Elang Untuk Rain

Elang Untuk Rain
Please, Go Back to London


__ADS_3

Rain dan Elang kini berada di warung soto Betawi langganan Rain. Keduanya pun menikmati makan siang bersama lagi, mengingat pada saat keduanya makan bersama setahun lalu.



"Aku rindu masa-masa ini" jawab Elang sambil menggigit emping.


"Sama" senyum Rain.


"Makan soto Betawi tanpa memikirkan siapa aku, siapa kamu. Kita memang dari dunia berbeda Rain. Aku tahu meskipun Oom Edward itu mantan mafia dan Duncan terkadang keluar mafianya tapi mereka tidak melukai anggota keluargamu."


Elang menatap Rain sendu. "Kalau waktu boleh diputar, aku tidak akan menembak Gozali."


"Bagaimana kalian bisa terlibat dengan politisi HD? Aku sampai sekarang tidak tahu ceritanya."


"Jadi orang itu meminjam uang pada Glenn dengan jumlah fantastis dan Glenn tidak masalah karena kami masih memiliki banyak aset. Kamu tahu apa yang orang itu perbuat? Berjudi di Makau. Habis-habisan."


Rain masih mendengarkan dengan seksama.


"Pada waktunya membayar dia meminta kami bertemu di gudang terkutuk itu. Aku dan Glenn memakai topeng elang namun Gozali hanya melihat Glenn tidak melihat ku karena aku berdiri agak tersembunyi. Ketika orang itu hanya bisa membayar separo dan separonya diganti dengan kertas koran, Glenn ngamuk dan dia langsung menembak ke arah tengah-tengah jidatnya."


Elang menatap Rain dalam. "Gozali hendak menembak Glenn, Louis menembak bahunya lalu aku bilang agar tidak menembak para bodyguard orang itu. Tanpa aku tahu, salah seorang anak buah Glenn membunuh salah satu anak buah Gozali. Pada saat kami hendak pergi, Gozali hendak menembakku dan aku terpaksa menembak kakinya."


"Dan aku menyesali perbuatanku hingga saat ini. Kalau saja aku tidak menembak Gozali mungkin ceritanya akan berbeda. Aku bisa menarik hati keluargamu namun karena aku sudah membuat salah seorang dari kalian terluka, bahkan kamu sendiri hampir mati... Jalanku berat Rain."


"Meskipun begitu, aku sudah bertekad. Misal kalian semua menentang keras, aku akan membawa pergi dirimu dengan atau tidak diberikan restu kedua orang tuamu!"


Rain melongo.


"Kamu mau ajak aku kawin lari?"


"Bila perlu!"


Rain menggelengkan kepalanya. "Nggak perlu seperti itu Lang. Hadapi dengan gentle."


"Itu opsi terakhir ku jika memang tidak bisa mendapatkan ijin dan restu. Aku pastikan, kamu tidak akan kekurangan materi jika orang tuamu akhirnya mengambil semua fasilitas milikmu karena aku yang akan bertanggungjawab atas semua keinginanmu Rain."


"Aku bukan perempuan matre. Beli tas saja kalau pengen dan itu pun hanya satu."


"Aku tahu Rain. Keluarga kalian bukan tipe yang show off kekayaan tapi kalian punya kekuasaan yang mengerikan."


"Wajar jika kami sedari kecil harus bisa membela diri karena nama belakang keluarga kami."


"Kalau sudah menikah, rubah nama belakang mu menjadi McCloud."


Rain tertawa. "Kenapa kamu sudah begitu posesif Lang?"


"Aku hanya posesif padamu saja Rain."


"Kau itu sama saja dengan para pria-pria di keluargaku. Semuanya posesif dengan pasangan masing-masing."

__ADS_1


"Itu tandanya para pria itu sangat mencintai wanitanya, sama seperti aku."


Rain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pria...pria. Can't live without them but they also make you headache."


"Kalau hidup bersamaku, kamu tidak bakalan pusing malah nikmat" goda Elang.


"Maksudnya apa ya?" tanya Rain polos.


