Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Bonchap - Bagas and Haris


__ADS_3

Freya menatap wajah tampan khas Indonesia di hadapannya yang memandang dirinya bingung.


"Hantu nona Freya?" tanya Bagas lagi.


"Iya, hantu. Aku kan anggota Ghost Hunters di Inggris dan Amerika, bahkan kami sering kumpul dan mengadakan kongres dan konferensi" ucap Freya cuek. Kegiatan yang diomeli habis-habisan oleh sang ayah, Ashley.


Bagas bergidik. Masa cantik-cantik begini demen hunting hantu?


"Pak Bagas mau lihat? Semalam saya dapat lho penampakannya di dekat rumah pak Budi, pegawai bengkel Oom Kareem." Freya bergeser dan Bagas yang penasaran pun berdiri menuju layar iMac di depan gadis itu.


"Astaghfirullah! Itu beneran nona?" tanya Bagas ketika melihat penampakan disana.


"Beneran! Saya rekam pakai handycam khusus night vision dan kalau ini manusia, tidak mungkin warnanya biru pasti orange menjurus ke merah." Freya antusias menerangkan ke Bagas yang memandang gadis itu dengan tatapan aneh.


Serius nih cewek? Cari hantu?


Suara ketukan di pintu membuat keduanya menoleh dan tampak Haris disana dengan wajah datar menatap keduanya.


"Nona Freya, dipanggil tuan Javier."


Freya pun mengangguk. "Pak Bagas, maaf kita keluar dulu karena ruangan ini akan saya kunci."


"Oh, Oke. Saya ikut anda saja menuju ruang tuan Javier." Bagas mempersilahkan gadis itu keluar terlebih dahulu.


Wajah Haris memang datar tapi hatinya kesal melihat Bagas main dekat-dekat Freya meskipun dia sempat melihat gadis itu menjelaskan soal berburu hantu.


Semoga dia ilfill sama hobi nona Freya.


***


Javier menatap datar ke Bagas yang datang bersama Freya menuju ruangannya.


"Kamu nggak balik kantor, Gas?" sindir Javier sarkasme.


"Mau ajak nona Freya makan siang yang agak telat tuan Javier." Bagas menatap hormat kepada salah satu petinggi PRC group.


"Maaf Bagas, hari ini kamu tidak bisa ajak Freya pergi karena dia ada pekerjaan dengan saya. So, next time saja ya." Javier menatap serius ke Bagas.


"Oh. Harusnya saya menelpon nona Freya dulu tadi" senyum Bagas ke Javier.


"Maaf lho pak Bagas, sudah sampai kemari tapi saya masih ada pekerjaan dengan Opa" jawab Freya manis.


"Santai saja, nona Freya. Toh kantor saya hanya beda beberapa blok dari sini." Bagas mengulurkan tangannya yang disambut Javier dingin. "Permisi tuan Javier."


Ketika mengulurkan tangannya ke Freya dan disambut gadis itu, Bagas mencium punggung tangan Freya yang langsung membuat Javier mendelik begitu juga Haris yang melongo saat datang hendak meminta tanda tangan Bossnya.


Pelanggaran!


Freya hanya melotot tidak percaya melihat keberanian Bagas seperti itu.


"Permisi semuanya" cengir Bagas yang saat berbalik melirik ke arah Haris yang melongo. Pria Indonesia itu lalu berjalan menuju lift.


"Benar-benar ngajak gelut tuh bocah!" umpat Javier.

__ADS_1


Freya pun menoleh ke arah Haris yang masih termangu sambil membawa berkas. Gadis itu menghampiri pria bermata biru yang masih tampak freeze.


"Haris? Are you okay?" tanya Freya.


Not okay nona! Sekarang aku baru kerasa cemburu!


***


Javier menatap Haris yang masih menunggu dirinya selesai melakukan tanda tangan beberapa berkas. Freya diminta oleh Javier untuk ke ruangan Davina membahas pemindahan kuasa pabrik Lau Fabric ke AJ Corp do Solo ke Danisha.


"Kamu kerasa kan sekarang, Ris?" kekeh Javier menggoda akuntannya.


"Apanya tuan?"


