Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Bonchap - Javier Memutuskan


__ADS_3

"Siapa saja nama mereka Fa?" suara bariton Javier terdengar di ruang meeting ke arah cucunya.


"Yang gendut itu namanya Rojak..."


"Dia yang kamu hunus pakai pisau?"


"Iya Opa. Lalu yang pakai kacamata itu namanya Tarman, yang kumis tipis itu namanya Basuki..."


"Lebih mirip Karyo di si Doel!" cebik Javier.


"Opa, Karyo kan yang meranin pelawak namanya Basuki. Sama saja ih!" Falisha gemas dengan Opanya yang asal njeplak. "Lalu yang kecil itu namanya Yoga."


"Posisi mereka di PRC group apa?"


"Rojak dan Basuki bagian keamanan kantor, Tarman bagian divisi layout, Yoga bagian divisi interior."


"Yang sudah menikah siapa?"


"Rojak dan Basuki."


Javier menatap dua orang itu dengan tajam. "Kamu berdua saya pindahkan ke kantor PRC group di Kiev."


Falisha melongo. Memang ada kantor cabang PRC di Kiev?


"Alias kalian saya pecat karena kalian tahu tidak ada kantor PRC group di Kiev."


"Tuan Javier..." Rojak merengek.


"Tidak ada toleransi, Rojak dan Basuki! Saya sudah mendapatkan laporan dari beberapa manajer rumah makan di sekitar kantor ini karena kalian sering membuat ulah disana. Kami diam karena masih memikirkan kalian sudah menikah, ambil anak orang untuk dijadikan istri dan kalian harus bertanggung jawab menafkahi apalagi kalian punya anak. Tapi semakin hari kalian semakin ngelunjak! Bahkan cucu saya juga kalian goda! Apa kalian tidak pernah lihat wajah Falisha?" suara berat Javier terdengar menggelegar di ruang meeting itu.


"Dan kamu, Tarman dan Yoga, kalian saya pindah ke Surabaya dan kalian hanya sebagai staf biasa. Kalian jangan harap bisa macam-macam disana karena CEO PRC group di Surabaya adalah Mark Neville, keponakan saya." Mark adalah cucu dari Brett Neville, kakak sulung Vivienne Neville.


Tarman dan Yoga langsung lemas karena semua di PRC group Jakarta tahu bagaimana tegasnya Mark Neville bahkan lebih sadis dari Javier Arata.


"Tuan Javier, nona Falisha, kami benar-benar minta maaf atas semua perbuatan kami. Tapi mohon jangan pecat kami" pinta Basuki. "Anak saya masih sekolah."


"Apa saat kamu membuat ulah di setiap makan siang, teringat anak dan istri kamu? Setiap pagi kamu keluar rumah untuk bekerja, ada doa istri dan anak kamu agar mencari nafkah dan rejeki agar mereka berkecukupan hidup tapi apa yang kamu lakukan? Kalian lupa akan hal itu, Basuki, Rojak!" Falisha menatap tajam kearah dua orang itu.


"Kalian akan tetap mendapatkan pesangon dan tiga bulan gaji. Gunakan uang itu sebaik-baiknya! Jika kamu ingin berbuat macam-macam, ingatlah kejadian ini!" ucap Javier tegas.


Rojak dan Basuki pun lemas mendengar keputusan Javier dan Falisha yang sudah final.


"Yudho, tolong kamu kesini. Urus semua pesangon Rojak dan Basuki bagian keamanan sekalian bawa Vanya bagian HRD untuk mengurus mutasi Tarman dan Yoga ke PRC Surabaya." Javier menelpon Yudho GM Keuangan PRC group.


Suara notifikasi pesan masuk di ponsel Falisha berbunyi dan gadis itu mendelik.


📩 Bagas : Kita jadi makan siang kan? Kamu dimana, Falisha?

__ADS_1


Mati aku! Aku lupaaa! Falisha menatap Opanya.


"Kenapa Fa?" tanya Javier.


"Grand-pere, Fa demande la permission, il y a rendez-vous pour déjeuner avec Bagas Hadiyanto (Opa, Fa minta ijin sudah ada janji makan siang dengan Bagas Hadiyanto )" ucap Falisha dengan bahasa Perancis.


"Qui d'autre est-ce ( Siapa lagi itu )?" tanya Javier bingung.


"L'associé de papa ( rekan bisnis papa )" jawab Falisha.


