
Buat yang bingung sama pribadinya Davina, gini nih. Eike sengaja bikin Davina yang rada rapuh, bukan cewek kuat seperti saudara-saudaranya yang lain. Rapuh dalam arti dia butuh atensi konsisten jadi saat Ye-jun benar-benar selalu ada untuknya, Davina jatuh cinta setengah mati dengannya.
Don't we ever like her? Kayak eike nih, aktor favorit dari dulu tetap Keanu Reeves, aktor Jepang Takuya Kimura, aktor Korea Lee Dongwook tapi suka oleng ke Ji Changwook. Idol dari Sehun oleng ke Jaehyun.
Lha malah ngelantur. Dah ah, lanjut!
***
Kareem berjalan masuk ke dalam rumahnya dan sang ibu pun terkejut melihat wajah babak belur putranya.
"Apa yang terjadi Kareem? Siapa yang berani melakukan ini padamu?" Sari Hassan memeriksa wajah putranya yang tampak sudah diobati.
"Papanya Davina."
Sari Hassan terkejut. Javier Arata menghajar putranya? Apa yang sudah dilakukan Kareem hingga pengusaha itu marah besar?
"Apa yang kamu lakukan? Tidak mungkin tuan Javier bisa marah besar kalau kamu tidak berbuat kesalahan."
Kareem mengusap tengkuknya. "Aku... mencium Davina ... dan papanya melihat kami...berdua" ucapnya pelan.
"Astaghfirullah. Kamu mencium bibirnya?" bisik Sari Hassan. Kareem mengangguk. "Ibu tidak terkejut jika papanya menghajarmu!"
"Aku tidak tahu kalau Papanya akan datang ke rumah Davina karena setahu ku dari Fuji, Davina tinggal sendiri hanya dengan pelayan dan pengawal saja."
"Bagaimana sikap Davina ketika kamu dihajar papanya?"
"Dia membelaku Bu bahkan mengakui di depan tuan Javier kalau aku kekasihnya." Kareem tersenyum bahagia mengingat ucapan gadis itu.
"Astaghfirullah! Serius nak?" tanya Sari Hassan tidak percaya. Gadis cantik yang lembut itu akan menjadi menantunya.
"Serius Bu. Bahkan besok aku harus menemui tuan Javier jam tujuh pagi."
Sari Hassan menghela nafas panjang. "Sudah, sekarang kamu tidur, istirahat. Jangan lupa dikompres itu wajahmu."
Kareem mengangguk lalu mencium pipi ibunya. "Selamat malam Ibu."
***
Davina dan Javier sekarang berada di ruang makan dan keduanya hanya terdiam menatap secangkir hot choco dan kopi yang tersedia di hadapan masing-masing.
"Vina... Papa mau tanya sekali lagi. Apa kamu sudah yakin memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Kareem?" tanya Javier lembut ke anaknya.
Davina menatap Javier. "Vina yakin pa."
"Tapi kamu baru dua Minggu ketemu dia. Apa kamu sudah tahu siapa dia?"
__ADS_1
"Vina sudah mencari tahu pa. Vina juga ngobrol banyak dengan Bu Sari, ibunya Kareem."
Javier hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tahu karakter putrinya yang gampang-gampang susah. Davina berbeda dengan sepupunya yang lain seperti si kembar JM, Kaia, Kristal, Danisha atau Keia. Davina is Davina yang memiliki sifat dan karakter berbeda. Dia jauh lebih introvert dan lonely. Javier menyalahkan dirinya dan Agatha yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Apa karena dia merasa bahwa putrinya memiliki gen yang sama dengan keluarganya maka dia beranggapan putrinya akan baik-baik saja tapi ternyata tidak.
Javier bersyukur putrinya bisa lepas dari Ye-jun dan sekarang ada dua orang pria yang menyukainya dan semuanya adalah duda. Apa karena Davina mencari pria yang bisa mengemongnya?
"Vina, bagaimana dengan Ali?"
Davina menatap Javier dengan tatapan datar.
"Awalnya aku tertarik dengan Ali, Pa. Dia baik tapi entah apa yang membuat aku merasakan ada sesuatu. Papa paham kan sometimes ada yang seperti memberitahukan this is not right."
