
Kareem menghadap Javier dengan percaya diri apalagi dirinya dan Ali sudah berdamai dan saling respek satu sama lain.
"Kareem..."
"Tuan Javier." Kareem menatap calon mertuanya dengan tenang. Eh calon mertua? Memangnya aku sudah dapat restu?
"Bagaimana kamu rencana kedepannya dengan Davina?"
"Jika tuan Javier memberikan ijin, saya ingin menikahi Davina secepatnya tapi saya ingin masuk ke dalam hatinya dulu agar Davina lebih mantap dan siap untuk melanjutkan hubungan kami menjadi serius."
"Kenapa tidak menikah dulu dan pacaran legal setelahnya?"
Kareem membelalakkan matanya. "Anda...serius?"
"Kamu sudah mencuri ciuman ke putriku, Kareem dan putriku sudah memutuskan denganmu. Tunggu apalagi? Tunggu kebablasan?" sindir Javier mengingat adegan dimana dirinya hampir kena serangan jantung.
Kareem terbahak. "Insyaallah nggak tuan tapi tolong berikan saya waktu dua bulan ini karena kantor saya selesai 1,5 bulan lagi dan saya bisa mengatur acara lamaran agar saya tidak terbagi konsentrasi antara perusahaan dan Davina."
"Baik. Saya tunggu lamaran kamu dua bulan lagi." Javier menatap Kareem tajam.
"Iya tuan. Kalau begitu saya permisi untuk memeriksa perusahaan saya. Selamat pagi tuan Javier. Assalamualaikum." Kareem berdiri, mengangguk hormat dan berjalan menuju pintu ruangan Javier.
"Wa'alaikum salam."
***
Kareem berjalan menuju ruangan Davina mengacuhkan tatapan para pegawai PRC group yang melihatnya babak belur seperti itu. Bisik-bisik pun terdengar.
*Pasti dihajar tuan Javier.
Masa dia nggak tahu tuan Javier kalau sudah marah, serem*.
Kareem mengacuhkan sampai dia melihat Tammy yang sedang keluar dari ruangan Davina. Gadis itu terpekik kaget melihat Kareem dengan wajah berantakan membuat berkas yang dibawanya jatuh ke lantai.
"Astaghfirullah! Tuan Hassan? Apa yang terjadi?" Tammy menutup mulutnya kaget.
"Anggap saja saya mendapatkan tanda mata" senyum Kareem. "Berkasmu..."
"Sudah tidak apa-apa tuan Hassan. Silahkan masuk ke dalam, nona Davina disana." Tammy menyingkirkan tubuhnya dan memberikan akses ke Kareem untuk masuk ke ruangan Davina.
"Aku masuk dulu" ucap Kareem sambil membuka pintu ruang kerja Davina dan menutupnya pelan.
Tammy hanya bisa menggelengkan kepalanya. Habis dihajar tuan Javier tampaknya.
***
"Merhaba sevgilim" sapa Kareem melihat Davina masih menulis di meja kerjanya.
"Hah? Apa?" gadis itu mendongak dan bingung dengan bahasa baru yang belum pernah dia pelajari.
"Hello, darling tapi di bahasa Turki" senyum Kareem sembari duduk di depan Davina.
"Kamu nggak ke perusahaan mu? Masih tahap renovasi kan? Nggak dicek dulu?" cerocos Davina.
Kareem tertawa kecil. "Sebentar lagi tapi aku belum bertemu Yono untuk meminta kunci mobilku."
Davina mengambil sesuatu dari saku blazernya. "Ini kuncinya, Yono sudah menitipkan ke Tammy." Gadis itu menyerahkan kunci mobil milik Kareem.
__ADS_1
Kareem menerimanya namun tangannya menggenggam tangan Davina yang membuat gadis itu memerah wajahnya. "Seni seviyorum."
Alis bagus Davina mengerut. "What?"
"Seni seviyorum. Googling, Dav" kekeh Kareem yang kemudian melepaskan genggamannya. "Aku pergi dulu." Pria itu kemudian berdiri dan mengitari meja Davina dan mendekati gadis itu.
Davina menoleh ke arah Kareem yang kemudian memegang wajah Davina lalu mencium kening gadis itu.
"Aku tidak berani mencium bibirmu karena otakku bakalan traveling dan sudah pasti akan dihajar papamu habis-habisan" bisik Kareem parau.
"Memang kamu... membayangkan apa?" bisik Davina bingung.
"Aku membayangkan mengangkat tubuh langsing mu diatas meja kerjamu dan kita akan bercin*ta habis-habisan disana" cengir Kareem.
