
Anarghya yang sedang berjaga di rumah sakit tempat Aji dirawat, merasa kaget ketika menerima telpon dari kakak sepupunya Rama McCloud untuk ke ruang rawat inap Aji.
"Mas, mbak Rimbi nggak kesini kan?" tanya Arga ke Rama melalui airpods nya. Pria berusia 20 tahun dan mahasiswa kedokteran itu berlari menuju lift.
"Nggak! Mas suruh pulang! Gila aja dia lagi hamil!" sungut Rama. "Sebentar lagi kami sampai! Kamu hadapi dulu Ga."
"Siap!" Arga pun sampai di lantai tempat Aji dirawat dan disana sudah ramai orang dan adik Arimbi itu melihat empat orang pengawal dari Oom Arya masih bersikeras tidak membuka pintu rawat Aji meskipun ada 15 orang disana. Pihak keamanan pun tidak berani melakukan apapun bahkan para suster memilih bersembunyi di bawah meja.
"Buka! Kita cuma minta tanda tangan Sangaji!" bentak salah satu preman.
"Tidak bakalan kami buka!" balas pengawal Arya.
"Ada apa ini?" tanya Arga dengan wajah jutek dan pihak keamanan rumah sakit berdiri di belakang putra dokter Gendhis Arum itu. "Ini rumah sakit! Kalau kalian mau berantem, ayo di lapangan parkir!" Arga menatap tajam ke semua orang disana.
Introducing Anarghya Pradipta Giandra
"Siapa kamu!" bentak Julia Lau.
"Anarghya Giandra. Tante apanya mas Aji?" Arga menatap tajam wanita yang seumuran dengan mamanya.
"Giandra?" bisik Julia Lau ke suaminya.
"Jangan ngaku-ngaku kamu!" bentak Lau Kar Wei.
Arga menatap malas ke pria paruh baya itu. "Suster Yuni, tolong di layar tv tunjukkan siapa saya" pinta Arga kepada salah satu suster.
"Yang daftar Co as, mas Arga?" tanya suster Yuni memastikan.
"Iya. Ada yang tidak percaya." Suster Yuni kemudian memprogram tv di ruang tunggu dan menunjukkan kartu Co as Arga. Semua orang di sana melihat nama lengkap Arga beserta fotonya.
"Sekarang percaya?" ucap Arga dengan nada sebal.
"Pa, dia anaknya Bara Giandra, CEO Giandra Otomotif Co. Bisa berabe kalau sampai ke telinga Javier Arata" bisik Julia.
"Kita sudah sampai sini. Dia sendirian sama satpam dua orang dan pengawal empat orang. Bisa apa?" balas Lau Kar Wei dengan berbisik.
"Sudah deh! Pulang saja kalian. Sudah malam jangan bikin keributan! Kasihan pasien yang lain dan saya bisa menuntut ganti rugi akibat perbuatan tidak menyenangkan dan mengganggu ketertiban umum!" Arga masih menatap tajam ke arah dua orang itu yang merupakan biang kerok pembawa preman.
"Boss, gimana ini?" tanya salah seorang preman. Lau Kar Wei membisikkan sesuatu dan preman itu menyeringai.
Anarghya yang melihat situasi tidak kondusif melirik ke arah suster Yuni dan memberikan kode agar para perawat masuk ke dalam kamar pasien lainnya meninggalkan dirinya bersama dengan enam orang satpam dan pengawal kiriman Arya Ramadhan.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi, jangan sampai mereka masuk ke dalam kamar itu!" bisik Arga kepada kedua satpam di belakangnya.
"Baik mas."
Ketika Arga beserta para pengawal bersiap untuk kemungkinan yang terburuk, terdengar suara pintu lift terbuka dan tampak Rama, Falisha dan Freya bersama dengan seorang pria yang Arga tidak kenal keluar dari pintu lift.
Di pintu lift lain, keluar beberapa orang polisi berseragam dan mereka pun menghampiri Arga dan orang-orang disana.
Arga bernafas lega, setidaknya tidak perlu ada perkelahian mengingat banyaknya pasien yang terdapat di lantai ini plus bisa mempengaruhi nama baik rumah sakit.
Para preman pun tidak berani berkutik dan mereka pun digelandang ke kantor polisi begitu juga dengan suami istri Lau. Rama, Arga beserta para satpam dan pengawal memberikan laporan kepada kapten polisi yang datang untuk menangkap Lau dan anak buahnya.
