
Rain dan Elang memutuskan pergi ke rumah Abi setelah mengantarkan Jean Marie ke toko kue. Rain ingin bertemu dengan Oom dan Tantenya yang sedang berkunjung ke rumah besan.
Sesampainya di mansion Giandra, Elang dan Rain pun masuk sambil bergandengan tangan. Wajah bahagia tampak di keduanya.
"Ciiieeeee yang kangen!" ledek Duncan yang baru saja datang dari garasi.
Rain melepaskan gandengan tangannya lalu memeluk Duncan. "Alhamdulillah selamat semua."
Duncan membalas pelukan adiknya. "Alhamdulillah. Yuk masuk!"
Di ruang tengah sedang terjadi keributan antara Ogan dan Opa yang sepertinya bakalan tetap gelut hingga sampai kapanpun.
"Kamu kan sudah lama sama Kaia. Gantian dong Bi!" protes Edward yang memangku cucu cantiknya.
"Lha Kaia lebih nyaman sama aku daripada sama kamu Ed! Lihat tuh manyun sama kamu!" cebik Abi menunjukkan wajah manyun Kaia.
"Dad, Kaia manyun tuh berisik lihat kalian gelut! Sudah! Sinikan anakku!" Rhea hendak mengambil Kaia namun dilarang oleh Edward.
"No! Biar papa main-main dulu sama Kaia. Kalau kamu mau, seret tuh Daddy kamu yang egois! Sebulan sama Kaia tapi sok nggak puas!" Edward melotot ke arah Abi yang juga mendelik.
Suara tertawa Kaia membuat semua orang disana melongo. Dara dan Yuna tertawa terbahak-bahak.
"Kapokmu kapan thow Mr Edward? Diketawain cucu tuh!" kekeh Yuna.
"Mas Abi, udah ngalah! Nggak boleh egois ya eyang" kerling Dara.
Abi mendelik ke Dara. "Apa Adara? Eyang? Enak saja!" cebiknya.
"Mas Abimanyu Giandra! Duduk sini di sambil ngemil! Jangan ganggu Mas Edward!" Dara menatap Abi dengan wajah judes.
Abi pun berdiri dari karpet tebal di ruang tengah dan berjalan menuju ruang makan.
Elang dan Rain hanya terdiam melihat keributan di mansion Giandra.
"Biasa aja lah kalian. Memang beginilah kalau Dad dan papa Abi bertemu" kekeh Duncan.
"Assalamualaikum" sapa Elang dan Rain bersamaan.
"Wa'alaikum salam" balas mereka semua disana.
"Lho kamu tadi pergi tuh jemput Rain thow J?" tanya Yuna.
"Tante, Oom" Rain mencium punggung tangan para tetua disana. "Iya tadi Elang menjemput Rain."
"Ayo duduk sini, biarkan Oom Edward main dengan Kaia" ajak Dara. "Mas Abi, nggak usah manyun gitu. Rupanya Kaia niru mas Thow manyunnya."
Yuna dan Duncan tertawa. "Ya ampun dad, anakku sebulan disini selain diajarin manyun apa diajarkan julid juga?" goda Duncan.
"Enak saja Ogan ngajarin Kaia julid!"
"Mbok menowo" ucap Duncan asal sambil mengambil pisang goreng.
"Duncan Sherlock Blair!" Abi mendelik ke menantunya.
"Dalem pa?"
__ADS_1
***
Acara makan siang hari itu menjadi ramai selain keributan antara Abi dan Edward, ditambah juga kekepoan Dara dan Yuna tentang kapan Elang akan melamar Rain.
"Jadi kapan kalian akan mengadakan acara lamaran?" tanya Yuna.
"Nunggu papa pulang dari Aussie lusa Tan" jawab Rain.
"Perlu pakai acara nggak ya biar seru" usul Dara.
"Jeremy, kamu melamar diantar siapa?" tanya Yuna.
"Paling sama Louis dan Jean Marie, pengawal Rain. Sebab saya kan sudah tidak punya siapa-siapa selain Louis yang masih ada hubungan darah."
"Mr Edward" panggil Yuna.
"Yes darling?" jawab Edward.
"Kita pulangnya diundur ya. Jeremy mau lamaran Rain sepulang Ryu dari Aussie. Gimana?" tanya Yuna.
