
Seminggu usai menunggu hasil keputusan pengadilan Inggris, akhirnya Elang diberikan kebebasan bersayarat dan boleh terbang ke Jakarta bersama dengan agen Interpol beserta Scotland Yard untuk menangkap Samuel McCloud. Edward dan Duncan Blair pun menjamin Elang untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum.
Mendengar akan hal itu, Rain menjadi orang yang sangat berbahagia namun dia harus menahan semua emosinya agar tidak dicurigai oleh Samuel McCloud.
"Nona harus main cantik agar dia tidak curiga" pesan Jean Marie.
"Kau benar Jean. Harus main cantik dan aku bahagia akhirnya Oom Edward mau menjadi penjamin Elang."
"Mungkin tuan Blair tahu bagaimana seriusnya kasus ini jadi ego mereka harus disimpan."
Rain termenung. "Semoga papa juga bisa menerimanya."
***
"AAAPPAA? Kamu menjamin anak brengsek itu!" teriak Ryu kepada Edward, Yuna dan Duncan.
"Mas, Rain itu dalam bahaya jadi tolong pahami maksud Edward." Yuna berusaha menahan emosi kakak sepupunya.
"Rain sebelum bertemu anak itu hidupnya baik-baik saja! Semenjak ketemu si Jeremy, hidup Rain isinya terluka terus! Duncan! Kamu kan juga terluka waktu mencoba melindungi Rain! Kenapa kamu sekarang menjadi melunak?" Ryu meluapkan semua emosinya.
Ryu dan Giselle memang berada di London untuk menjadi bintang tamu acara kuliner disana. Kesempatan itu dipakai oleh klan Blair untuk berbicara baik-baik tentang situasi yang terjadi saat ini. Kelimanya kini berada di ruang tengah mansion keluarga Blair.
"Mas, aku sebenarnya juga nggak terlalu setuju jika Rain bersama Jeremy tapi aku melihat dari foto-foto, aku melihat mereka benar-benar saling mencintai" ucap Edward tenang.
"Oom, coba Oom berikan kesempatan pada Jeremy untuk membuktikan ucapannya bahwa dia akan selalu melindungi dan mencintai Rain seorang." Duncan menatap Ryu yang masih galak mode on.
"Yuna! Kamu kan adikku! Bagaimana pendapat mu? Suami dan anakmu lebih membela anak itu daripada aku!"
Yuna menatap Ryu dan Giselle bergantian. "Jika aku disisi mas, aku akan memberikan kesempatan pada Jeremy untuk membuktikan omongannya karena pria yang dipegang adalah ucapannya dan aku sudah melakukannya pada Mr Edward. Mungkin aku akan menyesal jika tidak memberikan kesempatan itu."
Edward dan Duncan melirik ke arah wanita cantik yang duduk diantara mereka berdua.
"Mrs Blair, apakah kau menyesal menikah padaku?" kerling Edward.
__ADS_1
Yuna menatap judes ke Edward. "Ohya, aku menyesal menikah dengan mu!"
Edward dan Duncan langsung shock mendengarnya. "Mom!"
"Tunggu! Mom belum selesai! Mom menyesal menikah dengan Daddymu yang penuh modus dan mesum ini!"
Duncan menepok jidatnya sedangkan Edward dan Giselle tertawa terbahak-bahak, Ryu hanya menarik sedikit ujung bibirnya.
"Kembali ke topik. Mas Ryu, Yuna harap mas memberikan kesempatan sebelum mas nanti menyesal jika Rain memutuskan meninggalkan mas dan mbak Giselle. Endingnya dia tidak mau kembali ke kalian."
"Maksud mu, Aku harus merestui hubungan mereka? Yunaaaa, anak itu menembak Gozali! Rain hampir mati gara-gara anak itu juga!" Ryu masih kesal mendengar keluarganya lebih membela hubungan putrinya dan Elang.
"Urusan Jeremy dan Gozali, biar mereka selesaikan sendiri Oom. Jeremy bahkan mau ditembak oleh Goz kalau ketemu agar dendam selesai tapi kalau kita harus kehilangan Rain, itu bahaya. Oom kan tahu bagaimana keras kepalanya Rain?" Duncan mencoba menetralisir situasi.
