Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Menemani Di Rumah Sakit


__ADS_3

Davina pun pulang bersama Fuji ke rumahnya yang lama, rumah yang masih berhadapan dengan tempat Ye-jun mengawasinya. Meskipun rumah itu sekarang kosong, tapi Davina masih merasa seolah-olah Ye-jun tetap mengawasinya.


Hanya perasaanku saja. Ye-jun kan sudah dipenjara di Miami.


Davina pun masuk ke dalam kamarnya dan melihat beberapa penjaga dan pengawalnya tetap melakukan patroli rutin. Kalau pun harus pindah, Davina keberatan karena rumah ini adalah hasil jerih payahnya selama bekerja di PRC group dan ditata sesuai dengan seleranya.


Davina sudah membersihkan diri dan sekarang dia berbaring diatas tempat tidurnya. Pikirannya melayang dengan pesan yang dikirimkan oleh Ali Khan.


Davina, aku akan ke Jakarta Minggu depan. Kita makan malam bersama malam minggunya ya. Love, A.


Davina mendengus. Apa-apaan? Gadha kabar, hanya main bilang datang lalu ajak makan malam? Are you kidding me? Kemana kabar elu selama dua Minggu?


Davina benar-benar kesal. Mana buktinya kalau dia benar-benar mencintai aku? Setidaknya Ye-jun masih menunjukkan dirinya mencintainya dengan caranya sendiri! Tidak ada hit and run!


Ringtone NCT 127 berbunyi dan Davina melihat siapa yang menelpon. Kareem Hassan. Ada apa? Davina lalu menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum" sapanya.


"Wa'alaikum salam. Davina, maaf malam-malam menelpon" ucap Kareem di seberang. Davina melirik jam dindingnya. Jam tujuh mah masih belum malam-malam.


"Masih jam tujuh kok, aku baru mau makan malam. Ada apakah?"


"Tidak, hanya saja aku bosan sendirian. Ibu sedang tidur dan aku cengok jadi aku menelpon dirimu."


"Kak Nathan kemana?"


"Nathan pulang dulu katanya mau bertemu dengan Pak Ghani."


"Kamu sudah makan?"


"Nanti saja, kasihan ibu kalau bangun tidak melihat aku disampingnya."


"Aku bawakan ya lagipula pelayan yang membuat makan malam agak banyak dan aku pasti tidak bisa menghabiskan sendiri."


"Memang pelayanmu memasak apa?"


"Nasi goreng seafood. Aku akan meminta untuk dibungkus dan membawanya ke rumah sakit."


"Tapi Davina, kamu kan tadi sore habis dari rumah sakit" cegah Kareem meskipun dalam hatinya bersorak gadis cantik itu mau kembali kemari.


"Aku juga santai kok sekalian refreshing. Aku bersiap-siap dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."

__ADS_1


***


Kareem hampir bersorak mendengar Davina akan datang ke rumah sakit membawakan makanan. Boleh kan sedikit modus?


Kareem melihat ibunya yang terlelap setelah meminum obatnya dan dia benar-benar merasa kesepian tidak ada teman mengobrol. Biasanya sih dia tidak apa dengan situasi seperti ini tapi entah kenapa dia ingin Davina menemaninya.


Sembari menunggu Davina datang, Kareem pun mencari tahu tentang gadis itu. Betapa terkejutnya Kareem ketika mendapatkan berita bahwa nama Davina dikaitkan dengan penangkapan Ye-jun, bandar narkoba terkenal di Miami.


Davina diberitakan membantu penangkapan pria itu ke Miami Dade Police dan DEA karena mereka pernah kuliah bersama saat di Stanford. Tapi aku yakin mereka pernah berpacaran.


Kareem pun bisa merangkai kenapa Davina agak menutup dirinya. Tampaknya dia benar-benar jatuh cinta dengan pria psycho ini dan butuh waktu lama untuk move on.


Pria blasteran itu tidak peduli Davina ada yang suk karena mustahil gadis secantik itu tidak ada yang ngejar selama janur kuning belum melengkung dan bisa ditikung sepertiga malam, Kareem bertekad untuk mendapatkannya.


Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Kareem dan pria itu pun berdiri lalu membuka pintu. Tampak Davina mengenakan kaus leher tinggi bewarna hitam dan celana jeans serta membawa paper bag berdiri disana.



