
Astuti menyetir mobil Honda HRV nya sembari tersenyum mengingat bagaimana dirinya terkejut melihat kakak sepupu Falisha itu untuk pertama kalinya.
Astuti tahu sepupu pria Falisha tampan - tampan seperti Abi, Ega, Arga, Adrian, Hoshi bahkan adik Falisha, Fathir pun termasuk tampan tapi dirinya memang belum pernah bertemu dengan Rama.
Flashback
Menurut Astuti, Rama itu pria yang sempurna namun ketika Falisha dan Arimbi tahu bagaimana dekatnya Rama dan dirinya sejak acara pembuatan taman sekolah Falisha, keduanya langsung menjatuhkan bom tentang kebiasaan buruk Rama. Bahkan Freya pun mengompori dirinya untuk tidak jatuh cinta dengan kakak sepupunya.
"Mas Rama itu malas mandi!" ucap Arimbi.
"Itu kita semua juga tahu. Sampai - sampai Tante Sekar dan Oma Rain pegal jewer dia. Ganteng sih ganteng, tapi malasnya itu lhooo!" sahut Freya. "Aku kan sekolah di London jadi tahu lah!"
"Arimbi malah tinggal bareng sama mas Rama jaman kuliah. Jadi tahu banget mas Rama" timpal Falisha.
"Kamarnya ... sudah ketabrak buldozer, keinjak kingkong masih ditubruk kapal Titanic pula saking berantakannya" lanjut Arimbi. "Aku tuh tinggal berempat tapi mas Rama memang paling kemproh!"
"Ega sama Hoshi nggak ya Rimbi?" tanya Freya.
"Ega sama Hoshi itu clean freak bener. Mas Rama itu kalau bersih-bersih kamar sebulan sekali, itu pun aku harus ngomel kayak emak-emak." Arimbi tertawa mengingat jaman kuliah bersama dengan para sepupunya.
"Makanya aku eman dirimu, Tut. Kamu itu anaknya halus, pembersih, janganlah sama masa Rama. Eman-eman!" Freya menatap Astuti serius.
"Casing ganteng banget, benerrrrr! Yang naksir dia buanyaaakkk! Tapi siapa juga yang mau sama cowok malas mandi?" kekeh Arimbi.
"Yang penting tetap ganteng!" seru Freya dan Falisha bersamaan mengingat motto Rama setiap diledek belum mandi oleh keluarganya.
"Mandi dua kali sehari itu suatu anugerah, Tut!" gelak Arimbi.
Astuti hanya senyum-senyum mendengar cerita para adik-adiknya Rama.
"Yang naksir juga siapa" jawab Astuti dengan wajah memerah.
"Kamu!" seru ketiga bersaudara sepupu itu dengan fisik berbeda. Freya dengan bule berambut pirang, Arimbi rambut hitam khas Asia dan Falisha berambut coklat khas keturunan Turki.
Astuti memegang dadanya. "Astaghfirullah."
***
Masih Flashback
Astuti mengerenyitkan dahinya ketika sebuah telpon dengan nomor asing masuk. Sedikit ragu, dia menggeser tombol hijau dan tampak Rama di layar.
Halo. Assalamualaikum sapa Rama menggunakan bahasa isyarat.
Astuti tersenyum. Wa'alaikum salam.
Jakarta sudah jam sepuluh malam ya?
Astuti mengangguk.
"Kamu belum tidur?" tanya Rama.
Astuti menunjukkan berkas-berkas penerimaan murid baru."Ini memang belum tahun ajaran baru tapi sudah banyak aplikasi untuk bersekolah di sekolah kami." Astuti mengembalikan posisi ponselnya supaya Rama bisa melihatnya.
__ADS_1
"Ooohhh tapi karena Falisha masih asyik berduaan dengan Aji, jadi kamu yang urus ya?" senyum Rama.
"Falisha juga bawa berkas kok" bela Astuti.
Rama terbahak. "Astuti cantik, kalau sudah menikah dan baru anget - angetnya, mana mungkin ingat soal kerjaan. Apalagi tipe Aji itu diam - diam menghanyutkan lho."
Wajah Astuti merona. Tiba-tiba otaknya bertraveling teringat bagaimana Aji menatap Falisha begitu memuja dan ... sedikit nafsu.
"Benar nggak Tut?" goda Rama.
Apaan sih mas Rama!