"Terserah padamu, Darling. Apalagi itu acara penting buat Jeremy dan Rain. Kita mundur saja pulang ke Londonnya lagipula aku masih kangen Kaia."
"Thank you Mr Edward." Ayah Duncan itu hanya mengedipkan sebelah matanya ke Yuna.
"Kita susun saja acaranya mom" usul Rhea.
"Boleh deh!" ucap Dara semangat.
***
Kedua Ogan dan opa itu tidak bisa bermain dengan cucu cantik mereka karena sedang jam bobok siang.
"Kamu yakin J bisa melindungi Rain?" tanya Edward.
"Insyaallah Oom. Saya tidak berani takabur mengatakan bisa tapi ... Makanya saya akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi Rain."
"Kamu adalah ketua klan McCloud J dan kamu tahu sendiri bagaimana hubungan kita di New York."
Elang mengangguk. "Saya tetap meneruskan bisnis legal kakek Oom dan meninggalkan bisnis hitam yang sempat digeluti Glenn dan kakek karena saya tahu resiko besar. Beruntung saya bisa mendapatkan kebebasan berkat bantuan Oom dan Duncan."
"Bagus J. Apakah kamu tahu kalau Samuel mendapatkan hukuman seumur hidup?" tanya Edward.
"Harusnya hukuman mati Oom karena dia sudah membunuh kedua orang tua saya dan Glenn." Rahang Elang tampak mengeras.
"Dia akan mendapatkan karmanya kok J karena dia diletakkan di penjara yang berisikan musuh-musuhnya" senyum Edward licik.
"Oh God, Dad. Itu bukan karma tapi disengajakan karmanya" keluh Duncan.
"Yang penting kan nggak dari tangan kita langsung D" kekeh Edward santuy.
"Ohya kalian di New York lama ada acara apaan?" tanya Abi.
Edward menatap kedua pria tampan di hadapannya lalu menatap Abi.
"Kita di New York menolong Ghani, dia dalam kesulitan."
__ADS_1
Abi terkejut. "G kenapa?"
"Berjanjilah padaku jangan ceritakan ini pada Dara karena akan membuatnya cemas." Edward menatap tegas ke Abi.
Abi menatap ke Duncan dan Elang. "Kalian kesana karena membantu Ghani?"
"Iya Pa."
"Iya Oom."
"Apa yang terjadi Ed?" tanya Abi penasaran.
Edward, Duncan dan Elang saling bercerita tentang kasus yang menimpa Abi. Sebagai seorang ayah, Abi ingin menyeret Ghani pulang tapi nanti akan membuat putranya kehilangan semangat, Abi tidak mau hal itu terjadi.
Ogan satu itu bersyukur memiliki keluarga yang tanpa pamrih membantu putranya meskipun mereka tidak bercerita apapun.
"Ohya, kamu harus bisa menerima Alexandra ya Bi."
"Aku suka Alexandra. Memangnya dia kenapa?"
"Dia ternyata jago bela diri Eskrima."
Abi melongo. "Apaan tuh? Es krim?"
Duncan dan Elang hanya menepuk jidat masing-masing. Edward memegang bahu Abi. "Browsing gih!"
***
Dara, Rhea dan Rain sibuk untuk menyusun acara lamaran Rain yang hendak dilaksanakan hari Rabu. Yuna sedang menelpon Ryu yang dengan nada terpaksa memberikan restu kepada Elang untuk melamar putrinya.
"Ryu, jangan gitu lah! Jeremy sudah membuktikan kok di New York bahwa dia bisa bertanggung jawab." Yuna merayu Ryu.
"Tapi Na... Aku masih setengah hati melepaskan Rain kepada Jeremy."
"Tapi anakmu mencintai Jeremy dan Jeremy mencintai Rain."
"Itulah sulitnya, mereka saling mencintai" keluh Ryu.
"Dengar Ryu, lebih baik jika Rain bersama dengan pria yang mencintainya sebagai Rain bukan sebagai Rain Reeves anggota keluarga Pratomo. Jeremy tidak pernah bertanya kapan Rain mengambil alih bisnis restauran mu karena tahu passion Rain."
Yuna menjeda sebentar.
"Berilah restu pada Jeremy dan Rain. Insyaallah rasa kesalmu akan berkurang karena aku biasanya tidak pernah salah menilai seseorang dan Jeremy adalah pria baik bahkan Edward pun juga sudah melunak."
Ryu hanya terdiam.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1