
Aji mendatangi Javier di kantornya bersama dengan Nadya. Usai makan siang, Javier menghubungi dirinya dan meminta untuk datang ke PRC group. Aji sendiri bisa meraba apa maksud Opa Falisha itu dan pasti tidak jauh-jauh dari rencana lamarannya.
Davina yang berpapasan dengan Aji dan Nadya terkejut melihat calon menantunya datang ke gedung tempat dirinya bekerja.
"Aji? Nadya? Ada apa kemari?" tanya Davina.
"Kami diundang oleh tuan Javier, nyonya Davina" jawab Nadya.
"Haddeeeehhh. Apa sih maunya papaku satu itu" kekeh Davina. "Oh Aji, kalau Opa Javier menanyakan acara lamaran kamu, bilang saja beres gitu ya."
Aji tersenyum. Baik Mrs Hassan.
Aji dan Nadya melanjutkan berjalan menuju ruangan Javier dan disana mereka bertemu dengan Haris yang ternyata sama-sama dipanggil oleh putra Vivienne Neville Arata.
"Pak Sangaji" sapa Haris.
"Pak Haris" balas Aji. Keduanya saling berjabat tangan.
"Baru sekarang ya kita bisa ngobrol" ucap Haris.
Iya pak Haris. Maafkan waktu anda ke rumah sakit saya tidak menyambut Anda.
Haris tertawa. "Santai saja. Saya malah asyik ngobrol sama nona sotong satu itu."
Nona Sotong?
"Eh, maksud saya Freya. Dia selalu memanggil saya cumi, ya saya balas saja panggil dia sotong."
Cumi dan sotong mirip tapi berbeda. Aji tersenyum.
"Jumlah tentakel dan bentuk berbeda tapi kami sama-sama enak dimakan" gelak Haris yang membuat Aji dan Nadya melongo.
"Tidak heran nona Freya cocok dengan anda, pak Haris" komentar Nadya.
"Kenapa Nadya?"
"Sama-sama kacau!" kekeh Nadya. Aji tertawa.
"Mungkin ya?" gumam Haris. "Pak Aji, semoga kita beneran menjadi ipar dan bisa menjalin hubungan persaudaraan dengan baik."
Aamiin. Maafkan saya jika lebih cepat memakai bahasa isyarat daripada bicara.
"It's okay. Saya malah ingin mempelajari bahasa isyarat untuk menambah pengetahuan."
Saya dan Fa bisa mengajari anda nanti.
"Apa yang membuat Pak Aji jatuh cinta dengan nona Falisha?" tanya Haris.
Dia wanita yang sesuai dengan kriteria yang saya inginkan. Paket komplit. Kalau pak Haris?
"Nona Freya itu random orangnya dan tidak bisa ditebak tapi membuat saya penasaran dan tertarik dengan gadis itu. Ada banyak hal yang membuat saya jatuh cinta kecuali kesukaannya berburu hantu." Haris cemberut.
Aji dan Nadya tertawa. "Masih cari penampakan nona satu itu?"
__ADS_1
"Semoga tidak ya. Saya kapok pingsan soalnya!"
Aji terbahak mendengarnya.
***
Javier menatap kedua pria di hadapannya, pria dengan fisik berbeda, yang satu bule dan satu oriental namun dengan determinasi sama, sama-sama mencintai cucu-cucunya.
"Aji, Haris. Kalian tahu kenapa saya panggil kemari?" tanya Javier.
"Soal saya kepergok ciuman dengan nona Freya?" tanya Haris polos yang membuat Aji dan Nadya terkejut.
Javier terbahak. "Kamu memang ngawur!"
Haris hanya mengusap tengkuknya.
"Saya mau menanyakan bagaimana kalau acara lamaran kalian, dijadikan satu saja. Aji sendiri orangtuanya hendak kembali ke Beijing sedangkan Haris, kamu kan tidak ada saudara. Kenapa tidak barengan saja?" Javier menangkupkan kedua tangannya diatas meja kerjanya.
Saya tidak masalah tuan Javier karena makin ramai makin menyenangkan bukan?
"Aku setuju denganmu Ris. Toh mereka semua adalah cucu keluarga Arata jadi barengan lebih baik." Javier mengangguk.
"Tuan Javier..."
"Ya Nadya?"
"Bolehkah saya menanyakan sesuatu?"
"Apa itu?"
Javier menatap serius kepada ketiga orang disana.
"Bisakah kalian menjaga rahasia? Termasuk dari kedua cucuku?"
