Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Dihajar


__ADS_3

"Davina Blaze Arata!" sebuah suara bariton membuat keduanya menoleh. Davina terkejut melihat siapa yang datang.


"Papa?" bisik Davina melihat ayahnya berdiri di bawah payung dengan wajah marah.


Kareem menatap pria bule bermata abu-abu kehijauan yang menatapnya tajam. "Kamu! Ikut saya!" Javier Arata berjalan masuk ke dalam rumah Davina.


"Baik, tuan Arata" jawab Kareem patuh. Pria itu menoleh ke Davina lalu menggandengnya masuk ke dalam rumah.


Akhirnya bertemu juga dengan Javier Arata.


***


BUGH!


Sebuah pukulan mendarat di wajah tampan Kareem begitu pria itu berdiri di ruang tamu Davina.


"PAPA!" teriak Davina sambil memeluk Kareem yang terjatuh akibat pukulan pria paruh baya yang masih tampak tegap itu.


"Beraninya kamu mencium anak saya!" hardik Javier emosi.


"Iya saya berani mencium putri anda karena saya mencintai Davina!" balas Kareem tegas dan tidak ada rasa takut di wajah dan matanya.


"Kurang ajar kamu!" Javier hendak meninju Kareem namun Davina menghalangi perbuatan papanya.


"Stop papa! Vina yang salah!" teriak Davina.


"Dav..." bisik Kareem melihat ke arah gadis itu yang menjadi tamengnya. "Menyingkirlah... Biar aku hadapi papamu."


"Tapi..." Davina menoleh ke arah Kareem.


"Aku laki-laki Dav..." Kareem menyingkirkan tubuh langsing Davina dan berdiri lalu menghadapi Javier. "Silahkan tuan Arata menghajar saya seperti apa, akan saya terima karena memang salah saya mencium putri anda."


Davina melirik di sekitarnya, Yono dan anak buahnya pun tidak ada yang berani mendekat apalagi yang dihadapi adalah Javier Arata.


BUGH! BUGH! BUGH!


Javier menghajar Kareem hingga tampak babak belur dan pria keturunan Turki itu tidak membalas.


"Pa, sudah... Sudah!" jerit Davina sambil menangis. "Jangan pukul kekasih Davina!"


"AAAPPAAA?" teriak Javier.


"A...pa?" bisik Kareem sambil melihat wajah Davina yang memeluknya lagi.


"Stop pa! Jangan pukul Kareem lagi pa. Kalau papa mau menyalahkan, salahkan Vina Pa. Vina yang menerima ciuman Kareem" ucap Davina pelan dengan wajah memerah. Air mata masih mengalir di pipinya.


"Jangan... menangis, Dav" bisik Kareem.


"Oh Astaghfirullah!" Javier mengusap wajahnya kasar. "Bukannya kamu sama Ali Khan? Kenapa bisa dengan pria ini?"


"Vina belum menerima Ali, Pa. Jadi bukan salah Vina kan kalau lebih memilih Kareem?" Mata coklat Davina menatap papanya dengan tegas.

__ADS_1


Javier mendudukkan tubuhnya di sofa dan melihat bagaimana Davina membantu Kareem untuk duduk. Ada apa dengan anak gadisku ini? Kenapa berubah haluan?


"Yono, tolong ambil kotak P3K, sama air dan handuk" perintah Davina ke kepala pengawalnya.


"Baik nona."


"Maaf, Kareem... Maaf" ucap Davina sambil memegang wajah pria itu. Hatinya sakit dan mencelos melihat hasil karya papanya di wajah tampan itu. Air matanya tumpah lagi.


"It's okay...Dav" senyum Kareem sambil menghapus air mata Davina. Bahkan kondisi babak belur gini saja Kareem masih bisa tersenyum.


"Nona Davina, ini kotak P3K nya" Yono meletakkan diatas meja sedangkan pelayan Davina membawakan baskom berisi air hangat dan handuk.


"Yono dan yang lainnya, kalian keluar. Tinggalkan kami bertiga" perintah Javier.


***


Davina dengan telaten merawat lebam di wajah Kareem, mengompres, memberikan salep, sesuatu yang Javier tidak lihat sikap putrinya ke Ali.


Apakah Davina sudah memantapkan hatinya?


"Vina..." panggil Javier.


"Jangan hajar Kareem lagi papa" pinta Davina dengan nada memelas.


"Vina, papa mau tanya ke Kareem" Javier menatap tajam ke Kareem yang sudah berantakan wajahnya.