Rama semakin tertawa melihat bahasa isyarat Astuti. Pria ganteng itu memang serius belajar bahasa isyarat dari YouTube dan memanggil guru khusus tanpa sepengetahuan Astuti karena tidak mungkin minta tolong ke adiknya yang barusan menikah.
"Tut, aku kasih tahu ya. Pria itu kalau sudah jatuh cinta beneran pasti dimatanya selain cinta, juga ada nafsu."
Astuti menatap pria yang membuat dirinya berdebar - debar. "Oh."
Rama mendelik. "Cuma 'oh' ? Seriously, Tuti."
Astuti tersenyum. "Mas, kamu nggak kerja?"
Kerja, tapi aku kangen kamu.
Astuti melongo membaca bahasa isyarat yang dilakukan Rama.
Mas Rama apa-apaan sih? Tak urung wajah Astuti memerah.
Aku serius. Aku kangen kamu.
Karena aku suka kamu.
Astuti semakin menjadi kepiting rebus wajahnya.
Tapi kenapa?
Rama manyun. Memang kalau aku suka kenapa sih?! Oh, kamu nggak suka aku karena malas mandi ya? Adik-adikku yang cantik-cantik itu ngompori apa?
Sekarang giliran Astuti yang terbahak. Kata mereka aku jangan naksir pria malas mandi. Mereka bilang eman-eman akunya.
Rama melongo lalu tertawa kencang membuat Astuti bingung.
"Jadi adik-adikku itu pada ngeman kalau aku sama kamu?"
Astuti mengangguk polos.
"Kamu itu memang pantas dieman-eman soalnya kamu tuh spesial, Tut."
Maksudnya?
"Kamu itu wanita spesial Tut, dan aku menyesal kenapa baru ketemu kamu sekarang. Jujur aku suka kamu saat pertama ketemu karena selain cantik, kamu itu baik. Bohong kalau orang tidak melihat fisik dulu saat bertemu."
Tapi aku seperti Aji, mas.
__ADS_1
"Lalu? Apa aku pernah mempermasalahkan?"
Oom Arjuna dan Tante Sekar bagaimana? Mas kan perfect banget.
Rama tersenyum. "Aku tidak perfect lho ya. Buktinya di keluarga aku dikenal malas mandi."
Astuti tertawa. Iya lho mas. Kenapa sih malas mandi? Padahal mandi tuh enak lho.
Rama menatap Astuti dalam. "Apalagi kalau mandi bersama kamu ya Tut."
Mulut Astuti menganga. "Astaghfirullah! Mas Rama!" teriaknya yang untung sekarang Astuti tinggal di apartemen yang dekat dengan sekolahnya. Kalau masih tinggal di rumah ayahnya, mungkin para tetangganya bingung kenapa dia teriak-teriak.
Rama tertawa terbahak-bahak. Menggoda gadis manis yang mencuri hatinya itu membuatnya bahagia.
"Lho iya Tut. Kalau sama kamu, bisa jadi aku rajin mandi. Malu kan kamu yang selalu rapi, cantik dan wangi sama aku yang biarpun ganteng tapi bau dikit."
Astuti semakin pening dengan percakapan antara dirinya dan pria ganteng ini yang makin membagongkan.
"Mas Rama tuh lho!"
"Tuti, mom dan dad aku bukan tipe orang tua kolot yang harus cari pasangan perfect. Kalau kebetulan kedua orang tua aku tampaknya perfect secara fisik, itu kebetulan saja jodoh."
Tapi aku kan tuna rungu mas.
"Masalah? Yang penting kamunya sendiri gimana? Aku terang-terangan mengatakan padamu kalau aku memang suka kamu. Aku tuh sayang kamu Astuti Yasmine. Harusnya aku ucapkan di waktu di Jakarta ya tapi aku harus meyakinkan diri aku dulu dan sekarang aku sudah yakin jadi aku ucapkan saja sekarang."
Astuti melongo. Mas Rama serius?
"Semua orang di keluarga kami, jika sudah menyukai seseorang, pasti serius. Kami bukan tipe main-main."
Astuti menatap Rama lembut.
Terima kasih mas sudah menyukai aku yang penuh kekurangan ini.
"Kamu tuh perfect di mata aku, sayang. Duh, rasanya ingin kembali ke Jakarta buat ngomong langsung bukan via ponsel begini!"
Astuti tersenyum.
Aku tunggu.
Rama menatap Astuti lembut. Tunggu aku di Jakarta ya.
***
Bonus mas Rama
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️