Suara pintu diketuk membuat Javier dan Falisha menoleh ke arah pintu.


"Masuk!" Tampak seorang pria tegap berusia sekitar tiga puluhan dengan mata tajam dan seorang wanita anggun berusia empat puluhan membuka pintu ruang meeting.


"Haris! Vanya! Kalian urus empat orang ini!" perintah Javier ke kedua orang itu. Haris adalah anak buah Yudho, GM Keuangan.


"Baik tuan Javier. Nona Falisha" ucap Haris sambil mengangguk lalu menatap tajam ke keempat orang yang tampak lemas itu.


Javier dan Falisha pun keluar ruang meeting dan berjalan menuju ruangan Javier.


📩 Falisha : saya di kantor PRC group pusat, tidak di FH Workshop.


📩 Bagas : Oke. Saya meluncur kesana.


Javier menatap Falisha. "Bagas Hadiyanto? Apakah dia salah satu anak dari Kresno Hadiyanto?"


"Saya kurang tahu Opa. Kami bertemu di kantor papa dan kata papa, Bagas ada proyek dengan FH Workshop." Falisha menatap Opanya. "Kresno Hadiyanto? Bukannya dia pemilik Bank Arta Jaya ya?"


"Mas Bima sama Oom Prayogha kok nggak Opa?"


"Bima kan dididik sama almarhumah Savita mamanya dan Radit Oomnya. Prayogha tidak ikut dalam proses tumbuh kembang Bima jadi sejak kecil, anak slengean itu sudah dididik baik."


"Fa bisa menjaga diri kok Opa. Don't worry dan bukankah Opa juga mengirimkan pengawal bayangan buat Fa?" senyum Falisha sambil memeluk Opanya.


"Kamu memang mirip dengan Oma Buyutmu, Vivienne." Javier mencium pucuk kepala cucunya.


Suara ponsel Falisha berbunyi dan gadis itu mengambil dari dalam tasnya.


"Assalamualaikum" sapa Falisha.


"Wa'alaikum salam. Falisha, aku sudah di lobby" jawab Bagas.


"Naik saja ke lantai sepuluh, ke ruangan Javier Arata."


"Baik Falisha."


***

__ADS_1


Bagas terkejut ketika melihat Falisha bersama dengan Javier Arata di ruang tunggu depan ruang kerja pria paruh baya itu dan ada dua orang pegawai disana yang sedang berdiskusi dengan CEO PRC group itu.


"Selamat siang" sapa Bagas sopan.


"Selamat siang" sapa Falisha. Javier pun menoleh dan memindai Bagas dengan wajah datar.


"Tuan Javier Arata" sapa Bagas sembari mengangguk hormat.


Javier memberi kode kepada kedua pegawainya untuk meninggalkan mereka. Setelah memberikan hormat, kedua pegawai itu pergi.



"Jadi kamu yang bernama Bagas Hadiyanto?" tanya Javier dingin.


"Iya tuan Javier" jawab Bagas sambil mengulurkan tangannya yang disambut Javier dengan jabatan tegas.


"Apakah kamu anak dari Kresno Hadiyanto?"


"Betul. Saya putra bungsu Kresno Hadiyanto."


"I'm so sorry for the lost of your big brother." Javier menatap Bagas tajam. "Semoga kamu tidak mengikuti jejak kakakmu itu!"


Bagas tersentak. Aku lupa siapa yang aku hadapi. Javier Arata, orang terkuat nomor dua di generasi ketiga klan Pratomo. Tidak ada yang tidak lolos dari pengamatan pria ini.


"No, Sir. Saya berbeda dari kakak saya."


"Kalian hendak makan dimana?" tanya Javier.


"Saya ingin mengajak Falisha makan siang di restauran Korea, tuan Javier. Apakah saya diijinkan?"


Javier menatap Falisha yang diam saja melihat interaksi Opa dan Bagas.


"Qu'est-ce que tu penses ( Bagaimana menurut mu )?" tanya Javier ke Falisha.


"J'ai promis grand-père. Alors je dois le faire ( Saya sudah berjanji Opa. Jadi harus saya tepati )" jawab Falisha tenang. "Kita pergi sekarang, pak Bagas?"


"Ayo" senyum Bagas. "Kami permisi dulu, tuan Javier."


"Hati-hati kalian." Javier memeluk cucunya sayang.


"Of course Opa."


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2