Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
She's Gonna Be Mine


__ADS_3

Ali Khan melirik ke arah Davina yang duduk diantara dirinya dan Agatha namun gadis itu hanya menatap lurus ke depan seolah tidak memperhatikan bagaimana papanya membuat Ali keringat dingin membayangkan akan dihajar oleh Javier Arata.


Setelahnya tidak ada percakapan diantara mereka di dalam mobil, bahkan Yono hanya melirik boss besarnya yang terlelap sedangkan Mr Khan hanya memandang keluar jendela.


Alamat deh tuan Javier memberi pelajaran ke Mr Khan.


***


Keluarga Arata sampai di mansion milik keluarga besar Neville yang memang memiliki aset di Jakarta dengan lokasi di Jakarta Selatan yang jaraknya hanya satu jam ke mansion Giandra.


Javier sendiri langsung masuk kamar diikuti oleh Agatha sedangkan Yono dibantu oleh pelayan membawakan koper-koper milik Boss besarnya. Davina menoleh ke arah Ali Khan yang tampak ragu-ragu untuk masuk ke dalam mansion.


"Kamu kenapa Al?" tanya Davina.


"Apa kamu tidak tahu bagaimana tatapan papamu mendengar aku memanggilmu 'sweetheart'. Betapa dia ingin mencincang ku." Ali menghela nafas panjang.


"Kamu yang memanggilku begitu, jadi kamu harus bertanggung jawab." Davina tersenyum lalu masuk ke dalam mansion.


Ali hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Salahmu juga Li. Kepedean manggil anaknya begitu. Ali pun berjalan masuk ke dalam rumah sambil menenteng duffle bag nya.


***


Ali masuk ke dalam kamar tamu yang disiapkan oleh pelayan yang bernuansa hijau. Javier Arata memang suka warna hijau bahkan tatanan rumahnya didominasi warna itu. Berbeda dengan putrinya yang suka warna broken white.



Ali kemudian membuka kemejanya dan tampak dirinya masih memakai korset khusus untuk dadanya agar tulang rusuknya tetap terlindungi meskipun bisa sembuh sendiri sekitar sebulan.


Pelan-pelan korset itu dia lepas dan disimpan di atas nakas lalu Ali mulai menelpon Naseer untuk menanyakan bagaimana perusahaan karena dirinya baru masuk besok ke kantor cabang Jakarta.


Ali Khan sendiri malas pulang ke New Delhi atau Mumbai untuk memeriksa pabriknya karena semuanya sudah dihandle oleh sepupunya dan orang-orang kepercayaannya.


Suara ketukan di pintu membuat Ali memutuskan hubungannya dengan Naseer dan hanya dengan mengenakan kemeja tanpa dikancing, dia berjalan untuk membuka pintunya.



Tampak Davina di depannya dan wajahnya agak terkejut melihat Ali yang tidak mengancingkan bajunya. Baru kali ini dirinya melihat badan pria itu karena dia tidak pernah memperhatikan.


Wajah gadis itu sedikit merona dan Ali seolah tidak terganggu melihat gadis yang dicintainya tampak gugup.

__ADS_1


"Er, makan siang sudah siap. Kata mama, kita makan siang dulu karena papa dan mama mau istirahat." Davina kemudian berbalik lalu tangannya dipegang oleh Ali.


"Tunggu sebentar. Kita akan ke ruang makan bersama." Ali melepaskan pegangannya lalu masuk ke dalam kamar sebentar dan keluar dengan penampilan rapi.


Davina mendelik ketika Ali menggandeng tangannya seperti saat di rumah sakit dan di bandara. Apa dia lupa ini masih di rumah orangtuaku ya?


Ali hanya tersenyum melihat wajah judes Davina. "Setidaknya aku bisa seperti ini dulu sebagai mood booster sebelum aku dihajar oleh papamu nanti."


***


Jam tujuh malam adalah jam makan malam bagi keluarga Arata seperti biasanya dan tampak Javier makan sambil menatap judes ke Ali Khan yang duduk bersebelahan dengan Davina.


"Pa, ada kabar kah dari Miami?" tanya Davina.


