
Javier mengajak Kareem ikut ke PRC group meskipun wajahnya babak belur begitu dan protes dari Davina tidak digubrisnya.
"Papa, seriously?"
"Why not?" sahut Javier cuek.
Oh Astaga!
Pagi ini mereka bertiga naik mobil Mercedes milik Javier sedangkan Audi R8 milik Kareem, disetiri oleh Yono.
Setibanya di kantor PRC group, Javier melihat Ali Khan sudah menunggu disana dan pria India itu sedikit terkejut ketika Kareem berjalan di belakang dengan wajah babak belur.
Davina menatap Ali Khan dengan tatapan datar dan biasa saja.
Ali Khan mengerenyitkan dahinya. Ada apa ini?! Apakah... ?
"Ali, ikut kami!" perintah Javier. Ali pun mengikuti ketiga orang itu. Lift pun sampai di lantai ruang kerja Javier yang dulunya adalah ruangan milik Adrian Pratomo.
"Davina, kamu duduk di sofa. Ali, Kareem, duduk di depan saya!"
Keduanya pun menurut duduk di depan meja kerja Javier.
"Kalian sudah saling kenal kan? Baik, saya tidak mau basa basi. Ali, Davina sudah menetapkan keputusannya."
"Dia memilih Kareem daripada saya?" tebak Ali.
"Iya."
Ali menoleh ke arah Kareem yang diam saja. Rupanya habis dihajar dia.
"Alasanmu apa Vina?" tanya Ali ke Davina.
"Kareem, tolong tinggalkan kami bertiga. Kamu bisa menunggu di kursi depan." Javier menatap Kareem serius. Kareem yang melihat suasana tidak enak, mengangguk dan keluar dari ruang kerja Javier.
Setelah Kareem keluar, Davina berjalan ke kursi yang bekas dipakai Kareem.
"Karena ada yang mengirimkan video kamu masuk ke kamar dengan seorang perempuan di sebuah dusun" jawab Davina tenang.
"Siapa? Apakah saudara-saudaramu? Atau kamu mengirim mata-mata untukku?" desis Ali kesal.
"Aku tidak serendah itu mengirimkan mata-mata untukmu!" sergah Davina kesal.
"Kapan kamu terima video itu?"
"Tiga hari lalu."
Ali melongo. "Kamu percaya?"
Davina mengambil MacBook nya dan membuka email dirinya. Ada beberapa email disana dan semuanya dari email yang sama dan Ali mengenali nya sebagai milik saingan bisnisnya.
Davina memperlihatkan beberapa video yang diambil selama dua Minggu Ali tidak menghubunginya. Ali tercengang bagaimana detailnya video yang diberikan.
"Aku masih bisa terima kalau cuma sekali kamu tidur bareng dengan perempuan lain tapi ini selama dua Minggu kamu tidak ada kabar dan aku mendapatkan video ini. Ini dengan wanita yang berbeda. Aku tahu pria membutuhkan pelepasan biologis tapi kalau begini?" Davina hanya menatap Ali sedih.
Javier hanya diam saja membiarkan Davina menyelesaikan sendiri masalahnya.
"Maaf, Ali."
Ali Khan menatap gadis yang sekarang berada di hadapannya. "Aku yang minta maaf Vina. Aku yang salah dan kamu berhak memilih pria yang lebih baik."
__ADS_1
"Ali Khan, saya harap kamu bisa memposisikan mana urusan pribadi dan bisnis ya" ucap Javier.
"Iya tuan Arata. Saya yang salah disini karena kami sedang berada di lokasi pembuatan pabrik yang sinyal ponsel sulit dan masih menggunakan radio pemancar biasa. Kami baru selesai memasang tower sehari sebelum saya bisa menghubungi Vina."
Ali menatap Javier dengan rasa sesal. disana. "Saya yang tidak bisa menahan diri."
"Saya senang kamu bisa legowo mengakuinya. That's so gentle Ali."
"Are we still partner in business, Vina?" tanya Ali yang sejujurnya masih belum bisa menerima Davina menolaknya.
"Business is business, Ali."
"Thank you."
***
Ali keluar dari ruangan Javier dan menatap Kareem yang sedang mengetik sesuatu di iPad miliknya.
"Hassan" panggilnya.
Kareem mendongak. "Yes, Khan?"
