Elang Untuk Rain

Elang Untuk Rain
Menekan Ego


__ADS_3

Ryu dan Giselle sampai ke rumah mereka di Jakarta dengan hati galau. Mereka berdua masih belum bisa menerima Elang sepenuhnya menjadi calon menantu tetapi putri mereka jatuh cinta dengan pria itu.


Kini di kamar, Ryu dan Giselle membahas tentang rencana Elang melamar Rain. Malam ini putri mereka tidak pulang karena memilih menginap di rumah Abi dan Dara, mertua Duncan karena masih ingin bermain dengan Kaia.


"Pa, apa kita merestui hubungan Rain dengan Jeremy saja ya? Aku khawatir jika kita tetap keras hati, Rain bisa berbuat nekad" ucap Giselle.


"Nekad gimana ma?" tanya Ryu sembari membuka selimut setelah selesai membaca La Tahzan.


"Bisa saja Rain mengajak Jeremy kawin lari?" Giselle menatap suaminya. "Aku tahu karakter Rain yang bisa berbuat nekad jika sudah punya kemauan."


Ryu mendelik. Kawin lari? Rain? Rainnya? Putriku yang lembut dan polos itu?


"Mana mungkin, Gis" balas Ryu dengan nada tidak yakin.


"Kamu kan paham putrimu seperti apa? Ingat tidak dia nekad membuka toko kue dengan bermodalkan pinjaman dari kita? Rain yakin bisa membalikkan modal kita dalam waktu empat tahun. Apa yang terjadi? Kurang dari empat tahun, Rain bisa mengembalikan."


Ryu terdiam.


"Apa kamu nggak ingat bagaimana kamu berusaha meyakinkan mama agar bisa menerima aku? Mama Yana keberatan ketika tahu statusku. Ingat nggak pa?" Ryu masih terdiam.


Ingatannya kembali ke masa 25 tahun lalu ketika mamanya sempat mendelik ketika dia mengatakan sudah memiliki kekasih tetapi seorang janda. Bagaimana dia berdebat dengan sang mommy hingga sempat marahan dan akhirnya didamaikan oleh Bang Alex.


Apa Rain' meniru diriku yang keras kepala ya.


"Rain itu gambaranmu, Ryu" senyum Giselle. "Jadi jangan heran jika dia sama keras kepalanya dengan mu."


"Aku takut jika Jeremy membuatnya terluka lagi, Gis. Kamu tahu kan Jeremy itu gambaran Edward wkatu muda."


"Edward sudah berubah Ryu. Semenjak Oom Duncan pensiun, Edward pun pensiun meskipun kemarin harus bertindak lagi tapi hanya untuk menyelamatkan keponakannya, keluarganya. Soal bisnis haram, Edward sudah lama meninggalkannya. Dan semoga Jeremy bisa mengikuti jejak Edward."


Ryu menatap Giselle intens. "Anggap saja ini perasaan sebagai seorang ayah yang hendak kehilangan putrinya."


Giselle mengusap lembut wajah Ryu. "Rain hanya tinggal bersama suaminya bukan menghilang, sayang. Sudah sewajarnya jika kita memiliki anak perempuan, akan dibawa oleh suaminya. Seperti aku dulu, dibawa olehmu."


Ryu menangkap tangan istrinya. "Terimakasih sayang membuatku lebih baik."


Giselle tersenyum.


***


Rain dan Rhea sedang asyik nonton drama Jepang klasik Hero yang dibintangi oleh Takuya Kimura.


"Gara-gara mbak Miki, aku jadi suka dorama ini" ucap Rain.


"Aku juga suka kok ceritanya" ujar Rhea sambil memakan popcorn nya. Hari ini hot mommy dan hot aunty menikmati harinya karena si baby dikompeni oleh dua necan dan oma sedangkan para pria malah pergi mencari martabak.

__ADS_1


"Rhea?"


"Hhmmm."


"Senang kah menikah?" tanya Rain.


Rhea menoleh. "Kenapa? Gugup ya Rain?" cengirnya yang membuat Rain memerah wajahnya. "Dari sisi mana kamu gugupnya?"


"Er... malam pertama?" bisik Rain yang membuat Rhea terbahak.


"Mau tanya apa?" kekeh Rhea yang gemas melihat wajah polos sepupunya itu.


"Sakit nggak?" cicit Rain.