"Senin besok sudah mulai sidang pertama dan jaksa penuntut umum sudah menyiapkan semuanya, Vin. Dan ada kemungkinan pria itu akan mendapatkan hukuman mati." Javier menatap putrinya. "Setidaknya kamu tidak perlu maju ke persidangan menjadi saksi, sayang."


Davina mengangguk. "Aku juga tidak mau bertemu dia."


"So, apa kamu dan Ali ada hubungan sekarang?" tanya Agatha sambil menatap keduanya yang duduk di hadapannya.


Davina dan Ali saling berpandangan dan Davina menggelengkan kepalanya.


"Javi, kita makan dulu sayang. Kan kamu sudah berjanji akan bicara nanti setelah makan malam" tegur Agatha.


Javier hanya mendengus sebal.


***


Kini di ruang kerja Javier, tampak Ali duduk menghadap pria paruh baya yang masih tampak sehat dan kuat. Siapa yang berani macam-macam dengan satu-satunya pria di keluarga Pratomo yang lolos hell week berkali-kali.


"Ali Khan. Aku tidak akan basa basi. Apa maksudmu memanggil putriku sweetheart?" Javier menatap pria itu tajam. "Aku tahu kamu tertarik dan jatuh cinta pada putriku tapi apakah kalian sudah memulai hubungan hingga kamu berani memanggilnya seperti itu?"


Ali Khan menelan salivanya berulang dan tampak dia sangat gugup. Aku lebih suka menghadapi klien menyebalkan atau rekan bisnis gesrek macam Arjuna daripada seorang Javier Arata.


"Kami belum ada hubungan asmara jika itu yang dimaksud Mr Arata tapi saya memang lebih suka memanggil Davina dengan panggilan seperti itu karena menurut saya, dia adalah wanita kesayangan saya."


"Dia masih milik kami, Al!" sergah Javier dingin.


"Kalau begitu bagaimana jika Davina menjadi milik saya, Sir? Saya serius ingin menjadikan Davina sebagai pasangan hidup saya dan itu sudah saya inginkan sejak pertama kali saya bertemu dengannya."

__ADS_1


Ali Khan menatap lurus wajah keras Javier.


"Davina sendiri? Apakah dia membalas?" tanya Javier.


"Belum, Sir tapi setidaknya dia tidak menolak jika saya menggenggam tangannya." Ali mulai berani setelah membayangkan bagaimana Davina seperti anak kucing yang pasrah ketika dirinya mencium keningnya di taman rumah sakit.


Javier memincingkan matanya melihat mata coklat pria India itu seperti melamun membayangkan sesuatu yang membuatnya menarik sudut mulutnya keatas.


"Kamu membayangkan apa, Ali?" suara Javier.


"Eh...tidak Sir" jawab Ali gugup. Bisa dihajar aku kalau tuan Javier tahu aku membayangkan saat mencium kening Davina.


"Awas kalau kamu aneh-aneh!" ancam Javier.


"Saya nggak aneh-aneh, Sir. Hanya ingin meminang putri anda." Ali berfikir sekalian sajalah daripada kelamaan menunda keinginannya.


Javier Arata tampak tidak terkejut mendengar ucapan pria itu karena dia tahu Ali Khan adalah tipe pria yang nekad. Bisnis yang diwariskan dari orangtuanya pun dia jalankan dengan modal nekad padahal dia saat itu baru lulus SMA.


"Apa kamu yakin putriku akan menerima lamaran mu, Al?"


"Saya yakin Davina tidak akan menolak menikah dengan saya karena dia tahu alasan saya ingin bersamanya hingga maut memisahkan."


"Apa itu?"


"Bahwa saya akan selalu mencintainya dan saya tidak akan menyakiti dirinya." Ali membasahi bibirnya. "Dan karena dia akan tahu kalau saya lebih baik dari pria psycho itu."


Javier memincingkan matanya. "Kita lihat saja nanti, Al. Apakah Davina menerimamu atau tidak."


"Saya yakin akan menerima saya." Ali tampak yakin. Karena Davina tahu dia berhutang nyawa padaku.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Maaf tadi sudah semangat mengetik tapi jadi drop gara-gara chapter nya Ren ditolak berulang kali.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2