
Ghani bersama tim membereskan para korban termasuk Glenn McCloud yang mayatnya sudah berantakan akibat tembakan membabi-buta Elang. Ghani juga melihat sebuah berkas untuk pengalihan kekuasaan dari Elang ke Glenn.
Ryoma sudah dijemput helikopter dari pihak kepolisian Indonesia Dan dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Rain. Punggung Ryoma tertembak ketika hendak menolong Eiji yang sudah on target oleh salah seorang pengawal Glenn.
Total 16 orang yang berangkat, tujuh orang terluka termasuk Ryoma dan Elang. Paling parah adalah Rain yang menjadi casualties akibat baku tembak antara Elang dan Glenn.
Ghani berharap Rain selamat. Aku bisa dihajar Duncan karena tidak bisa menyelamatkan adiknya kalau Rain tewas. Ghani merasa dirinya sangat lelah dan wajah cantik Alexandra melintas di otaknya.
Mengingat Alexandra, Ghani menekan gengsinya. Pria itu mengambil ponselnya dan mendial nomor Alexandra.
"G?"
"Alex."
***
Helikopter yang membawa Rain sampai di helipad rumah sakit dan tampak Tante Diana dan dokter Agra sudah stanby disana. Rain pun langsung diletakkan di brankar dan dibawa ke ruang operasi menggunakan lift.
Mamoru dan Elang pun ikut masuk ke dalam lift meninggalkan Javier yang masih mematikan mesin helikopternya.
Tante Diana melihat bahu Elang mengeluarkan darah terkesiap. "Kamu juga kena tembak boy!"
"Saya tidak apa-apa. Rain lebih penting."
Lift pun terbuka dan semuanya bergegas masuk ruang operasi yang sudah disiapkan.
"Moru, bantu Arga. Tante hendak mengobati si ganteng ini" ucap Tante Diana sambil menyeret Elang yang masih ingin menunggu Rain.
"Baik Tan. Kamu ikut Tante Diana, Jeremy! Jangan membantah!" perintah Moru dengan wajah galak.
Elang pun menurut mengikuti Tante Diana.
***
Bahu Elang sudah diobati oleh Tante Diana, peluru yang bersarang disana pun sudah diambil. Kaos hitam yang dipakai terpaksa harus digunting membuat Elang seperti pakai kaos tanpa lengan.
Ketika dia keluar dari ruang rawat, Elang melihat kedua orang tua Rain, Ryu dan Giselle. Eiji dan Javier tampak disana yang menunggu Ryoma dioperasi.
Elang pun berjalan menghampiri keluarga Reeves. Dia merasakan tatapan tajam dari seorang Ryu Reeves.
"Apa kamu yang bernama Eagle?" tanya papa Ryu.
"Benar, Oom. Saya..."
...BUGH!...
Papa Ryu meninju wajah Elang hingga dirinya jatuh terduduk tidak siap menerima bogem dari pria itu.
"Gara-gara kamu! Anak saya celaka! Baji***an kamu!" Papa Ryu meluapkan semua amarahnya kepada Elang dengan masih memberikan bogem di wajahnya dan Elang tidak sekalipun membalasnya.
"Oom! Oom sudah!" Javier dan Eiji menarik Papa Ryu.
"Pa! Sudah! Ingat tensi!" Mama Giselle membantu Elang untuk bangun.
"Nanti tinggal minum obat tensi!" sahut papa Ryu asal. "Mukul dia harus dilakukan!"
Javier dan Eiji masih menahan papa Ryu.
__ADS_1
"Kamu nggak papa nak?" tanya mama Giselle sambil melihat wajah Elang yang babak belur dengan bibir pecah dan ada darah disana.
"Nggak papa Tante" jawab Elang sambil mendesis kesakitan.
"Kamu kena tembak juga?" tanya Tante Giselle melihat bahu Elang yang diperban.
"Ryu! Giselle! Astaga! Apa yang terjadi pada Elang?" Tante Diana datang sambil memeriksa wajah pria itu.
"Tanda mata dariku" jawab papa Ryu sambil mendengus kesal.
"Ryu! Dia itu habis kena tembak! Dia yang bawa Rain kemari sama Moru dan Javier" hardik Tante Diana.
Papa Ryu tetap jutek mode on. Javier dan Eiji hanya saling memandang.
Lampu kamar operasi tak lama padam dan Mamoru keluar mengenakan pakaian operasi. Semua orang disana menunggu berita dari dokter bedah itu.
"Operasi nya berjalan lancar. Pelurunya sudah bisa dikeluarkan dan memang kena aorta. Rain kehilangan banyak darah dan sementara kita harus menunggu masa kritisnya lewat." Mamoru menjeda sejenak. "Rain hidup kok Oom, Tante" ucapnya sambil menatap Ryu dan Giselle.
