
Rain mengerenyitkan dahinya melihat pesanan Cupcakes rainbow untuk besok. 200 cupcake? Dirinya senang-senang saja apalagi uang pembayaran sudah lunas termasuk ongkos kirimnya.
"Tini. Ini nggak salah pesan 200?" tanya Rain ketika melihat berkas pesanan dari Tini.
"Beneran mbak."
"Yuk lah. Besok pagi-pagi kita kesini langsung bekerja."
"Sip mbak."
Rain masih melihat alamat rumah yang menjadi tempat tujuan cupcake rainbow nya.
Kok aku rasanya familiar ya dengan alamat ini.
***
Jam setengah enam pagi Rain sudah berada di depan rukonya dan mulai membuka pintu besi yang menutup pintu utama rukonya. Hanya dia dan Tini yang memegang kunci gembok pintu besi disana. Dilihatnya, ruko tempat pak Sam masih tertutup.
Paling pak Sam masih tidur.
Rain sendiri bangun jam setengah lima pagi tadi dan setelah mandi serta sholat subuh, dia langsung berangkat ke ruko. Sebelumnya dia membeli enam bungkus bubur ayam di perjalanannya ke ruko buat sarapan dirinya dan para pegawainya.
Tini datang bersama Ayu karena rumah mereka satu arah lalu tak lama Ejin dan Sinta pun datang disusul Dina. Keenamnya sarapan bubur ayam dulu sebelum membuat cupcake pesanan seorang pelanggan.
***
Setelah beberapa jam membuat cupcake sebanyak itu, akhirnya semuanya sudah siap untuk diantar ke alamat pemesan. Rain yang hari ini membawa Alphard nya memutuskan untuk mengantarkan cupcakenya daripada menunggu ojek online.
"Aku takut rusak di jalan Tin." Rain juga tidak mau reputasi tokonya rusak gara-gara ada kue yang rusak. Tahu sendiri lah gimana para netizen kalau sudah membully via jempol.
"Mbak Rain antar sendiri nggak papa?" tanya Tini sebab hari ini padat di toko.
"Nggak papa Tin. Ya udah, mbak berangkat dulu ya, keburu siang" ucap Rain setelah Tini dan Dina membantu memasukkan dus-dus berisi cupcakenya.
Rain pun menyiapkan GPS pada ponselnya dan ketika Tini dan Dina sudah masuk toko, Rain membuka laci dashboardnya. Tampak sebuah Glock disana. Semenjak kasus kemarin, papa Ryu selalu meminta Rain untuk membawa Glock dan semprotan merica di tasnya. Tahu karena putrinya tidak bisa bela diri, hanya jago menembak.
Mobil Alphard Vellfire hitam itu pun meluncur ke jalan raya. Rain memang menyetir sendiri mobilnya karena pagi-pagi harus ke toko sedangkan pak Benny baru datang ke rumah jam tujuh pagi.
Rain melirik jam di mobilnya yang menunjukkan pukul sebelas pagi dan pihak pelanggan meminta agar mengantarkan sebelum jam satu siang.
Sembari mendengarkan lagu-lagu milik SHINee, Rain pun bersenandung sambil menyetir. Pagi ini dia mengenakan kemeja yang terbuat dari bahan denim.
__ADS_1
Ketika lagu Winter Wonderland diputar, Rain hanya terdiam. Teringat saat Elang menembak dirinya di sebuah cafe untuk menjadi kekasihnya dengan diriingi lagu favoritnya.
Ya Allah Lang, aku rindu padamu. Rindu kau tanya 'kok baca buku resep'. Rindu mata hazelmu.
Tanpa disadari, airmatanya menetes. Buru-buru Rain menghapus. Jangan nangis Rain. Kamu harus kuat. Setahun kamu bisa tanpa Elang, apa artinya menunggu setahun lagi setelah hukuman Elang berakhir.
