
Sekar sekarang berada di Mercedes Benz milik Arjuna dan menuju Muenchen Jerman. Barry, sopir Arjuna, standby di London untuk menunggu Rajendra datang dan nanti akan pergi bersama Kris dan Kristal menyusul Sekar.
Sepanjang perjalanan hati Sekar terasa hancur, menyesal, sedih dan sakit menjadi satu. Rasanya dia menjadi istri yang jahat ke suaminya. Istri yang egois, yang terlalu angkuh untuk mau membuka diri untuk suaminya yang begitu tulus menyayangi dirinya.
Bara yang menyetir mobil, melirik ke arah spion untuk melihat kondisi Sekar. Tampak sepupu iparnya tak henti-hentinya menangis.
"Sekar, jangan menangis terus. Nanti matamu jendol nggak bisa lihat Arjuna lho" ucap Bara yang mendapat pelototan adiknya yang duduk di sebelahnya. "Be strong okay!"
Sekar membalas pandangan Bara di kaca spion lalu mengangguk pelan.
"Aku telpon Rumah Sakit Martha Maria dulu. Mas Juna dirawat di kamar mana." Danisha lalu menelpon pihak rumah sakit dan mengatakan bahwa Arjuna sedang dilakukan operasi pemasangan pen karena kakinya mengalami patah.
Mendengar kaki suaminya patah, membuat hati Sekar mencelos. Danisha bertanya tentang Ashley Sky dan ternyata mengalami patah tangan serta mengalami gegar otak.
Usai menelpon rumah sakit, Danisha menelpon Elang dan Rain untuk mengabarkan peristiwa kecelakaan yang dialami oleh putra dan asistennya. Setelahnya Kris dan Kristal pun dia kabari.
"Banyak berdoa, Sekar. Yakin mas Juna akan bisa melewati operasinya." Danisha menoleh ke arah Sekar yang ada di kursi belakang.
Sekar mengangguk dan diam-diam dia berdoa dengan khusyuk demi suaminya.
***
Mobil Mercedes Benz itu sampai di rumah sakit Martha Maria sekitar jam dua pagi karena perjalanan hampir dua belas jam. Beruntung tadi di Autobahn, Bara bisa menggeber mobilnya.
Danisha melihat pesan dari Rain akan datang besok pagi dengan Range Rover, barengan dengan Kris, Kristal dan Rajendra yang disopiri oleh Barry.
Ketiganya sudah bisa melihat Arjuna yang masih terlelap akibat efek obat bius dari operasi kakinya dan Sekar merasa sedih melihat kaki kanan suaminya harus di gips dan digantung.
"Kenapa Oom Jeremy dan Tante Rain nggak naik pesawat saja? Capek lho naik mobil" tanya Bara.
"Mungkin biar gampang kemana-mana kalau butuh sesuatu."
"Sewa mobil kan bisa, Mercy-nya Arjuna juga aku bawa" omel Bara.
"Udah deh mas Bara. Capek kan? Kita cari penginapan dekat sini." Danisha melirik ke arah Sekar yang masih melihat suaminya dari balik kaca pintu rawat.
"Sekar, kita ke hotel dulu. Aku sudah pesan di hotel Südstern dekat rumah sakit." Danisha menggamit Sekar yang tampaknya enggan pergi dari sana.
"Nanti kita kesini lagi" bujuk Bara.
Sekar mengangguk.
Aku pergi bentar mas.
***
Arjuna mengerang merasakan sakit di kaki kanannya dan melihat sebuah kepala berada di sisi tempat tidurnya dengan posisi menelungkup. Sekar. Arjuna tersenyum melihat rambut coklat panjang tebal yang selalu membuatnya ingin membelitkan tangannya disana.
__ADS_1
Merasakan ada sebuah tangan diatas kepalanya, Sekar pun mendongakkan kepalanya. Wajahnya langsung tersenyum melihat Arjuna sudah sadar.
"Mas..." Sekar mengelus wajah Arjuna yang luka-luka akibat kena pecahan kaca. Arjuna meringis ketika tangan halus itu mengelus wajahnya.
"Maaf... Sakit ya?" bisik Sekar.
Arjuna menggeleng pelan. "Nggak... cuma senang kamu datang... Sama siapa?"
"Sama Bara dan Danisha. Nanti papa mama menyusul dengan Kris dan Kristal serta Rajendra."
"Bara dan Nisha kemana?"
"Menengok Ashley" jawab Sekar. "Mas mau minum?"
