Elang Untuk Rain

Elang Untuk Rain
Bonchap - Pria Pratomo Pecinta Cewek Bar-bar


__ADS_3

Astuti berjalan santai menghampiri meja makannya tanpa menoleh ke belakang tempat dirinya menghajar wanita tidak tahu diri itu.


Rama hanya menatapnya kagum dan penuh cinta ke gadis manis yang menyimpan banyak kejutan. Sedangkan obyek yang dipandangi hanya duduk manis sambil menyantap sisa makanannya.


"Habis hajar orang, laper ya? Apa mau tambah lagi makannya?" tawar Rama.


Astuti menggeleng. Ini sudah cukup.


"Nanti tinggal dessert ya." Astuti mengangguk.


Tiba-tiba wanita tadi hendak mengguyur Astuti dengan air namun Rama melihatnya dan langsung menatapnya tajam.


"Kamu berani macam-macam dengan istriku, jangan harap kamu akan selamat malam ini." Rama mengucapkan dengan nada dingin yang membuat Astuti menoleh ke arah belakangnya.


"Masih belum kapok ya?" sahut Astuti.


Wanita itu pun mundur namun Astuti sudah berdiri lalu menghadapi wanita itu.


"Mau aku hajar lebih dari yang tadi?" tatapan dingin Astuti membuat wanita itu mundur. Lalu dia dan teman-temannya pun bergegas pergi karena posisi Astuti masih membawa garpu dan pisau steak.


Setelah mereka pergi, Astuti melanjutkan makannya yang membuat Rama tertawa.


"Kamu tuh mirip Arimbi. Habis ngamuk masih bisa santai makan."


Astuti menatap Rama. Iya kah?


"Iya. Kan Rimbi satu rumah dengan aku jaman kuliah. Dia kalau sudah ngamuk menghajar orang langsung makan banyak dan bisa kayak kamu, melanjutkan makan yang tertunda."


Mas Rama sayang banget sama adik-adiknya mas yang cewek ya?


"Gimana nggak sayang? Kakak perempuan dan adik perempuan aku cantik-cantik semua" gelak Rama. "Iparku apalagi. Semua pria klan Pratomo memang kebetulan saja suka cewek cantik, judes, galak plus bar-bar. Dan semua ipar cewekku kebetulan seperti itu. Mbak Emi tuh anak Yakuza ... kemana-mana bawa pedang Kendo. Mbak Gina, hobinya main suntik orang. Mbak Runa apalagi, mas Jendra kalah sama dia kalau sudah ngamuk. Belum mbak Gandari istrinya Mas Abi, Anjani istrinya Ega. Yang aku heran, saudara perempuan aku dapat suami yang kalem-kalem."


Kecuali Arimbi.


"Kecuali Arimbi" gelak Rama. "Bima tuh sableng. Heran aku, kok ya mau-maunya meladeni Hoshi yang mulut cabe begitu."


Aku pusing mas kalau dengar mereka gelut.


"Lho mas Abi pernah lho ngadu mereka di Dojo" gelak Rama mengingat Bima dan Hoshi berantem di mansion Blair lalu dibawa ke Dojo gara-gara Eiji.


Hoshi kalah ya mas?


"Kalah satu poin saja sih!"


Yang paling kuat fisiknya siapa mas?


"Rata-rata kita kuat fisik tapi paling kuat mas Abi, bang Joey dan Hoshi sih. Cuma jangan sekali-kali bikin Hoshi ngamuk, bisa trance tuh bocah."


Seperti kasus Aji dulu ya?


"Iya, payah tuh bocah! Bisa-bisanya bawa pistol ke kampus!"

__ADS_1


Bukannya kalian semua bawa ya?


"Kami sekarang lebih suka bawa baton sih sayang. Pistol hanya disimpan di mobil saja. Ngomong-ngomong kok kamu bisa bela diri?"


Falisha yang mengajak dan mengajar aku agar mandiri serta bisa membela diriku.


"Siapa saja yang tahu kamu bisa bela diri?"


Falisha, Rina dan Arimbi. Soalnya kita latihan bareng di Dojo Takei-sensei.


"Aku tidak salah pilih kamu, Astuti. Nanti usai Hoshi dan Safira, kita yang menikah ya. Biar nanti keluarga aku ke rumah kamu."


Astuti mengangguk dan tersenyum manis.


