Elang Untuk Rain

Elang Untuk Rain
Masalah Bersamaan


__ADS_3

Rain langsung berlari menuju luar kamar dan ketika pintu utama dibukakan oleh Jean, gadis itu langsung memeluk Elang tanpa peduli tatapan horor Duncan.


"Rain, peluk Abang saja jangan Jeremy" ucap Duncan absurd.


Rain melerai pelukannya ke Elang. "Bisa dimarahi Rhea kalau aku peluk Abang."


Elang tertawa. "Sorry bro, adikmu cuma mau peluk aku seorang" ucap Elang sambil merangkul pinggang Rain.


"Yuk masuk" ajak Rain sambil memeluk pinggang Elang.


***


Kini keempatnya sudah berada di ruang kerja milik Ryu agar tidak terdengar oleh banyak orang. Ruang kerja milik Ryu didominasi oleh kayu dan warna hitam, benar-benar khas bapak-bapak.



Duncan mengeluarkan Ipad-nya dan memberitahukan apa yang sedang dirancang oleh para petugas Scotland Yard dan Interpol.


"Jadi besok penggerebekannya bang?" tanya Rain kepada Duncan.


"Hu um. Besok kamu masuk toko kayak biasanya sama Jean tapi tetap waspada dan tolong pakai rompi peluru. Abang dah pinjam ke Gozali buat kamu dan Jean. Rompinya ini lebih tipis jadi nggak kelihatan tebal kalau dipakai. Model baru dan cocok buat cewek "


"Bang Gozali mau kesini?" tanya Rain lalu menatap Elang.


"Kalau Gozali mau nembak aku, ta minta pending besok saja sehabis penggrebekan" cengir Elang.


"Astaga, pria tuh ya" gumam Rain.


Keempatnya masih menggodok rencana besok bersama dengan petugas Scotland Yard yang sudah ikut bergabung melalui zoom.


Ponsel Rain berbunyi dan penjaga rumah mengatakan bahwa Gozali sudah datang dan gadis itu meminta agar sang tamu dipersilahkan masuk.


Keempatnya keluar dari ruang kerja Ryu dan menuju ruang tamu. Seorang pelayan membukakan pintu utama, dan tampak Gozali membawakan dua paper bag.


"Hai D" sapa Gozali.


"Hai Goz. Sudah kau bawa yang aku pinta?" tanya Duncan.


"Sudah aku..." suara Gozali terhenti ketika melihat Elang di belakang Duncan.


Tanpa tendeng aling-aling, pria calon Daddy itu langsung meninju wajah tampan Elang. "Itu baru permulaan, Jeremy! Kalau aku tidak ingat besok kamu mau menangkap penjahat dari keluarga mu, sudah aku tembak kakimu!"


Rain yang terbengong langsung menuju kekasihnya yang jatuh terduduk terkena tinju Gozali.


"Bang Goz!" protes Rain.


"Apa Rain? Masih belain orang ini kamu?" hardik Gozali kesal.


Rain membantu Elang untuk berdiri. "Iya! Rain masih membela Elang! Kenapa?" balas Rain galak.


"Rain, sudah" bisik Elang yang masih mengusap-usap rahangnya.


Gozali menatap Rain galak yang dibalas oleh gadis itu.


"Sudah-sudah. Kamu kalau mau menembak Jeremy, besok saja!" ucap Duncan sambil menarik iparnya.

__ADS_1


"Kamu juga belain dia, D?" tanya Gozali.


"Terserah kamu mau bilang apa Goz, tapi aku tidak bisa melarang dewa amor bertebaran panah cintanya. Toh Oom Ryu memberikan kesempatan pada Jeremy untuk membuktikan omongannya." Duncan menepuk Gozali. "Lagipula dia juga sudah bilang ke G kalau bersedia kamu tembak kakinya."


"Ghani bilang begitu?" tanya Gozali.


"Telpon saja dia kalau kamu nggak percaya" kekeh Duncan.


"Nanti aku telpon dia. Kabarnya Ghani dan Alexandra sedang sembunyi ya dari kejaran pedagang organ tubuh manusia."


Elang, Rain dan Jean Marie terkejut.


"Apa yang terjadi bang Goz dengan bang Ghani?"


"Aku tidak terlalu tahu persis tapi kemarin Ghani sampai meminta aku mengirimkan pengawal terbaikku di New York berarti sudah parah."


"Kenapa tidak minta bantuan FBI dan CIA?" tanya Rain.