"Boleh." Sekar menyiapkan minuman untuk Arjuna berupa air putih dan sedotan untuk mempermudah.
Arjuna menerima minuman dari Sekar, matanya menatap mesra istrinya. Bersyukur Sekar datang secepatnya jadi dia tidak sendirian.
"Sudah sayang" ucap Arjuna.
Sekar kemudian meletakkan gelas minum Arjuna ke nakas.
"Mas butuh apa lagi?" tanya Sekar.
Aku butuh kamu!
"Kamu disini saja ya" pinta Arjuna dan Sekar pun mengangguk.
"Aku nggak kemana-mana kok mas."
Pipi Sekar merona. "Kenapa mas? Ada yang sakit?"
Arjuna merasa gemas istrinya sok nggak paham kemodusan dirinya. "Iya, mataku kelilipan!"
Sekar hanya ber 'oh'. "Mbok ya bilang kalau kelilipan" kekehnya sambil mendekati Arjuna. "Mata yang sebelah mana mas?"
"Mata yang sebelah..."
"Papaaaaa! Papa kenapa?"
Arjuna menggeram dengan frustasi sedangkan Sekar segera menjauhkan wajahnya dari Arjuna dengan wajah memerah. Tampak di pintu Elang, Rain dan Rajendra disana dengan berbagai macam ekspresi. Elang dan Rain menatap anak dan menantunya dengan tersenyum penuh arti sedangkan Rajendra lebih penasaran melihat kaki papanya digantung dan digips.
***
"Kok bisa kamu kecelakaan boy? Bukannya Autobahn termasuk jalan teraman?" tanya Elang sambil mencoreti gips putranya dengan spidol.
"Oh come on Pa! Jangan dicoret aneh-aneh dong gipsnya!" protes Arjuna.
"Nggak kok! Nggak aneh!" kekeh Elang yang asyik menggambar bersama Rajendra.
__ADS_1
"Gimana ceritanya bisa kecelakaan sayang?" tanya Rain lembut. Meskipun dirinya sempat terkejut namun mendengar putranya selamat, dia bersyukur.
"Jadi aku dan Ashley berjalan sesuai dengan batasan Autobahn dan di depan terdapat truk selip dan berputar lalu dia menabrak mobil di depanku dan Ashley tidak bisa menghindari karambol. Kami terlempar di pembatas jalan dan setelahnya aku tidak ingat apapun. Untung polisi Jerman menemukan ponselku yang entah kenapa aku tidak menguncinya jadi bisa menghubungi Sekar."
"Yang penting kalian selamat" jawab Elang sambil tertawa melihat hasil corat-coret cucunya di gips putranya.
"Ya ampun Paaaaa!" protes Arjuna setelah melihat hasil karya Opa dan cucunya.
***
Sekar sekarang berada di luar ruang rawat Arjuna karena hendak memberikan kesempatan buat kedua orangtuanya waktu bersama putranya.
"Kok kamu nggak di dalam Sekar?" tanya Bara.
"Biar mas Arjuna bersama mama papa dulu." Sekar tersenyum ke arah Bara. "Danisha kemana?"
"Cari makan sama Kris kalau Kristal masih mendampingi Ashley. Kayaknya dia ada rasa sama asistennya Arjuna." Bara tersenyum. "Semoga bisa menghentikan sikap playgirl nya."
"Apakah gara-gara kehilangan Malik, membuat Kristal seperti itu?" tanya Sekar.
"Kamu tahu soal Malik?" tanya Bara balik.
"Kemarin..." suara Sekar menghilang ketika Rajendra memanggilnya untuk masuk.
"Masuklah dulu, Sekar. Arjuna membutuhkanmu." Bara mengedipkan sebelah matanya. Sekar pun mengangguk dan berjalan masuk ke dalam ruang rawat Arjuna.
"Sekar, papa, mama dan Rajendra mau cari makan dulu. Kamu openi Arjuna ya nak" ucap Rain.
"Baik mama" jawab Sekar patuh.
Setelah semuanya pergi, Sekar menutup pintu ruang rawat dan menghampiri Arjuna yang menatap dirinya.
"Mas..."
"Sekar."
Keduanya tersenyum. "Kamu dulu, istriku."
Sekar tersenyum gugup mendengar ucapan Arjuna. Istriku.
"Mas... Maafkan aku..." Sekar menatap Arjuna dengan tatapan tidak dapat dijabarkan.
Seketika Arjuna merasakan hawa dingin menjalar di tulang belakangnya.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Maap readersku, beneran masih acara keluarga.
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️