
Ali dan Davina tiba di sebuah apartemen yang dekat dengan kantor milik Ali dan gedung PRC group. Ali memang memilih area sana karena lebih dekat dengan Davina tujuan awalnya namun tidak menyangka mereka akan kabur kemari.
Keduanya masuk ke dalam apartemen yang cukup mewah dengan tiga kamar dan bernuansa biru putih. Davina bisa melihat beberapa aksesoris yang berbau India disana.
"Silahkan duduk Vina. Aku akan menelpon ayahmu." Davina melotot.
"Papa jangan sampai tahu!"
"Tapi Dia harus tahu, Vina! Pria psycho itu sampai berani tinggal di seberang rumah kamu itu keterlaluan!" suara Ali terdengar meninggi.
"Pikirkan acaranya Oom Ghani dan mas Bara!"
"Pikirkan keselamatan mu! Kamu kira mereka tidak akan tahu? Mereka akan tahu Davina! Apa kamu lupa siapa keluargamu!"
Davina terdiam.
Ali Khan tidak peduli dan langsung menelpon Javier Arata.
***
"Astaghfirullah! Dia benar-benar psycho!" seru Javier yang sekarang sedang berada di Sydney. "Sekarang kalian dimana?"
"Kami di apartemenku, tuan Javier karena yakin pasti mereka ke mansion anda dan mansion keluarga lainnya jadi saya berpikir lebih aman disini."
"Siapa yang tahu apartemen mu Al?" tanya Javier.
"Hanya Naseer adik sepupu saya. Bahkan sepupu Davina tidak ada yang tahu."
"Bagus. Aku akan bilang dengan Yusuf, tangan kananku di PRC untuk menghandle pekerjaan Davina dulu sementara sampai acara pernikahan Bara selesai. Sementara kalian disana dulu. Apakah perlengkapan kalian aman?"
"Kami bisa membelinya online."
"Baik. Aku titip Davina, Al. Tolong jaga dia."
"Baik tuan Javier."
***
Davina membuka kulkas dan tersenyum melihat lumayan lengkap isinya. Gadis itu memang suka masak tapi tidak Sejago Kaia atau Danisha tapi lebih baik daripada Kristal dan Keia.
Segera dia mengeluarkan daging ayam, sayuran dan beberapa bahan makanan lainnya. Menggunakan apron, Davina mulai memasak nasi yang merupakan nasi khas India, beras basmati. Davina ingin membuat nasi Kari ayam khas India yang dia pelajari dari Aidan ketika kangen masakan yang full rempah.
Hampir dua jam dia berkutat di dapur tanpa memperhatikan bahwa dirinya diawasi oleh seseorang. Wajah pria itu tidak dapat dijabarkan melihat pemandangan di dapurnya, seorang gadis dengan rambut diikat tinggi mengenakan kaos hitam ketat, apron asyik memasak.
"Ehem." Ali berdehem untuk membuat gadis itu menoleh.
Davina berbalik. "Maaf, membuat dapurmu berantakan" senyumnya.
__ADS_1
"Kamu masak apa?"
"Chicken curry India style" senyum Davina. "Memasak itu salah satu terapiku agar tidak stress."
Ali melihat masakan Davina yang sudah ditata di meja makan.
"Aku tidak tahu kamu bisa masak" gumam Ali.
"Kenapa? Karena aku terbiasa menjadi nona Arata?" tanya Davina.
"Iya. Nona besar Arata yang terbiasa diladeni, dilayani, lahir dengan sendok emas" senyum Ali.
"Ayo duduk, kita makan siang. Maaf kalau rasanya kurang pas di lidah orang India asli" kekeh Davina. Entah kenapa melihat bagaimana paniknya Ali, hatinya mulai menghangat.
Ali pun duduk dan mulai menyendokkan nasi curry ayam buatan Davina ke dalam mulutnya. Gadis itu menatap Ali seolah menunggu penilaian dari pria itu.
"Bagaimana?"
Ali menatap Davina. "Ini enak sekali, Vina. Kamu belajar dari siapa?"
"Aidan Blair. Dia yang mengajariku membuat ini. Apakah benar-benar enak?"
Ali mengangguk. "Ini beneran enak, Vina. Tak salah jika aku jatuh cinta padamu."
Pipi Davina merona. "Terima kasih jika masakanku enak."