Nadya, Aji dan Haris merasakan sesuatu yang tidak enak.
"Aku menderita kanker kelenjar getah bening stadium dua dan sekarang aku sedang menjalani kemoterapi serta pengobatan rutin."
"Astaghfirullah." Haris, Aji dan Nadya terkejut.
"Tuan Javier..." Nadya mulai meneteskan air mata.
"Don't cry Nadya. Aku tidak apa-apa." Javier menatap lembut ke asisten kepercayaannya.
"Apakah nyonya Agatha tahu, tuan?" tanya Haris.
"Agatha tentu saja tahu. Meskipun aku selalu semangat untuk berusaha sembuh, tapi aku harus realistis bahwa usia aku bisa tidak lama. Dan sebelum aku menemui kedua orangtuaku, mommy Vivienne dan Daddy Jammie, setidaknya aku sudah ayem menitipkan kedua cucu Perempuanku kepada kalian berdua. Pintaku kalian berdua selalu menyayangi dan mencintai Freya dan Falisha. Jangan kalian sia-siakan kedua cucuku itu." Javier menatap dalam ke mata biru Haris dan mata hitam Aji.
Kedua pria itu menatap Javier dengan tatapan hormat.
"Saya akan selalu menyayangi nona Freya Sir" ucap Haris.
Tuan Javier jangan khawatir. Kebahagiaan Fa adalah prioritas saya.
__ADS_1
"Terimakasih kalian berdua. Jangan kecewakan saya! Kalau tidak, nanti arwah saya akan gentayangan" kekeh Javier.
"Astaghfirullah! Tuan Javier, kenapa ikutan seperti nona sotong... eh nona Freya sih?" gumam Haris.
"Nona Sotong?" Javier mendelik ke arah Haris.
"Eh? Soalnya nona Freya sering memanggil saya cumi, ya saya balas manggil dia sotong" cengir Haris.
"Oh Astaga!" Javier menepuk jidatnya.
***
Aji, Haris dan Nadya memutuskan untuk bertemu usai jam pulang kantor. Ketiganya tampak lesu setelah mendengar pernyataan Javier tentang penyakit yang dideritanya.
"Nad, kamu kan paling lama ikut dengan tuan Javier. Kamu tidak tahu?" tanya Haris yang mengetahui cerita soal Nadya dari Freya.
"Aku benar-benar tidak tahu, pak Haris. Anda kan tahu sendiri bagaimana tuan Javier pintar menyembunyikan sesuatu sebelum akhirnya menjadi bom?" ucap Nadya.
Aku tidak menyangka di balik wajah seramnya, tuan Javier menderita penyakit berbahaya.
"Aku tidak kebayang bagaimana sedihnya nona Falisha dan Nyonya Davina jika mengetahui penyakit tuan Javier." Nadya menatap ke kedua calon menantu keluarga Arata.
"Jika saat itu tiba, kita harus bisa menjaga pasangan masing-masing seperti janji kita ke tuan Javier." Haris tampak serius. "Lagipula, aku tidak mau digentayangi tuan Javier."
Nadya mengeplak Haris. "Sembarangan!"
***
Javier merebahkan tubuhnya di samping Agatha yang sedang menatap dirinya dengan penuh cinta.
"Aji dan Haris sudah tahu, sayang?" tanya Agatha lembut.
"Sudah, bahkan Nadya ikut tahu" jawab Javier tenang.
"Berarti setelah para cucu menikah, kita kembali ke New York?" tanya Agatha.
"Iya, sayang. Aku akan melakukan pengobatan disana" jawab Javier. "Aku sudah mendaftar di Roswell Park Cancer Institute. Dan kenapa aku memilih New York, karena keluarga kita banyak disana. Duncan dan Rhea disana, Eiji dan Ayame pun ikut pindah ke New York, para keponakan dan cucu kita juga kebanyakan disana. Aku ingin dekat dengan mereka semua."
Agatha memeluk suaminya yang sudah mendampingi dirinya beberapa dekade. "You know Javi, aku selalu mencintaimu."
"Aku pun selalu mencintaimu Agatha, sayang. Terimakasih selalu mendampingiku selama ini meskipun aku sedikit random." Javier menatap istrinya yang dimatanya selalu tampak cantik seperti saat pertama kali bertemu.
"Kamu? Sedikit random? Tak salah pak?" Agatha mendelik.
Javier tertawa lalu memeluk Agatha erat.
***
Yuhuuu Up Sahur Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️