Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Bonchap - Bagas dan Aji


__ADS_3

"Pak Bagas ada apa kemari?" tanya Falisha bingung.



"Mau ajak kamu makan siang lah" jawab Bagas santai.


"Eh? Tapi maaf pak Bagas, saya sudah ada janji dengan..." Falisha melihat ke arah sebuah mobil Toyota 86 bewarna hitam masuk ke dalam halaman sekolahnya.



Bagas pun menengok siapa yang datang dengan mobil sport itu. Terlihat pria tampan keturunan keluar dari dalam mobil. Siapa pria itu. Bagas lalu melirik ke Falisha yang tersenyum melihat pria yang datang menghampiri.


Sudah lama menunggu?


Tidak, aku baru saja selesai.


Bagas melongo. Pria itu tuna rungu?


"Siapa ini Fa?" tanya Aji.


"Pak Aji perkenalkan ini pak Bagas, klien papa. Pak Bagas, pak Aji." Falisha memperkenalkan keduanya.


Kedua pria dengan wajah tampan itu saling berjabat tangan.


"Aji."


"Bagas."


"Maaf pak Bagas, saya sudah dijemput untuk makan siang dengan pak Aji" senyum Falisha.


"Oke. Hari ini kamu pergi makan siang dengan pak Aji, tapi besok dengan saya ya dan saya tidak mau ada penolakan. Deal?" Bagas menatap serius ke Falisha.


Falisha mengangguk. Aji tahu gadis itu tetap berusaha profesional karena sama-sama klien ayahnya dan pria tampan itu pun tahu kalau semua anggota keluarga Pratomo bisa bela diri dan memegang senjata karena Hoshi pernah mengancam seseorang dengan pistol ketika dirinya hampir dibunuh hanya karena ingin merebut aplikasi buatan dirinya.


"Baik pak Bagas."


"Besok saya jemput disini atau di kantor?"


"Kantor saja."


"See you tomorrow." Bagas pun mengangguk ke arah Aji. "Pak Aji."


Falisha dan Aji memandang Bagas yang berjalan menuju mobil BMW Z4 bewarna birunya. Tak lama mobil itu keluar dari halaman sekolah Falisha.


"Shall we?" ajak Aji.


"Sure." Falisha masih berdiri sedangkan Aji sudah berjalan duluan. Merasa Falisha tidak mengikutinya, Aji pun menoleh.



Rupanya sedang menerima telepon. Aji tersenyum sendiri. Usai menerima telepon, Falisha pun berjalan mendekati Aji.

__ADS_1


"Maaf, tadi mamaku telpon" ucap Falisha.


Kok aku tidak mendengar?


Tadi aku buat silent.


Aji mengangguk dan tangannya terulur untuk meraih tangan Falisha yang membuat gadis itu menatapnya bingung.


"Supaya kamu nggak tertinggal" senyum Aji.


Falisha berjalan mendahului Aji. "Aku di depanmu saja."


Aji hanya mengusap kepalanya dengan kikuk karena Falisha mengacuhkan uluran tangannya. Keduanya pun masuk ke dalam mobil dan Aji mempertanyakan alasan gadis itu.


"Kenapa tidak menerima uluran tanganku tadi?" tanya Aji.


"Saya kan tidak tertinggal jauh" jawab Falisha polos yang membuat Aji tertawa.


Nona Hassan, anda sangat lucu.


Saya bukan badut.


Aji tersenyum membaca bahasa isyarat Falisha. "Kamu mau makan dimana?"


"Saya ingin nasi Padang. Kalau pak Aji?"


Aji menaikkan sebelah alisnya. "Pak?"


Gadis ini menggemaskan - batin Aji. Belum apa-apa sudah ada saingan.


"Nasi Padang. Oke, berangkat!" Aji tersenyum ke sebuah restauran Padang dan dirinya sempat terkejut karena dikiranya Falisha akan meminta makan siang di sebuah restauran mahal karena dia adalah anak seorang pengusaha.


***


Aku kenal baik Hoshi, sepupumu.


Falisha terkejut ketika mereka sedang berada di sebuah restauran Padang. "Gimana ceritanya?"


Di tahun kedua aku kuliah di MIT, aku sudah mulai mempatenkan aplikasi khusus penyandang tuna rungu dan ternyata ada salah satu teman kuliahku ingin menguasai program Beta aku. Mereka meneror, membully bahkan memfitnah aku di depan dosen dan dekan hingga akhirnya dekan meminta agar aku menghadap.


