Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Bonchap - Find The Best


__ADS_3

Freya berjalan menuju ruangan sepupunya Arimbi yang berada di lantai empat dengan langkah lebar-lebar. Wajah cantiknya tampak jutek merasa kesal karena Opa yang saudara kandung dengan Oma Valora, Omanya sendiri, makin tua makin bikin kesal. Mentang-mentang si Sha udah sama Aji, sekarang aku yang dikerjain Opa. Apa aku telpon Oma Val saja ya? Jangan-jangan mereka berdua janjian cari jodoh buat aku! Freya mengetuk pintu di ruang divisi desain.


Setelah mendengar pintu diketuk, seorang pria berusia sekitar dua puluhan membuka pintu dan mempersilahkan Freya masuk.


"Mbak Arimbi, aku Jumatan dulu ya. Mbak Freya, permisi" pamit pria itu.


"Oke Bram. Eh, kalau pulang, titip beliin tahu gejrot ya tapi jangan pedas" ucap Arimbi.


"Siap mbak." Pria bernama Bram itu pun keluar dari ruangan.


Freya langsung duduk di depan meja kerja Arimbi yang penuh dengan desain dan layout.


"Kamu nggak maksi Frey?" tanya Arimbi sambil ngemil jajanan pasar yang dibelikan Bima. "Mau? Tadi aku pengen jajanan pasar macam-macam terus dibeliin mas Bima dianterin sama pegawainya kesini karena mas Bima ada urusan dengan Oom Radit soal toko emasnya." Arimbi memberikan piring yang penuh. dengan jajanan.



"Eh ada klepon. Ambil ya" senyum Freya.


"Ambil saja. Minuman ada tuh disana" ucap Arimbi sambil menunjuk meja penuh dengan botol air mineral.


"Nggak ah, teh saja. Ada kan teh?"


"Ada tuh di meja pantry. Bikin saja, wasgitel kok" jawab Arimbi. Ruang divis desain memang sedang kosong karena penghuninya sedang Jumatan yang pria sedangkan yang wanita makan siang.


Arimbi sendiri memilih di ruangannya karena masih harus mengurus desainnya lagipula badannya agak sedikit lelah meskipun dia baru hamil dua bulan.


"Jangan-jangan anakmu kembar lagi Rimbi. Perutmu udah kelihatan buncit gitu" komentar Freya saat melihat sepupunya berjalan mengambil botol air mineral.


"Baru mau cek besok. Soalnya kemarin belum jadi periksa."


"Periksa sama mama sendiri ya enak Rimbi. Apalagi Tante Rani kan juga dokter Obgyn kan?" ucap Freya sembari memakan klepon.


"Hu um. So, apa yang terjadi antara kamu dan Haris?" goda Arimbi.


"Payah! Cowok penakut dia!" cebik Freya.


"Maksudnya?" Arimbi tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Freya soal kejadian semalam. "Kalau aku pun akan pingsan juga Frey karena kaget."


"Tapi kamu kan cewek Rimbi, ini?"

__ADS_1


"Opa Javier menjodohkan kamu dengan Haris?" tanya Arimbi yang dijawab anggukan Freya. "Selain penakut soal Casper, tapi Haris pemberani lho sebenarnya. Kan aku satu kantor." Arimbi memajukan tubuhnya. "Yang naksir dia banyak lho" bisik Arimbi.


"Haaaahhhh...nasib jadi jomblo, dijodohkan sana sini."


Arimbi tertawa. "Kalau kamu mau mantap, cobalah berkencan dengan keduanya."


"Keduanya?" Freya menyipitkan matanya.


"Haris dan Bagas. Jangan dikira aku tidak tahu kalau Bagas naksir kamu setelah dia ditolak Falisha." Arimbi tersenyum.


"Jadi menurutmu, aku coba jalan bareng sama dua orang itu?"


"Kalau Bagas mengajak makan siang atau pergi ke kamu, iyain saja. Nanti kamu kan bisa menilai orang ini gimana. Begitu juga dengan Haris. Kita sebagai wanita, berhak kok memilih siapa yang akan menjadi pendamping kita selamanya. Menikah itu bagaikan berjudi, bisa untung bisa buntung. Alhamdulillah keluarga kita selalu mendapatkan pasangan yang terbaik."