"Sudah Rain tapi mereka mengincar Alexandra karena dia yang mengautopsi korban anak kecil yang organ tubuhnya hilang. Ingat nggak D pas kamu merit, Ghani cerita soal kasus yang membuatnya drop. Ternyata itu masih berlanjut dan sekarang Alexandra yang diincar" ucap Gozali.


"Kasus Rain selesai, kita bantu Ghani. Karena di FBI dan CIA sendiri pasti ada mata-mata organisasi perdagangan organ tubuh manusia. Mereka jauh lebih kejam dari klan McCloud ataupun klan McGregor" sahut Duncan.


"Klanku tidak pernah melakukan hal yang menjijikkan seperti itu, Duncan!" sanggah Elang.


"Tapi kau menjual senjata dan barang seni curian. Aku harap, setelahnya berhenti berbisnis ilegal Jeremy karena kamu akan membahayakan Rain." Duncan menatap Elang.


"Sudah mulai aku bersihkan satu persatu."


"Good! Sekarang Goz, kita ke ruang kerja Oom Ryu, akan aku paparkan rencana kita semua."


***


"Ghani bersembunyi dimana D?" tanya Elang concern.


"Aku kira masih di New York tapi dimana aku tidak tahu."


"Apa Oom Abi dan Tante Dara tahu akan hal ini bang? Kasihan kalau mereka sampai tahu anaknya dalam bahaya yang bukan kaleng-kaleng." Rain ikut menimpali.


"Aku rasa mereka tidak tahu Rain. Oom Abi bisa shock mendengarnya, apalagi Tante Dara."


Suara ponsel Duncan berbunyi. Alisnya terangkat bingung melihat nomor yang tidak dikenalnya.


"Halo?" sapanya dengan ragu-ragu.


"D! Kamu dimana?"


"Ghani? Aku di Jakarta. Kenapa?"


"Aku butuh tempat bersembunyi. Mansion mu aman?"


"Aman G. Nanti aku suruh Oom John dan George membantumu. Datang saja ke sana. Kamu bersama siapa G?" Jujur Duncan panik juga mendengar suara Ghani yang agak kebingungan. Bukan Ghani yang dia kenal.


"Aku bersama Alexandra. Pengawal dari Gozali kemarin kena tembak jadi harus dirawat di rumah sakit sedangkan apartemenku dan apartemen Alexandra sudah tidak aman lagi."


"Datang saja ke mansionku. Aman. Kalau kamu butuh senjata, masuk saja ke ruang kerjaku. Di meja kerja bawah ada tombol rahasia. Pencet saja nanti ada pintu. Password nya ultahnya Rey."

__ADS_1


"Thanks D! Aku langsung ke mansionmu."


"Akan aku kabari Steve."


Duncan kemudian menelpon Steve dan memberikan instruksi agar melindungi Ghani dan Alexandra.


"Besok kita selesai, langsung ke New York membantu Ghani, D." Elang menatap Duncan.


"Iya, biar Rey dan Kaia di Jakarta sementara."


***


Elang menelpon Louis yang berada di London.


"Louis, tolong lacak mafia perdagangan organ tubuh manusia di New York. Siapa pemimpinnya, beritahu aku!"


"Kenapa boss? Apa mereka menyinggung boss?" tanya Louis karena tahu meskipun Glenn brengsek, tapi dia tidak pernah mau berbisnis bidang yang menjijikan itu.


"Dia menyinggung calon iparku. Ghani dan Alexandra dalam bahaya, sekarang mereka berada di mansion Blair milik Duncan."


"Akan aku cari tahu boss." Louis menjeda sejenak. "Kak, besok hati-hati ya." Pria itu akhirnya tahu kalau dirinya masih ada hubungan darah dengan Elang.


"Insyaallah Louis. Semoga besok berjalan sesuai rencana dan aku beserta Duncan akan ke New York membantu Ghani."


***


"Abian, kamu bisa terbang ke New York?" tanya Duncan.


"Kenapa D?"


"Ghani dalam bahaya. Kamu temui dia di mansionku. Jangan lupa bawa peralatan perangmu."


"Oke. Besok aku berangkat."


"Thanks Bian."


***


"Assalamualaikum Joshua" sapa Duncan.


"Wa'alaikum salam. Ada apa D?"


"Bisakah kamu cuti? Bawa Eiji, Ryoma dan Javier ke New York?"


"Kenapa D? Kamu ada masalah?" tanya Joshua.


"Bukan aku, tapi Ghani."


"Ceritakan padaku sebanyak yang kamu tahu" pinta Joshua.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2