
Kalau ada yang bertanya dari mana kekacauan Freya? Well, apakah pada ingat dia cicitnya siapa? Kalau ada yang bisa nebak Vivienne Lee Neville Arata... Yak tul ! So, jangan kaget Yaaa... 😁😁😁
Pagi-pagi Freya sudah menongkrong di sekolah milik Falisha dan bertemu dengan Tuti, sahabat sepupunya.
"Cari siapa?" tanya Tuti dengan sedikit celad.
"Falisha. Belum datang kan dia?"
Tuti menggeleng karena dia juga belum melihat mobil mini Cooper milik sahabatnya.
Introducing Astuti 'Tuti' Yasmine sahabat Falisha
"Sebentar lagi paling sampai. Anda siapa?" tanya Tuti.
"Freya, sepupu Sha." Freya mengulurkan tangannya yang disambut Tuti. "Wah, taman sekolah kalian jadi cantik. Mas Rama ya yang desain?"
Tuti mengangguk dengan wajah memerah membuat Freya kepo maksimal.
"Mas Rama ganteng kan?" godanya.
"Iya... Eh?" Tuti menutup mulutnya membuat Freya tertawa terbahak-bahak.
"Santai saja. Yang suka sama mas Rama banyak! Kalau aku tidak ingat dia masih saudara, bisa aku embat! Tapi karena aku juga tahu bobroknya mas Rama, makanya jadi ilfill!" kekeh Freya.
"Memang bobroknya apa?" tanya Tuti dengan polos.
"Malas mandi!" gelak Freya.
"Haaaahhhh?" Tuti menatap tidak percaya. "Serius?"
"Serius! Aku kan tinggal di London dari SMP dan tahu lah mas Rama gimana" cengir Freya. "Itu kalau Tante Sekar nggak jewer mas Rama, mana mau lah dia mandi! Asli, jangan naksir dia! Ganteng tapi jorok!"
Tuti melongo. Gadis itu lalu mengalihkan perhatiannya ke para murid yang datang bersama dengan orangtuanya. Freya melihat bagaimana gadis yang sebaya dengan Falisha tampak luwes menghadapi para orangtua yang normal.
Tak lama, Falisha pun datang dan para guru lainnya juga sudah hadir langsung menyambut para siswa. Falisha memberikan kode kepada Freya untuk tunggu sebentar dan sepupunya itu pun mengangguk.
***
Haris masuk kantor dengan perasaan tidak nyaman karena tatapan menusuk para rekan-rekannya yang menanggap dia lancang dan nekad tidur bersama dengan Freya Sky.
"Ris, kamu sudah dihajar sama tuan Ashley ya?" tanya salah rekannya yang melihat pipi Haris membiru.
Haris hanya mengangguk.
"Lalu? Sama tuan Javier? Juga sudah?" tanya rekan lainnya.
__ADS_1
Haris mengangguk lagi. "Masih untung nyawa aku belum pindah ke pohon beringin dekat kuburan."
Rekan-rekannya melongo. "Ris, kamu masih waras kan? Belum kesambit jin pohon Kamboja dekat apartemen kamu kan?"
"Kesambit ya Wis Ben. Meh piyeee" keluh Haris.
"Whoah! Beneran dia kesambit! Kita kudu panggil kyai ini, biar diruqyah!" seru rekannya.
"Tidak usah, panggil penghulu saja. Biar aku segera dinikahkan dengan nona Freya" gumam Haris seperti orang melamun.
"Fix! Panggil kyai!"
***
Falisha dan Tuti melongo mendengar permintaan Freya supaya Aji segera melamar dirinya, begitu juga Haris jadi mereka berempat bisa segera menikah secepatnya.
"Kamu masih belum ngapa-ngapain kan sama Haris?" Falisha memincingkan matanya.
"Eh sori cumi! Aku masih segelan! Kalau bibir mah sudah diperawani" gelak Freya cuek.
Tuti memegang pelipisnya, pusing mendengar ucapan tidak berfilter sepupu Falisha, sahabatnya.
"Mbak Freya tuh apa nggak kapok habis kena omel semalam terus sekarang mau bikin perkara lagi? Ya Allah, beneran cicitnya Oma Vivienne deh dirimu!"
"Eh Sha! Memang kamu nggak? Kamu kan juga cicitnya Oma Vivienne dan Opa Jammie Arata!" ledek Freya.
"Belum mas Rama yang kadang ikutan gesrek." Freya melirik ke arah Tuti. "Ngomong-ngomong, sahabatmu itu naksir mas Rama lho."
Wajah Tuti langsung merah padam. "Nggak kok."
