Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Bonchap - Javier dan Valora


__ADS_3

Aji dan Haris hanya bisa pasrah ketika Javier memutuskan pernikahan mereka berdua dua Minggu lagi. Meskipun mendapatkan protes dari Davina dan Kristal, tapi keputusan Javier sudah final bahkan gedung pun sudah dipesan oleh putra Jammie Arata itu.


"Astaga Papa! Main booking tempat, booking WO" omel Davina kesal.


"Kan kalian tinggal datang ijab dan beres lah!" kekeh Javier. "Acara keluarga sudah diatur Alex, mamamu dan Tante Valora. Bukankah papa cerdas?"


Semua orang disana hanya bisa melengos.


Rasanya mama Vivienne itu bukan anak kandung Opa Alex Neville dan Oma Adinda Pratomo tapi kenapa liciknya sama saja? Valora memegang pelipisnya.


"Saya setuju dengan pak Javier. Lebih cepat lebih baik bukan? Niat baik dan ibadah kenapa harus ditunda?" ucap Sari Hassan, besan Javier.


"Ibu pun sama saja?" seru Kareem Hassan yang tiba-tiba pusing melihat ibunya dan Javier tiba-tiba kompak.


Melihat sikap Javier yang diluar kebiasaan, Valora merasa ada yang tidak beres dengan kakaknya satu itu. Setelah acara hampir selesai, dimana para tamu undangan sudah pada pulang, Valora menarik Javier dan mengajak pria ke ruang kerja.


"Sekarang ceritakan padaku. Ada apa dengan mu kak Javi?" Valora menatap tajam ke kakaknya.


"Ada apa... Ada apa Lora?" balas Javier berlagak pilon.


"Javier Alexander Neville Arata!" seru Valora kesal. "Ada apa denganmu? Semua serba cepat, semuanya sudah beres, semuanya seperti terburu-buru. Ada apa?"


Javier menatap adik satu-satunya yang terkadang membuatnya pusing akibat kebar-barannya namun adiknya juga yang paling dekat dengannya selain Agatha tentu saja.


"Aku sakit Valora." Valora terkesiap.


"Kamu sakit apa kak Javi?" Valora memegang tangan kakaknya yang tampak berkerut akibat usia.


"Limfoma." Valora memegang pipinya saking terkejutnya.


"Astaghfirullah! Stadium berapa kak?" Air mata Valora pun menetes.


"Stadium dua. Makanya aku ingin duo F segera menikah dan aku akan melanjutkan pengobatanku di New York. Jadwal treatment aku adalah tiga Minggu lagi, jadi kamu paham kan kenapa aku seperti dikejar target." Javier menghapus air mata dari pipi adiknya, adik yang juga fotocopy sang mama.


"Mbak Agatha tahu?" bisik Valora.


"Tentu saja Agatha tahu, dia kan istriku Lora" kekeh Javier. "Aji, Haris dan Nadya pun tahu."

__ADS_1


"Jadi? Aku sendirian yang belum tahu? Tega kamu kak! Aku kan bisa mendukung dirimu kak! Kamu tuh selalu..." Javier memeluk adiknya erat.


"Kakak tidak mau kamu kepikiran, Lora. Kakak tahu kamu bisa naik tensinya kalau banyak pikiran." Javier mencium kepala adiknya. Kepala yang dulu sering dia toyor saking gemasnya setiap Valora membuat ulah.


"Kakak dirawat dimana nanti? Kan ada aku, Raymond, bang Duncan, Rhea, kak Eiji, Ayame di New York. Ada banyak keponakan dan cucu disana. Kita semua akan support kakak" ucap Valora sambil terisak dalam pelukan Javier.


"Kakak dirawat di Roswell Park Cancer Institute, Lora."


Valora menatap wajah kakaknya dan menangkupnya. "Yakinlah kakak akan sembuh."


"Lora, kakak selalu yakin akan sembuh tapi kalau takdir kakak tidak sembuh, jangan sekali-kali kamu menyalahkan siapapun termasuk Allah. Kakak sudah siap jika dipanggil pulang kok. Lagian kakak selamat dari bantingan mommy karena berhasil mendapatkan jodoh yang baik buat cicit mommy" cengir Javier yang membuat Valora ternganga.


"Astagaaaaa kakak! Malah mikir dibanting mommy?" tawa Valora diantara isaknya.


"Kamu tahu sendiri kan kalau kakak berbuat kesalahan? Mommy pertama mengomel, menoyor lalu membanting kakak?" kekeh Javier.


Valora teringat saat Javier remaja bandel pergi ke club malam dan ketahuan Vivienne, bahkan Daddy Jammie tidak bisa menahan sang mommy kalau sudah marah.