Davina langsung mendorong Kareem kuat. "Mesum!"
Kareem yang terhuyung akibat dorongan Davina hanya tersenyum tipis. "Tunggu 1,5 bulan lagi, aku akan menghadap papamu dan meminangmu."
"Kamu ingin menyelesaikan kantor dan bengkelmu dulu?" tanya Davina.
"Iya itu alasannya." Dan aku akan lebih masuk ke dalam hatimu.
"Oke. Sekarang kamu ke kantormu dan jangan lupa diobati memarmu" senyum Davina.
***
Kareem kini berada perusahaannya yang sedikit lagi selesai tinggal pemasangan interior yang sophisticated serta alat-alat untuk bengkelnya.
"Tuan Hassan" sapa Tariq, asistennya.
"Bagaimana kesiapan mengejar target peresmian bulan depan?" tanya Kareem.
Kareem mengangguk. Tidak salah memilih PRC group untuk menjadi perusahaan konstruksi bengkelnya. "Kita lihat hasilnya."
"Mari tuan."
Kareem berjalan masuk ke dalam bengkelnya dan memeriksa satu persatu dengan teliti. Pria Turki itu merasa puas dengan kwalitas bahan yang dipilih karena PRC group dikenal perusahaan yang memang sangat mengedepankan kwalitas bangunan.
Kareem mengambil ponselnya.
"Wa'alaikum salam. Dav, aku suka hasil karya perusahaan mu." Kareem tersenyum puas.
***
Fuji Al Jordan datang ke PRC group untuk mengajak adiknya makan siang dan melihat Javier berjalan menuju ruangan putrinya.
"Oom Javier!"
"Lho? Fuji? Ngapain kesini?" Fuji meraih tangan kanan Javier.
"Mau ngajak Davina makan siang. Mumpung aku masih di Jakarta sebelum ke Tokyo urus nikahan aku sama Seira."
"Rencana kapan Ji acara lamarannya?"
"Aku langsungan kok Oom, lamaran besok nikah. Gitu aja simple. Rencananya dua bulan lagi soalnya jadwal aku dan Seira yang agak kosong. Susah kalau sama-sama dokter sibuk."
"Waduh!" seru Javier.
__ADS_1
"Memang kenapa Oom?" tanya Fuji.
"Davina hendak dilamar Kareem" jawab Javier.
Fuji melongo.
"Serius Oom?" Javier mengangguk. "Oh my. Bagaimana dengan Ali?"
"Dia baik tapi not that so nice. Anggap saja begitu" ucap Javier.
"Apa Davina yang tahu?"
"Actually, yes."
Fuji menghela nafas panjang. "Pantas saat di rumah sakit mukanya kesal. Tapi kita semua tahu dia pintar menutupi semuanya."
Keduanya sampai di depan pintu ruangan Davina dan ketika hendak mengetuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan tampak Tammy dan Davina disana.
"Tuan Javier. Tuan Al Jordan" Tammy mengangguk hormat. "Saya permisi dulu."
"Silahkan Tammy" ucap Javier dan asisten Davina itu pun pergi meninggalkan ketiga orang itu.
"Papa dan kak Fuji ngapain?" tanya Davina sambil menutup pintunya yang dilengkapi passcode.
"Ngajak kamu makan siang lah!" sahut Javier. "Kamu pengen makan apa?"
"Soto Betawi atau Korean grill?" Davina menatap kakak sepupunya dan papanya.
"Korean Grill yuk. Dah lama nggak bakar-bakaran" cengir Fuji.
"Ayoklah. Papa traktir!"
Fuji dan Davina tersenyum lebar. "Alhamdulillah, rejeki dokter eksklusif" ucap Fuji.
"Diiihhh, yang sok ekslusif" cebik Davina.
"Biarin! Kan memang pasienku orang VIP semua" kekeh Fuji.
Ketiganya berjalan menuju pintu lift dan tampak Davina memeluk lengan sang papa dan Fuji di tengah-tengah dua pria itu.
Ketika pintu lift terbuka, tampak Kareem hendak keluar tapi diurungkan karena tiga orang dihadapannya hendak masuk. Fuji melongo melihat wajah Kareem yang babak belur.
"Wah Oom! Niat banget ngehajar Kareem!" gelaknya.
"Gimana nggak niat! Seenaknya saja dia!" sungut Javier kesal.
"Lha memang dia ngapain?"
"Cium bibir Davina di depan garasi dan depan Oom!"
Fuji menganga dan sejurus kemudian tertawa terbahak-bahak. Davina dan Kareem langsung memerah wajahnya.
"Ya... makan mata pencaharian kau!" gelak Fuji.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️