Elang Untuk Rain

Elang Untuk Rain
Ingat, Dia Tidak Bisa Melindungimu


__ADS_3

Elang menatap jendela kastilnya, kastil yang dibelinya jika sedang jenuh dengan kehidupan di London. Dan disini dia harus menghabiskan hukumannya.



Aku seperti Rapunzel tapi rambutku pendek dan tidak blonde.


Suara pesan masuk ke dalam ponselnya.


Nona Rain sedang makan siang bersama dengan nyonya Rhea Blair.


Tak lama foto Rain sedang tertawa bersama Rhea masuk ke dalam ponselnya.


Kamu tambah cantik Rain.


***


"Jadi, Rhea bisa out begini karena Kaia ada Tante Dara dan Tante Yuna?" tanya Rain.


"Hu um. Aku juga sudah ijin sama bang Duncan untuk makan siang denganmu."


Keduanya menikmati makan siang berdua sambil bercerita tentang banyak hal. Rain yang introvert bisa bercerita apa saja dengan Rhea apalagi usia mereka tidak terpaut jauh.


"Masih memikirkan Jeremy?" tanya Rhea.


Rain hanya tersenyum tipis.


"Kayaknya George menyukaimu, Rain." Rhea bisa berkata demikian karena Rain memilih liburan di New York dan ini hari kelima dia disana.


"Kok bisa?" tanya Rain tidak yakin.


"Kelihatan kok."


Rain menggelengkan kepalanya. "Nggak, Rhea. Aku memilih menunggu Elang."


"Kalau George beneran suka sama kamu, gimana?"


"Ya biarin ajah, memang ada larangan menyukai seseorang?" ucap Rain sambil menyesap juice jeruknya.


"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya Rain tapi apa kamu sudah siap jika suatu hari Jeremy datang menjemputmu dan kalian harus berhadapan dengan semua anggota keluarga?"


Rain menatap Rhea. "Resiko sebesar itu pun akan aku lakukan, Rhea. Meskipun nantinya aku harus melepaskan semua atribut keluarga Reeves. Aku hanya ingin bersama orang yang membuat aku nyaman dan merasakan jatuh cinta setiap hari."


"Menurut mu dia adalah Jeremy?"


"Iya. Aku yakin akan hal itu. Aku sudah shalat istikharah juga dan wajah Elang yang selalu ada di pikiranku."


Rhea tersenyum. "Don't worry Rain. Kamu punya dukungan dari aku."


***


Rain menatap langit New York dari halaman belakang mansion Duncan yang merupakan tempat favoritnya dari rumah sepupunya itu.

__ADS_1


"Rain."


Rain menoleh dan tampak sepupunya berdiri di depannya. "Boleh Abang duduk?" Rain pun mengangguk.


Duncan meletakkan tubuh kekarnya di sebelah sepupunya.


"Masih memikirkan Jeremy?" Duncan menatap sepupunya yang cantik.


"Apa Abang akan marah kalau Rain mengatakan iya?"


Duncan menghela nafas. "Bagaimana Abang mau marah, Rain. Namanya perasaan tidak bisa dilarang meskipun Abang ingin marah kenapa kamu masih memikirkan orang itu."


"Sebenarnya bukan salah Elang menembak bang Gozali karena dia tidak tahu siapa sebenarnya bang Goz."


"Iya betul tapi setelahnya apa Rain? Kamu hampir mati! Apa kamu lupa? Diingat Rain, kami semua mencoba membebaskanmu, Jeremy disana pun tidak bisa melindungi kamu dari Glenn."


"Itu kan kejadian yang kita tidak bisa prediksi, bang."


"Bukan gitu Rain. Kalau dia memang mencintai kamu, sekuat tenaga dia akan melindungi kamu Rain." Duncan masih berusaha membuat Rain melek.


"Anggap saja sudah takdir bang, dan takdirku aku masih hidup hingga detik ini."


"Kamu bisa bilang begitu karena kamu masih hidup. Apa kamu bisa bilang begitu kalau kamu mati?" Mata biru Duncan menatap Rain.


Rain terdiam.


