Elang Untuk Rain

Elang Untuk Rain
I Want You To Be Mine


__ADS_3

"Aku berada di Jakarta karena ada urusan bisnis disini, perintah dari almarhum kakekku untuk mengecek aset milik keluargaku."


Rain masih menatap Elang. "Mungkin aku akan kembali ke Inggris setelah urusan disini selesai dan aku berharap pada saat itu, kamu sudah bersamaku."


Rain mengerjap-kerjapkan matanya. "Apa maksudmu?"


Elang menggenggam tangan Rain dan membawanya ke dalam bibirnya. "I want you Rain. Aku akan mewujudkan apa impianmu berada di turun nya salju bersamaku dengan diiringi lagu SHINee mu."


Rain memerah wajahnya. Bagaimana dia tahu apa impianku.


"Ehem. Aku memang ingin seperti itu tapi bukan berarti bersamamu, Lang."


"Pasti akan bersamaku Rain. Karena Elang hanya untuk Rain."


"Kenapa kamu selalu mengucapkan akan hal itu?"


"Yang mana?"


"Elang untuk Rain."


"Karena memang itu kenyataannya. Aku hanya untukmu."


"Kamu tidak tahu siapa keluarga besarku" senyum Rain dengan getir.


"Maksudnya?"


"Mereka akan melakukan screening kepada siapa saja yang masuk ke dalam keluarga kami." Rain memang tidak berbohong. Meskipun keluarga besar tidak mempermasalahkan status sosial, tapi mereka tetap melakukan screening pada setiap pasangan anak-anak mereka.


Aku tidak heran jika mereka melakukan itu karena aku akan melakukan hal yang sama.


"Akan aku hadapi Rain asal aku bisa bersamamu" ucap Elang tegas. Que Sera Sera.


"Berikan waktu aku untuk berpikir Lang."


Elang mendengus pelan. Rain memang bukan tipe gadis yang mudah tertarik akan fisik seseorang dengan cepat.


"Kita jalan-jalan? Aku temani."


Rain tersenyum. "Ayo."


***


Rain melanjutkan acara jalan-jalannya didampingi oleh Elang yang sesekali menyentuh jari gadis itu. Rain sendiri tidak terlalu memperhatikan karena dia asyik melihat tas Louis Vuitton.



"Kamu mau tasnya?" tanya Elang. Rain menoleh ke arah pria itu yang berada di sampingnya dan keduanya sangat dekat satu sama lain.


Rain berdehem lalu kembali melihat-lihat tas incarannya.


"Mbak, aku ambil yang ini" ucap Rain kepada pegawai disana yang sedari tadi mencuri-curi pandang kepada Elang.


"Baik nona." Rain kemudian menunggu tas itu dipersiapkan lalu mengeluarkan dompetnya.


"Aku saja yang membayar" ucap Elang.


"Eh nggak usah. Aku dikasih papa aku kok" tolak Rain sambil mengeluarkan black card milik Ryu Reeves.


Elang juga mengeluarkan black card nya namun Rain menggeleng menolak dirinya dibayarkan tas incarannya.


__ADS_1


"Kenapa kamu tidak mau aku bayari?" tanya Elang.


"No Lang. Aku punya uang sendiri meskipun tadi papaku yang menyuruh aku memakai black cardnya."


Keduanya berjalan lagi dan Rain pun mengajak makan di sebuah restauran Jepang.


"Kali ini aku yang mentraktir. Kamu nggak boleh menolak." Rain pun mengangguk.


Keduanya pun memesan makanan dan Rain membelalakan matanya dengan banyaknya yang Elang pesan.


"Aku lapar!" jawabnya yang dipotong suara ringtone ponsel Rain.


Rain mengambil ponselnya dan ternyata sang mama menelponnya.


"Assalamualaikum ma" sapanya.


" ... "


"Masih di mall ma. Ini makan sama teman lama, nggak sengaja ketemu disini" jawab Rain yang membuat Elang mendelik. Teman lama?


" ... "


"Baik ma. Assalamualaikum."


"Seriously Rain? Teman lama?" ucap Elang tersinggung.


"Lho kan memang itu kenyataannya. Kenapa kamu marah?" tanya Rain bingung.


"Sorry." Elang bukan tipe orang yang mudah meminta maaf tapi dengan Rain, dia bisa mengucapkan kata sorry.


Pesanan mereka datang dan Rain hanya melongo melihat banyaknya makanan.



"Yakin habis." Elang mulai mengambil sushinya. "Ayo makan."