Di hari aku sedang berjalan menuju ruang dekan untuk menghadap dan memberikan pernyataan bahwa program itu murni milikku, pihak-pihak yang tadi menghadangku dan berusaha untuk mengambil program yang ada di laptop dan tabletku.


Aku sendirian, mereka berenam berusaha mengeroyok dan membunuh diriku hanya karena program.


"Orang saja bisa membunuh karena seekor ayam, Ji" jawab Falisha tanpa sadar memanggilnya dengan nama tanpa embel-embel 'pak' yang membuat Aji tersenyum. "Apalagi sebuah program aplikasi yang menghasilkan uang."


Aku lanjut ya. Falisha mengangguk. Ketika aku hampir kehilangan semuanya, datang Quinn eh ... Hoshi menolongku dengan seorang pria berambut blonde tinggi. Keduanya menghajar keenam orang itu bahkan Hoshi mengeluarkan sebuah Glock dan diletakkan di pelipis pemimpinnya.


Falisha terbahak. "Khas Hoshi! Dia memang jago tembak." Gadis itu lalu membuka ponselnya dan memperlihatkan seorang pria tampan berambut blode dan bermata coklat. "Apakah ini yang bersama Hoshi?"


"Iya, dia! Siapa Fa? Soalnya aku keburu pingsan akibat babak belur dihajar. Saat bangun di rumah sakit, hanya ada Hoshi dan dua pengawal disana."

__ADS_1


"Itu kakak sepupuku lainnya, mas Abi O'Grady, salah satu alumni MIT juga, anaknya Tante Kaia Blair O'Grady."


Aji melongo. Siapa yang tidak mengenal Kaia Blair O'Grady, pengusaha wanita yang juga pencipta mesin pesawat dan kapal revolusioner tenaga Surya hingga mengurangi penggunaan bahan bakar minyak dan batubara agar mengurangi pencemaran.


Keluarga kalian mengerikan.


Falisha tersenyum. "Kami biasa mendengarnya. Apa sejak itu anda berteman dengan bang Hoshi?"


Berteman baik hanya saja dia suka marah-marah kalau aku lebih memilih memakai bahasa isyarat kalau berbicara cepat dan aku lupa dia tidak bisa bahasa isyarat.


"Pasti mulutnya keluar kata-kata pedas cabe setan level 100!" kekeh Falisha.


"You're right!" Aji lalu berbicara dengan bahasa isyarat lagi. Quinn, begitu biasa dia dikenal di kampus, bilang 'Kamu kira aku bisa baca bahasa Morse ala tanganmu? Wong aku baca Morse saja suka ngaco! Sudah ngomong saja meskipun agak sedikit celad tapi aku lebih paham soalnya kamu ngomongnya mirip sama keponakan ku!'


Falisha tertawa terbahak-bahak. Dirinya bisa membayangkan wajah kakak sepupunya yang punya lambe turah manyun seperti apa. "Benar-benar bang Hoshi!"


Kamu sendiri bisa bela diri dan menembak?


Aku bisa semuanya bahkan seperti hukum wajib di keluarga kami.


Aji menatap Falisha lembut. "Jangan menghajarku ya Fa."


Gadis itu melongo. "Buat apa saya menghajar anda?"


"Karena aku masih tidak mau masuk rumah sakit dengan tubuh babak belur."


Falisha terbahak. "Saya tidak sembarangan menghajar orang kecuali orang itu pantas mendapatkan."


Empat orang pria dengan baju perlente mendatangi meja Aji dan Falisha dengan wajah menyebalkan.


"Nona, daripada dengan pria tuna rungu seperti dia, mending sama saya saja. Sayang, wajah kamu cantik tapi dapat cowok tuli!" kekeh salah seorang dari mereka.


"Iya lho non, mending sama saya" sambung satunya.


Falisha menatap judes ke arah empat pria itu. "Kagak salah gue milih dua monyet kayak elu?" Aji terkejut melihat bahasa bibir gadis itu.


"Mo... monyet?"


"Iya! Hanya monyet yang berani keroyokan! Pernah mendengar istilah kethek seranggon? Ya itulah kalian para kaum monyet yang minus akhlak!"


Keempat pria itu bersiap untuk menghajar Falisha.


***


Yuhuuu Up Subuh Yaaaaa


Harusnya udah up semalam tapi aku ketiduran... Hahahaha


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2