"Aku merindukan mommy meskipun kita sering membuatnya pusing" kekeh Valora dalam pelukan Javier. Keduanya kini duduk di sofa ruang kerja milik Adrian Pratomo yang terdapat banyak foto keluarga disana termasuk foto pernikahan Vivienne dan Jammie, foto yang dipegang Valora sekarang.


"Malah sekarang cucunya Freya, hobinya berburu penampakan" gelak Valora. "Kalau mommy masih hidup, aku tidak tahu mereka berdua akan ribut seperti apa."


"Mommy akan lebih super darting daripada kita, Lora" ucap Javier. "Bisa-bisa Freya dicoret jadi cicit sama mommy."


Keduanya tertawa geli membayangkan Vivienne darting dengan Freya.


"Kamu tahu Rain itu tahu kalau di kastilnya ada penghuninya cuma dia cuek saja. Eh malah Freya kasih tahu. Jeremy takut kalau Rain jantungan jadi ngamuk lah." Valora cekikikan mengingat bagaimana Elang memarahi suaminya dan Ashley.


"Padahal Rain santai saja tapi Jeremy lebay. Pria itu benar-benar bucin sama Rain." Javier mengetatkan pelukannya ke adiknya.


"Kita melewati banyak peristiwa, yang membahagiakan, lucu, gemas, menyedihkan, absurd, bikin kepala pusing" senyum Valora. "Kakak tidak apa-apa kalau suatu saat Falisha melahirkan anak yang kondisinya sama dengan Aji?"


"Falisha sudah siap dengan kondisi itu Lora dan kakak salut dengan anak itu." Javier menatap adiknya.


"Dia memang berbeda. Disaat hendak sweet seventeen pada minta hadiah mewah, Falisha hanya minta dibuatkan sekolah untuk anak-anak tuna rungu." Valora menatap dinding ruang kerja yang terdapat foto besar keluarga besar Pratomo generasi pertama dan kedua.


"Keluarga kita Alhamdulillah tidak silau harta, Lora karena kita semua sudah mendapatkan semuanya. Tinggal meningkatkan amal dan ibadah kita, karena itu bekal kita di akhirat, bukan PRC group, AJ Corp atau MB Enterprise maupun Giandra Otomotif Co." Valora mengangguk mendengar ucapan kakaknya.

__ADS_1


"Alhamdulillah kita semua mendapatkan pasangan yang baik-baik semua meskipun aku sempat kesal dengan sistem screening sejak jaman eyang buyut Pratomo tapi ternyata memang berguna."


"Valora, kita semua akan pulang jadi jangan bersedih. Kita sudah memberikan warisan yang indah buat anak cucu kita."


"Apa itu kak?" tanya Valora.


"Pola didik, akhlak dan Budi yang baik, membuat mereka bisa kuat menghadapi hidup. Dan gen bar-bar plus gesrek" kekeh Javier.


"Eeerrr, gen gesrek itu hanya berlaku di kak Eiji dan turunannya" ucap Valora.


"Hei, apa kamu juga tidak sadar kalau mommy gesrek dan menurun ke Freya? Kamu bar-bar juga lho. Yang tidak ketularan hanya Kris, Kristal dan Davina." Javier mengelus kepala adiknya.


"Mereka bar-bar dengan caranya sendiri" kekeh Valora.


"Aku selalu mengingat semua peristiwa yang terjadi selama hidupku, Lora dan aku bersyukur bahwa aku dilahirkan di keluarga yang hebat meskipun sering tidak jelas kekacauannya jika kita berkumpul." Valora terbahak.


"Kita kalau kumpul memang kacau." Valora menoleh ke arah kakaknya. "Apa yang membuat kakak memilih Aji daripada Bagas Hadiyanto? Aku dengar dia sudah bertobat dan menjadi pribadi lebih baik."


"Kamu ingat Oom Brandon dan Oom Sean?"


"Sahabat budhe Nabila? Yang pasangan kacau?"


"Ya. Mereka berbeda tapi mereka tetap diterima di keluarga. Karena itulah saat aku mengetahui soal Aji, aku berharap bisa menjodohkan dengan Falisha tapi ternyata dia memang jodoh cucuku. Kita tidak pernah melihat perbedaan kasta atau ras yang penting lolos screening dan memang jodoh." Javier menatap foto Nabila, Mike Cahill bersama dengan Brandon dan Sean disana saat berada di depan rumah sakit. "Aji is perfect imperfection."


"Iya, aku melihat bagaimana Aji memuja Falisha."


"Seperti kita memuja pasangan masing-masing kan?" Javier tersenyum.


***


Yuhuuu Up Sahur Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2