
Falisha memarkirkan mini Cooper nya ke kantor sang papa dan semua orang tahu siapa gadis cantik itu mengangguk hormat yang dibalas dengan senyuman ramah putri Kareem Hassan itu apalagi dia juga memegang kepala HRD disana.
Sesampainya di lantai tiga kantor papanya, Falisha langsung menjitak kepala David, asisten papanya.
"Astaghfirullah Al Adzim! Nona Falisha... Apa salahku!" David menatap putri Bossnya dengan wajah terkejut. Kerasnya jitakannya.
"Kamu tuh! Bisa nggak sih bikin jadwal yang benar? Kok bisa bentrok gitu? Untung kliennya papa yang aku temui nggak kecewa bukan papa yang datang!" omel Falisha kesal akibat ketidakprofesionalan David. "Aku suruh papa pecat kamu deh! Menyesal aku menerima kamu."
"Jangan dong nona Falisha... Kasihan anak-anakku yang masih membutuhkan susu" ucap David dramatis.
"Anak dari Monas? Wong kamu belum nikah! Entah kalau kawin!"
"Astaghfirullah, nona Falisha yang cantik jelita, saya masih perjaka Ting Ting. Mau dicoba?" cengir David.
"Amit-amit jabang bayi! David Prasetya! Kamu beneran minta dikirim ke Kathmandu!"
"Wah, ketemu Dalai Lama dong! Kayak di komik Tintin gitu!"
"Dalai Lama di Tibet, David! Kamu aku kirim ke Kathmandu buat nyapu disana!"
"Ya Allah, teganya dirimu nona. Wong di rumah aku nggak pernah nyapu..."
"Makanya belajar biar besok aku kirim kesana sudah fasih!"
"Nona, bagaimana anak-anak saya?"
"Kirim ke shelter!"
"Ya Tuhan, Bluey dan Raggy ku" ucap David dramatis sambil menatap foto kucing ragdollnya.
Fanisha memutar matanya malas. "Sudah, nggak usah drama. Kamu salah, ya salah saja!"
"Nonaaaa" rengek David dan tiba-tiba pintu ruang kerja Kareem terbuka dan tampak sang papa keluar bersama dengan seorang pria berusia sekitar akhir 20 tahunan berwajah khas Indonesia dan seorang pria paruh baya di belakangnya.
Pria itu terkejut melihat Falisha yang sedang bersama David dan tersenyum setelahnya.
"Bagas, perkenalkan ini putri saya Falisha. Princess, ini salah satu klien papa Bagas Hadiyanto."
Pria itu mengulurkan tangannya ke Falisha. "Bagas."
"Falisha" ucap Falisha sambil tersenyum profesional.
"Pak Kareem, saya permisi dulu. Nona Falisha." Bagas menganggukkan kepalanya tapi netra hitamnya terus menatap Falisha.
"Silahkan pak Bagas" ucap Kareem sedangkan Falisha hanya mengangguk.
Bagas berdiri di depan lift bersama Oom merangkap asistennya, Indra. Diliriknya Falisha yang sudah masuk ke dalam ruang kerja ayahnya.
Cantik.
"Jangan macam-macam Gas. Susah buat masuk ke keluarga keturunan Pratomo. Harus lolos screening dan itu sudah jadi rahasia umum di kalangan para pengusaha. Cacat sedikit, tidak lolos! Kamu harus merubah perilaku mu kalau mau mendekati nona Falisha." Suara Indra membuatnya menoleh.
"Screening?"
"Ohya." Keduanya pun masuk setelah pintu lift terbuka. "Mereka jago mencari aib orang. Jangan lupa keluarga Blair yang juga pengacara keluarga besar mereka."
"Damn it!"
"Makanya aku bilang, kamu tidak pantas. Player dan tukang mabok, langsung ditolak mentah-mentah! Jangan lupakan Javier Arata, opa Falisha, yang dikenal dingin dan tidak segan-segan menghajar siapapun yang berani mengganggu keluarganya." Indra menatap keponakannya.
__ADS_1
"Akan buktikan bahwa aku juga bisa masuk ke dalam keluarga Sultan itu." Bagas menatap Oomnya dengan wajah percaya diri.
"Oom kok tidak yakin."
***
"Bagaimana pertemuannya dengan Sangaji Lau?" tanya Kareem setelah keduaya berada di ruangan pria paruh baya itu.
"Lancar Pa. Dan apa papa tahu kalau Aji adalah seorang tuna rungu?"
Kareem menaikkan sebelah alisnya. "Aji?"
"Eh? Wong dia yang minta dipanggil gitu, kok Pa. Bukan salahku manggil dia seperti itu kan?" ucap Falisha kikuk.
"Senang dong bisa bertemu dengan orang yang bisa berbahasa isyarat" senyum Kareem yang selalu mendukung kegiatan amal putrinya.
"Iya."
"Dan tampan pula" goda Kareem.
"Dan tampan... Papaaaa!" teriak Falisha membuat Kareem tertawa terbahak-bahak.