Falisha bergegas masuk ke dalam ruang rawat inap Aji dan melihat Nadya disana dengan wajah lega ketika tahu siapa yang datang.
"Syukurlah kalian datang cepat" bisik Nadya sambil memeluk Falisha. "Polisi lama sekali datangnya."
"Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Falisha ke Nadya dan Aji.
Kami tidak apa-apa Fa, maaf merepotkan kamu karena kamu lihat sendiri kakiku masih digips dan baru boleh pulang besok.
"Untung Arga jaga disini jadi ... "
Siapa Arga? Falisha nyaris tergelak melihat wajah cemberut Aji.
Aji tersenyum kikuk. Falisha lalu menghampiri Aji dan memeluknya. "Alhamdulillah kalian baik-baik saja" bisik Falisha.
"Aku baik-baik saja Fa." Aji pun membalas pelukan gadis itu.
"Hugo Boss," ucap Freya yang berdiri di sebelah Haris.
"I beg you pardon, nona Freya?" Haris menoleh ke arah nona cantik itu.
"Hugo Boss, parfum mu." Freya menatap Haris. "Benar kan?"
"Anda benar, nona tapi bagaimana..."
"Oom ku Kris memakai parfum yang sama jadi aku familiar dengan baunya." Freya kemudian menatap Falisha dan Aji yang sudah tidak berpelukan tapi saling menggenggam tangan dengan wajah penuh sayang satu sama lain.
"Haaaahhhh, aku tidak tahan melihat pasangan sok uuw itu!" sungut Freya sambil berjalan meninggalkan ruang rawat dan duduk di kursi depan kamar yang diikuti oleh Haris, duduk di sebelahnya.
"Memang kenapa nona?" tanya Haris polos.
"Sha sudah punya pacar, adikku Fayza sudah punya pacar. Aku kapaaaannn?" keluhnya dramatis.
__ADS_1
Haris tersenyum geli melihat nonanya seperti orang putus asa karena masih jomblo.
"Bagaimana kalau nona pacaran dengan saya?" usul Haris yang membuat Freya menoleh dengan wajah tidak percaya.
"Seriously? Cowok nggak peka kayak kamu terus yang ada di otakmu cuma jejeran angka biner doang?" ledek Freya.
"Non, angka biner cuma dua angka 1 dan 0 sedangkan saya memakai 9 angka lho" ralat Haris.
"Tapi kan tetap saja itu angka, Ris. Membayangkan urutan biner ala film the Matrix saja aku sudah pusing. Berasa mataku ini yang sebelah kiri angka 0 dan sebelah kanan angka 1 lalu keduanya saling bergerak naik turun. Pusing tahu! Makanya aku lebih memilih kuliah di bidang seni daripada eksakta seperti saudara ku yang lain. Aku dan Arimbi sama-sama suka seni tapi setidaknya Arimbi masih pintar ilmu pasti sedangkan aku tidak ada kepastian yang haqiqi. Pacar tidak punya, hantu belum ketemu... Kenapa hidup ini terasa hampa..." cerocos Freya yang membuat Haris terbahak.
"Saya sudah menawarkan lho menjadi pacar nona Freya supaya tidak jomblowati akut" kekeh Haris.
"Heh, cumi! Sesama saling jomblo dilarang saling membagongkan!" cebik Freya.
"Saya bukan cumi, nona."
"Lalu? Apa?"
"Sotong!" Freya terbahak.
"Beda ih! Bentuk cumi sama sotong beda Haris!"
"Tapi kan sama-sama enak dimasak" balas Haris.
"Enak lah! Apalagi aku penggemar seafood" kerling Freya. Keduanya menghentikan acara mengobrol ketika melihat Rama dan Arga datang menghampiri.
"Gimana mas Rama? Arga, Untung kamu pas Co as disini" ucap Freya sambil memeluk adik Arimbi itu.
"Iya lho gara-gara aku co as, sampai nggak bisa kumpul-kumpul." Arga mengulurkan tangannya ke Haris. "Anarghya Giandra, biasa dipanggil Aga atau Arga."
"Haris Lexington. Akuntan di PRC group."
"Besok Oom James dan Travis akan ke kantor polisi jadi kita tunggu besok bagaimana." Rama menoleh ke dalam kamar Aji dan melihat adiknya sedang bercakap-cakap dengan bahasa isyarat ke pria itu. "Tampaknya Falisha sudah memantapkan hati."
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa
Sorry tadi hp abis baterai jadi dicharge dulu
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️