
Arjuna memutuskan ke rumah Danisha Giandra yang terletak di daerah Solo Baru. Hari ini adalah hari Sabtu dan pasti Danisha ada di rumah. Sebelumnya dia menelpon Bara untuk memberitahukan bahwa dirinya akan ke rumah adiknya.
Seorang penjaga rumah menanyakan dirinya dan menanyakan kepada Danisha yang membenarkan lalu mobil Audi itu pun masuk. Rumah milik Miki dan Mamoru Al Jordan ini memang lama tidak dipakai meskipun tetap dibersihkan.
Ketika Danisha bekerja di AJ Corp, Miki meminta keponakan cantiknya pindah Solo karena adik iparnya, Sabrina akan pensiun. Danisha yang sekarang berusia 25 tahun pun pindah ke Solo di usianya ke 22 tahun setelah sebelumnya di Tokyo. Selama di Solo, Miki dan Mamoru memaksa ponakannya itu tinggal disana agar rumah tetap terawat.
Arjuna pun turun di depan rumah mewah dua lantai itu dan seorang pelayan wanita yang sudah berumur membukakan pintu.
"Danisha ada bik?" tanya Arjuna sopan.
"Ada den. Masyaallah, kakaknya mbak Danisha kok ganteng begini ya? Bibik sampai cuci mata kalau saudara-saudaranya mbak Danisha pada datang" kekeh bibik itu.
"Bik Yati? Mas Arjuna sudah datang?" suara merdu terdengar oleh Arjuna.
"Ini kakaknya di depan mbak. Ya Allah gantengnya. Coba kalau bibik masih muda tiga puluh lima tahun" kekeh bik Yati yang berusia 55 tahun.
"Haaaiissshhhh! Ganjen!" gelak gadis yang turun dari tangga. Arjuna terkesima melihat wajah gadis itu yang merupakan perpaduan Ghani dan Alexandra. Berbeda dengan Bara yang tampangnya lebih Asia, Danisha lebih bule.
Danisha Giandra
"Mas Arjuna! Apa kabar? Terakhir ketemu lebaran tahun lalu ya?" sapa gadis cantik itu.
Arjuna menyalami Danisha dengan hangat. "Alhamdulillah baik, dik."
"Yuk duduk mas." Danisha berjalan menuju sofa ruang tengah dan Arjuna melihat banyak foto-foto keluarga Al Jordan disana.
"Oh itu foto-foto keluarga Opa Hiro dan Oma Shanum. Sengaja nggak aku utak utik soalnya ini kan rumah mereka, aku cuma numpang" ucap Danisha santai.
"Beneran kamu nggak mau ambil perusahaan Ogan Abi, dik?" tanya Arjuna.
"Nggak lah mas. Kan sudah diambil dik Kaia dan bang Levi kan? Lagipula aku lebih suka pekerjaan yang berhubungan dengan fashion. Soal otomotif dan mesin mana paham aku" gelaknya.
Arjuna hanya tersenyum melihat gadis di depannya yang tampak santai saja.
Bik Yati pun datang membawakan dua buah minuman teh dan Snack untuk keduanya. "Monggo lho mas ganteng." ucap bik Yati sambil mengedipkan sebelah matanya.
Arjuna melongo sedangkan Danisha terbahak.
"Woooiiii bik, ingat cucu di Klaten!" tegur Danisha sambil tertawa. Bik Yati pun undur diri namun matanya tetap melirik ke arah Arjuna.
Danisha menatap Arjuna yang tampak galau. "Mas Arjuna ada masalah apa?"
"Apa kamu bisa menyimpan rahasia?" tanya Arjuna.
Danisha lalu berdiri dan membawa tehnya. "Bawa teh mu mas, kita ngobrol di ruang kerja Opa Hiro saja. Disana aman."
Arjuna pun mengikuti Danisha. "Kenapa harus disana?"
__ADS_1
Danisha menatap balik ke Arjuna. "Karena aku merasa ini masalah yang sangat pelik."
***
Arjuna menatap ke arah jendela yang tertutup dengan wajah sendu. Danisha sendiri hanya bisa menghela nafas panjang berulangkali.
"Apa yang harus mas lakukan?"
"Test DNA."
"Tapi mas yakin kalau Rajendra itu adalah anak mas."
"Tapi Sekar kan bilang ada akta kelahiran dan pernah bersuami. Kita harus melakukan test DNA agar yakin. Oh mas, D mau tanya. Kenapa mas malah menceritakan ini pada D?" tanya Danisha.
"Karena kamu yang di Solo dan kamu sebaya dengan Sekar. Mas sih ingin membawa pergi Rajendra ke London..."