"Cemburu" ucap Javier tenang.


Haris menghembuskan nafas panjang. "Tampaknya nona Freya juga ada rasa sama pria bernama Bagas itu."


"Nonsense! Freya pasti akan memilih kamu meskipun kamu sempat pingsan lihat pocong ala Bu Budi" gelak Javier.


"Oh astaga. Rupanya tuan sudah tahu" keluh Haris.


"Ris, saya memberikan tugas ini karena saya yakin kamu bisa melakukannya. Jalanmu sudah saya buka lho" senyum Javier.


"Tuan kenapa memilih saya dari sekian banyak kandidat untuk dijadikan jodoh nona Freya?"


"Karena saya tahu hanya kamu yang bisa membuat Freya berhenti dari acara berburu hantunya."


Haris melongo.


***


"Opa beneran serius deh Tante mengambil alih pabriknya orang tua angkatnya Aji" gumam Freya sambil meneliti semua dokumen.


"Karena Opa Javi tahu Oom Iwan mampu jadi kita tidak usah capek-capek membangun pabrik kain batik meskipun tidak sebatas baik saja sih."


"Bakatnya Oom Iwan memang tidak ada yang ngalahin. Eh Ega malah milih jadi dokter" kekeh Freya.


"Kamu malah milih mencari hantu." Davina tersenyum ke Freya. "Kamu tuh punya pekerjaan di desain PRC group New York malah minggatan."


Freya terbahak. "Tante, Falisha serius dengan Aji kah?"


"Kayaknya serius sih."


"Aku tuh sedih, sudah pada punya pasangan. Aku yang belum" keluh Freya.


"Lho bukannya ada Haris? Atau kamu bingung sama Bagas?" goda Davina.


"Ih Tante tuh! Masih belum pasti Tan. Aku tuh masih mencari tahu siapa yang terbaik."


"Tante yakin kamu akan mendapatkan yang terbaik, entah Haris, entah Bagas, entah Johnny Depp..." gelak Davina.


"Kalau Johnny Depp aku langsung auto minta lamar ke papa" seringai Freya.

__ADS_1


"Oh my." Davina memegang pelipisnya.


***


Haris berjalan gontai menuju ruangannya yang merupakan divisi keuangan dengan perasaan lemas.


*Selama janur kuning belum melengkung, Ris, pokoknya kamu harus bisa menarik Freya.


Tapi tuan Javier, apa anda yakin menjodohkan saya dengan cucu anda?


Ris, kalau saya tidak yakin, saya tidak bakalan memilih kamu! Paham*?


Haris menghembuskan nafas panjang. Suatu berkah aku langsung mendapatkan lampu hijau dari tuan Javier yang dikenal ketat dalam pekerjaan dan tidak segan-segan menghukum jika melakukan pelanggaran.


"Semangat Haris! Meskipun kamu harus jadi Ghostbusters!" teriaknya yang membuat rekan-rekannya bingung melihat salah satu akuntan terbaik di PRC group pusat.


"Kayaknya Haris habis kena damprat tuan Javier jadi sedeng gitu" gumam salah satu rekannya.


"Tapi kok bawa-bawa Ghostbusters?"


***


Freya berjalan menuju divisi keuangan dan semua orang disana terkejut melihat salah satu cucu Javier Arata datang kesana. Semuanya mengangguk hormat kecuali Haris yang masih konsentrasi dengan pekerjaannya ditambah airpods di telinganya semakin tidak mendengar ribut-ribut di ruangannya. Apalagi meja kerja Haris berada di bagian pojok.


"Harrriiiissss!" teriak Freya kesal.


Haris terlonjak mendengar teriakkan nonanya.


"Apa nona?" Haris melepaskan airpods nya.


"Masyaallah! Aku panggil-panggil dari tadi! Kupingmu jangan disumpal!"


"Oh?"


"Ayo antar ke rumah pak Budi lagi!"


"HAAAAHHHH? Semalam kurang?" Haris langsung lemas.


"Kurang cumi!"


Ya ampun nona satu ini.


Para rekan Haris bingung.


Semalam kurang? Apanya yang kurang?


***


Yuhuuu Up Siang menjelang Sore Yaaakkk


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2