***


Acara Pernikahan Hoshi - Rina, Safira - Bagas


Rama menggandeng Astuti yang malam itu mengenakan kebaya bewarna pink dengan rambut disanggul sederhana.




Melihat sahabatnya datang dengan kakak sepupunya, Falisha langsung menghampiri keduanya.


"Kalian serius? Beneran? Mau nikah?" cecar Falisha yang malam itu mengenakan gaun hitam.


"Bukan gitu mas, tapi kan kalau mereka menikah, Astuti harus ikut mas Rama ke New York dong!"


Aji hanya tersenyum ke arah istri cantiknya. "Ya kamu kan tinggal mencari penggantinya Astuti. Bukannya banyak tuh pegawai kamu yang kompeten juga?"


"Tapi kan mas, aku harus training lagi, aku harus..." suara Falisha menghilang ketika Aji dengan santainya mencium bibirnya.


"Cara paling gampang membuat Falisha diam" cengir Aji ke arah Rama dan Astuti yang hanya tersenyum simpul.


"Mas Aji!" Falisha memukul bahu suami tampannya. Wajah wanita keturunan Turki itu tampak memerah.


Rama menatap Falisha intens. "Kamu hamil ya Fa?"


"Hah? Siapa yang hamil?" tanya Falisha bingung.


"Ya kamu lah soalnya ini seperti bukan kamu yang tukang ngomel-ngomel." Rama menatap Aji. "Dan kamu harus tanggung jawab!"


Aji pun melongo lalu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.



"Ya jelas tanggung jawab lah mas, kan Falisha istri aku" kekeh Aji.


"Bagus!" senyum Rama. "Aduuuhh! Apa-apaan sih kamu Fa!" Falisha memukul bahu Rama kuat-kuat.

__ADS_1


Falisha merasa gemas dengan kakaknya yang ganteng. "Sukanya asal kalau ngomong!"


"Yang mana?" tanya Rama bingung.


"Aku hamil!"


"Lho habis kamunya juga aneh Fa. Kamu biasanya halus nggak kayak gini" ucap Rama. "Ya nggak sayang?" tolehnya ke Astuti.


"Iya" jawab Astuti.


Kalau memang Falisha hamil, Alhamdulillah. Aji tersenyum.


"Soalnya Freya sudah hamil jadi ada kemungkinan Falisha juga. Kan nikahnya kalian barengan."


Falisha menatap suami, Rama dan Astuti bergantian. "Kalau hamil... "


"Kenapa?" tanya Aji.


Mas tidak apa-apa jika anak kita seperti mas?


Aji terkejut. Memangnya kenapa? Kamu tidak mau hamil?


Falisha menggeleng. Bukan begitu, aku sudah tahu resikonya tapi apa mas nggak kecewa dapat anak yang tidak sempurna?


Aji memeluk Falisha lembut. Anak itu anugerah dan setiap anak yang diberikan itu spesial punya kelebihannya sendiri. Kita sebagai orang tua, tugasnya bertanggung jawab atas anak yang diberikan dari Allah SWT. Baik buruknya seorang anak, tergantung bagaimana kita sebagai orang tua mendidiknya. Kamu kan psikolog, harusnya lebih paham dari aku.


"Maklumi saja Ji, katanya kalau hamil memang hormonnya berantakan. Kalau di Falisha, kasusnya adalah dia rada Lola... Aduuuhh!" Rama meringis ketika bahunya dicubit oleh Falisha.


"Mas Rama nyebelin!" jerit Falisha yang membuat semua saudaranya pada menoleh ke sumber keributan.


Arjuna dan Kareem hanya menggelengkan kepalanya.


"Berdua itu ribut apa sih?" kekeh Kareem.


"Tahu ah! Gelap!" sahut Arjuna sambil minum cocktail nya.


"Jun, kamu yakin menerima Astuti menjadi menantu kamu? Seperti halnya aku menerima Aji?" tanya Kareem.


"Insyaallah yakin. Apa kamu tidak melihat bagaimana tangan anakku tidak lepas dari pinggang Astuti? Matanya itu seperti kita - kita kalau melihat pasangan masing-masing kan? Aku suka Astuti, dia bisa membuat anak malas mandi itu jadi rajin mandi sekarang disaat mommynya dan omanya tidak mampu merubah kebiasannya" kekeh Arjuna.


"Orang jatuh cinta itu mampu merubah kebiasannya" senyum Kareem.


"Nah tuh paham!" gelak Arjuna.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2