"Kamu egois mas! Tidak seperti itu! Apa mas nggak memikirkan perasaan Sekar, perasaan Rajendra, perasaan Tante Rain dan Oom Jeremy?"
Arjuna mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar blank otaknya. Kabar Lily meninggal, dia memiliki anak, bagaimana harus menghadapi kedua orangtuanya serta keluarga besar.
"Kita ke rumah Sekar. Aku akan menemanimu, mas." Danisha tahu bahwa kakaknya ini memang dikenal tertutup soal kehidupan pribadinya. Meskipun namanya Arjuna tapi Arjuna Samudera bukanlah playboy seperti tokoh pewayangan itu. Dan kini Danisha tahu kenapa sang kakak seperti ini.
"Apa kamu yakin?
Arjuna menggeleng. "Aku akan hadapi sendiri dik. Aku hanya butuh suport saja karena aku tidak bisa bercerita kepada siapapun dulu."
Danisha tersenyum. "Be gentle mas! Tapi kalau kamu butuh sesuatu, aku akan membantumu."
"Bara jangan sampai tahu ya."
"Your secret is safe with me."
***
Sekali lagi mobil Audi itu ke rumah Sekar dan Arjuna pun turun dari mobilnya lalu berjalan masuk ke rumah minimalis itu.
"Assalamualaikum" sapanya.
"Wa'alaikum salam" jawab penghuni rumah.
Pintu pun terbuka dan tampak bik Sum disana.
"Maaf bik, Sekarnya ada?" tanya Arjuna sopan.
"Non Sekarnya sedang belanja ke pasar Gedhe, paling sebentar lagi pulang. Monggo mas, masuk dulu."
Arjuna pun masuk ke dalam rumah mungil itu yang tertata rapih.
__ADS_1
"Pinarak dulu mas" Arjuna terbengong. "Eh maksudnya duduk dulu mas" ucap Bik Sum.
"Oh. Maaf saya tidak terlalu bisa bahasa Jawa" senyum Arjuna
"Bibik maklum kok mas, wong masnya bule gitu" kekeh bik Sum. "Sebentar ya mas." Arjuna pun mengangguk.
Sebuah kepala mungil pun tampak dari balik pintu kamar dan melihat siapa tamunya.
"Halo?" sapa Arjuna. Sumpah demi apapun Arjuna ingin memeluk bocah tampan itu.
"Halo. Oom siapa?" tanya bocah itu sambil berjalan menuju sofa tempat Arjuna duduk.
"Oom temannya mama" jawab Arjuna asal karena tidak tahu sebagai apa dirinya sekarang.
"Oom bule ya?"
"Oom campuran, Inggris sama Indonesia. Kamu kok kayak bule juga? Nama nya siapa? Kemarin belum kenalan kan? Oom namanya Arjuna. Kamu?" Arjuna mengulurkan tangannya yang disambut Rajendra.
"Rajendra Samudera."
Arjuna melongo. Kenapa nama tengah ku disematkan di anak ini? Berarti dia benar-benar anakku!
"Papa kamu kemana? Kok Oom nggak lihat? Apa pergi dengan mama?"
"Jendra nggak punya papa. Kata mama, papa kerja di tempat jauh dan susah dihubungi." Rajendra duduk di sebelah Arjuna seolah memindai wajah Arjuna.
"Monggo lho mas. Minumannya." Bik Sum meletakkan segelas es sirup. "Punya den Jendra susu coklat ya."
"Iya Bik, terimakasih" jawab Rajendra.
"Bik, maaf saya mau tanya. Suaminya Sekar kemana ya? Kok saya nggak lihat fotonya."
Bik Sum agak gelagapan namun mata tajam Arjuna membuatnya tidak bisa menolak menjawabnya.
***
Setengah jam kemudian Sekar datang dengan motor maticnya dan hatinya berdebar melihat mobil Audi disana.
"Assalamualaikum" sapa Sekar yang datang membawa belanjaan.
"Wa'alaikum salam." Suara bariton itu terdengar dan Sekar melihat Rajendra sedang bermain puzzle bersama Arjuna.
"Jendra, tunggu sebentar, Oom mau bicara dengan mama di depan." Arjuna pun berdiri dan menggamit lengan Sekar.
Mata coklat terang milik Arjuna tampak berkilat marah. "Katakan padaku sejujurnya! Jendra anakku dengan Lily kan? Dan kamu sekalipun belum pernah menikah! Katakan padaku!" desis Arjuna penuh penekanan.
Sekar hanya menatap Arjuna sendu dan lidahnya pun kelu tidak mampu berkata-kata.
__ADS_1