Elang Untuk Rain

Elang Untuk Rain
Glenn Hawk McCloud


__ADS_3

Suara ombak membuat Rain mulai membuka matanya pelan-pelan dan tampak ruangan yang dominan putih.



Rain mengerjap-kerjapkan matanya dan merasa pusing ketika hendak bangun. Dia memegang kepalanya yang ternyata dibebat oleh perban. Tangannya pun tidak berbeda jauh, penuh perban dan band-aid.


Dimana aku? Bang Duncan! Bang Joshua!


Rain langsung panik mencari-cari kedua abangnya dan berusaha bangun lalu membuka pintu yang ternyata terkunci. Rain berlari menuju jendela kamar dan betapa terkejutnya melihat pantai di balik jendela itu dan sama dengan pintunya, semuanya terkunci.


Ya Allah aku diculik!


Rain menggigit bibir bawahnya. Otaknya dipaksakan untuk berpikir. Lalu dia mulai membongkar kamar itu mencari berbagai petunjuk.


Damn it! Tidak ada apapun.


Rain membuka lemari baju dan betapa terkejutnya dia terdapat banyak baju wanita dan semuanya adalah ukurannya.


Siapa yang menculik aku? Apakah Elang?


Disaat Rain sedang memikirkan cara bisa keluar, suara pintu kamarnya terbuka. Tampak seorang pria bule bermata biru berdiri disana.


"Ternyata ini gadis yang digilai oleh Jeremy. Biasa saja, tidak ada yang spesial."


Rain mendelik. "Siapa kamu?"



"Glenn Hawk McCloud. Sepupu Jeremy."


Rain melongo.


***


Rain memandang laut dari balik jendelanya. Percakapan dengan Glenn membuatnya bingung.


POV Rain


"Apa maksudmu menculikku? Bagaimana nasib kedua abangku dan sopirnya?"


Glenn duduk di sofa dengan santainya dan Rain bisa melihat ada empat pengawal berada di luar pintu kamarnya.


"Jangan sekali-kali berpikir untuk melarikan diri, Rain." Glenn menunjukkan SIG yang ada di balik jasnya. "Aku kagum padamu. Posisi sulit begitu bisa menembak dengan tepat pengawal ku. Meskipun secara fisik bukan tipe aku, tapi aku kagum dengan kejutan-kejutan yang kamu tampilkan, Rain."


Rain hanya terdiam menatap pria yang tidak kalah tampannya dengan Elang namun auranya jauh lebih gelap dan dingin dibandingkan Elang.


"Kalian benar-benar keluarga mengerikan, Rain. Cocok denganku" ucap Glenn sambil terbahak.


"Apa maksudmu?"


"Saudaraku, Jeremy sudah terlalu lama menjadi ketua klan dan sudah waktunya aku mengambil alih." Glenn berdiri. "Baik-baik kamu disini Rain karena aku yakin Jeremy akan datang mengambilmu dan pada saat itu pula aku akan menghabisinya. Klan McCloud akan menjadi kuasaku setelah selama ini aku hanya dijadikan boneka, front face atau apalah itu."


Rain hanya memberikan wajah datar kepada Glenn agar tidak tampak kaget atau ketakutan meskipun dalam hati dia setengah mati pengen menghilang.


"Ohya, politisi itu aku yang menembak bukan Jeremy. Dia hanya menembak kaki Gozali."


Glenn pun keluar kamar Rain dan menguncinya kembali.


Rain langsung terduduk di lantai. Kakinya lemas seperti jelly.


"Astaghfirullah!" ucapnya berulang-ulang.


POV End


Rain menatap langit-langit kamarnya.


Mama, Papa! Rain takut! Bang Duncan, Bang Joshua, Kak Abian, Bang Moru, mbak Miki, Kak Eiji... Elang. Tolong Rain.


Airmata turun dari mata indah Rain.


"Tolong Rain... Tolongin Rain" isaknya.

__ADS_1


***


Elang mengamuk di markasnya. Hatinya panas mendengar Rain diculik oleh Glenn.


"Fu*** you Glenn! Beraninya dia ambil Rainku!"


Entah sudah berapa samsak hancur dihajar oleh pria tampan itu. Wajahnya semakin berantakan dengan brewok yang semakin tebal. Benar-benar dia tidak memikirkan penampilannya.


Louis datang menghampiri bossnya.


"Boss! Aku sudah menemukan nona Rain."


"Dimana?"


"Sebuah pulau terpencil area pulau Seribu."


"Bawa helikopter kesana!"


"Tunggu dulu boss. Kita kekurangan anak buah. Mr Glenn membawa hampir separo pasukan disana."