"Pa, benar Rain anak kita satu-satunya dan suatu saat dia pasti akan dibawa pergi suaminya mau dengan cara bagaimana pun. Aku hanya ingin tahu seberapa dalam Jeremy mencintai Rain. Bukankah lebih bahagia jika kita menikah dengan orang yang sangat mencintai diri kita begitu dalam, seperti papa dulu ke aku?" Giselle mengusap bahu Ryu pelan. Ibu cantik itu tahu darimana kekeras kepalanya Rain menurun dari siapa.
Ryu menyenderkan tubuhnya di kursi. Kepalanya terasa pusing dan Ryu merasa tensinya naik lagi.
"Pa, istirahat dulu. Tensimu naik lagi tuh." Giselle kemudian mengambil kotak obat dari dalam tasnya. "Diminum dulu pa obatnya."
"Aku hanya tidak ingin Rain salah memilih pasangan hidup karena di keluarga kita tidak ada perceraian kecuali kematian." Ryu mengusap wajahnya setelah meminum obatnya.
"Minum air lemon hangat dulu mas. Aku nggak jadi kasih teh karena mas Ryu baru saja minum obat" ucap Yuna sambil menaruh segelas air lemon hangat.
"Bro, tidak semua anak-anak kita hidupnya akan selalu mulus. Lihat kita seperti apa. Dulu aku hampir kehilangan Yuna dan rasanya lebih nyesek daripada kehilangan Porsche ku. Duncan? Dia hampir kehilangan Rhea akibat kecelakaan dan sekarang mereka bahagia plus aku juga mau dapat cucu. Mbak Shanum dan mas Hiro, mbak Alexa dengan Mas Jeffry... Mereka punya dramanya. Dirimu dengan Giselle pun sama kan? Ingat tidak Oom Eddie tidak setuju kamu dengan Giselle karena statusnya?"
Ryu dan Giselle terdiam. Giselle sendiri saat berhubungan dengan Ryu berstatus janda mati. Suami pertama Giselle meninggal akibat kecelakaan pesawat pada saat mereka baru menikah enam bulan. Giselle yang seorang food writer di sebuah majalah Cullinary bertemu pertama kali dengan Ryu Reeves di New York. Ryu Reeves jatuh cinta dengan janda itu dan mendapatkan tentangan dari sang ayah Eddie Reeves.
Butuh perjuangan berat bagi Ryu untuk meyakinkan kedua orangtuanya terutama sang ayah meskipun akhirnya mereka memberikan restu setelah Ryu menunjukkan bahwa Giselle pantas jadi menantu keluarga Reeves.
Edward menyesap kopi nya. "Berikan kesempatan anak-anak untuk menghadapi hidupnya, jalannya, takdirnya, jodohnya. Jika memang Jeremy jodohnya Rain, mau bagaimana lagi. Benar kata Yuna, lebih baik kita melihat anak kita pergi dengan pasangannya diiringi restu kita sebagai orang tua daripada anak kita pergi tanpa restu dan kalian putus hubungan orang tua dan anak."
"Jika Jeremy tidak bisa melindungi atau menyakiti Rain seperti ucapannya, barulah kita yang bertindak" sambung Duncan. "Tapi aku harap, Jeremy benar-benar gentleman."
__ADS_1
Ryu menatap ketiga klan Blair di hadapannya. "Dimana anak brengsek itu?"
"Namanya Jeremy pa" ucap Giselle.
"Jeremy berada di kastilnya. Selama menjadi tahanan rumah, dia memang memutuskan tinggal disana daripada mansion McCloud di London" ucap Duncan.
"Suruh dia kemari hari ini juga. Ajak dia makan malam, Ed. Aku ingin bicara banyak dengannya."
Duncan pun mengangguk lalu dia berdiri dan berjalan menuju ruang tamu lalu menelpon Elang.
"Assalamualaikum" sapa Elang.
"Wa'alaikum salam, J. Kamu ditunggu di mansion Blair malam ini untuk makan malam bersama keluarga ku."
"Ada apa D? Apa ada sesuatu?"
"Anggap saja aku membuka jalan agar kamu dapat restu calon mertua."
Elang tersenyum meskipun Duncan tidak bisa melihatnya. "Thanks Duncan. I really appreciate that."
"Good luck, Jeremy."
Siapa yang kangen Mr Edward dan Miss Yuna?
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️