Duda Milik Davina

Duda Milik Davina
Dua Rival


__ADS_3

Ali Khan merasa bingung ketika Davina mengajaknya ke rumah sakit untuk membawakan makanan. Gadis itu mengatakan bahwa ibu rekan bisnisnya sedang diopname karena tensinya dan jantungnya sempat bermasalah. Tapi Vina tidak bilang bahwa rekan bisnisnya seorang pria tampan juga! Bukankah dia Kareem Hassan? Mantan pembalap WRC.


Pria India itu dilanda rasa cemburu melihat mata pria yang berdarah timur tengah itu tampak mesra ke Davina. Sial! Apa yang terjadi selama dua bulan aku tinggal... Oh no! Dua Minggu aku tidak memberikan kabar ke Davina...


"Repot banget Dav" sapa Kareem lembut sambil mengambil paper bag bertuliskan restauran sushi langganan Davina.


"Kan aku tadi sudah janji. Ohya Kareem, perkenalkan ini Ali Khan yang juga rekan bisnis mas Arjuna. Ali, ini Kareem Hass..."


"Aku tahu siapa dia. Mantan pembalap WRC kan?" Ali Khan mengulurkan tangannya yang disambut oleh Kareem dan tanpa sadar keduanya saling berjabat tangan erat seperti menilai kekuatan masing-masing rival.


Davina bukannya tidak mengetahui akan terjadi perang Baratayudha tapi dia sendiri juga tidak merasa bersalah jika berpaling karena Ali Khan tidak memberikan kabar.


"Bu Sari di dalam Kareem?" tanya Davina.


"Iya, masuk saja Dav."


Davina pun masuk ke ruang rawat inap Sari Hassan.


"Kareem, bisa bicara dengan mu? Empat mata?" tanya Ali. Nggak bisa dibiarkan ini!


"Mari. Kita ke taman rumah sakit?" Kareem menatap Ali santai.


"Boleh."


***


Kedua pria tampan itu berjalan menuju ke taman rumah sakit dan seolah mengacuhkan tatapan para pengunjung disana yang melihat bagaimana paripurna fisik mereka berdua.


Sama-sama berasal dari negeri yang terkenal dengan wajah tampan bangsanya, membuat para pengunjung mengira mereka adalah artis Turki dan Bollywood yang nyasar ke rumah sakit.


Keduanya sampai di sebuah kursi taman yang dilindungi oleh tanaman merambat membuat panas terik Jakarta tidak terasa.



"Kita duduk di sana saja" ajak Kareem.


"No problem."


Kedua pria itu duduk bersisian dan sama-sama menatap para pengunjung dan staff rumah sakit berlalu lalang di lorong. Ini memang jam besuk jadi ramai orang datang menjenguk keluarga atau kenalan yang dirawat.


"Berapa lama kenal dengan Davina?" tanya Ali Khan tanpa basa basi.


"Dua minggu ini" jawab Kareem tenang.


"Apa kamu menyukai nya?"


"Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dua Minggu lalu" sahut Kareem.


"She's mine, Kareem" desis Ali.


"Apa ada tanda kepemilikan? Karena setahu aku, Davina adalah milik orang tuanya dan miliknya sendiri" senyum Kareem.


"Aku sudah meminta kepada tuan Javier Arata."

__ADS_1


"Apakah tuan Javier menerimanya? Belum bukan? Apa Davina sudah menerima mu menjadi pasangannya? Belum juga kan? Bagaimana biarkan Davina memilih. Aku atau kamu, Al?" Kareem menoleh ke arah pria India yang tingginya hampir sama dengan dirinya.


"Aku yakin Davina akan menerima aku dan jadi milikku, Kareem" ucap Ali Khan dengan nada yakin.


"Kita lihat saja siapa yang akan Davina pilih. Dan jangan membawa-bawa soal tanggungan yang menjadi beban untuk Davina karena it's really so unfair and despicable." Kareem pun berdiri. "Aku akan kembali ke kamar ibuku karena jam besuk hampir habis."


Ali menatap tajam pria yang berjalan dengan pedenya meninggalkan dirinya.


Apa maksudnya Kareem? Despicable? Aku?


***


Davina dan Sari sedang tertawa ketika melihat dua pria tampan itu masuk ke dalam ruang rawat inap. Ali Khan dengan sopan memperkenalkan sebagai rekan bisnis Davina juga sama dengan Kareem.