"Food delivery" senyum Davina.


Tidak hanya food delivery tapi juga dirimu yang di delivery, Davina.


Kareem pun mempersilahkan Davina masuk. "Lütfen içeri gel canım" ucapnya.


"Silahkan masuk" sayangku.



Davina pun masuk ke dalam ruang rawat inap Sari Hassan sambil membawa paper bag. Harum parfum lembut Davina saat melewatinya, membuat Kareem harus menahan gejolak tubuhnya. Damn it!


***


Davina menata dua buah piring dan mengeluarkan kotak besar Tupperware lalu mulai menata nasi goreng seafood itu lengkap dengan garnish timun dan acar yang terdapat di kotak sendiri. Setelahnya dia meletakkan dua botol termos yang berisikan es teh.


Kareem memperhatikan bagaimana luwesnya Davina menata semuanya meskipun dia merasa gadis itu adalah nona manja karena melihat bagaimana para sepupu prianya memanjakan dirinya.



"Semoga suka" senyum Davina. "Kamu nggak alergi seafood kan?"


"Alhamdulillah nggak sih. Aku hanya alergi nanas" jawab Kareem. "Badan aku bisa bentol merah apalagi di daerah mulut dan lidah. Bisa seminggu tidak boleh berciuman..._


"Apa?" Davina sepertinya tidak mendengar kalimat Kareem yang terakhir karena dia sibuk menuangkan es teh ke gelas yang dia bawa.

__ADS_1


"Tidak, hanya alergi nanas dan... Astaga Davina, kita seperti piknik" kekeh Kareem.


"Aku hanya bosan di rumah." Davina menyesap es tehnya.


Kareem pun mencicipi es teh itu dan merasakan sensasi berbeda. "Davina, ini teh apa?"


"Oh itu teh wasgitel racikan dari beberapa macam merk dan jenis teh. Awalnya dari Oma Dara lalu menyebar kesemua keluarga jadi ikutan suka teh ini meskipun kami kebanyakan blasteran. Bahkan mbak Kaia sampai harus minta dikirim setiap bulan oleh Tante Savitri yang berada di Solo" kekeh Davina.


Kareem terkesima bagaimana mata Bambi Davina berbinar-binar menceritakan tentang keluarganya. Ya ampun gadis ini semakin cantik dan menggemaskan rasanya ingin segara aku halalkan!


"Davina..."


"Ya?"


"Aku tahu ini terlalu cepat tapi apakah boleh aku mendekati mu? Sejujurnya sejak pertama bertemu dengan mu di RR's Meal, aku sudah tertarik dengan mu. Dan karena aku tahu kamu masih jomblo dan aku juga singel, tidak ada salahnya kan kita mencoba menjalin hubungan?" Kareem menatap lembut ke Davina.


Davina terdiam mendengar pernyataan Kareem.


"Aku tahu soal Lee Ye-jun dan aku tahu dulu kamu sangat mencintainya namun itu Dulu Davina. Dia sudah menyakitimu, sayang dan sudah waktunya kamu membuka diri." Kareem mendekati Davina. "Beside, aku sudah meminta ijin kepada Fuji untuk mendekati dirimu."


Davina melongo. "Kok bisa minta ijin dengan kak Fuji?"


"Lha yang ada Fuji, aku minta ijin sama dia lah. Kalau ada papamu, Javier Arata, pasti aku akan menemui beliau." Kareem menatap Davina. "Bisa minta tolong kamu suapi aku? Daripada sendokmu yang berisikan nasi goreng itu berhenti di udara."


Davina terkejut. "Eh, tapi..."


Kareem memegang tangan Davina dan mengarahkan sendok ke mulutnya. "Hhhmm... Enaknya. Dav, kalau kita menikah, aku mau kamu suapi seperti ini."


"Me...menikah?" bisik Davina terkejut.


"Kamu pikir aku mau berhubungan dengan kamu hanya pacaran doang? No, Dav, aku sudah terlalu tua untuk seperti itu. Aku maunya kita segera menikah karena pacaran legal itu jauh lebih nikmat" jawab Kareem sambil menatap mesra ke gadis itu.


Oh Boy!


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2