
Sekar masih terdiam di dalam pelukan Arjuna dan semakin lama semakin dia bisa mencium bau parfum maskulin suaminya yang harumnya membuat kepalanya pusing. Sepertinya aku akan merindukan harum parfum ini.
"Sayang, apa sesulit itukah kamu bisa menerimaku sebagai suamimu?" bisik Arjuna.
Sekar hanya diam saja.
"Apakah kesalahan ku sangat fatal? Sampai-sampai kamu tidak mau memulai dari awal?" Arjuna menatap wajah Sekar yang jaraknya hanya beberapa senti.
Sekar menatap Arjuna. "Saya...masih belum bisa menerima anda..." bisiknya pelan.
Arjuna menghembuskan nafas panjang. "Masih ada waktu bagimu untuk membuka hatimu untukku karena sejujurnya Sekar, aku sudah jatuh cinta padamu dan detik aku mengucapkan ijab Kabul, detik itu juga aku sudah menyerahkan hatiku padamu. Detik itu juga aku ingin membangun keluarga utuh bersamamu dan Rajendra."
Sekar masih menatap Arjuna. Bohong kalau dia tidak tersentuh pernyataan suaminya. Bohong kalau dia tidak menghangat hatinya.
Sekar belum pernah berpacaran karena hidupnya hanya bagaimana kuliah bekerja dan memberikan kehidupan yang layak buat Rajendra namun mendengar pernyataan pria yang meminangnya dan mengucapkannya dengan kesungguhan, membuatnya terharu dan sakit bersamaan.
"Sekar..." Mata coklat terang Arjuna menatap istrinya dengan sendu dan mesra bercampur aduk. "Mau ya? Menjadi keluarga seutuhnya?"
Sekar menunduk. "Aku..."
Arjuna mengusap wajahnya kasar. "Tampaknya aku harus bersabar dengan mu, gadis keras kepala."
Sekar hanya terdiam.
***
Sekar dan Arjuna berada di dalam kamar usai makan malam serta mengobrol dengan para sepupu-sepupunya. Keduanya kini berada di atas tempat tidur Arjuna karena pria itu mencegah istrinya tidur di sofa maupun di kamar Rajendra.
"Tidurlah disini bersamaku. Perjanjiannya kan tidak melakukan 'itu' jadi hanya tidur bukanlah pelanggaran."
Sekar meletakkan tubuhnya di sisi Arjuna namun posisinya membelakangi suaminya. Diantara mereka ada beberapa bantal sofa yang memang dipasang oleh Sekar.
Arjuna hanya tersenyum melihat ulah istrinya yang masih keras kepala meskipun tidak menolak dipeluk seperti tadi siang.
Pria itu melepaskan kaos rumahnya, mematikan lampu besar dan hanya lampu kecil yang menyala di kamar mereka.
Arjuna berbaring menyamping dengan kepalanya disangga dengan tangannya. Netranya tetap memandang punggung feminin yang memunggunginya. Ingin rasanya dia memeluk tubuh langsing itu. Harum parfum mawar yang dipakai Sekar saat tadi dia memeluknya benar-benar memabukkan.
Suara nafas teratur mulai terdengar dari Sekar membuat Arjuna membuang semua barikade bantalnya. Pelan-pelan, pria itu meraih tubuh Sekar dan mulai memeluknya dari belakang.
Arjuna mencium leher Sekar dan sengaja membuat kiss Mark disana seolah menunjukkan bahwa gadis itu adalah miliknya dan bersyukur Sekar tidak terbangun lalu dengan posesif meletakkan tangan kekarnya di perut Sekar.
Semoga kamu segera membuka hatimu untukku karena aku tak sabar ingin memiliki keluarga seutuhnya.
__ADS_1
Arjuna terkejut ketika punggung Sekar beringsut menempel ke dada Shirtlessnya seolah mencari kehangatan dan kenyamanan. Diam-diam dia tersenyum smirk.
Meskipun bibirmu bilang tidak, tapi tubuhmu mengkhianati hatimu.
Arjuna semakin erat memeluk Sekar.
***
Sekar terbangun ketika merasakan sesuatu yang berat diatas perut nya. Diliriknya sebuah tangan kekar dengan posesifnya memeluk dirinya. Mata coklatnya melirik ke belakang tubuhnya dan tampak Arjuna dengan nafas teratur tidur sembari memeluk dan wajahnya menempel punggungnya.
