Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Bonchap - Pocoooonnggg!


__ADS_3

Haris merasakan hawa dingin yang semakin merambat ke lehernya. Duh Gusti, tadi apaan ya yang menyentuh leherku? Kok dingin rasanya? Haris melirik ke arah Freya yang serius melihat layar handycam nya yang sedang menyoroti daerah sekitar.


Ketiga orang itu masih tampak serius berada di pinggir danau yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah pak Budi. Haris pernah membaca bahwa air merupakan elemen yang membuat para teman Casper suka disana karena air itu sendiri sudah bermutasi berulang kali sejak jaman dahulu kala. Entah sudah bekas apa saja dari jaman dinosaurus, jaman perang, jaman now.


Haris bergidik. Bangkai dinosaurus pasti dulu disini ada, apalagi perang jaman sebelum penjajahan sampai sekarang korban pembunuhan pasti ada di dalam danau itu. Kabarnya korban perang bisa jadi arwah penasaran apalagi korban pembunuhan. Tanpa sadar, Haris pun gemetaran ketakutan.


Suara langkah terdengar di belakang mereka bertiga yang membuat Haris, Freya dan Pak Budi saling menatap. Mata Haris seolah menunjukkan Apa itu di belakang kita? Freya memeriksa EMF dan DMV nya yang tidak menunjukkan tanda-tanda si Casper sedangkan pak Budi sudah agak panik.


Ketiga orang itu dengan pelan memutar kepala mereka ke belakang dan betapa terkejutnya melihat sesosok putih berkibar disana.


"AAAAAHHHHH!"


"Pocooonnngggg!" teriak pak Budi yang ingin berlari tapi kaki rasanya tidak mau bergerak, Haris dan Freya pun sama.


Freya menatap 'sosok pocong' itu dan mengarahkan senternya. "Kakinya napak kok!"


"Pak e! Piyeeee tho! Kok mbengoki aku pocong! ( Pak, gimana sih? Kok teriaki aku pocong )" teriak Bu Budi.


"HAAAAHHHH? Buk e tho?" seru Pak Budi. "Kowe sing nggarai! ( Kamu yang berulah )! Lah opo nganggo mukena putih kayak ngunu ( Ngapain pakai mukena warna putih begitu )?"


"Lha aku bar sholat isya. Lali nek durung ( Lupa kalau belum ). Lho, mas Haris kok nggeblak ( pingsan )?" komentar Bu Budi melihat Haris sudah tergeletak pingsan.


Freya menoleh. "Astaghfirullah! Haris!"


***


Haris mengerjap-ngerjapkan matanya dan pelan mata biru itu terbuka. Sosok yang pertama kali dilihatnya adalah wajah panik Freya dan tanpa sadar bibirnya tertarik ke atas.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Freya sambil mendekati wajah Haris.


Tidak baik-baik saja nona jika wajah cantikmu dekat begini. Kasihanilah jantungku nona Freya.


"Ba...baik kok..." Freya menjauhkan wajahnya.


"Alhamdulillah. Minum teh manis hangat dulu supaya ada tenaga" dengan telaten Freya membantu Haris untuk duduk dan mengambil gelas berisi teh hangat. "Bisa kan pegang gelasnya?"


"Bisa ... nona." Haris meminum pelan teh hangat nya.


"Nak Haris, maafkan ibu ya, bikin pingsan mas Haris" ucap Bu Budi yang sudah melepaskan mukenanya dan memakai daster panjang serta hijab instan.


"Tidak apa-apa Bu. Saya cuma kaget" ucap Haris.

__ADS_1


"Tadi Bu Budi datang ke belakang rumah mau kasih tahu kalau mobilmu menghalangi jalan jadi minta tolong dipindahkan ke samping rumah cuma beliau lupa melepaskan mukenanya" kekeh Freya.


"Terus ... si Rubi sudah dipindahkan?" tanya Haris ke Freya.


"Sudah sama pak Budi tadi setelah kita membopong dirimu masuk kedalam rumah. Benar-benar dasar bule! Beratnya badan kamu padahal nggak gemuk lho!" omel Freya.


Lha kalau aku bule, nona itu apa? Kulit merah Indian?


"Nak Haris, kuat nyetir nggak nanti? Kalau nggak, biar bapak antar..." tawar pak Budi.