"She's yours."
"I know" jawab Kareem kalem.
"Tuan Javier? Di wajahmu?"
Kareem tersenyum lebar. "Tanda mata dari beliau."
"Aku pun pernah mengalaminya" kekeh Ali. Pria India itu duduk di sebelah Kareem. "Take care of her."
"Anggap saja aku melakukan kesalahan fatal ke Davina." Ali menerawang ke arah langit-langit kantor.
"I'm sorry to hear that."
"Please don't karena ini murni kesalahan ku. Setidaknya Vina tidak memutuskan kerjasama dengan perusahaanku."
"Davina kalau soal pekerjaan, dia sangat profesional." Kareem menepuk bahu Ali. "Maaf, aku menikung mu."
Ali tertawa getir. "At least kita harus lebih bermartabat sebagai laki-laki kan?"
"Absolutely. Aku tidak suka mencari musuh, Al." Kareem menatap Ali dengan tatapan bersahabat.
Ali mengulurkan tangannya yang disambut oleh Kareem. "Please make her happy."
"Always."
***
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan video itu?" tanya Javier.
"Ada yang sengaja mengirimkan kepadaku dan mungkin ini jawaban dari doaku Pa."
Javier hanya bisa menghela nafas panjang. "Sangat disayangkan."
"I'm sorry Pa. Aku tahu Ali sudah berkorban banyak untukku tapi aku tetap tidak bisa menerima dia seperti itu... Aku bahkan tidak terbayang... " Davina tercekat.
"Papa juga tidak rela Vina" ucap Javier. Davina mengangguk.
__ADS_1
"Mungkin aku terlalu kolot" bisik Davina.
"Tidak sayang. Di keluarga kita itu mutlak. Papa tidak masalah duda tapi harusnya bisa menahan diri."
Davina mengangguk. "Vina ke ruangan Vina dulu pa."
"Suruh Kareem kembali ke kantornya, jangan di ruanganmu. Bahaya!" Javier menatap tajam ke putrinya.
Davina hanya tersenyum.
***
Javier melalukan panggilan video call dengan Agatha dan menceritakan apa yang terjadi. Agatha mengira Javier mengirimkan mata-mata ke Ali.
"Astaghfirullah, Agatha! Aku bahkan tidak kepikiran sampai kesana!" seru Javier.
"Setidaknya kita tahu alasan kenapa Davina memutuskan dengan Kareem."
"Aku saja baru tahu ini, sayang. Davina benar-benar menutupinya rapat-rapat. Dan Alhamdulillah Ali mengakui dengan gentle."
"Bagus lah! Itu namanya pria sejati."
***
Ali kembali ke kantornya setelah berpamitan dengan Kareem dan Davina. Meskipun hatinya remuk, tapi karena dia tahu salahnya tidak bisa menahan hasratnya, Ali harus menerima konsekuensinya. Lokasi sepi, tidak bisa menghubungi gadisnya dan ada ikan asin di depan kucing, apa lagi?
Davina sendiri kembali bersikap seperti biasa, profesional kepada Ali yang membuat pria itu sedikit sedih tapi dia berterima kasih gadis itu tidak membencinya.
"I don't hate you, I can't hate you Al. I always remember you're saving my life, tapi aku tidak bisa menerima kehidupan bebasmu selama jauh dariku" ucap Davina saat mengantarkan Ali ke lift.
"I know sweetheart. It's all my fault yang tidak bisa menahan diri. I'm so sorry."
"Semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari aku" senyum Davina.
"Aamiin." Ali tidak melihat Kareem yang sedang dipanggil Javier, mencoba mencium pipi Davina namun reaksi gadis itu membuatnya kecut. Davina memundurkan langkahnya hingga menjauh dari Ali. "Maaf."
Davina tersenyum. "Maaf Ali, aku tidak bisa."
"Iya. Aku bisa melihat perbedaan cara kamu menatapku dan menatap dia." Ali menghela nafas panjang. "At least you don't hate me."
"Terimakasih Ali atas semuanya." Davina mengulurkan tangannya yang disambut Ali.
"Kalau aku memelukmu, apa yang akan terjadi?"
"Kamu akan mengalami gegar otak" jawab Davina kalem.
"Why?"
"Karena aku akan membantingmu keras" seringai Davina.
"Oh my."
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️