"Jauhi dia! Lupakan dia! Karena Jeremy adalah sumber malapetaka buat kamu!"


***


Rain sudah kembali ke Jakarta dan memulai rutinitas seperti biasanya. Tini dan para pegawai yang lain seolah memiliki kode satu sama lain untuk tidak mengungkit soal bule ganteng yang mereka lihat beberapa kali karena pasti akan membuat Rain sedih.


"Mbak Rain, udah tahu belum?" tanya Tini.


"Apaan Tin?"


"Ruko sebelah sudah laku lho. Akhirnya full deh rukonya."


"Ohya? Kok tahu?"


"Ish, mbak Rain kan kelamaan di New York jadinya nggak ngeh. Jadi seminggu lalu tuh ada bapak-bapak mulai bongkar ruko sebelah, dibersihkan semuanya. Kayaknya mau dipakai usaha jual hp gitu cuma aku belum tahu siapa pemiliknya."


"Kesimpulan kamu belum kenalan?" kekeh Rain.


"Belum" cengir Tini.


"Ya sudah, nanti kalau ketemu bapaknya kenalan dulu sama tetangga ya seperti kita sama mang Asep."


"Ya iyalah mbak. Lumayan nggak sepi pojokan. Kan horor nanti banyak penghuni tuing-tuing begitu." Tini menaik turunkan dua jari telunjuk dan tengahnya.


"Ish kamu tuh! Emang pernah lihat?" kekeh Rain.

__ADS_1


"Belum sih" cengir Tini lagi.


"Kalau kita orang beriman, insyaallah mereka juga nggak mau kelihatan ma kita, Tin. Beda alam juga."


Tini mengangguk. "Soalnya Tini kemarin habis nonton film pengabdi setan mbak, jadi masih kebayang sampai sekarang."


Rain melongo. "Pantesaaannn! Nggak sekalian perempuan di tanah jahanam?" gelak Rain.


"Itu selanjutnya mbak" gelak Tini.


"Tini, Tini, kamu tuh penakut tapi kok malah nonton film horor hobinya" kekeh Rain.


"Seru mbak, apalagi nonton sama pacar. Beeeuuu modus bisa kekep sok imut!" gelak Tini.


"Kamu nonton dimana memangnya?"


"Di rumah, sama ibu, adik dan mas Yudi pacar Tini. Seru lho mbak! Ibu nggak bisa marah lihat Tini kekepin mas Yudi."


"Kok bisa?"


"Soalnya ibu juga sibuk kekepin bantal."


Rain terbahak.


***


Seminggu berlalu dan benar, ruko pojok sebelah dengan dapur Rain akhirnya buka. Bukan toko hp seperti yang diduga Tini sebelumnya melainkan menjual alat-alat tulis disana. Semua kru Toko Maliqa dan mang Asep sudah berkenalan dengan pemiliknya seorang bapak-bapak berusia sekitar 50 tahun bernama pak Sam.


Pak Sam mengaku lajang tidak mau menikah karena patah hati dan memilih pensiun dini lalu menjual rumahnya untuk dibelikan ruko.


"Capek, bisa ke lantai dua istirahat. Cari duit buka toko. Santai saja kalau saya" ucap pak Sam. "Toh saya juga dapat pesangon banyak."


Akhirnya para pemilik ruko itu sering berinteraksi satu sama lain. Terkadang Tini memberikan kue-kue kepada pak Sam jika masih ada sisa. Mang Asep pun terbantu karena ruko tidak kosong di malam hari karena ada pak Sam disana.


Rain pun berpendapat yang sama dengan mang Asep. Lebih merasa aman karena ada penghuninya di ruko kalau malam.


***


Elang menatap layar monitor yang terdapat di kamarnya. Dia berhasil menghack CCTV toko milik Rain dan mang Asep jadi bisa melihat kegiatan mereka.


Bahkan Elang pun memasang CCTV kecil di dekat lampu jalan yang menyoroti tempat parkiran mobil.


Semua demi melindungi mu Rain, karena aku tidak mau kamu terluka lagi.


***


Yuhuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2