Sekar melirik ke arah jam digital yang ada diatas meja kecil sebelah tempat tidur. Jam lima pagi. Rajendra harus berangkat jam tujuh. Sekar tidak mau kejadian kemarin terulang dimana ayah dan anak kesiangan.
"Mas..." bisiknya sambil menepuk pelan tangan Arjuna.
"Hhhmmm... lima menit lagi sayang" gumam Arjuna.
"Mas, aku harus bangun. Nanti kalian kesiangan lagi seperti kemarin."
Arjuna seolah tidak mendengar ucapan istrinya malah semakin mempererat pelukannya.
"Mas Arjuna" panggil Sekar lagi sembari mencoba melepaskan dirinya.
"Sekar! Jangan bergerak-gerak atau kamu akan membuat ku mengambil hakku hari ini!"
"Mas! Itu apa yang menempel di pan*Tatku?" Meskipun Sekar bisa mengira-ngira namun tak urung wajahnya pun memerah.
Arjuna membalikkan tubuh Sekar hingga keduanya berhadapan. "Itu adalah juniorku yang ingin masuk ke dalam rumahnya" cengir Arjuna tanpa malu.
Sekar membelalakkan matanya. "Kamu... kamu.." suara Sekar menghilang ketika Arjuna mencium bibirnya dan dia tahu gadis ini masih polos belum bisa berciuman.
"Buka mulut mu..." perintah Arjuna namun Sekar berusaha menutupnya namun pria itu dengan ahlinya membuka mulut Sekar dengan lidahnya dan Melu*mat bibir istrinya.
Sekar berusaha melepaskan diri dari Arjuna dengan memukul dada suaminya namun Arjuna tidak menghiraukan.
Ketika tangan Arjuna hendak mere*mas gundukan miliknya, Sekar langsung menusuk pinggang Arjuna dengan jari telunjuknya hingga membuat pria itu terkejut dan melepaskan ciumannya. Sekar bergegas bangun dari tempat tidur dan berlari keluar kamar menuju kamar Rajendra.
Arjuna yang masih merasa terkejut akibat tusukan Sekar di pinggangnya sekarang tidur terlentang di kasur besarnya untuk menetralisir nafasnya yang memburu. Aku benar-benar tidak bisa melepaskanmu, Sekar.
***
Di kamar Rajendra, Sekar berdiri di balik pintu dengan nafas tersengal dan setelahnya dia merosot ke lantai. Tanpa disadari air matanya menetes. Ya Allah, aku tahu aku salah tapi aku tidak bisa.
Setelahnya Sekar menuju ke tempat putranya tidur. Dengan penuh kasih sayang, dia mengelus kepala Rajendra. Mama sayang kamu nak. Apakah mama harus menyerah agar kita tetap bersama?
__ADS_1
"Ma..ma?" suara Rajendra membuat Sekar tersenyum melihat putra tampannya.
"Selamat pagi sayang. Ayo siap-siap bangun supaya nggak kesiangan kayak kemarin" senyum Sekar.
"Ma, leher mama kenapa?"
Sekar memandang putranya bingung. Leher? Sekar menuju cermin besar yang ada di kamar Rajendra. Astaghfirullah! Mas Arjunaaaa!!!!
***
Sekar melangkah lebar-lebar ke arah kamar Arjuna dengan wajah kesal. Danisha yang baru keluar kamar, terkejut melihat sepupu iparnya tampak marah dan dia tersenyum melihat leher Sekar ada bekas kiss Mark disana.
"Akhirnya Sekar?" goda Danisha.
"Akhirnya apa?" tanya Sekar menghentikan langkahnya.
Danisha menunjukkan di lehernya sendiri sambil menyeringai.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Nisha!" umpat Sekar sambil berjalan ke kamarnya.
"Seperti apa yang aku pikirkan pun nggak papa kok Sekar! Halal dan sah kok!" goda Danisha sambil terbahak.
Sekar membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali dan dilihatnya suaminya masih terduduk di tempat tidur dengan rambut berantakan.
"Mas Arjuna! INI APA?" teriak Sekar sambil menunjukkan lehernya.
Arjuna hanya tersenyum smirk. "Bagus kok!"
Sekar melotot. "Mas! Jendra lihat! Danisha lihat! Tega kamu mas bikin malu aku!" Wajah Sekar tampak kesal, marah, malu dan ingin menangis.
"Itu baru permulaan Sekar. Dan sekarang aku tidak peduli lagi atas perjanjian kita!"
Arjuna menatap tajam ke arah Sekar yang membuat istrinya hanya bisa terdiam.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️