Elang Untuk Rain

Elang Untuk Rain
Kena Jewer


__ADS_3

Duncan menyetir Alphard Rain dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit yang jaraknya hanya menjadi sepuluh menit. Rain memangku Elang, sedangkan seorang anggota Scotland Yard membawa Jean Marie yang luka parah di kepalanya.


Setibanya di rumah sakit, petugas segera membawa Elang dan Jean Marie masuk ke ruang IGD untuk dilakukan pemeriksaan. Duncan memeluk Rain yang masih gemetar melihat kekasihnya dan pengawalnya terluka gara-gara obsesi seorang pria yang tidak bisa berpikir jernih hingga membuat seorang anak perempuan mengikuti jejaknya.



Posisi peluru yang ditembakkan oleh Ejin kesini masuknya.


"Bang, Elang sama Jean nggak papa kan?" bisik Rain yang bajunya penuh darah Elang.


"Doakan saja peluru yang masuk ke leher Jeremy tidak kena saraf-saraf penting." Padahal Duncan dalam hati juga panik takut mengenai saraf leher.


Suara ponsel Duncan berbunyi dan diambilnya ponsel warna hitam itu tampak nama My Rey disana.


"Assalamualaikum sayang" sapa Duncan.


"Wa'alaikum salam. Abang? Gimana? Sudah beres?" tanya Rhea.


"Alhamdulillah sudah hanya Jeremy tertembak, begitu juga Jean Marie pengawal Rain terluka kepalanya."


"Astaghfirullah. Apa yang Rhea bisa bantu?"


"Kamu bisa ke rumah sakit Kedoya? Rain butuh teman. Abang mau menemui Oom Manggala soalnya bakalan dijewer ini kuping sama Oom Mangga."


"Rhea nanti titip Kaia ke mommy habis ini kesana bang."


"Hati-hati Rey." Duncan mematikan ponselnya dan tampak dari pintu IGD seorang perwira tinggi polisi datang menghampiri Duncan dengan wajah ditekuk.


"Duncan Blair! Berbuat ulah apa lagi kamu!" Irjen Manggala Saputra langsung menjewer Duncan tanpa peduli dilihat oleh banyak orang.


"Adduuhhh Oom! Sakit ooooiii!" Duncan meringis kupingnya dijewer. "Udah pensiun ajah masih galak."


"Kalau nggak ingat kamu keponakannya Nabnab, sudah masuk sel kamu!" Manggala melihat Rain berlumuran darah langsung panik. "Kamu kena tembak? Ulah siapa? Ulah anak bule itu?" tunjuk Manggala ke arah Duncan.


Rain yang bingung ditanya oleh seorang polisi berpakaian lengkap dengan tanda bintang seumuran dengan budhe Nabila hanya terbengong.


"Nggak Oom, Rain nggak kena tembak. Ini darah kekasih Rain."


Manggala menoleh judes ke Duncan. "Kamu mau ceritain ke Oom apa yang terjadi atau Daddy kamu Oom suruh terbang ke Jakarta?"


"Boleh nggak telpon budhe Nabila dulu biar Oom nggak marah-marah?" rayu Duncan.


"Mertuamu Oom panggil sekarang juga!" Manggala siap-siap menelpon Abi.


"Eh jangan Oom. Bisa ramai nanti, habis kupingku nanti dijewer papa."


"Ceritakan kenapa sampai interpol dan Scotland Yard terlibat? Sekarang juga!" bentak Manggala kesal. Bisa-bisanya mereka berbuat seenaknya di wilayahnya meskipun tersangka adalah warga negara Inggris dan dpo interpol.

__ADS_1


"D ceritakan semuanya tapi jangan dijewer ya kupingku" cengir Duncan.


"Tuhanku! Kok bisa Nabnab punya keponakan begini yaa!" Manggala menghela nafas panjang. "Sudah, ceritakan semuanya!"


***


Rhea datang ke rumah sakit Kedoya dan tampak bingung melihat kondisi IGD disterilkan dan tampak Rain masih menunggu disana.


"Rain!" sapa Rhea. Rain hendak memeluk Rhea tapi bajunya penuh dengan darah akhirnya mengurungkan niatnya.


"Aku bawakan baju ganti, handuk dan sabun. Kamu mandi dulu deh, berantakan tuh kamu" ucap Rhea.


"Nona Reeves, tolong nanti baju anda dimasukkan ke dalam kantong ini ya sebagai barang bukti" seorang petugas polisi memberikan sebuah kantong coklat.