"Well... Gimana ya. Sakit pertamanya tapi bang Duncan kasih pemanasannya bikin aku relaks sih jadi bis itu enak-enak aja" kerling Rhea nakal.


Rain memerah wajahnya. "Ya ampun Rain, bener kata Valora! Kamu polosnya kebangetan!" gelak Rhea.


"Ish, malu ah Rhea" bisiknya.


"Kalau ciuman sama Jeremy udah kan?" goda Rhea lagi dan wajah cantik itu semakin memerah. "Is he a good kisser?"


Rain menatap Rhea dengan gugup. "I think" cicitnya. "Soalnya aku kan nggak ada perbandingan."


Rhea memegang tangan Rain. "Rain, dengar kan aku. Kamu jatuh cinta dengan Elang, Elang mencintai kamu. Jangan mencari perbandingan ciuman!" Rain tertawa.


"Beruntunglah diriku, dirimu yang mendapatkan pria-pria yang sangat mencintai kita apa adanya bukan apa yang kita miliki" ucap Rhea.


"Iya" senyum Rain.


"Apakah kamu tahu kenapa mama Yuna memilih papa Edward meskipun ada orang lain yang juga menyukainya? Karena papa Edward tidak pernah menghina profesi mama Yuna sebagai kurator sedangkan orang itu baru bertemu pertama kali dengan mama Yuna hal yang ditanyakan kenapa tidak mengambil perusahaan Opa Aryanto."


Rain melongo. "Hah? Kok bisa-bisanya berpikir seperti itu?"


"Itulah! Apa Elang memprotes profesimu?"


"Tidak. Elang hanya selalu bilang 'Baca buku resep lagi' atau 'tumben nggak baca buku resep' tapi tidak pernah bertanya 'kapan ambil kerajaan bisnis papa'. Nope, Elang bukan tipe pria yang melihat apa yang aku miliki, semoga begitu."


"Aku tidak pernah kepikiran seperti itu kok sayang" ucap Elang sambil mencium pipi Rain dari belakang.


"Apa kau mendengarnya?" tanya Rain dengan wajah memerah. Elang duduk di sebelah Rain sembari memeluk pinggangnya posesif.


"Hanya yang terakhir" cengirnya.


Duncan datang membawakan minuman Boba pesanan Rhea. "Aku nggak habis pikir, kenapa wanita suka minuman seperti ini?" ucapnya sambil memberikan kepada Rhea yang membagikan dengan Rain karena Duncan membelikan dua minuman. Pria satu putri itu duduk di belakang Rhea.

__ADS_1


"Pria itu tidak pernah paham comforting food yang membuat wanita itu nyaman" ucap Rhea yang bersandar di dada bidang suaminya.


"Bagaimana acara cari martabak nya?" tanya Rain.


"Don't ask!" seru Duncan dan Elang bersamaan.


Rhea dan Rain hanya saling menatap. "Ogan dan opa pasti ribut sepanjang jalan."


***


Edward dan Yuna memutuskan untuk menginap di mansion Abi karena malas pulang, Edward yang malas pulang ke mansionnya karena sudah malam. Elang pun akhirnya ikut menginap dan tidur di kamar milik Gozali dulu sedangkan Rain menginap di kamar tamu bawah.


Abi dan Dara yang sudah terbiasa dengan kehadiran klan Pratomo itu sudah mempersiapkan banyak baju baru untuk mereka yang hendak menginap.


Kini Elang di kamar Gozali melihat beberapa foto disana. Tampak foto Ghani, Gozali dan Rhea masih kecil, Gozali wisuda, Gozali bersama Rhea setelah acara resital.


Elang melihat foto keluarga Giandra disana lengkap yang membuatnya tersenyum miris. Sayang foto keluargaku hilang entah kemana.


Iseng Elang membuka lemari baju Gozali dan melihat sederetan baju yang rapi dan berbau harum. Rupanya Tante Dara suka meletakkan potpourri di lemari pakaian.


Elang kemudian menutup lemari baju Gozali yang berbau harum bunga hingga kamarnya pun menjadi harum.


Suara ponsel di nakas mengagetkan Elang dan segera dia mengambilnya. Tampak nama Louis disana.


"Kak" sapa Louis.


"Bagaimana?"


"Sudah jadi Kak. Malam ini aku berangkat."


"Thanks Louis. Hati-hati."


"Iya kak."


Elang tersenyum.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaa


Sorry agak slow up soalnya weekend mo family time dulu.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2