"Tapi di kita selalu di screening, Rimbi."


"Meskipun sudah lolos screening tapi kalau tidak jodoh juga tidak bisa kan?" senyum Arimbi. "Aku teringat cerita Oma Alexandra soal Oma Yuna yang didekati pria yang secara screening lolos semua tapi ketika membuka mulut langsung membuat Oma Yuna muak sedangkan Opa Edward yang gedubrak hasil screening nya diterima di keluarga kita dan terbukti kan mereka gimana."


"Aku belum bisa memastikan siapa yang aku pilih, Rimbi. Haris itu plusnya banyak, minusnya juga, begitu pula dengan Bagas. Opa Javi sih bilang Haris is the best tapi yang menjalani hubungan tetap aku, bukan opa Javier." Freya memanyunkan bibirnya.


"Seperti aku bilang tadi, coba lah kamu lihat bagaimana mereka saat kamu jalan bareng. Kalau masih galau, doa di sepertiga malam." Arimbi tersenyum. "Ohya, bulan depan Hoshi pindah ke Jakarta karena diminta papi bantu urus Giandra Otomotif Co.


***


Aji datang ke FH Workshop bersama sopir untuk memeriksa Maserati yang dia custom di bengkel milik Kareem. Tadi usai menikmati Brunch bersama Falisha, gadis itu pamit karena hendak bertemu dengan Rama membahas sesuatu.


Kini pria tampan itu datang dengan kruk ke ruangan Kareem yang menyambut Aji dengan wajah serius.


"Duduk Ji" ucap Kareem setelah mengucapkan salam.


Aji pun duduk sambil menyimpan kruknya.


"Apa kamu sudah tahu nasib kedua orang tua angkatmu?" tanya Kareem.


"Sudah pak Kareem." Dalam hati Aji merutuk tidak membawa Nadya untuk membantu menerjemahkan bahasa isyarat nya apalagi Falisha masih urusan dengan Rama.


"Kalau kamu kesulitan menjelaskan kepada saya, bisa pakai iPad mu dengan mengetik pesan ke saya atau kita bisa menunggu Falisha datang setelah selesai urusannya dengan Rama." Kareem tersenyum membaca pesan dari Aji.


Maaf pak Kareem, saya tidak mau bercakap-cakap tanpa memandang lawan bicara saya karena tidak sopan.

__ADS_1


"Baik. Kita tunggu Falisha datang. Ohya, ngomong-ngomong, bibir Falisha enak ya Ji?" goda Kareem yang sukses membuat wajah Aji merah padam.


***


Freya masih berkutat di depan laptopnya untuk mengirimkan video penampakan yang dia dapat semalam. Gadis itu sekarang berada di ruang kerja bekas Yuna Pratomo yang kini dipakai untuk ruang kerja multiguna buat seluruh anggota keluarga yang berada di PRC group saat datang ke Jakarta dan membutuhkan ruang kantor sementara.



Ruang yang bernuansa putih dan pink tidak banyak perubahan disana karena para cucu dan cicit Yuna tidak ada yang ingin merubah. Hanya beberapa furniture yang diganti karena usia tapi lay out sesuai dengan selera Yuna.


Suara ketukan di pintu membuat Freya menoleh.


"Nona Freya, ada yang mencari anda" ucap salah seorang pegawai.


"Siapa?" tanya Freya.


"Aku." Dari balik pegawai itu muncul Bagas yang datang sambil tersenyum manis. "Assalamualaikum Freya."


"Wa.. wa'alaikum salam. Terima kasih pak sudah mengantarkan pak Bagas" ucap Freya kepada pegawai itu.


"Kalau begitu, saya permisi dulu nona Freya, pak Bagas" pamit pegawai itu yang meninggalkan mereka berdua.


"Duduk pak Bagas. Sebentar saya masih mengurus pekerjaan saya" ucap Freya yang masih berkonsentrasi dengan videonya dan dia masih takjub melihat penampakan disana apalagi setelah melihatnya di layar iMac yang besar.


"Boleh tahu, nona sedang apa?" tanya Bagas kepo.


"Lihat video hantu!"


Bagas mendelik. "Hantu?"


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2