"Eh tidak usah pak. Saya kuat kok nyetir" sergah Haris.


"Kan ada saya juga pak Budi. Asal ada GPS, gampang lah!" senyum Freya.


"Dihabiskan teh nya mas. Ini ada singkong goreng, buat nenangin perut supaya tenaganya mas Haris berkumpul lagi." Bu Budi menyerahkan sepiring singkong goreng.


Haris mengambil sepotong singkong goreng dan memakannya. Sembari menunggu Haris membaik, Freya membuka handycam nya dan mulai memutar rekamannya. Tak lama dirinya memekik heboh sendiri dan memperlihatkan sebuah bayangan putih berada diatas danau.


"Wah, nona Freya akhirnya mendapatkan penampakan ya" ucap Pak Budi.


"Bakalan aku kirim ke grup ghost Hunters ku! Akhirnya dapat juga di Jakarta. Ris, lihat ini." Freya menoleh ke arah Haris.


"No Way, nona. Cukup, saya sudah enough soal Casper not friendly ghost!" Haris menggelengkan kepalanya berulang dengan kuat.


"Si tu ne te tais pas, je vais t'embrasser tout de suite ( kalau nona tidak berhenti, saya cium nona sekarang juga )" ancam Haris yang membuat Freya melongo.


What the hell? Beraninya dia! - Freya.


Modal nekad saja lah! Daripada aku disuruh melihat penampakan! - Haris.


"Tu n'oserais pas ( kamu tidak akan berani )" ucap Freya sinis.


"Essaie-moi! ( Coba saja )" seringai Haris. Freya menatap tajam ke pria bermata biru itu.


"Sek sek sek, sakjane kalian itu ngomong bahasa opo tho? Kok kayak wong pilek. Ibu buatkan teh panas ya Ben ora masuk angin. Wis tanda-tanda soale." Bu Budi pun masuk ke dalam dapur untuk membuat teh.


"Fais attention à toi! ( Awas kamu )" pendelik Freya.


Haris tersenyum simpul. Setelah dirinya mulai membaik, jiwa usilnya muncul. Ternyata menggoda nona Freya menyenangkan.


***

__ADS_1


Haris menyetir Rubicon hitam miliknya dengan santai apalagi waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam yang membuat jalanan lengang dan hanya sedikit kendaraan yang lalu lalang di sekitar daerah pak Budi.


Begitu masuk ke dalam jalan raya utama, baru banyak kendaraan disana meskipun jalan masih termasuk kosong. Haris melirik ke arah Freya yang masih cemberut dan kesal mendengar ucapan pria itu.


"Nona Freya. Masih marah?" goda Haris.


"Menurutmu? Dasar cowok jirih!" umpat Freya kesal.


"Saya cuma jirih hantu nona tapi tidak jirih yang lain" kekeh Haris.


"Hei! Kok kamu tahu arti kata 'jirih'? Oh aku lupa, kamu kan ikut di RR's meal." Freya menatap keluar jendela lagi. "Ngomong-ngomong, kamu bukan kriteria aku!"


"Kenapa?" tanya Haris penasaran. "Apa nona lebih memilih Bagas Hadiyanto?"


Freya menoleh. "Apa hubungannya dengan Bagas Hadiyanto?"


"Bukankah dia datang ke FH Workshop tadi siang?"


"Siapa ... Falisha" gumam Freya. "Kenapa Falisha memberitahukan pada dirimu kalau aku tadi bertemu dengan Bagas Hadiyanto?"


"Karena saya mendapatkan tugas maha penting dari tuan Javier Arata" jawab Haris kalem.


"Eh cumi! Memang Opaku satu itu kasih tugas apa ke kamu?"


"Nona ingat saat saya menawarkan bagaimana kita pacaran daripada sama-sama jomblo?"


Freya mengangguk. "Iya. Aku ingat. Memang kenapa? Apakah kamu serius demi menghilangkan status jomblowan mu, lalu sembarangan saja minta aku jadi pacarmu gitu?"


"Well, itu salah satunya tapi yang utama adalah, tugas saya membuat nona Freya jatuh cinta dengan saya." Freya melotot.


"Siapa yang menyuruh?" suara Freya terdengar kesal.


"Tuan Javier Arata."


Freya menghela nafas panjang. "Oooopaaaaaa!" teriaknya.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2