Elang Untuk Rain

Elang Untuk Rain
Bonchap - Sekar


__ADS_3

Sekar memarkirkan motor maticnya di parkiran khusus guru dan menyapa beberapa rekan kerjanya. Sambil berjalan beriringan dengan para guru, Sekar mengobrol banyak hal tentang para anak didik mereka.


Mereka berpisah karena Sekar masuk ke ruangan khusus bimbingan konseling. Di dalam ruangan sudah ada dua orang rekannya yang baru saja tiba, Tina dan Yosephine. Keduanya adalah senior Sekar di instansi itu dan selama ini keduanya lah yang membimbing gadis itu.


Sekar adalah sarjana psikologi di universitas negeri di Semarang, kemudian dia pindah ke Solo bersama Rajendra putranya yang berumur empat tahun sekarang. Keputusannya untuk pindah ke Solo karena menurutnya kota ini lebih tenang dan biaya hidup tidak terlalu tinggi apalagi untuk gaji guru seprtinya. Meskipun dirinya sudah diangkat menjadi PNS, tapi tetap saja Sekar harus tetap bisa berhemat.


"Selamat pagi semua" sapa pak Budi, guru konseling senior di ruangan itu.


"Pagi pak" sapa orang-orang yang ada di dalam ruangan. Pak Budi melirik ke arah Sekar yang langsung membuka laptop untuk memulai pekerjaan.


Sudah menjadi rahasia umum kalau pak Budi, duda berusia 40 tahun itu naksir Sekar namun gadis itu mengacuhkan. Semenjak istrinya meninggal, pak Budi memang tidak tertarik menjalin hubungan dengan wanita lain namun setelah Sekar masuk kerja disana, pak Budi menjadi tertarik dengan gadis indo itu.


Sekar sedang berkonsentrasi untuk membuat laporan tahunan yang memang harus dibuat oleh setiap guru PNS ditambah laporan untuk tahun ajaran berikutnya ketika pak Budi datang menawarkan gorengan.


"Bu Sekar, ini ada gorengan lho. Enak masih hangat."


Sekar mendongakkan wajahnya. "Maturnuwun pak tapi saya selesaikan laporan saya dulu. Kan jam 12 harus sudah masuk dinas pendidikan" jawab gadis itu ramah.


"Ayolah Bu Sekar, cicipi dulu" ucap Pak Budi sambil memaksa.


Tina yang melihat raut wajah Sekar agak tidak enak langsung menghampiri. "Pak Budi ya gitu! Yang ditawari cuma Bu Sekar, aku kok nggak. Kan yo pilih kasih no" sahut Tina dengan logat jawanya yang medhok sambil mencomot gorengan yang ada di meja Sekar.


Pak Budi hanya tersenyum tipis. "Wong aku nawarin Bu Sekar kok, nggak nawarin kamu!"


"Idiiihhh masa pak Budi nggak tahu motto di ruangan BK? Makanan yang di ruang BK adalah milik bersama. Jadi semuanya berhak ngambil lah!" sahut Tina cuek sambil menggigit cabe rawitnya.


Sekar mengacuhkan keributan keduanya dan dia memilih tetap menyelesaikan laporannya.


***


London, Inggris


Arjuna terbangun dengan kepala pusing. Sudah lama dia tidak minum alkohol namun semalam dia ingin minum dan satu botol whisky pun habis. Toh London sekarang libur nasional jadi dia tidak harus masuk kerja.


Masih dengan Shirtless, Arjuna mengambil rokok dan menyalakannya. Semalam wajah cantik itu terbayang lagi dalam mimpinya. Meskipun mabuk, wajah Lily selalu terbayang di matanya.



Babang Arjuna sama Daddynya cakep siapa?


Arjuna menatap pemandangan kota London dari jendela apartemennya. Pria yang memiliki tattoo di belakang lengannya tampak berantakan karena hingga sekarang anak buahnya belum mendapatkan kabar.


Rasanya dia ingin meminta bantuan Levi atau Fuji atau Kris, tapi mereka pasti bertanya-tanya karena mereka tahu Arjuna sangat tertutup dengan kaum hawa. Bahkan mereka tidak tahu siapa pacar Juna karena dia jarang terlihat bersama wanita.


Suara ponsel Arjuna berbunyi dan dengan malas dia mengangkatnya.


"Ya Ash?"


"Aku sudah menemukan Lily."

__ADS_1


Arjuna langsung semangat mendengar kabar yang sudah lama dia ingin ketahui.


