
Aji menikmati makan malam nya yang kedua bersama Falisha dan ketiga saudaranya. Sebagai anak tunggal, Aji tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya memiliki saudara dan kini dirinya melihat ketiga saudara gadis itu sangatlah hangat saty sama lain.
Kamu besok ada di bengkel? Karena besok aku akan membawa mobilku kesana. Falisha menatap Aji dan menggelengkan kepalanya.
Aku harus ke sekolah, mengajar pagi tapi setelah makan siang aku baru kembali ke perusahaan papa.
Aji mengangguk. Bisa diberikan alamat sekolahmu?
Falisha mengambil ponselnya dan memberikan alamat sekolah yang dibangunnya.
Terimakasih. Aku akan kesana besok.
"Ehem. Bisa diberitahu kalian bicara apa?" tanya Bima usil.
"Rahasia!" sahut Falisha ketus.
Jangan beritahu kan ke ketiga kakakku. Mereka durjana dan kepo maksimal. Aji tertawa.
"Kayaknya kalau ini aku bisa paham, Bim. Falisha pasti ngatain kita durjana" kekeh Rama.
"Tampaknya begitu." Bima tersenyum. "Tuan Lau..."
"Please, call me Aji" senyum Aji.
"Oke, Aji. Anda umur berapa? Maaf, agar kami tahu saja" lanjut Bima.
"Saya 26 tahun."
"Beda setahun denganku dan dua tahun dengan mas Rama" ucap Bima.
"Bisnismu apa Ji?" tanya Rama.
"Saya bergerak di bidang IT membuat aplikasi yang membantu para penyandang disabilitas menggunakan teknologi dengan mudah. Beberapa aplikasi yang ada sekarang agak menyulitkan beberapa penyandang cacat seperti saya sendiri, jadi saya serius mengembangkan perangkat lunak bagi saya sendiri dulu baru ke orang-orang yang mengalami hal yang sama dengan saya tetapi dengan disabilitas yang berbeda." Falisha menerjemahkan bahasa isyarat Aji. "Saya lebih cepat menjelaskan dengan bahasa isyarat daripada berbicara."
"Jadi kamu membuat berbagai aplikasi untuk mempermudah bagi penyandang disabilitas?" tanya Arimbi antusias.
"Betul. Yang sulit membuat aplikasi bagi kaum tuna netra, acquired brain injury atau cacat otak setelah lahir dan gangguan spektrum autisme. Mereka ingin didengar juga isi hatinya serta berkomunikasi dan meskipun harus dibantu dengan orang lain di awal menggunakan aplikasi ini, tapi akan mempermudah hubungan dengan keluarga."
"Aku rasa idolamu adalah Stephen Hawking" tebak Bima.
Aji mengangguk.
"Kamu lulusan mana?" tanya Rama.
"MIT."
Keempat orang disana melongo. "MIT?"
Aji menatap keempat orang dihadapannya dengan tatapan bingung.
"Kenal Hoshi eh... Paramudya Quinn?" tanya Falisha.
__ADS_1
"Kenal. Dia pria paling menyebalkan di dunia." Aji langsung manyun.
Keempat orang disana terbahak. "Yah, itulah Hoshi" kekeh Rama.
"Hoshi itu eh Paramudya itu adalah sepupu kami. Tapi di kami panggilannya Hoshi" ucap Falisha.
You've got be kidding me? Aji mendelik ke Falisha.
Nope. But he's our cousin.
Aji hanya menepuk jidatnya.
"Kamu ada story pasti dengan Hoshi" tebak Arimbi.
"Ohya. Salam buat Quinn ya."
Acara makan malam di RR itu menjadi acara bercerita berbagai hal.
***
Davina mendatangi kantor Kareem untuk mengajak mankan siang sang suami dan melihat David masih di mejanya seperti menunggu Kareem keluar dari ruang kerjanya.
"David, pak Kareem ada tamu?" tanya Davina.
"Iya Bu. Belum keluar dari tadi, padahal saya sudah lapar, cacing saya sudah demo bagaikan belum mendapatkan jatah sembako ke perut" ucap David dramatis. Davina tertawa kecil. Asisten suaminya memang rada-rada antik.
"Ini, saya bawakan kebab dulu. Dibuatkan oleh ibu mertua saya" ucap Davina yang memang membawa beberapa kebab karena tadi Sari Hassan membua agak banyak.