Giliran Elang yang melongo. "Astaghfirullah Rain, kamu tuh umur berapa?"


***


Mobil Alphard Vellfire hitam itu berjalan menuju ke sebuah taman danau buatan. Sebelumnya Rain dan Elang membeli berbagai macam makanan kecil yang hendak dimakan di taman itu.



"Untung sepi" ucap Elang ketika keduanya duduk diatas rumput dengan selimut yang digelar. Rain memang sedia selimut di dalam mobilnya.


"Ini kan hari kerja jadi pada masih di kantor. Kalau akhir pekan ya penuh" jawab Rain.


"Kamu bawa apa?" tanya Elang.


"Novel. Tadi pengen aja me time kalau di rumah sambil baca novel buat refreshing."


"Kamu tuh bacaannya novel roman tapi kok nggak mudeng ma godaan ku tadi?" kekeh Elang.


"Yang mana ya?" tanya Rain bingung.


Rain langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Elang terbahak. "Kamu tuh lucu dan gemesin."


Rain hanya mengalihkan pandangannya dari Elang ke danau depan mereka.


"Sini, taruh kepalamu diatas pahaku." Elang menepuk-nepuk pahanya. "Kamu bisa menikmati membaca novelnya dengan enak."


Rain menatap Elang ragu-ragu tapi akhirnya dia meletakkan kepalanya diatas paha Elang dan posisinya tiduran lalu mulai membaca novelnya sedangkan Elang mengelus rambut coklat Rain.


Tak berapa lama. "Aku mengantuk" bisik Rain. Cuaca bagus, semilir angin, sepi ditambah dia harus datang pagi-pagi ke toko membuatnya semakin siyut-siyut matanya.


"Tidurlah. Aku akan menjagamu."


Rain pun terlelap dengan tangan Elang memeluk dirinya.


"Sleep tight Rain."


***


Rain merasa ada seseorang yang terus mengelus kepalanya dan kemudian keningnya dicium oleh seseorang. Perlahan dia membuka matanya dan langsung bersirobok dengan mata hazel Elang.


"Berapa lama aku tertidur?" tanya Rain dengan suara serak khas bangun tidur.

__ADS_1


"Sejam ada."


"Aduh! Kasihan! Pasti pahamu semutan!" Rain berusaha bangun.


"Tunggu Rain." Elang kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Rain. "Just wait."


Bibirnya lalu menempel di bibir Rain. Hanya sekilas namun setelah itu lidahnya mencoba membuka bibir Rain yang secara insting mengikuti perlakuan Elang. Merasa mendapatkan apa yang diinginkan, Elang lalu Melu*mat bibir warna peach itu.



( Anggap aja gini yaaa gaeeesss )


Rain merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dirinya hanya bisa memegang tangan Elang yang masih menikmati rasa bibirnya.


"Ya Allah" ucap Elang setelah keduanya kehabisan nafas.


Bahaya! Bahaya! Rain mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan.


"Ayo aku antar pulang" bisik Elang dengan suara serak. "Aku bisa gila kalau seperti ini!"


Rain pun bangun dan keduanya pun membereskan selimut dan bawaan mereka lalu menuju mobil hitam Rain.


Elang kemudian menstater mobil dan menyalakan AC.


"Rain..."


"Ya?"


"Maaf tapi aku harus melakukannya lagi."


Elang kemudian menarik tubuh Rain dan menahan tengkuknya lalu bibirnya Melu*mat bibir Rain lagi. Rain hanya bisa memegang baju Elang. Lama mereka saling berpagutan dan Rain banyak belajar dari Elang yang begitu ahlinya berciuman.


"Aku akan menghadap papamu" ucap Elang dengan suara serak.


"Kamu nggak bisa menghadap papa" bisik Rain.


"Kenapa?" tanya Elang gusar.


"Karena kamu kabur dari tahanan rumah padahal semua tahu bahwa kamu masih di London. Jika mereka tahu kamu di Jakarta, maka akan lebih berat hukumanmu Lang."


Elang terdiam.


"Kembalilah ke London. Jalani hukuman mu. Aku akan menunggumu."


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2