
"Jadi orangtua kandung Aji masih hidup? Tapi kenapa Aji ditaruh di panti asuhan?" tanya Neil Blair.
"Kedua orang tua Aji hidup miskin Neil di sebuah distrik dekat Shanghai dan akhirnya menyerahkan anak mereka ke panti asuhan dengan harapan bisa hidup layak. Memang Aji hidup layak sejak diadopsi oleh suami istri Lau tapi begitu tahu Aji cerdas, mereka juga ingin menguasai semua ciptaan Aji."
Javier menatap Falisha. "Opa sudah menyuruh orang membawa kedua orangtua kandungnya Aji kemari. Mereka sekarang hidup berkecukupan setelah usaha bubur kedelai ayahnya mulai berjalan baik tapi mereka tidak pernah melupakan anak mereka yang aksesnya ditutup oleh suami istri Lau."
"Siapa nama ayah dan ibu Aji, Opa?"
"Yung Mei Ling dan Li Huanran."
"Marganya Aji bukan Lau dong berarti Yung" celetuk James Blair.
"Harusnya begitu." Suara ponsel Javier berbunyi dan mata abu-abunya melihat siapa yang menelpon.
"Yes Travis? Freya dapat hantunya?"
Neil dan James saling memandang. "Hantu?"
"Sudah, kalian kembali kemari." Javier memutuskan panggilan.
"Hantu apa Opa?" tanya Falisha.
"Hantu yang Napak tanah dan nongol siang bolong" jawab Javier cuek.
Neil dan James hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Falisha menghela nafas panjang. Opanya lagi mode asal.
***
Aji terbangun dan sempat panik tidak menemukan Falisha. Nadya segera menyerahkan hearing aid yang sudah penuh baterai nya kepada Aji.
Falisha kemana, Nadya?
Pergi bersama nona Freya ke kantor Tuan Blair.
Siapa itu tuan Blair?
Pengacara keluarga Pratomo, tuan Aji. Neil Blair adalah sepupu tuan Javier, James Blair putranya sepupu nyonya Davina dan putra mereka Travis adalah sepupu nona Falisha dan Freya.
Nadya memperlihatkan foto tiga generasi Blair dan Aji mengangguk mengerti. Travis Blair tampan sekali.
Nadya terbahak. Anda sudah bertemu dengan siapa saja, tuan?
Aji mengingat-ingat. Abi O'Grady, Hoshi Quinn, Rama McCloud. Mereka sepupu Falisha kan?
__ADS_1
Benar tuan. Fisik mereka sempurna bukan?
Aji meringis. Dia sadar bahwa menjadi tuna rungu adalah kekurangan dirinya.
"Jangan pernah menganggap cacat anda adalah nilai minus anda tuan Aji. Tuan Javier Arata tidak pernah melihat akan hal itu bahkan beliau tau potensi anda. Kalau tidak, tidak mungkin beliau sampai berbuat sedemikian rupa buat anda."
Kamu sepertinya sangat mengenal keluarga mereka.
"Saya adalah salah satu orang yang ditolong oleh tuan Javier dari keterpurukan. Beliau lah yang mendidik saya bisa seperti ini. Selama ini saya tidak pernah menceritakan kenapa saya fasih berbahasa isyarat bukan?" senyum Nadya.
Aji mengangguk karena selama bekerja dengan dirinya, Nadya hanya mengatakan dia memang pernah bekerja di sekolah tuna rungu.
"Ayah saya adalah penderita tuna rungu." Aji melongo. "Dan saya belajar demi ayah saya namun sayang, beliau tidak panjang umur. Disaat saya terpuruk dengan hanya menjadi guru honorer, tuan Javier mencari seseorang yang bisa bahasa isyarat dan saya melamar pekerjaan itu. Sisanya adalah sejarah dan saya benar-benar bersyukur dipertemukan dengan keluarga Arata khususnya dan keluarga besar Pratomo."
Apa kamu bahagia bekerja dengan saya Nadya?
"Anda itu sudah seperti adik dan terkadang anak saya apalagi usia saya sudah kepala empat. Saya tidak tertarik dengan pernikahan karena saya sudah nyaman dengan hidup saya." Nadya tersenyum.
Masih menunggu Andy Garcia, Nad? Aji tertawa kecil.
Nadya terbahak. "Jika di depan saya ada pria mirip Andy Garcia, mungkin saya akan berpikir ulang tentang pernikahan."