Sari mengucapkan terimakasih atas kedatangan Ali dan mengatakan sangat suka dijenguk. Tak lama Davina pun berpamitan sambil memeluk Sari Hassan.


"Ibu pulang nanti sore. Kamu datang ya sayang" bisik Sari di sisi telinga Davina yang tertutup rambut tebalnya yang harum. "Sendiri."


Davina hanya tersenyum. "Sehat-sehat ya Bu. Davina kembali ke kantor dulu" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya ke Sari.


"Iya nak. Terima kasih."


"Kareem, aku permisi dulu. Dimakan ya. Tadi jatah aku dan ibu sudah aku habiskan" senyum Davina.


"Oke. Terima kasih Dav" Kareem tersenyum lembut ke arah Davina yang membuat Ali cemberut karena cemburu.


***


"Boleh. Kamu belum makan siang kan?" Davina pun mengajak ke kantin rumah sakit. "Kata kak Fuji, soto ayam sama nasi ramesnya enak."


"Apa sajalah yang penting aku makan siang ditemani kamu" senyum Ali.


"Oke" balas Davina.


***


"Ibu tadi tumben mau dipeluk Davina" goda Kareem sambil memakan sushinya.


"Karena ibu mau memberitahu kalau ibu akan pulang sore ini dan ibu mau dia datang buat antar ibu pulang. Sendirian tanpa rivalmu itu" jawab Dari Hassan yang membuat Kareem melongo. "Ngomong-ngomong, gadis itu wangi sekali. Rambutnya juga, kalau kamu menikah dengannya, ibu jamin nggak bakalan mau keluar kamar!"


Kareem tersedak sushi.


Astaghfirullah ibukuuuu !!!


***


Ali Khan mengantarkan Davina kembali ke PRC group lalu dia kembali ke kantornya sendiri. Sepanjang jalan pikirannya terbayang bagaimana sikap Davina kepadanya sedikit berbeda dengan sikapnya ke Kareem. Secepat itukah Davina bisa berpaling?


Ali sendiri belum bisa menjelaskan apa yang membuat dirinya tidak menghubungi Davina dua Minggu terakhir ini. Brengsek! Gara-gara masalah di Mumbai, aku bisa kehilangan Davina!


Aku tidak akan kalah dari Kareem Hassan!


***

__ADS_1


Davina membereskan pekerjaannya dengan cepat hingga membuat Tammy terkejut melihat Bossnya bekerja seperti ngejar Kopaja atau tukang bakso malang depan kostnya.


"Boss, ngebut amat? Emang mau kemana?" goda Tammy, gadis manis berusia 22 tahun itu.


"Ada deeehhh!" ucap Davina cuek.


"Terserah boss dah! Jadi aku bisa ikutan pulang cepat dong?" kerling Tammy lagi.


"Boleh, hari ini saja!"


"Yes! Boss moodnya bagus bener, apa karena tuan Ali Khan sudah kembali ke Jakarta?" Davina terdiam yang membuat Tammy bingung.


"Bukan itu sih yang membuat moodku bagus" bisik Davina. Tammy melongo.


"Boss? Are you okay?" Davina tersenyum kearah Tammy. "I'm okay Tam, don't worry."


Jam empat sore, Davina sudah keluar kantor dan memilih memakai ojek online menuju rumah sakit karena dia tahu jam besuk sore sering susah mendapatkan parkir. Yono sudah diberi pesan untuk nanti menjemputnya.


Sesampainya di rumah sakit, Davina langsung menuju ke ruang inap Sari Hassan. Ketika hendak membuka pintu, wajah Davina menubruk sebuah dada yang bidang dan...keras. Sepasang tangan memegang bahunya agar tidak terhuyung.


"Eh? Maaf mas" ucapnya tanpa melihat


"Aku suka kalau dipanggil 'mas', Dav" sebuah suara yang sangat dihapal Davina membuat gadis itu mendongak.


"Kareem?"


Cause there was a time when all I did was wish


You'd tell me this was love


It's not the way I hoped or how I planned


But somehow it's enough


And now we're standing face to face


Isn't this world a crazy place?


Just when I thought our chance had passed


You go and save the best for last


Suara Vanessa Williams sayup-sayup terdengar di telinga Davina.


***


Yuhuuu Up Sore Yaaakkk


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2