
Rain sedang asyik membuat adonan kue bersama dengan Jean Marie, Tini, Sinta, Dina dan Ayu. Mereka semua asyik bercanda dan menggosip artis yang sedang naik daun.
"Mbak Rain, kalau nanti jadi nikah sama Kak Jeremy kira-kira mau pesta model apa?" tanya Tini.
Rain hanya tersenyum. "Aku sih pengen yang simpel aja, Tin. Hanya keluarga dan orang terdekat saja sudah cukup."
"Kami-kami diundang kan mbak?" tanya Ayu.
"Ya diundang lah! Eh tapi aku belum tahu kapan sih soalnya Elang kan masih di New York sama bang Duncan." Wajah Rain memerah mengingat dirinya asal nyelemong ngajak kawin lari.
"Memang ada masalah apa Thow mbak di New York?" tanya Sinta.
"Masalah perusahaan paling. Biasanya mereka kan urusannya nggak jauh-jauh dari bisnis." Rain memang menutupi semuanya.
"Tapi bang Duncan tuh bener-bener cowok ya dan nggak nyangka kalau tipe setia soalnya tampangnya bad boy gitu" kekeh Dina.
"Bang Duncan tuh bucin berat sama Rhea istrinya bahkan sampai bela-belain nunggu Rhea dewasa baru ajak nikah."
"Mbak Rhea juga cantik, imut-imut tapi anaknya bule banget ya. Plek ketiplek bang Duncan" kekeh Tini yang melihat foto Rain di akun Instagram saat dia menggendong Kaia.
"Rhea sampai jengkel, katanya 'aku yang bawa di dalam perut sembilan bulan malah cuma kebagian jenis kelamin doang'" gelak Rain yang diikuti tawa para wanita disana.
"Nona Rain, ada pesanan bluberry cake lagi 2 loyang. Ambil?" tanya Jean Marie yang melihat notifikasi web toko kue Rain.
"Sanggup nggak kamu Jean? Kalau sanggup, ayo kita buat!" senyum Rain.
"Sanggup lah nona. Lagipula saya sudah baikan kok."
"Ya sudah! Blueberry cake Mari kita buat!"
***
Sabtu ini Rain sudah bilang kepada Jean Marie untuk berjalan ke sebuah Cafe karena dia merasa jenuh dengan rutinitas. Jean Marie pun mengikuti kemauan nonanya apalagi hari ini memang dia tidak membuka pre order blueberry cake meskipun pelanggan Rain banyak yang suka.
"Lama-lama muka saya jadi ungu nona, kena blueberry melulu" kekeh Jean Marie sembari menyetir FIAT milik Rain.
"Tapi memang bluberry cakemu enak kok Jean. Tante Dara dan Oom Abi saja sampai ketagihan padahal menurut Rhea, Oom Abi bukan tipe pria penggemar makanan manis begitu, sukanya jajanan pasar atau camilan tradisional."
"Saya merasa bersyukur kalau cake saya disukai banyak orang, nona. Apalagi keluarga nona sendiri."
Rain menatap Jean Marie. "Kamu rindu keluarga mu di London?"
"Saya lebih suka dengan keluarga nona daripada dengan keluarga di London. Disini sangat akrab dan saling menyayangi."
__ADS_1
"Tapi kami rusuh lho Jean" gelak Rain.
"Justru yang rusuh itu yang menarik. Padahal kalau dipikir, tuan Ghani kan hanya ipar tuan Duncan tapi pada saat tuan Ghani dalam kesulitan, semua keluarga datang menolong. Bagi saya itu luar biasa, nona. Tidak semua keluarga mau membantu kesulitan saudara tapi ini yang notabene ipar lho, termasuk tuan Gozali yang membuat mereka marah pada tuan Jeremy."
Rain menatap Jean Marie. "Karena para eyang dan opa kami mengajarkan selalu guyub sedulur. Kami nggak berantem? Sering. Ribut? Sering. Tapi opa dan Oma kami mengajarkan agar tidak boleh serakah. Pratomo group sudah membuat aturan tersendiri tentang pembagian saham. Jadi kami semua mendapat bagian saham sendiri-sendiri."