Davina pun duduk di sofa empuk yang disediakan disana. "Bu Davina, saya boleh makan ini kebabnya? Saya lapar banget." David meminta ijin kepada istri Bossnya.
"Makan ajah dulu David, daripada nanti pingsan."
"Njih Bu."
Davina membuka ponselnya dan membaca beberapa pesan disana, termasuk pesan dari Fathir putra bungsunya.
Suara pintu ruangan Kareem pun terbuka dan tampak Karem dan seorang pria berdarah Chinese keluar didampingi seorang wanita berusia sebaya dengan dirinya.
"Terima kasih Mr Hassan. Saya tinggalkan Maserati saya dulu disini dan saya percayakan kepada anda."
"Sama-sama Mr Lau, saya akan mempercantik Maserati anda" ucap Hassan sambil berjabat tangan dengan pria tampan itu. "Lho Dav? Sudah datang?" tanya Kareem ketika menoleh ke arah kirinya.
"Baru saja, sayang." Davina tersenyum dan berjalan menghampiri suaminya.
"Mr Lau, perkenalkan ini istri saya, Davina Arata Hassan" ucap Kareem.
"Senang bertemu dengan mamanya Falisha dan saya akhirnya tahu darimana cantiknya putri anda." Aji mengulurkan tangannya dan disambut Davina yang menatap bingung ke Kareem.
"Falisha kemarin yang menemui Mr Lau karena aku ada meeting penting juga" senyum Kareem tapi sempat melirik tajam ke David yang sedang menyimpan kebabnya. Ya Tuhan, aku akan dikirim ke Kathmandu buat nyapu.
"Oooohhh pantas tahu Falisha" senyum Davina.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu, Mr Hassan, Mrs Hassan." Aji dan Nadya pun pergi meninggalkan Kareem dan Davina.
"Dia menyukai Falisha ya mas" kekeh Davina.
"Iya. Bagaimana menurutmu?" tanya Kareem.
"Asal lolos screening keluarga dan dia benar-benar jodoh Falisha, aku tidak keberatan." Davina tersenyum ke arah Kareem.
"Alhamdulillah. Meskipun dia memiliki kekurangan?"
"So? Daripada manusia sempurna tapi bajigur?" Davina mengerling ke Kareem yang membuat pria itu tertawa.
"Seperti Ye-jun ya Dav. Kabarnya dia meninggal di penjara ya, karena bunuh diri."
"Dia terlalu parah kecanduannya jadi tendensi suicidal tinggi" jawab Davina tenang.
"Ali Khan tadi pagi menanyakan kepadaku soal masuk Columbia University." Kareem mengajak Davina masuk ke ruangannya.
"Ohya? Buat siapa? Rohit?" tanya Davina santai.
"Iya, katanya Rohit ingin masuk sana gara-gara lihat Fathir." Ali Khan mantan Davina sudah menikah lagi dua tahun setelah Davina dan Kareem menikah. Pria India itu dikaruniai seorang putra bernama Rohit. Meskipun dulu sempat menjadi rival, tapi Kareem dan Ali menjadi teman baik bahkan partner bisnis juga.
"Sudah mas balas?"
"Sudah dong."
***
Falisha baru saja mengajar anak-anak tuna rungu berusia balita bahasa dasar isyarat bersama dengan orangtua mereka. Bagi Falisha, interaksi antara orangtua normal dan anak tuna rungu harus sering dilakukan bahkan gadis itu tidak segan memberikan waktunya untuk membantu orangtua yang mengalami kesulitan memahami anaknya.
Sebagai seorang psikolog anak, Falisha sangat paham bagaimana perasaan orangtua dan anak yang memiliki perbedaan. Tak heran jika banyak orangtua yang memilih menyekolahkan anak-anaknya di sekolah milik Falisha.
Cucu Javier Arata itu kadang malah tidak meminta bayaran kepada orantua yang tidak mampu bahkan jika mereka bertanya bayar berapa, Falisha hanya mengatakan "Seikhlasnya." Bahkan ada orangtua membayar 5000 sebulan dan diterima oleh Falisha meskipun nantinya dimasukkan ke kotak amal.
Bagi salah seorang cicit klan Pratomo, uang bukan masalah bagi Falisha tapi kepuasan hati itulah yang membuatnya bahagia.
"Nona Falisha." Falisha yang baru saja keluar dari ruang kelas melongo melihat siapa yang datang.
"Pak Bagas?"
***
Yuhuuu Up Subuh Yaaaa
Selamat menjalankan ibadah puasa buat Readersku yang menjalankan.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1