Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
I'll Be Over You


__ADS_3

"Aaa...pa?" bisik Davina.


"Aku suka kalau kamu panggil aku 'mas'. Rasanya kok lebih enak. 'Mas Kareem'..." cengir Kareem membuat wajah Davina memerah.


"Hah?"


Cup


Kareem mencium pipi Davina. "Kamu gemesin!"


"Kareem!" panggil Sari. "Tolong bantu ibu." Kareem menggandeng tangan Davina yang masih terbengong-bengong mendapatkan ciuman dari Kareem.


Kenapa rasanya berbeda dengan saat dicium Ali? Why is like there are butterflies in my stomach? Davina hanya bisa diam.


"Kamu mau sampai kapan pegang tangannya Davina? Emang dia anak kecil kamu gandeng terus" goda Sari Hassan melihat putranya masih menggenggam tangan gadis cantik itu.


"Eh?" Kareem melihat ke arah tangan Davina yang masih digenggamnya. "Maaf, Dav."


"Nggak papa Kareem..."


"Mas Kareem" tegasnya


"Hah?" Davina dan Sari Hassan berseru bersamaan.


Kareem hanya nyengir.


***


Davina membantu Sari membereskan semua bawannya dan suara Fuji terdengar di pintu kamar sedangkan Kareem sedang membereskan administrasi.


"Vina, kamu mau pulang sama kakak atau gimana?" tanya Fuji.


Davina menatap Sari Hassan karena tadi ibu paruh baya itu memintanya untuk mampir ke rumahnya dan nanti akan diantar oleh Kareem.


"Dokter Fuji, biar Davina nanti diantar Kareem karena saya ingin mengajak anak cantik ini ke rumah saya" ucap Sari manis ke arah Fuji.


Fuji menatap Davina dengan tatapan kepo. Kamu ada apa dengan Kareem?


Davina hanya membalas. Antar Bu Sari. Fuji hanya tersenyum smirk. Gercep juga nih ibu dan anak.


"Lho Dokter Fuji? Tumben ke rumah sakit. Ibu tadi sudah diperiksa oleh dokter Nathan sebelum kembali ke Singapore" sapa Kareem yang baru saja selesai mengurus administrasi.


"Davina akan ikut ke rumahmu, Kareem?" tanya Fuji kepo. Cucu Hiro Al Jordan itu menarik pria Turki agak menjauh dari kamar Sari Hassan.


"Iya. Boleh?" tanya Kareem.


"Hei, Davina sudah dewasa. Tentu saja boleh" kekeh Fuji. Lagian kalau kamu macam-macam, kan tinggal dibanting. "Asal nanti kamu antar ke rumah harus tetap utuh tidak tergores sedikit pun!" Fuji menatap tajam Kareem.


"Of course lah. Tidak mungkin aku membuat calon istri aku tergores atau pun terluka" senyum Kareem dengan percaya dirinya.


Fuji menganga. Serius? Padahal Ali sudah pulang ke Jakarta. Wah bakalan seru ini!


"Serius kamu?"


"Serius lah dokter Fuji. Ibu ku juga sudah memberikan restu" senyum Kareem semakin lebar.


Kalau ibunya sudah kasih restu, susah chuy! Doa ibu itu manjur euy! Fuji hanya menepuk bahu Kareem. "Selamat berjuang."


"Eh? Kenapa Dok?"

__ADS_1


"Karena rivalmu sudah kembali ke Jakarta" kekeh Fuji.


"Kami sudah bertemu tadi siang dan kami juga akan saling bersaing mendapatkan Davina." Kareem menatap Fuji dengan tenang.


"AAAPPAAA?" Kali ini Fuji tidak menyembunyikan keterkejutannya. "Ya Allah!"


***


As soon as my heart stops breakin'


Anticipating


As soon as forever is through


I'll be over you


Suara Steve Lukather terdengar dari tape mobil Kareem Hassan yang kini duduk bersama dengan Davina di depan. Sari Hassan kekeuh duduk di belakang membiarkan keduanya duduk di depan.



"Toto?" tanya Davina.


Kareem menoleh ke gadis yang duduk di sebelahnya. "Kok kamu tahu?"


"Aku suka lagu-lagu klasik kok" senyum Davina.


"Pantas tahu" kekeh Kareem.