Falisha dan Freya langsung cekikikan. "Nggak salah!"
"Astaghfirullah" Tuti memegang dadanya.
"Aku sudah bilang sama Tuti, janganlah naksir mas Rama!" ucap Freya. "Bukan karena kekurangan kamu, Tut. Kamu cantik, baik tapi ya itu, mas Rama jorok orangnya. Arimbi saja sampai ngomel-ngomel waktu tinggal bareng jaman kuliah. Baju kotor suka numpuk, kamar kayak kapal pecah. Anggap saja habis ketabrak Titanic masih kena buldozer!"
Tuti tertawa mendengar cerita Freya.
"Casing sumpah ganteng, lakik banget, kelakuan ya lakik banget...joroknya" sambung Freya.
Falisha tertawa. "Aku kan tidak tahu soalnya aku sekolah sampai kuliah di Jakarta. Kamu kan yang lebih tahu karena kamu kumpul sama dia dari SMP di London. Tut, bukannya gimana-gimana, kamu bakalan stress sama mas Rama secara kamu orangnya pembersih banget!"
"Tuti, serius bukan kamu kekurangan, bukan. Tapi aku ngeman kamu. Masih banyak yang lebih pembersih dari mas Rama." Freya menatap serius ke Tuti.
"Ish, siapa yang naksir mas Rama?" elak Tuti.
"Kamu!" seru kedua saudara sepupu cantik itu.
__ADS_1
Wajah manis Tuti makin memerah.
***
Javier menerima laporan dari Ashley dan Raymond disaat ipar dan keponakannya datang siang ini ke gedung PRC group.
"Jadi, Haris berciuman dengan Freya di sofa belakang?" tanya Javier tenang.
"Oh come on Javi! Bagaimana kamu bisa santai begini sih?"
"Lho berarti mereka sudah klik dong! Dan asal kalian tahu, pagi-pagi tadi habis sholat subuh, Freya menelponku dan meminta agar acara lamaran disegerakan karena dia tidak mau kehilangan Haris yang kalau aku quote itu 'pelukable dan cipokable'."
Ashley dan Raymond melongo. "Astaga! Benar-benar mirip mama Vivienne dan Opa Alex liciknya cucuku satu itu!" Raymond memegang pelipisnya.
"Hei, gen tidak akan lari kemana Ray" gelak Javier. "Sekarang tinggal aku nodong Aji agar dalam Minggu ini melamar Falisha dan acaranya dibarengkan saja dengan Haris. Kan Haris yatim piatu jadi bisa bersama dengan Aji. Nanti aku yang atur semuanya. Selesai lamaran, keempatnya menikah bulan depan dan aku sudah mendapatkan hari baiknya."
Ashley melongo. "Oom, Freya anak aku lho."
"Memang tapi gen liciknya nurun dari mommy dan aku" cengir Javier.
"Benar kata Joshua dan Duncan. Hati-hati sama kamu, Vi. Bahkan Eiji saja bisa kamu manipulasi supaya dapat Ayame!" gerutu Raymond.
"Hei, bukannya di dalam bisnis kita juga harus bisa licik?" seringai Javier.
"Aku tidak urusan soal bisnis, Javi tapi jangan cucu-cucumu juga yang kamu manipulasi!" umpat Raymond.
"Setidaknya kamu harus bersyukur Ray, cucu kita sudah mendapatkan pasangan yang cocok buat mereka meskipun yang satu tuna rungu dan yang satu takut hantu" gelak Javier. "Tapi aku yakin, mereka adalah pria yang terbaik buat Falisha dan Freya."
"Aku minta kamu jangan ikut campur soal Fayza ya!" pinta Raymond soal cucunya yang kedua, adiknya Freya.
"Fayza sudah mendapatkan jodohnya Pramana dan aku setuju, Fay dengan Pram." Javier tersenyum.
"Oh Astaga! Aku kira semakin tua semakin wise ternyata semakin gesrek!" ucap Raymond.
"Ray, kita semakin tua dan pasti akan dipanggil pulang. Setidaknya, aku ayem karena cucu-cucu kita ada yang melindungi dan mencintai sungguh-sungguh." Javier menatap serius ke Raymond dan Ashley. "Jadi kalau besok aku ketemu mommy, aku bisa bilang 'Mom, don't worry. Semua cicit mommy sudah mendapatkan pasangan seperti halnya mommy dan Daddy, aku dan Agatha, Valora dan Raymond.' Itu yang ingin aku berikan sebelum pulang."
Raymod dan Ashley hanya bisa tertegun.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Lanjut besok sahur.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️