"Baik pak. Rhea, aku mandi dulu ya."


"Pakai saja kamar mandi di sebelah sana" tunjuk Rhea ke sebuah kamar mandi umum. Rain pun berjalan kesana.


"Maaf pak, tapi suami saya kemana ya?" tanya Rhea yang tidak melihat Duncan.


"Tuan Blair sedang diceramahi Nyonya" senyum polisi itu.


"Sama siapa?" tanya Rhea bingung.


"Irjen Manggala Saputra."


***


Duncan keluar dengan wajah lelah setelah mendapatkan ceramah dari Oom Galanya. Meskipun sudah pensiun, namun Gala masih diperbantukan sebagai liaison polri dan Interpol. Ini kali kedua Gala kecolongan dan dengan keluarga yang sama.


"Halo Oom Gala" sapa Rhea ramah.


"Halo Rhea. Next time, kamu kasih tahu ke suamimu ya jangan bertindak seenaknya! Ada Oom disini sebagai liaison. Kenapa kalian bandel-bandel sih!" keluh Gala sambil memijit pelipisnya.


"Tapi ada yang mau bicara sama Oom" Rhea menyerahkan ponselnya.


"Halo? Assalamualaikum?"


"Wa'alaikum salam. Manggala Saputra! Apa yang kamu lakukan pada keponakan ku?" bentak suara disana.


"Nabnab?" Wajah Manggala memucat.


***


Akhirnya operasi pengambilan peluru di leher Elang selesai dilakukan dan dokter yang mengoperasi mengatakan beruntung Elang memakai jaket kulit ditambah baju rajut turtle neck tebal jadi impact dari peluru itu tidak langsung ke saraf penting.


"Jadi posisi peluru itu lebih kena ke tulang selangka dan berhenti disana karena sempat terhalang baju tebal."

__ADS_1


Rain, Duncan dan Rhea bersyukur tidak terjadi kerusakan saraf leher yang bisa berakibat banyak pada tubuh Elang. Kini mereka berada di ruang rawat inap Elang sedangkan Jean Marie berada di kamar sebelah sedang ditunggu oleh Tini dan Sinta. Ayu dan Dina akan bergantian menunggui Jean banti sore.


"Bagaimana dengan Jean Marie, dok?" tanya Duncan.


"Luka di kepala nona Jean parah dan kemungkinan besar gegar otak tapi tidak ada hematoma setelah kami periksa secara menyeluruh. Kami hanya menjahit luka luar."


"Baik dokter, terimakasih."


"Saya permisi dulu." Dokter itu kemudian keluar dari ruang rawat Elang.


"Bang, kita lihat kondisi Jean yuk. Kasihan dia sendirian" ajak Rhea seperti memberi kode Duncan.


Duncan menatap Rhea bingung. Bukannya ada Tini dan Sinta ya di kamar sebelah?


"Tapi Rey ..." Rhea menatap Duncan judes. "Baiklah Rey." Kedua pasutri itu lalu keluar dari ruangan itu.


Rain menatap Elang yang masih terlelap akibat obat bius dari tindakan operasinya. Dengan pelan gadis itu mengusap rambut tebal Elang.


"Terimakasih, Lang. Sudah melindugiku" bisik Rain. Tangannya menggenggam tangan Elang yang tidak ada infusnya.


"Maaf ya jadi nggak bisa ke New York membantu bang Ghani gara-gara aku padahal bang Ghani butuh bantuanmu juga."


Rain mengusap wajah tampan Elang yang dipenuhi brewok. Sejujurnya Rain bukan tipe suka pria berbrewok tapi Elang memang cocok dengan wajah berantakan begitu tampak bad boy.


"Cepat sadar, Elangku."


***


"Jadi Samuel McCloud itu punya adik tiri yang namanya juga sama?" tanya Rhea ketika mereka di kantin.


"Yang terobsesi adalah ibu Samuel McCloud tiri karena dia adalah gundik dari eyang buyut Jeremy. Sengaja dia memberikan nama sama dengan kakek kandung Jeremy agar orang bingung namun kakek Jeremy bertindak tegas. Gundik itu terobsesi menguasai harta klan McCloud." Duncan membacakan hasil penelitian Masayuki.


"Makanya jadi laki gak usah celup sana sini tuh bird! Bikin masalah kan?" cebik Rhea sebal.


"Abang kan cuma celup di punyamu doang, Rey" cengir Duncan. Rhea memincingkan matanya. "Papinya Kaia mesumnya nggak hilang-hilang."


Duncan terbahak.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2