Listen to your heart when he's calling for you


Listen to your heart, there's nothing else you can do


But listen to your heart before you tell him goodbye


"Kalau ini?"


"Roxette, Listen To Your Heart." Davina menoleh ke Kareem yang masih serius menyetir karena jalanan padat.


But you can say baby


Baby, can I hold you tonight?


Maybe if I told you the right words


Ooh, at the right time you'd be mine


Suara Kareem terdengar di telinga Davina yang langsung terdiam.


"Baby, can I hold you?" Kareem menatap Davina yang hanya terdiam. Tanpa menunggu ijin gadis itu, Kareem memegang tangan Davina dan menggenggamnya. Wajah Davina pun memerah dan Kareem sebenarnya gemas melihatnya tapi dia harus menahan dirinya.


Ali Khan, Davina akan jadi milikku!


Sari Hassan yang melihat interaksi keduanya hanya tersenyum. Sesederhana itu bisa masuk ke dalam hati Davina.


***



Davina menatap rumah minimalis yang bewarna serba putih dan dia menyukai warnanya. Warna aku banget!

__ADS_1


"Ayo, Dav, masuk" ajak Kareem yang sudah berjalan masuk ke rumah sambil membawa tas sang ibu.


"Davina, kok malah bengong. Kenapa?" tanya Sari yang berdiri di sampingnya.


"Oh, nggak papa Bu. Saya suka rumahnya" senyum Davina sambil menggandeng Sari dan berjalan masuk ke dalam rumah. Sari tersenyum melihat gadis itu inisiatif seperti itu, seperti ke ibunya sendiri.


Di dalam rumah, Davina tercengang dengan penataan yang sangat rapi dan elegan. Warna broken white sangat mendominasi.


"Duduk dulu, sayang. Ibu mau ganti daster" kekeh Sari.


"Hah? Daster?" senyum Davina.


"As you know, daster adalah teman terbaik emak-emak" gelak Sari.


"You're right, Bu. Saya dan mama juga pecinta daster. Kalau sempat ke solo, biasanya saya suka belanja di pasar Klewer atau PGS bersama Tante Savitri dan Danisha sepupu saya."


"Kamu dasteran? Seriously?" goda Kareem yang keluar dari kamar ibunya. "Bu, tasnya sudah di kamar ya."


"Kamu tanya bik Yem masak apa hari ini. Davina sekalian makan malam disini. Oh, Davina sayang, sekalian sholat Maghrib berjamaah ya nanti."


Davina menganga. Kareem akan jadi imam? Eh tapi kan ada Bu Sari jadi nggak papa ya.


***


Kareem tersenyum lebar ketika melihat Davina ikut sholat Maghrib berjamaah bersama ibu dan beberapa pelayan. Gadis itu tampak cantik mengenakan mukena warna peach yang memang selalu dibawanya di tas Louis Vuitton nya.


Akhirnya bisa jadi imammu.


Davina terkesima mendengar suara Kareem saat membacakan surat Al Fatihah dan surat pendek saat menjadi imam. Suaranya bagus sekali.


Usai melaksanakan sholat dan berdoa Kareem lalu berbalik seperti biasanya mencium punggung tangan Sari Hassan.


"Kamu nggak cium punggung tanganku, Dav?" goda Kareem jahil yang langsung mendapat keplakan dari Sari Hassan.


"Belum halal!" tegurnya yang membuat Davina cekikikan.


"Duh ibu sehat dikit langsung mantap pukulannya" keluh Kareem sambil mengusap bahunya.


"Biar kamu benar prosedur nya! Lamar dulu ke papanya Davina, Kareem!" pelotot Bu Sari.


"Iya Bu."


"Nyonya, makan malam sudah siap" suara Bik Yem mengalihkan perhatian ketiganya.


"Baik bik Yem. Ayo, kita makan dulu nanti kamu antarkan Davina pulang. Jangan malam-malam antar anak gadis" ucap Sari Hassan sambil membuka mukenanya lalu berdiri keluar dari mushola mini yang terletak di sudut ruangan.


"Iya Bu" jawab Kareem patuh.


Davina masih posisi duduk sedang membuka mukenanya ketika sebuah bibir menyergap bibirnya saat mukenanya terlepas dari kepalanya. Tubuh Davina membeku.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2