Elang Untuk Rain

Elang Untuk Rain
Elang is stubborn


__ADS_3

Elang terbangun dan merasakan sakit di bagian belakang lehernya. Matanya berusaha fokus untuk tahu berada dimana lalu dia merasakan sebuah tangan yang terus menggenggam tangannya.


Rain.


"Rain..." bisiknya. Gadis itu tampak tidur di pinggir tempat tidur dengan berbantalkan tangannya yang lain.


"Rain..." panggilnya lagi dengan agak keras. Rain mulai terbangun dan wajahnya langsung sumringah melihat Elang sudah sadar.


"Alhamdulillah sudah sadar" bisik gadis itu.


"Aku dimana?" tanya Elang.


"Rumah sakit. Bang Duncan tadi membawamu kemari dengan ku" jawab Rain. "Mau minum?"


Elang mengangguk. Rain mengisikan gelas dengan air mineral dan memberikan sedotan agar Elang bisa minum. Pria itu kemudian minum melalui sedotan yang diberikan Rain, hampir separuh air di gelas dia habiskan.


"Leherku kenapa Rain? Kok rasanya sakit?" tanya Elang.


"Kau tertembak di bagian yang aneh" senyum Rain lalu gadis itu menjelaskan bagaimana tembakan Ejin mengenai bagian antara leher dan pundak.


"Bagaimana dengan Jean Marie?" tanya Elang.


"Kata Tini sudah sadar dan dia di ruangan sebelah. Kemungkinan agak gegar otak. Kasihan gara-gara melindungiku" Rain menundukkan wajahnya.


"Sudah tugasnya Jean, sayang. Beruntung dia tidak dibunuh oleh Ejin" ucap Elang sambil mengelus pipi Rain. "Lalu Ejin?"


"Tewas ditembak petugas Scotland Yard. Aku kasihan dengan ibunya, hanya karena menikah dengan anak Samuel McCloud yang penuh ambisi, cucunya pun ikut terobsesi."


"Anak Samuel McCloud kemana?" Elang benar-benar tidak tahu jika adik tiri kakeknya punya anak laki-laki.


"Kata Ejin meninggal karena kecelakaan lalulintas tapi masih diselidiki oleh Scotland Yard."


"Duncan kemana?" tanya Elang.


"Harus melaporkan ke polisi Indonesia. Tadi habis dimarahi sama Oom Manggala, teman budhe Nabila. Dia liaison polri dan Scotland Yard, Interpol sebangsanya itulah tapi bang Duncan nggak tahu malah bikin startegi sendiri." Rain tersenyum mengingat Duncan dijewer oleh Manggala.


"Kenapa kamu tersenyum, Rain?"


"Tadi bang Duncan dijewer sama Oom Gala" kekeh Rain. "Untung Rhea tanggap langsung telpon budhe Nabila, gantian Oom Gala yang dimarahi."


"Ya ampun. Sebenarnya apa hubungannya budhemu dengan Oom Gala?"

__ADS_1


"Mereka dulu teman SMA. Oom Gala cinta pertamanya sama budhe Nabila tapi budhe anggap Oom cuma sahabat. Sempat nggak mau nikah setelah budhe Nabila menikah sama Pakdhe Mike tapi akhirnya menikah juga sama temannya Tante Diana."


Elang mengingat-ingat. "Tante Diana itu yang menolongku ketika kamu masuk kamar operasi, iparnya Oom Edward kan?"


"Hu um. Bagaimana lehermu?"


"Masih sakit mungkin bekas operasinya." Suara ketukan di pintu membuat Elang berhenti bicara.


"Sudah sadar pak Jeremy. Syukurlah. Saya periksa dulu ya" seorang dokter datang bersama dengan dua orang suster.


"Silahkan." Elang mempersilahkan dokter itu untuk memeriksanya.


"Bagus sudah mulai mengering. Saya minta bapak dirawat dulu disini sekitar 3-4 hari agar bisa kami pantau efek sampingnya karena tulang selangka anda kena dan sedikit retak."


"Apa dalam seminggu saya bisa pulih dok?" tanya Elang.


"Semoga bisa pulih pak. Memang ada apa?" tanya dokter itu heran. Ini pasienku gila atau gimana? Habis kena tembak, minta seminggu pulih?


"Karena saya harus menolong seseorang."


Rain terkesiap. Bang Ghani.


***


"Aku nggak papa D! Bawa aku ke New York!" eyel Elang. "Ada info dari Louis yang harus aku jelaskan."


"Berikan padaku dan aku akan jelaskan ke mereka" ucap Duncan.


"Nggak bisa D, harus aku!"


Duncan mengusap wajahnya kasar. Drama apa lagi ini!


"Baiklah! Minta ijin pada Rain. Kalau dia mengijinkan, kamu boleh ikut ke New York."


***


"Apa kamu yakin Lang?" tanya Rain. "Dokter sudah mengijinkan?"


"Dokter sudah mengijinkan aku rawat jalan, apalagi disana kan ada kekasih Ghani yang seorang dokter."


Rain hanya terdiam. Sejujurnya dia tidak ingin Elang terbang ke New York namun demi membantu kakak Rhea, hampir semua saudara sepupunya terbang ke Amerika.

__ADS_1


"Jika begitu maumu, aku nggak bisa bilang apa-apa. Tolong bantu bang Ghani sebab tanpa dia, aku pun tidak mungkin bisa bebas. Lagipula kamu kan memang pada dasarnya keras kepala."


Elang mencium bibir Rain dengan penuh perasaan.


"Terimakasih Rain."


"Pulanglah dengan selamat." Rain tahu bagaimana rumitnya masalah yang dihadapi Ghani karena itu menyangkut besarnya mafia yang akan mereka hadapi.


"Aku akan kembali, Rain."


***


Dua Hari Kemudian...


Duncan, Elang dan Louis sudah sampai di JFK Airport dan George yang menjemput mereka.


"Boss" sapa George gugup.


"Ada apa?" tanya Duncan.


"Tuan Giandra..."


"Ghani kenapa George?" tanya Duncan tidak sabar.


"Tuan Giandra kena tembak."


Duncan dan Elang langsung lemas.


Apa yang harus aku katakan pada Rey, papa dan mama.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Sorry harus twist sana sini 🙏🙏🙏


Ghani besok ya insyaallah.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2