"Kami bukan keluarga gila harta karena Alhamdulillah sudah sangat berkecukupan dan di keluarga kami dibebaskan mau mengambil alih perusahaan atau berkarir sendiri. Contoh papaku. Beliau tidak mau mengambil perusahaan Oma Yana padahal punya hak disana tapi menyerahkan pada Oom Alex dan Oom Jeffry. Oom Rey malah bekerja di Tesla bukan di perusahaan keluarga. Kami bebas mau bekerja sebagai apa toh itu passion kami juga."
"Tidak mudah lho nona membuang ego masing-masing. Terkadang di keluarga pasti ada yang ingin menguasai semuanya" ucap Jean Marie.
"Ada dan banyak. Anak mau menguasai harta orangtuanya tanpa mau berbagi dengan saudara, orangtua menguasai harta anak... Banyak Jean. Hanya saja di keluarga ku, tidak boleh seperti itu. Jika nekad, dicoret dari daftar keluarga" gelak Rain.
"Serius nona?"
"Serius! Sekarang harta dunia kami sudah banyak, tinggal harta akhirat yang harus dibanyakan."
Jean Marie mengangguk.
***
Rain dan Jean Marie sampai di sebuah tempat makan fast food. Tadinya mau ke cafe yang dituju tapi sayang, tutup jadi Rain memutuskan ke restauran fast food dekat sana.
Keduanya pun memesan makanan dan menikmati berdua. Hari ini Rain memakai blus jeans dengan aksen kotak-kotak.
Rambut panjangnya sengaja dia sanggul model Cepol dengan style layer poni depannya.
"Nona, kata tuan Louis, urusan di New York sudah selesai" ucap Jean Marie sembari membaca pesan di ponselnya.
Rain mengambil ponselnya dan cemberut tidak ada pesan satupun dari Elang.
"Benarkah sudah selesai?" tanya Rain.
"Benar nona bahkan penjahatnya dibunuh oleh kekasih tuan Ghani" sahut Jean Marie yang membuat mata Rain mendelik.
"Dibunuh sama Alexandra? Gila!" kekeh Rain.
Gantian Jean Marie yang melongo. "Nona, apa nona lupa kalau nona juga sama mengerikan dengan nona Alexandra?"
"Eh iya kah?" Rain hanya menggaruk kepalanya.
"Kamu itu juga mengerikan lho baby" suara bariton terdengar di belakang Rain yang disusul sebuah kecupan di pipi kanan gadis itu.
__ADS_1
Rain pun menoleh. "Elang?"
"Halo Rain."
***
Rain dan Elang kini duduk berdampingan dan membuat Jean Marie tidak nyaman. Aku kan masih jomblowati disini.
"Kapan datang?" tanya Rain.
"Semalam langsung ke rumah Oom Edward. Baru tadi pagi kami ke rumah Oom Abi tapi aku menyusul kemarin setelah mendapatkan info dari Jean Marie."
Jean Marie tersenyum kikuk. Bukannya aku harus laporan terus ya tuan McCloud?
"Bagaimana New York?" tanya Rain.
"Alhamdulillah sudah selesai semuanya. Ghani dan Alexandra bisa melanjutkan hidup tanpa harus was-was mendapatkan teror dari Martinez dan aku bisa melanjutkan rencana ku" senyum Elang.
"Apa benar Alexandra yang membunuh Martinez?" tanya Rain penasaran.
"Iya. Dia disandera oleh Martinez dan ternyata dia menguasai Eskrima jadi dnegan mudah dia melumpuhkan Martinez dengan sebuah pisau bedah. Kamu tahu, dia menyembunyikan pisau bedahnya jadi tak tampak lalu menusukkannya ke paha yang langsung terkena aorta."
Rain dan Jean Marie terbelalak. "Wajar dia tahu mana aorta karena dia dokter" komentar Rain.
"Jika kena aorta, hidupnya tidak akan lama apalagi pasti terkena hypovolemic shock" sambung Jean Marie.
"Ghani harus berhati-hati dengan Alexandra. Casingnya cantik tapi mematikan" kekeh Elang.
"Tuan, apa tuan tidak sadar kalau nona Rain juga mematikan?" goda Jean Marie.
"Astaghfirullah! Aku lupa kalau calon istriku jago tembak!" Elang menepuk jidatnya.
Rain dan Jean Marie tertawa.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️