"Kareem. Nama belakang mu?" tanya Javier sambil membuka ponselnya.


"Hassan, tuan Arata. Saya pemilik bengkel FH di Istanbul Turki dan sekarang saya membuka cabang disini karena ibu saya tinggal di Jakarta setelah ayah saya meninggal. Ibu saya orang Indonesia, bernama Sari Fahira Hassan."


"Yes, Sir."


"Keluarga mu? Kamu duda?" Javier mengerutkan keningnya. Kenapa yang suka dengan Davina para duda? Sekalinya dapat lajang malah psycho!


"Ayah saya Faiz Hassan adalah orang Turki, bertemu dengan ibu saya di Mekkah ketika ibu saya menjadi TKW. Mereka jatuh cinta dan menikah disana lalu ibu ikut pindah ke Istanbul. Ayah saya adalah seorang pemilik bengkel sederhana disana tapi memiliki banyak pelanggan." Kareem sedikit meringis ketika rasa nyeri menyerang.


"Mana yang sakit?" bisik Davina khawatir. Kareem hanya memandang Davina sambil tersenyum.


"Lanjutkan" sahut Javier tajam.


"Saya lahir setahun kemudian dan sejak kecil memang sudah diajak ayah ke bengkel. Usia delapan tahun saya diajak balapan gokart dan menjuarai turnamen sampai usia 18 tahun saya masuk ke dunia WRC."


"Bagaimana kamu bertemu dengan Maryam?"


"Maryam adalah seorang wartawan otomotif dan kami sering bertemu di setiap perlombaan. Kami jatuh cinta dan menikah setelah setahun pacaran. Dua tahun lalu, saya dan Maryam mengalami kecelakaan mobil. Saya mengalami patah kaki sedangkan Maryam... " Kareem menghela nafas panjang. "Meninggal di tempat akibat benturan keras dan... membuat tulang lehernya...patah" bisik Kareem tersendat.


Davina menggenggam tangan Kareem sambil tersenyum menenangkan.


Javier memeriksa file yang dikirimkan oleh Abian Smith dan semua cerita Kareem cocok.


"Apa benar kamu harus diterapi setelah kematian istrimu?"

__ADS_1


"Benar tuan. Saya trauma menyetir mobil dan itu juga yang membuat saya mundur dari dunia balap. Alhamdulillah saya sekarang sudah bisa menyetir lagi."


Javier mengangguk. "Sejak kapan kamu suka Davina?"


"Sejak saya pertama kali bertemu dengannya di RR's Meal bersama Fuji Al Jordan."


"Apa benar Davina malam-malam ke rumah sakit menemani mu makan malam?"


Davina dan Kareem hanya bisa melongo. "Papa..."


"Apa Vina? Kamu lupa selalu dikawal?"


Davina hanya terdiam. Padahal aku sudah bilang Yono untuk diam.


"Bagaimana reaksi ibumu ketika tahu kamu menyukai putriku?"


Kareem tersenyum lembut ketika membayangkan ibunya. "Alhamdulillah, ibu sangat menyayangi Davina."


Javier melihat itu. Jika seorang anak laki-laki melembut suaranya saat membicarakan ibunya, bisa dipastikan dia pria yang baik.


"Vina, apa kamu yakin dengan Kareem?" Javier menatap tajam ke putrinya.


"Insyaallah yakin Pa" jawab Davina tegas.


Kareem menoleh ke arah Davina mencari keraguan di wajah cantik itu. "Dav... are you sure?" bisik Kareem.


"I'm sure." Davina menatap Kareem.


Javier melihat keduanya yang memiliki bahasa tubuh yang sama, sama-sama saling mencintai dengan caranya sendiri. Javier tidak melihat itu saat Davina bersama Ali.


Apakah memang jodohnya Davina adalah seorang duda?


"Kareem, kamu pulang sekarang. Besok pagi jam tujuh, kamu sudah harus ada di sini!" perintah Javier.


Kareem mengangguk. "Baik tuan Arata."


"Vina, papa mau istirahat dulu. Kamu antar Kareem pulang di depan" Javier pun berdiri yang diikuti oleh Davina dan Kareem. Pria paruh baya itu berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai satu.


"Memang besok aku akan diapain?" bisik Kareem ke Davina.


"Aku tidak tahu" balas Davina.


Semoga papa nggak aneh-aneh lagi.


***


Yuhuuu Up Malam


Lanjut Besok Yeeee


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2