***


Pengawal bayangan Ryu Reeves memberikan foto keduanya kepada Ryu dan diteruskan kepada Duncan dan Joshua.


Kedua pria itu terkejut melihat Rain tertawa bersama dengan orang yang mereka cari selama ini.


"Astaga! Dia kenal Rain!" seru Duncan.


***


Rain dan Elang berjalan menuju tempat parkir dimana mobil FIAT 500 milik Rain berada. Elang hanya diam mendampingi Rain yang sedang mencari kunci mobilnya.


"Kamu cari apa?" Elang bertanya ketika gadis itu sibuk sendiri.


"Kunci mobilku nggak ada" ucapnya agak panik.


Elang memegang tangan Rain.


"Rain. Rain! Lihat aku! Lihat aku! Kita akan cari kunci mobilmu pelan-pelan." Rain menatap Elang yang mengambil alih tangannya dan mulai mencari pelan-pelan kunci mobil merahnya.


Selama Elang menunduk, Rain bisa melihat wajahnya dengan dekat. Wajah tampannya, dengan alis tebal, bulu mata lentik, bibir yang seksih, hidung mancung, mata hazel yang serius mencari kunci mobil dan harum after shave nya yang maskulin. Rain hampir tidak bisa bernafas dengan benar melihat keindahan di depannya.


"Ini ketemu kuncinya" ucap Elang sambil mengulurkan kunci mobil ke dalam tangan Rain.


__ADS_1


Rain tergagap. "Te.. terimakasih Lang" bisiknya.


"Sama-sama Rain. Lain kali jangan panik mencarinya." Rain mengangguk.


Gadis itu lalu membuka pintu mobilnya dan memasukkan belanjaannya, setelahnya dia berbalik. Betapa terkejutnya Rain ketika Elang berdiri begitu dekat dengan dirinya.


"Astaghfirullah, Lang." Rain memegang dadanya karena terkejut. Elang kemudian mengunci tubuh Rain dengan memegang tepi pintu mobil.


Rain menatap wajah Elang dan untuk pertama kalinya dia menyesal tidak menurut untuk belajar bela diri seperti saudara sepupunya.


"Lang? Elang? Please jangan seperti ini. Kita di tempat parkir."


"Nggak ada yang lihat! Kamu kan dapat parkir di tempat nyempil" sahut Elang serak.


Rain mengalihkan pandangannya dari wajah tampan di hadapannya. Jantungku! Tolong! Aku tidak tahan ditatap dengan mata hazel seperti itu.


"Rain, tatap aku."


Rain perlahan menatap wajah Elang. Hatinya berdesir melihat mata hazel itu menatapnya mesra.


"Kumohon Rain, jadilah milikku" bisik Elang.


"Bukankah aku sudah bilang aku butuh waktu berpikir?" ucap Rain dengan nada sedikit bergetar.


"I need your answer right now, baby."


"I'm sorry. I can't" bisik Rain. "Why you're so hesitate?"


"Coz I don't want to lose you. Keluargamu pasti akan menentang hubungan kita."


Rain tertawa kecil. "Apakah kita memiliki hubungan Lang? Aku rasa tidak."


"Belum but considered it's already."


"Hanya dari satu sisimu, Lang. Dari sisi aku belum ada pernyataan aku akan mau menjadi kekasih mu."


"Aku yakin kamu menjadi kekasihku" ucap Elang.


Rain mencoba mendorong tubuh Elang yang menguncinya. "Aku harus pulang Lang. Please?"


Elang melepaskan tangannya dari sisi tubuh Rain namun bukannya menyingkirkan tangannya, pria itu malah memeluk gadis itu.


"Elang! Apa yang kamu lakukan?" Rain memberontak untuk melepaskan dirinya dari pelukan Elang.


Elang menaikkan tangan kanannya dan menahan kepala Rain lalu dia Melu*mat bibir ranum Rain.


Rain gelagapan karena dia belum pernah berciuman dan hanya menutup mulutnya.


"Buka mulut mu Rain!" perintah Elang namun Rain tetap berontak berusaha mencari celah untuk bisa melepaskan diri. Disaat ada kesempatan, gadis itu meninju wajah tampan Elang yang membuatnya sedikit terhuyung dan melepaskan pelukannya.


Rain segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya secepat mungkin seperti dikejar setan meninggalkan Elang yang masih memegang rahangnya.


"Damn it Rain!" umpat Elang. Namun sejurus kemudian pria itu tertawa terbahak-bahak. Ternyata kamu bisa memukul juga.


***


Yuhuuu Up Sore Dulu Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2