"Terimakasih Moru!" mama Giselle memeluk Mamoru sambil menangis begitu juga papa Ryu ikut memeluk.
"Sementara Rain nanti di ruang ICU dulu sampai sadar." Papa Ryu mengangguk.
"Apapun yang terbaik untuk Rain."
***
Peluru yang mengenai punggung atas kanan Ryoma sudah berhasil dikeluarkan dan kini tiga bersaudara dikumpulkan menjadi satu di kamar yang dipesan keluarga Sultan itu.
Duncan, Joshua dan Ryoma berada di satu kamar yang membuat para suster yang merawat mereka seperti mendapatkan durian runtuh karena para Cogan dijadikan satu.
"Suster, kalau mau jangan yang dua orang digips ini. Sudah sold out termasuk saya" ucap Eiji sambil nyengir kepada dua orang suster yang sedang membersihkan luka di Joshua dan Duncan.
Ryoma yang baru saja sadar hanya bisa memberikan jari tengah kepada Eiji yang terbahak.
"Dasar kakak durjana!" umpat Ryoma. "Nyaris Ayame jadi janda tahu!"
"Oh no. Diajeng Aya-aya belum aku kabari."
"Jadi Rain tertembak?" tanya Duncan.
"Iya. Glenn menembak Jeremy lalu Rain balas menembak tapi hanya menyerempet leher Glenn dan dia sempat menembak Rain. Kata bang Moru, beruntung nggak kena langsung ke jantung."
"Siapa tadi yang mengoperasi Rain?"
"Bang Moru dan dokter Agra."
***
Elang menatap Rain yang terbaring di kamar ICU. Atas permintaan papa Ryu, Elang dilarang keras masuk ataupun bertemu dengan Rain jika sadar nanti.
Sebuah tepukan di bahu Elang yang sehat membuatnya menoleh.
"Mamoru."
Mamoru berdiri bersebelahan dengan Elang dan dari belakang keduanya sama tingginya.
"Bagaimana bahumu?" tanya Mamoru melihat tangan kiri Elang yang mengenakan arm sling.
__ADS_1
"Masih sedikit ngilu" jawab Elang.
"Wajahmu?"
Elang hanya tersenyum smirk. "Nggak sesakit hatiku yang dilarang menemui Rain."
"Maaf Jeremy, kamu bukan kandidat terbaik untuk Rain saat ini karena kamu sudah membuat salah satu anggota keluarga kami terluka plus sudah pasti Oom Ryu akan menentang habis-habisan setelah tahu anak kesayangannya terluka."
"Aku tahu posisiku" jawab Elang lemah.
"Baguslah kalau kamu tahu posisimu!"
"Tapi aku tidak akan menyerahkan Rain begitu saja! Rain adalah milikku!"
Mamoru menghela nafas panjang. "Rain adalah milik orangtuanya, Jeremy."
"Tidak akan lama, Moru, dia akan jadi milikku."
"Berarti kamu harus berhadapan dengan semua anggota keluarga."
Elang menatap Mamoru. "Akan aku hadapi kalian semua."
"Kamu gila Jeremy!"
"Aku memang gila. Tergila-gila pada adikmu!"
***
Duncan merasa bersyukur diijinkan pulang karena Rhea sudah ribut saja sejak mendengar dirinya kecelakaan bersama Joshua.
Miki dengan telaten merawat Joshua dan menurut rencana, setelah Ryoma pulih, akan pulang bersama dengan Eiji juga. Javier akan pulang bersama Duncan ke New York sedangkan Mamoru kembali ke Amsterdam.
Ghani sendiri setelah membuat laporan kepada atasannya, MI6 dan Interpol, kembali ke Quantico. Kasus-kasus yang menyangkut klan McCloud akan segera diajukan ke pengadilan Inggris dan kemungkinan besar Elang yang akan diajukan sebagai terdakwa meskipun yang melakukan adalah Glenn. Karena Glenn tewas, pemerintah Inggris, Interpol dan MI6 tidak mau kehilangan tersangka.
Elang sendiri sudah tahu konsekuensinya. Dan sekarang dia menghadap papa Ryu meminta ijin bertemu dengan Rain yang masih dirawat meskipun sudah sadar.
"Saya hanya ingin berpamitan Oom."
"Kamu akan kembali ke Inggris?" tanya papa Ryu.
"Iya Oom. Mempertanggungjawabkan semuanya."
"Bagus! Oom ijinkan kamu bertemu Rain sepuluh menit."
Elang pun mengangguk. "Terimakasih Oom." Pria itu pun masuk ke dalam kamar Rain. Tampak gadis itu sedang melamun melihat luar jendela kamarnya.
"Rain..." panggilnya.
Rain pun menoleh. "Elang..."
***
Yuhuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️