"Benar kan dia tampan? Papa sudah bertemu sekali dan papa bilang dia pria yang tampan."
"Iisshhhh papa, aku baru 22 tahun. Jangan jodoh-jodohin!"
"Arimbi seumur kamu sudah menikah dengan Bima" goda Kareem.
"Lha mereka udah pacaran dari SMA!" Usia Arimbi dan Falisha hanya beda setahun dan tua Arimbi.
"Iya sih tapi memang Bima sudah ngebet dan papa lihat mereka juga bahagia meskipun menikah muda."
"Mas Bima ngemong sama Arimbi. Jadi pas pa" senyum Falisha.
"Bukan Aji-ku, Papa."
Kareem hanya tersenyum. Falisha lalu mengambil iPad dan mulai menjabarkan hasil pertemuannya.
***
Falisha sudah kembali ke ruang kerjanya dan dia mengirimkan pesan ke Tuti bahwa dia tidak akan datang ke sekolah karena harus mengurus pekerjaan di perusahaan sang papa.
📩 Tuti : Santai saja, Lis. Kalau kamu makan gaji buta di kantor Oom Kareem, bahaya buat kelangsungan kita makan cireng, cilok, bakso malang dan pempek.
Falisha tertawa. Sahabatnya itu memang otaknya hanya jajan dan makanan.
📩 Falisha : Kalau cuma makan itu mah, satu lembar uang merah masih bisa turah.
📩 Tuti : Aku bingung sama kamu ya Lis. Casing bule tapi lidah Jawa.
📩 Falisha : Lha Mas Bima dan Arimbi sama Mas Ega dan Anjani sering pakai bahasa Jawa kalau ngomong kan jadinya ikutan aku.
Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Falisha.
📩 (+62813xxxxx ) : Nona Falisha, maukah nanti makan malam bersama saya?
📩 Falisha : Maaf, ini siapa ya?
Jangan-jangan Aji.
📩 (+62813xxxxx ) : Bagas Hadiyanto.
Falisha membeku. Secepat ini? Please deh!
__ADS_1
📩 Falisha : Maaf, pak Bagas. Darimana anda tahu nomor ponsel saya? Perasaan saya tidak memberikan nomor saya ke anda.
📩 ( +62813xxxxx ) : Saya bertanya pada resepsionis di bawah. 😊😊😊
Falisha melotot. Pasti Dina yang kasih! Resepsionis satu itu memang tidak bisa bilang tidak kalau melihat ada pria ganteng.
📩 Falisha : Maaf pak Bagas, saya sudah ada janji dengan saudara-saudara saya. Terimakasih atas undangan anda.
📩 ( +62813xxxxxx ) : Kabari saya jika anda memiliki waktu kosong baik untuk makan siang atau makan malam.
Falisha menghela nafas panjang. Males banget!
📩 Falisha : Insyaallah pak Bagas.
Setelahnya Falisha meletakkan ponselnya dan dia mulai sibuk membuka berkas-berkas yang dibutuhkan untuk evaluasi tiga bulan karyawan papanya dan itu rutin untuk mengetahui EQ dan SQ mereka selama ini.
Ringtone ponselnya berbunyi dan Falisha melihat nama yang familiar menelponnya.
"Assalamualaikum Arimbi."
"Wa'alaikum salam. Hangout yuk nanti malam" ajak Arimbi.
"Dimana?"
"Biasa, RR soalnya mas Rama datang dari New York ada urusan sama papi" ucap Arimbi.
"Oke. Jam berapa? Jam tujuh?"
"Yoooiiii. Ruang VIP sudah dibooking seperti biasanya ya" jawab Arimbi.
"Oke! Sampai nanti, Rimbi."
***
Jam tujuh malam Falisha sudah sampai di restauran milik Keluarga besarnya. Restauran yang dirintis oleh opa buyut Ryu Reeves, lalu diambil alih oleh Oom Aidan yang sekarang bekerjasama dengan sepupunya Rajendra McCloud. Kalau joke di keluarga besar, kembali ke habitat keturunan Ryu Reeves.
Malam ini Falisha datang dengan dress putih dipadu vest hitam dan sepatu tali hitam. Sebuah suara familiar membuatnya menoleh.
"Falisha!"
"Mas Rama" senyum Falisha melihat kakak sepupunya yang plek ketiplek Opa Elang.
Rama memeluk adik sepupunya. "Tambah cantik saja nih cewek Turki" kekehnya.
"Idiiihhh. Dah yuk masuk, Mas Bima dan Arimbi sudah di dalam." Falisha dan Rama saling berpelukan berjalan masuk ke dalam restauran.
Siapa pria itu? Keduanya tidak menyadari ada netra hitam yang melihat mereka dengan tatapan tajam.
***
Naseeebbb punya sepupu laki paripurna gantengnya sering bikin salfok dan di setiap generasi pasti ada yang kecelek eh... ketipu bahwa itu sepupunya. 😁😁😁.
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1