
Falisha datang ke kantor milik seorang pria berdarah Asia yang merupakan partner bisnis papanya, Kareem Hassan. Gadis berusia 22 tahun itu harus menggantikan sang papa karena hari ini papanya juga ada meeting penting.
Rasanya Falisha ingin menjitak kepala David, asisten papanya yang teledor membuat jadwal bentrok jadi merepotkan dirinya. Harusnya dia mengajar ke anak-anak tuna rungu asuhannya. Sejak usia sepuluh tahun, Falisha belajar bahasa isyarat karena teman sebangkunya sewaktu SD, Tuti, adalah tuna rungu. Falisha merengek minta belajar bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan Tuti dan Davina pun tidak bisa menolak permintaan putrinya.
Sekolah khusus anak-anak tuna rungu dibangunnya di usianya yang ke 17 sebagai permintaan kado ulang tahun ke Opanya, Javier Arata. Sang Opa pun mengabulkan permintaan cucu perempuannya yang dikenal sangat murah hati dan ramah. Falisha dengan sukarela mengajar disana bersama Tuti yang mengambil kuliah di bidang pendidikan dan beberapa rekan yang mendalami bidang pendidikan dasar tetapi juga mengalami tuna rungu. Falisha sendiri memilih mengambil kuliah psikologi di UI sembari mengajar disana.
Sekarang Falisha baru saja menyelesaikan magister psikologi pendidikan karena gadis itu lebih memilih bekerja di dunia pendidikan meskipun dia juga belajar banyak tentang bisnis papa dan Opanya. Falisha adalah gadis yang senang belajar sesuatu yang baru dan dia gadis yang cerdas seperti para sepupunya yang lain.
Di Jakarta, Falisha dekat dengan Ega, putra Danisha dan Iwan karena mereka sering bertemu di rumah sakit jika Ega membutuhkan psikolog untuk pasiennya. Ega adalah dokter anak yang bekerja di rumah sakit bersama Tante nya, Arum dan Rani.
Ega sudah menikah dengan Anjani, seorang desainer yang bekerja di Giandra Otomotif Co. Falisha juga dekat dengan Arimbi dan Bima sepupunya yang lain. Terkadang mereka sering berkumpul berlima dan saling mendukung pekerjaan satu sama lain. Arimbi dan Anjani sangat mendukung passion Falisha di dunia anak-anak yang memiliki kekurangan.
"Selamat pagi" sapa Falisha ke gadis yang berada di balik meja resepsionis.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" balas gadis itu ramah.
"Saya hendak bertemu dengan tuan Sangaji Aryaseta Lau."
"Maaf anda adalah.."
"Falisha Hassan dari FH Workshop."
"Oh sebentar nona Hassan." Ya ampun cantiknya. Resepsionis itu menghubungi Mr. Lau yang merupakan calon klien sang papa.
"Nona Hassan, anda dipersilahkan naik ke lantai tujuh."
"Baik, terimakasih." Falisha pun berjalan menuju lift dan memencet tombol nomor tujuh.
Ketika pintu lift terbuka, tampak seorang sekretaris wanita berusia sekitar empat puluhan sudah berada di hadapan Falisha.
"Mari nona Hassan. Tuan Lau sudah menunggu anda. Perkenalkan nama saya Nadya, saya sekretaris tuan Lau." Nadya berjalan di depan Falisha dan mereka masuk ke dalam sebuah ruangan meeting.
"Tuan Lau, nona Hassan sudah hadir."
Falisha mengangguk hormat kepada pria berdarah Asia di hadapannya. Nama Jawa tapi kok nggak ada jawa-jawanya kayak Oom Bara, Opa Ghani atau mas Aga?
Pria berwajah cool itu hanya mengangguk lalu mengulurkan tangannya. "Aji."
"Falisha" jawab Falisha yang sedikit kaget mendengar nada agak celat di lidah pria itu dan melihat ada alat dengar di balik telinga pria itu.
Are you deaf? tanya Falisha dengan bahasa isyarat ke arah Aji.
Aji terkejut melihat gadis cantik di hadapannya fasih berbahasa isyarat. Nadya, kamu tidak dibutuhkan di sini, nona Hassan bisa bahasa isyarat. Aji memberikan perintah kepada Nadya selain menjadi sekretarisnya, juga penerjemah meskipun Aji bisa membaca bahasa bibir.
"Baik tuan Lau. Saya permisi dulu" pamit Nadya yang meninggalkan keduanya di ruang meeting.