"Dimana?"


"Solo."


Arjuna mengerenyitkan dahinya. Solo? Bukankah di Solo ada Danisha Giandra, anaknya Oom Ghani dan Tante Savitri dan Oom Jaehyun.


"Kok bisa ke Solo?"


"Hasil penyelidikan ku, dia menjadi guru bimbingan konseling seperti Tantemu dan tempat kerjanya di SMK Negeri 3."


Arjuna merasa mendapatkan lotere pagi ini.


"Kirimkan datanya padaku Ash. Lengkap! Aku akan ke Solo!"


"Perusahaan mu bagaimana?"


"Kutitipkan padamu!"


***


Seminggu kemudian


Savitri melongo melihat keponakannya tiba-tiba nongol di depan rumahnya.


"Arjuna? Astaga! Tumben ke Solo." Arjuna hanya memeluk Tantenya.


"Ayo masuk!" Savitri mengajak masuk keponakannya. "Papa mamamu gimana?"


"Alhamdulillah baik, Tan. Ohya Tan, tahu rumahnya Danisha Giandra nggak?"


"Danisha anaknya Oom Ghani? Tahu lah. Dia tinggal di rumah milik Miki dan Mamoru di daerah Solo Baru. Kan Danisha kerja di AJ Corp menggantikan Sabrina, adik Joshua yang pensiun."


"Lho Arjuna?" sapa suami Savitri, Jaehyun.


"Halo Oom." Arjuna mencium punggung tangan pria berdarah Korea itu.


"Tumben kamu ke Solo, biasanya kabur ke New York atau Tokyo" kekeh Jaehyun yang memutuskan untuk pensiun di Solo bersama istrinya Savitri. Putra mereka, Nathan sedang mengambil spesialis bedah jantung di Jerman.


"Iya Oom, bosan, pengen suasana baru saja."


"Kamu nginap sini ya Jun. Tidur di kamar Nathan atau kamar tamu terserah kamu" tawar Savitri.


"Nggak usah Tan, aku dah pesan hotel kok!"


"Dih, hotel kan bayar, enak disini sama Oom dan Tante, gratis!" cebik Savitri.


"Gampang lah Tante."

__ADS_1


***


Arjuna memarkirkan mobilnya di seberang SMK Negeri 3 dan menunggu jam guru pulang yaitu jam empat sore. Dengan sabar dia menunggu sembari sesekali melihat jam tangan mahalnya yang melingkar di tangannya.


Akhirnya Arjuna melihat juga seorang gadis cantik mengenakan kemeja putih dan rok panjang bewarna biru tua. Rambutnya sudah tergerai dan tampaknya sedang menunggu kendaraan umum. Arjuna menunggu sampai tidak banyak rekannya disana lalu dia menstater mobilnya dan menghampiri gadis itu.


Gadis itu bingung melihat sebuah mobil mewah Audi berhenti di depannya. Kaca mobil pun diturunkan dan gadis itu menatap bingung pria yang duduk di sisi pengemudi.



"Halo Lily."


Gadis itu melongo. "Maaf, anda salah orang tuan. Nama saya bukan Lily."


"Oh come on Lily! Jangan bercanda! Aku sedang tidak dalam mode bercanda!" gerutu Arjuna.


"Serius tuan. Saya bukan Lily. Ini tag name saya." Gadis itu mengulurkan tag name yang ada di kerah bajunya.


Arjuna pun membacanya.


Sekar Larasati.


Arjuna melongo. "Tapi kamu mirip dengan Lily!" ucap Arjuna sambil menyerahkan tag name milik Sekar.


Sekar tersenyum sedih. "Kalau yang tuan maksud adalah Lily Danastri, maaf tuan tidak bisa bertemu dengannya."


"Kenapa?"


"Karena Lily sudah meninggal tiga setengah tahun lalu."


Arjuna langsung memucat. Tubuhnya terasa lemas.


"Lalu... kamu siapa nya Lily?"


"Saya saudara kembarnya."


Arjuna semakin pusing mendengarnya. Lily sudah meninggal. Ya Allah, aku benar-benar pendosa! Maafkan aku Lily.


"Tuan? Apakah tuan baik-baik saja?" Sekar kebingungan melihat pria tampan itu menangis.


Arjuna menatap Sekar. "Kumohon, masuklah ke dalam mobil. Please Sekar."


Sekar hanya mematung.


***


Yuhuuu Up Sore Yaaakkk


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2