***
Tak terasa hampir seminggu Ali dan Davina bersembunyi di apartemen milik pria itu dan selama itu pula keduanya semakin dekat satu sama lainnya. Davina sendiri tidak masalah dirinya seperti tahanan yang tidak bisa bebas kemanapun karena dia lebih memikirkan keselamatannya.
"Yono melaporkan bahwa penghuni rumah depan mulai pindah dan hari ini, rumah itu kosong" ucap Arya.
"Tetap kalian harus berhati-hati. Sementara harus di bawah radar dulu, Al. Jangan keluyuran. Apakah Davina tidak masalah kalian tinggal di apartemen sementara waktu sampai acaranya Bara?" tanya Javier.
"So far Vina fine-fine saja tuan Javier" jawab Ali.
"Kalau kalian butuh bahan makanan atau baju, kabari kami" ucap Ghani.
"Tidak perlu Oom Ghani, sudah bisa kami handle." Ali tersenyum.
"Berhati-hatilah kalian. Kalian akan kami jemput dua hari sebelum acaranya Bara" ucap Javier.
***
"Kamu sudah siap Vina?" tanya Ali melihat Davina keluar dari kamarnya. Kamar yang selama ini menjadi tempatnya berlindung. Semenjak Ye-jun mengetahui nomor ponsel Davina, Ali langsung membuang kartu dan ponsel gadis itu lalu menggantinya dengan yang baru. Hanya ada kontak-kontak yang penting disana sesuai dengan data cloudnya.
"Sudah Al" jawab Davina. Subuh ini rencananya Davina dan Ali akan berangkat menuju mansion Giandra.
__ADS_1
Arjuna dan Fuji akan menjemput keduanya karena menurut Ghani lebih aman jika dua orang itu yang datang langsung.
"Arjuna sudah perjalanan kemari." Ali membaca pesan pada ponselnya.
"Mas Juna datang sama siapa?" tanya Davina sambil menyeret kopernya, koper yang dibelinya secara online. Bukan koper mahal yang biasanya tapi setidaknya berfungsi dengan baik.
"Sama Fuji Al Jordan."
Davina mengangguk. Setidaknya dua pria paling jago di keluarga datang menjemputnya. Paling kuat sebenarnya Levi, Aidan dan Arjuna. Hanya saja Yanti sedang hamil, jadi alangkah baiknya Levi mundur.
"Are you okay?" tanya Ali sambil menyeret koper Louis Vuitton nya.
"Hanya sedikit gugup keluar apartemen melihat dunia luar setelah sekian lama." Davina tertawa kecil.
Ali menatap gadis cantik itu dan reflek memeluk tubuh langsing itu.
"Jangan takut, Vina. Kamu aman diantara keluarga mu" bisik Ali. Davina mengangguk. Ali mencium pelipisnya sekilas yang membuat gadis itu membeku.
"Maaf" ucap Ali yang merasa dirinya lancang mencium pelipis Davina.
"Ehem... sebaiknya kita menunggu mas Juna dan kak Fuji" suara Davina terdengar sedikit bergetar.
Suara bel pintu berbunyi dan Ali melihat dari layar intercom apartemennya dan tampak Arjuna dan Fuji sudah berdiri disana.
Ali membuka pintunya dan tersenyum melihat sahabatnya Arjuna yang langsung memeluk pria India itu.
"Terimakasih sudah menjaga adikku" ucap Arjuna tulus. Dirinya merasa kesal belum bisa menghajar Ye-jun karena pria itu sudah kembali ke Miami dua Minggu lalu dan sekarang mereka sedang menyusun bukti-bukti kejahatannya.
"Ayo kita berangkat" ucap Fuji setelah memeluk Davina.
Keempatnya pun keluar dari apartemen Ali Khan dan menuju mobil Mercedes Benz G milik Fuji yang dibelinya untuk kendaraan pribadinya selama di Jakarta.
Mobil mewah itu pun meluncur meninggalkan komplek apartemen tanpa memperhatikan sekitarnya.
"Anda benar Boss. Dia tinggal bersama dengan pria India itu dan sekarang pergi dijemput oleh saudaranya, Al Jordan dan McCloud."
"..."
"Baik boss. Kita lakukan sesuai rencana sehari sesudah pesta keluarga Giandra."
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Lanjut Besok
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️