Saya tidak tahu kalau anda bisa bahasa isyarat, nona Hassan. Aji menatap Falisha dengan senang.
__ADS_1
Sahabat saya dari SD adalah seorang tuna rungu dan saya belajar karena dia.
Aji tersenyum. Awesome.
Tuan Lau. May I ask you something.
Aji menatap gadis bernetra hazel atau hijau... Aku tidak terlalu yakin dengan warna matanya. "Tanya apa?"
"Apakah anda juga bisa membaca bahasa bibir?"
"Alhamdulillah bisa. Indonesia, Inggris, Jepang, China, saya bisa."
Your name is Javanese but you're not look one.
Aji terbahak. Saya anak angkat keluarga Lau dan saya diambil dari sebuah panti asuhan di Beijing. Mereka tidak punya anak dan ibu angkat saya orang Jawa meskipun ayah saya adalah orang China muslim. Jadi saya diberikan nama Sangaji Aryaseta Lau.
Falisha tersenyum. Sejujurnya dia kepo sejak tadi.
Anda bukan orang Indonesia?
Papa saya blasteran Turki Indonesia, mama saya .. Falisha tertawa. Saya tidak bisa menjabarkan keturunan apa tapi yang jelas Oma buyut saya orang Inggris asli, Opa buyut campuran Jepang Korea, Oma saya campuran Inggris Jepang. Kesimpulan saya produk gado-gado.
Aji tersenyum tipis. Hasil produksinya bagus sekali.
Falisha memerah wajahnya. "Let's start talk to business, Mr Lau."
Falisha pun mengangguk. Setelahnya keduanya membahas tentang bisnis interior mobil mewah milik Aji. Awalnya pria itu ingin ke mengganti interiornya di perusahaan Bara tapi posisi jadwal penuh dan Bara menyarankan ke bengkelnya Bima, menantunya tapi sama saja penuh. Akhirnya Bara menunjuk bengkel milik Kareem Hassan iparnya.
Kamu berapa bersaudara? tanya Aji setelah mendapatkan kata sepakat model dan jenis kulit yang dipilihnya.
Aku punya adik laki-laki berusia 20 tahun bernama Fathir, sekarang sedang kuliah di Columbia University mengambil arsitektur.
Aji mengangguk. Aku senang bertemu denganmu, Falisha. Kamu satu-satunya orang yang bisa berbahasa isyarat untuk rekan bisnis. .
Falisha tersenyum. "Nice to meet you too. Kalau begitu, saya permisi Mr.. Aji."
"Take care."
Falisha mengangguk dan berbalik setalah menjabat tangan Aji lalu berjalan menuju pintu.
"Falisha!" panggil Aji.
Falisha pun berbalik. "Apa ada yang tertinggal?" Falisha termasuk ceroboh suka meninggalkan barang kalau pergi.
"Ada. Nomor ponselmu." Aji tersenyum.
Falisha nyengir lalu mengeluarkan kartu namanya dari dompet khusus kartu.
__ADS_1
"Ini kartu nama saya, Mr...Aji" ucap Falisha seraya menyerahkan kartu namanya yang bewarna silver. Di perusahaan papanya, Falisha bagian HRD.
"Ini nomor ponselmu?" tanya Aji.
"Iya."
"Mungkin saya tidak bisa menelpon kamu tapi saya bisa mengirimkan pesan padamu." Aji menatap lembut ke Falisha.
"Absolutely, Mr...Aji."
"Aji, Fa. Bukan Mr Aji" gelaknya yang membuat wajah Falisha memerah.
"Baik... Mi... Eh Aji. Saya permisi dulu." Gadis itu pun berbalik dan meninggalkan Aji yang masih memegang kartu nama itu.
Bahkan kartu namanya pun berbau harum - batin Aji.
Elakshi Falisha Hassan. Namanya antik dan bagus. Aji mencari akun sosial Falisha dan tidak menemukan apapun disana hanya beberapa berita tentang acara amal yang dilakukan cucu Javier Arata.
Dia punya sekolah khusus anak-anak tuna rungu? Pantas dia bisa bahasa isyarat. Aji semakin kagum dengan gadis cantik dengan warna mata tidak jelas itu.
She's so gorgeous!
***
Introducing Elakshi Falisha Arata Hassan
Introducing Sangaji Aryaseta Lau
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Gegara Jade masih direview lama tadi, makanya aku bikin ide bonchap anaknya Davina n Kareem.
Kali ini agak berbeda karena bukan pria sempurna yang nanti mengejar Falisha.
So far bagaimana pendapat opening bonchap nya?
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1