Aku hanya ingin melihat kamu bahagia Nadya.
Aji mendelik. What?
Nadya hanya nyengir lebar.
***
"Haris! Bantuin kenapa!" teriak Freya yang kerepotan membawa laptop dan bungkusan makanan. Mobil Toyota Camry milik Travis sudah sampai di halaman parkir gedung Blair and Blair Advocate.
"Tadi siapa yang tidak mau dibantu? Nona sendiri kan?" ledek Haris. Tadi Freya memang tidak mau dibantu membawa barang-barangnya berupa empat bungkus kantong plastik besar berisi Snack dan minuman yang membuat Travis melongo melihat betapa adiknya sangat-sangat tukang ngemil.
"Cerewet cumi! Bantuin sekarang juga!" bentak Freya. Haris pun mengambil satu kantong besar dan berjalan meninggalkan Freya yang melongo. "Kok cuma satu yang dibawain? Dua-duanya cumiii !"
"Apaan sih Frey, teriak-teriak. Hantunya pada takut sama kamu kalau teriak gitu. Sudah, sini bang Travis bawain dua" ucap Travis sambil mengambil dua dari tiga kantong plastik yang ada di tangan Freya.
"Dasar pegawainya Oom Yudho! Di matanya cuma angka melulu!" umpat Freya. "Apa sih enaknya lihat angka di Excel, bikin pembukuan, metani angka satu-satu. Salah satu angka kudu metani maning, ngecek satu-satu... Aaaahhhh bikin ubanan!"
Travis tertawa terbahak-bahak mendengar Omelan adiknya yang campur aduk dengan bahasa Jawa sedangkan Haris yang mendengar nona cantik itu ngedumel hanya bisa tersenyum simpul. Betapa beda kepribadiannya nona Freya pada saat serius bekerja dengan saat santai begini.
"Tar gue bilang sama Oom Yudho! Pegawainya kagak peka!" lanjut Freya.
__ADS_1
"Fre, kamu kurangi deh kumpul sama Hoshi. Sudah ketularan jadi tukang ngomel sekarang" kekeh Travis.
"Lho kok bawa-bawa bang Hoshi?" tanya Freya bingung. "Bukannya aku memang sudah cerewet ya dari kecil?"
Kini ketiganya sudah sampai di kantor Neil Blair dan keempat orang disana melongo melihat belanjaan Freya.
"Astaga Freya! Kamu borong Alfa***?" komentar James.
***
"Jadi sopirnya Julia Lau yang mengutak-atik mobil Aji, Opa. Ditambah informasi dari Oom Kareem soal selang minyak rem yang dilubangi kecil hingga mobil masih bisa dipakai hingga beberapa hari kemudian, sudah pasti sabotase" papar Freya sambil mengunyah coklat.
Kareem Hassan memberikan laporan kepada mertuanya tentang hasil penyelidikan penyebab kecelakaan mobil Aji.
"Iya, ini papa bilang lubangnya sangat-sangat kecil seperti lubang jarum suntik bayi" sambung Falisha.
"Kita simpan dulu karena kalau hanya seperti ini, bukan bukti secara langsung dan pihak sana bisa saja membantah dengan argumen yang masuk akal" ucap James.
"James benar. Kita simpan dulu bukti CCTV dan bukti dari Kareem. Yang penting sekarang adalah kepastian Lau bisa bayar atau tidak. Jika tidak, aku kan tidak perlu keluar uang karena dia sendiri yang menjaminkan pabrik Guandong dan Sragen saat dirinya kesulitan keuangan." Javier menatap keluarganya.
"Haris, jika uang yang kita keluarkan saat Lau meminta suntikan dana dengan harga jual pabrik Guandong nanti, berapa selisihnya?" tanya Javier ke akuntannya.
Haris langsung menghitung cepat yang membuat Freya meringis melihat cara pria itu membuat perhitungan.
"Mataku berkunang-kunang melihat angka" celetuk Freya yang membuat Falisha dan Travis cekikikan.
"Opa lebih berkunang-kunang kalau lihat Casper, tahu nggak!" sungut Javier.
"Casper, the friendly ghost..." dendang Freya yang membuat Javier dan Neil mendelik.
"Tuan Javier, kita masih untung..." Haris menyebutkan nominalnya.
Javier dan Neil tersenyum. "Neil, siapkan berkasnya."
"Consider its done bro."
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️