lho Al, maju melindungi Davina sebelum peluru itu mengenai dirinya." Nathan menoleh ke belakang. ( Sorry aku revisi soalnya salah ketik. )


"Aku hanya reflek" jawab Ali. "Tidak akan kuijinkan siapapun menyakiti Davina" ucapnya tegas.


Fuji dan Nathan hanya saling memandang dan mata hazel Fuji menatap adiknya yang membalas dengan tatapan yang tidak bisa diprediksi.


***


Hasil pemeriksaan dua tulang rusuk Ali mengalami retak dan harus dirawat di rumah sakit selama satu Minggu untuk pemulihan.

__ADS_1


Ali hanya manyun mendengar harus terdampar di rumah sakit.


"Sabar Al, resiko menjadi tameng itu begini. Beruntung kevlar mu benar-benar bagus. Dulu aku pernah kena tembak gara-gara ada pasien gila, empat tulang rusukku patah. Parah bener!" kekeh Fuji tanpa beban.


"Apa kalian selalu seperti ini? Hidup dengan aksi heboh?" tanya Ali penasaran.


"Well, kami sudah biasa melihat keluarga kami seperti ini jadi biasa saja." Fuji memeriksa hasil Rontgen Ali. "Setidaknya ini nggak separah aku sih."


"Levi lagi stress" lapor Nathan yang baru saja menengok sepupunya.


"Kenapa?" tanya Davina.


"Yanti galaknya keluar dan Levi jadi tempat pelampiasan" kekeh Nathan.


"Tapi anak itu memang patutnya mendapatkan istri yang galak dan bisa menghandle kegesrekannya" cengir Nathan.


"Aku nggak kebayang kayak apa anaknya dia besok. Apakah bisa anteng atau separah babeh dan Opanya?" Fuji hanya menggelengkan kepalanya.


"Ji, elu kan sama saja kalau soal gesrek!" komentar Nathan.


"Tapi parah dia!"


***


Davina tetap ngeyel tetap menemani Ali Khan di rumah sakit sementara Yono, datang membawakan baju ganti milik keduanya dari kamar masing-masing.


"Non Davina, kalau mau bersih-bersih dulu Monggo lho. Saya yang akan menjaga tuan Khan." Yono menatap nonanya yang masih melihat Ali.


Setelah Davina masuk ke kamar mandi, Ali menatap Yono. Pria berwajah seram itu selalu lembut jika bersama nonanya, nona yang sudah dilindunginya sejak dua tahun lalu. Boleh dibilang Davina seperti adiknya sendiri.


"Yono" panggil Ali.


"Ya tuan Khan?" Yono mendekati Ali Khan yang terbaring di tempat tidur.


"Berapa lama kamu menjadi pengawal Davina?"


"Saya sudah dua tahun ini mengawal nona Davina, tuan Khan."


"Apakah dia mempunyai kekasih sebelum ini?"


Yono menatap pria India yang menjadi rekan bisnis Bossnya, Arjuna. Yono memang anak buahnya Arjuna dulu sebelum dia kirim ke Jakarta untuk mengawal Davina.


"Setahu saya belum ada tuan. Selama saya mengawal nona Davina, dia hanya berkumpul dengan para sepupunya."


Ali pun mengangguk.


***


Davina tampak sudah segar setelah mandi dan dia memakai kaus longgar bewarna biru navy, celana jeans panjang serta wajahnya bebas make up.


Gadis itu dengan santainya menyimpan SiG dan PPKnya ke dalam tas kopernya dan Ali hanya melongo melihat Davina juga meletakkan sebuah pisau disana.


"Tenang Al, itu pisau buat masak, bukan nusuk orang" ucap Davina cuek.

__ADS_1


"Kamu sejak umur berapa belajar menembak?"


Davina duduk di sebelah Ali dan mulai membuka bento yang sudah dibawakan Yono.


"Kamu mau makan?" tanya Davina tidak menjawab pertanyaannya.


"Belum terlalu lapar. Jawab dulu pertanyaanku, Vina." Ali menatap dalam ke mata hazel itu.


"Sejak aku berusia enam tahun." Davina memasukkan nasi dan potongan ayam teriyaki ke dalam mulutnya.


"Apakah wajib di kalangan keluarga kalian?"


"Wajib dan harus." Davina menatap Ali. "Kenapa? Insecure?"


Ali tertawa tertahan karena rusuknya terasa sakit. "Tidak. Aku malah semakin semangat membuktikan pada ayahmu bahwa aku pantas untukmu. Ngomong-ngomong, aku sangat menikmati kejadian semalam."


"Kejadian yang mana?" tanya Davina bingung.


"Semalam aku memelukmu di tempat tidur sebelum pria itu masuk ke dalam resort."


Pipi Davina merona. "Itu akting Al."


"Aku tidak merasa bahwa aku berakting, Vin karena aku benar-benar menikmatinya setiap saat meskipun keluargamu melihatnya." Ali Khan menatap mata hazel Davina. "Aku benar-benar mencintaimu, Davina. Sangat."


Davina menatap Ali Khan.


Tapi aku tidak mencintaimu, Ali.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Maaf telat soalnya tadi urus si Kara dulu


Ohya kalau mau lihat visual generasi Pratomo, aku kasih deh meskipun ada di Ig ku hana_reeves_nt



Generasi Kedua. Maaf lupa si Jammie Arata



Generasi ketiga.



Generasi keempat.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2