Dan sekarang Rain tiba di sebuah perusahaan yang besar dan terdapat showroom mobil-mobil mewah disana. Rain membaca plangnya. Giandra Otomotif Co.
Astaghfirullah ini mah kantornya Oom Abi! Rain tertawa kecil. Ternyata yang memesan adalah saudara sendiri.
Gadis itu pun turun dari mobil dan bertemu dengan satpam. Satpam itu pun bergegas meminta bantuan rekannya untuk membawakan dus cupcake dari mobil hitam Rain.
"Rain!" panggil Gozali yang baru saja memarkirkan Rubicon hitamnya.
Rain pun menoleh. "halo bang Goz."
"Kok kamu yang antar sendiri? Kenapa nggak pakai ojek online?" tanya Gozali yang sudah menikah dengan Maira empat bulan lalu setelah Kaia bisa dibawa ke Jakarta.
"Daripada rusak bang. Kok nggak bilang yang pesan Oom Abi? Kan bisa spesial harganya" kekeh Rain.
"Ish, bangkrut tar tokomu kalau pakai harga saudara" gelak Gozali. "Ayo masuk, ketemu bapak sama papa."
"Rain! Apa kabar?" tanya Abi sambil memeluk keponakannya itu.
"Alhamdulillah baik Oom. Oom Anta apa kabar? Halo Maira." Maira lalu memeluk Rain.
"Makasih ya Rain udah mau buatkan Maira cupcake" ucap Maira.
"Iya. Memang ada acara apa?" tanya Rain bingung.
"Maira sudah hamil lima Minggu dan ngidam cupcake 200 biji" ucap Antasena sambil geleng-geleng.
"Mana sekarang hobinya nonton horor filmnya Suzanna lagi!" keluh Gozali.
"Untung cupcakes, bukan sate 200 biji. Tar malam-malam kamu dipanggil Maira dengan suara horor... 'Bang, satenya 200 tusuk ya'. Serem nggak tuh!" kekeh Abi cuek.
"Ya Allah Pak, jangan bikin horor kenapa?" keluh Gozali.
"Salahnya Maira ngidam aneh-aneh!"
__ADS_1
Rain tertawa. Ternyata keluarga Rhea juga sama rusuhnya.
***
Rain pun memutuskan berjalan-jalan sebentar di sebuah toko buku Gramedia di jl Gajahmada. Sudah lama dia tidak membeli buku resep terbaru dan beberapa novel.
Sesampainya disana, Rain langsung menuju rak khusus buku resep yang membuat dirinya merasa nyaman. Membeli, membaca buku selalu menjadi mood booster nya. Setelah memilih beberapa buku resep terbaru, Rain menuju rak novel. Dilihatnya novel-novel roman karangan Nora Roberts, Diana Palmer, Rebecca Winters langsung diambilnya begitu juga novel karangan penulis Indonesia seperti Maria A Sardjono, Mira W dan S.Mara Gd pun dibelinya.
Rain ingin menikmati membaca buku nanti di rumah karena sudah lama dia tidak me time. Hari-harinya disibukkan oleh pekerjaannya di toko kue demi menghilangkan pikirannya ke Elang.
Setelah dirasa cukup, Rain pun membawa belanjaannya ke kasir dan membayarnya. Setelahnya dia menuju ke Starbucks untuk membeli cappuccino favoritnya.
Rain masih berkutat mencari kunci mobilnya yang lagi-lagi tidak bisa ditemukan.
Ya ampun Rain! Kok selalu begini sih!
Rain meletakkan cup kopinya di meja di teras Starbucks lalu mulai membongkar tas Louis Vuitton nya.
"Kehilangan kunci lagi, Rain?"
Rain langsung membeku. Suara ini!
Gadis itu lalu mendongakkan wajahnya dan terkesiap.
"Elang?"
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Semoga hari ini khilaf biar bisa lolos kontrak
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Ghani dah launching yaaaaa
__ADS_1