Javier mengangguk karena dia juga merasakan hal yang sama saat bertemu dengan Ali tapi dia mengacuhkan karena merasa takut kehilangan Davina yang bertemu dengan pria yang akan menjadi pasangannya.
"Lalu dengan Kareem?"
"Dia lebih bisa membuat aku deg-degan. Just like butterflies in my stomach." Wajah Davina memerah.
"Karena itulah kamu mau dicium oleh Kareem? Apa Ali tidak pernah menciummu?"
"Pernah tapi rasanya berbeda Pa."
Javier menepuk jidatnya. "Oh Astaga!" Terkadang kejujuran itu menyesakkan. "Apa rencana mu selanjutnya, Vina?"
"Papa akan menunggu besok saat Kareem itu datang."
***
"Apa maksudmu Davina berhubungan dengan pria Turki? Bukannya dia sedang penjajakan dengan Ali? Kenapa bisa dengan Kareem?" tanya Agatha yang saat ini masih di Sydney.
"Rupanya Ali tidak memberi kabar kepada Davina sama sekali selama dua Minggu dan saat itulah Kareem masuk. Davina sendiri juga sudah bertemu dengan ibunya Kareem." Javier menatap istrinya.
"Astaga, sayang. Apa Kareem lebih tampan dari Ali?"
Javier melongo. "Kalau kamu tanyakan soal fisik jangan padaku! Aku lebih tampan dari mereka!" cebik Javier sebal. "Mungkin bukan fisik, tapi dari sikapnya. Kareem lebih berani menghadapi aku, tampak lebih sayang kepada Davina dan... honest."
"Kareem bisa menembus hati Davina. Kita kan tahu sayang, anak itu sangat-sangat introvert meskipun soal pekerjaan diakui dia cakap tapi soal hati, dia selalu menutup rapat-rapat. Kita bahkan hampir kecolongan soal Ye-jun."
"Kamu benar, Agatha. Dia berbeda dengan kamu atau sepupu-sepupunya. Lebih mirip Rain."
"Rain tidak se introvert Davina, sayang. Putri kita sangat tertutup dan jika dia terang-terangan mengakui bahwa dia punya hubungan dengan Kareem, berarti dia memang suka padanya, Javi" senyum Agatha.
"Besok dia akan datang ke rumah pukul tujuh pagi."
__ADS_1
"Jangan kamu hajar lagi, Javi."
"Tidak sayang, karena Davina akan menangis lagi. Dan kamu tahu, dia bahkan rela jadi tameng Kareem."
"Oh Astaga."
***
Kareem tiba di rumah Davina jam 06.55 dan gadis itu sendiri yang membukakan pintu. Wajah Kareem semakin bewarna ungu apalagi di daerah mata dan bibir. Meskipun masih lebam-lebam, Kareem tetap tersenyum melihat Davina.
"Halo sayang" bisik Kareem sambil memeluk Davina hangat.
"Halo. Bagaimana wajahmu?" Davina meraba wajah Kareem usai melerai pelukannya.
"Aku hidup kok" gurau Kareem. Sentuhan jari dan tangan Davina bagaikan obat tersendiri baginya. Betapa halusnya tangan gadis ini.
"Ayo masuk. Ditunggu papa untuk sarapan bersama" Davina menggandeng tangan Kareem dan mengajaknya menuju ruang makan.
Disana tampak Javier yang sudah rapi sedang melihat iPad nya. Dilihatnya Kareem sudah datang dan sambil digandeng Davina. Hal kecil yang tidak pernah dia lihat.
"Duduk Kareem, kita sarapan dulu."
"Baik tuan Javier."
Kareem melihat sudah terdapat sepirinh nasi kuning lengkap dengan lauk pauk nya seperti ayam goreng, telur dadar, kering tempe dan timun, tidak ketinggalan sambalnya.
"Kesukaan Davina, nasi kuning. Makan Kareem, ayam goreng dan sambalnya yang buat Davina."
"Kamu bisa masak?" tanya Kareem.
"Bisa. Karena aku doyan makan" senyum Davina yang kini duduk bersebelahan dengan papanya.
"Kapan-kapan kalau kamu ke rumah, bisa belajar dengan ibu untuk masak makanan Turki."
"Boleh! Aku penasaran."
Javier tersenyum tipis melihat interaksi keduanya. Tak heran Davina tertarik dengan Kareem.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️