"Brengseeeekkkk!" Elang menatap Louis. "Berikan aku nomor Ghani Giandra."


"Tapi boss..?"


"Jangan banyak tanya Louis!"


Louis pun mendial nomor Ghani.


"Halo?" sapa Ghani setelah deringan ketiga.


"Ghani Giandra. Panji Elang Samudera."


"Akhirnya kamu berani menelpon ku... Elang."


***


Duncan dan Joshua mendelik mendengar Ghani akan datang bersama beberapa anggota FBI, MI6 dan interpol.


"Jeremy mengubungi Ghani." Gozali menatap kedua pria yang masih terdampar di tempat tidur pasien.


"Gila! Beraninya!" kekeh Joshua.


"Jeremy meminta bantuan untuk membebaskan Rain."


Ucapan Gozali terhenti ketika ponsel Duncan berbunyi. "Assalamualaikum Dad. AAAPPAA?"


Joshua dan Gozali saling memandang.


"Oke Dad. Wa'alaikum salam."


Gozali menatap Duncan. "Ada apa bang?"


"Brengsek! Disaat seperti ini kenapa aku harus terdampar di kasur!" omel Duncan tanpa menjawab pertanyaan Gozali.


"D! Oom Edward bilang apa?" hardik Joshua tidak sabar.


"Semua keluarga hendak turun membantu membebaskan Rain."


"AAAPPAA?"


"Moru, Eiji, Ryoma, Abian dan Javier sudah perjalanan ke Jakarta. Mereka membawa semua perlengkapan."


"Jangan bilang..."


"Ternyata darah mafiaku menular" kekeh Duncan.


Gozali melongo. "Kalian keluarga mengerikan!"


***


Dua hari kemudian...

__ADS_1


Ghani sudah datang bersama dengan satu kompi pasukan terlatih gabungan dari FBI, Interpol dan MI6. Karena Rain adalah warga negara Amerika Serikat, maka mereka berhak membebaskan warganya.



Yang kangen babang Ghani 👆👆👆


Abi dan Dara sampai-sampai tidak mengenali putranya dulu menangis karena gagal menjadi detektif, sekarang menjelma menjadi pria matang yang disegani banyak pihak dengan sikap kepemimpinannya.


Ghani menyempatkan menemui kedua orangtuanya untuk meminta restu bisa membebaskan Rain.


"Hati-hati Boy, jangan sampai pantatmu kena tembak!" goda Abi yang mendapatkan pelototan dari Dara.


"Mas! Serius ini!" hardik Dara. "Hati-hati ya sayang. Ingat, pulang dengan selamat. Ada mom dan dad, dik Rhea dan Duncan, Gozali dan Alexandra yang menunggumu."


"Mom! Kok bawa-bawa Alexandra?" gerutu Ghani.


"Kamu kan masih hutang penjelasan sama dia" senyum Dara.


Ghani hanya mendengus kesal. Lalu dia memeluk mommy dan daddynya.


"Doakan Ghani ya mom, dad."


"Selalu boy. Pulang dengan selamat ya G" bisik Abi sambil memeluk putranya.


***


Ghani bersama Ryoma dan Abian sampai di rumah mewah milik Elang. Tujuh mobil Range Rover anti peluru berjejer di sepanjang jalan depan rumah itu. Di dalam mobil terdapat Moru, Eiji dan Javier berserta pasukan gabungan. Ketiga Cogan itu masing-masing mempersiapkan semua senjata yang dibawa.


"Sudah lama aku tidak menembak orang" kekeh Eiji.


"Sudah kok" sahut Javier.


"Kapan?"


"Tuh Ayame sudah kamu tembak terus kan?" goda Moru.


"Ish kalian itu. Kok sering benernya?" gelak Eiji.


Moru dan Javier hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Ketiga Cogan itu masuk ke dalam rumah mewah Elang dan disambut oleh Louis.


"Mr Giandra, Mr Smith, Mr Reeves."


"Mana Elang?"


"Apa G?" suara bariton itu turun. Ghani tersenyum smirk. Tampak Elang memakai jaket kulit hitam, kaos hitam. Aura dingin keluar tampak terasa.



Ryoma dan Abian menatap Elang seolah memindai kekuatan lawan di depannya.


"Tidak usah mengawasi saya seperti itu, Ryoma, Abian. Karena aku akan menjadi ipar kalian."


Ryoma memincingkan matanya. "Apa maksudmu?"


"Setelah kita membebaskan Rain, aku akan menikahinya" jawab Elang tenang.


"Brengseeeekkkk!"


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa


Maaf kalau ceritanya rada-rada thriller action coz tahu sendiri kan kalau Elang mafia. Itung-itung pemanasan sebelum Ghani launching.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2