
Arjuna menatap Sekar yang sekarang berdiri tak sampai setengah meter darinya.
"Maaf kenapa Sekar?" tanya Arjuna dengan emosi terkontrol meskipun hatinya kebat kebit.
"Maafkan aku... Aku bukan istri yang baik" bisik Sekar. Arjuna melongo.
"Sekar... kemari." Sekar pun menurut. "Kenapa kamu berkata demikian?"
"Aku... Ketika mendengar kamu kecelakaan... Rasanya hatiku seperti hilang separuh. Ternyata aku... tidak bisa... melepaskan... Aduh!" Sekar terjatuh di dada. Arjuna karena pria itu menarik dirinya.
"Melepaskan apa? Melepaskan ini?" Arjuna Melu*mat bibir istrinya dengan penuh perasaan. Pria itu baru melepaskan setelah Sekar memukul dadanya karena tidak bisa bernafas.
Wajah Sekar memerah hingga ke lehernya yang putih membuat Arjuna terkekeh melihat istrinya tampak malu.
"Jangan pergi dariku, sayang. I love you and I need you" bisik Arjuna dengan posisi masih memeluk Sekar yang berdiri setengah bersandar.
"Aku tidak akan pergi darimu..."
Arjuna hanya bisa menatap Sekar dengan tatapan senang dan tidak percaya. "Terimakasih sayang" Arjuna mencium bibir Sekar sekilas. "Lalu apakah kamu siap menjadi istriku seutuhnya?" goda Arjuna dengan wajah jahil.
"Aku..." Wajah Sekar memerah.
Suara ketukan di pintu membuat keduanya berpisah dan melihat siapa yang datang. Tampak Rain dan Rajendra membawakan makanan untuk Sekar.
"Kamu menginap disini, Sekar?" tanya Rain sang mama mertua sambil menyerahkan sebuah paper bag berisi makanan.
"Iya ma. Kasihan mas Arjuna kalau Sekar tinggal, nanti kalau butuh apa-apa malah bingung" jawab Sekar sambil menerima paper bag.
Rain mengangguk. "Itu memang tugasmu sebagai seorang istri, sayang."
Ucapan Rain membuat Sekar seperti mendapatkan tinju di ulu hatinya. Iya betul aku istri mas Arjuna tapi belum seutuhnya.
"Oma, Jendra ngantuk" bisik Rajendra kepada Rain.
"Mau pulang hotel?" tawar Rain yang dijawab anggukan cucunya.
Sekar menghampiri putranya dan berjongkok di depan Rajendra. "Jangan lupa gosok gigi dan berdoa buat kesembuhan papa ya nak." Rajendra mengangguk lalu memeluk Sekar dan mencium pipi sang mama.
"Jendra pulang dulu sama Oma dan Opa." Rajendra kemudian menghampiri Arjuna dan berjingkat mencium pipi papanya. "Semoga cepat sembuh papa."
Arjuna tersenyum. "Thank you boy!" sambil mengelus kepala putranya.
Elang masuk ke ruangan putranya. "Jun, papa dan mama pulang ke hotel dulu bersama Jendra. Sekar, ada Bara di ruang rawat Ashley kalau kamu membutuhkan sesuatu. Tadi papa sudah bilang ke Bara supaya membantu mu kalau membutuhkan sesuatu."
"Baik pa. Terimakasih."
***
__ADS_1
Sepeninggal kedua mertua dan putranya, Sekar memutuskan untuk mandi karena merasa tidak nyaman.
Arjuna yang mengetahui istrinya mandi, membuat otak rusuhnya bertraveling kemana-mana. Bayangan tubuh Sekar yang dia lihat di CCTV membuatnya panas apalagi si junior ikutan bangun.
Brengseeeekkkk! Kenapa elu ikutan bangun, Otong?
Suara pintu kamar mandi terbuka membuat Arjuna buru-buru menutup tubuhnya dengan selimut rumah sakit yang untungnya tebal agar menutupi si Otong yang bangun tanpa pemberitahuan.
Sekar keluar dari kamar mandi mengenakan kaus lengan panjang dan celana panjang training. Dirinya lalu menata sofa dan membuatnya menjadi nyaman untuk dipakai tidur malam ini.
"Mau maem mas?" tawar Sekar sembari membuka kotak makan yang terletak diatas meja depan sofa.
"Mau!" Sekar pun berjalan sambil membawa kotak makan itu mendekati tempat tidur Arjuna dan menyiapkan makannya.
"Mau pakai apa?" tanya Sekar.
"Apa aja yang penting kamu suapin" senyum Arjuna.
Sekar menyuapi suaminya dengan telaten dan selama itu pula Arjuna memandang istrinya dengan mesra yang membuat Sekar merona.
"Mas ngapain lihatin aku?" bisik Sekar.
"Senang kamu nggak pergi" jawab Arjuna apa adanya. "Kalau pun kamu tetap nekad pergi, aku juga akan nekad mencegahmu!"
Sekar menunduk mendengar ucapan Arjuna.
Sekar pun membereskan kotak makan dan berjalan ke arah sofa untuk membuka kotak makannya lalu dia mulai makan. Arjuna memandangi istrinya yang sedang makan sembari menonton tv.
"Bara bilang kamu bisa bahasa Jerman. Benarkah?" tanya Arjuna setelah Sekar selesai makan.
"Iya, aku bisa bahasa Jerman."
"Bagaimana bisa?"
"Aku seorang guru piano sejak SMA dan klien ku kebanyakan orang ekspatriat yang ingin agar anaknya bisa main piano. Dan dari sana aku belajar banyak bahasa dari para orangtuanya, kebetulan mereka adalah orang Perancis dan Jerman. Aku sangat menyukai belajar bahasa asing jadi kami saling menguntungkan." Sekar tersenyum. "Dan sekarang ternyata hasilnya berguna."
Arjuna memandang kagum ke arah istrinya. Dia berbeda dengan Lily.
"Kamu bisa dua bahasa itu saja atau ada yang lain?" tanya Arjuna.
"Selain bahasa Inggris, hanya dua bahasa itu yang aku kuasai."
"Kamu hebat, Sekar" puji Arjuna tulus.
"Sebenarnya aku belajar bahasa Perancis dan Jerman karena ingin melihat Eiffel dan museum Mercedes-Benz di Stuttgart."
"Eiffel aku bisa maklumi, cewek mana yang nggak pengen kesana tapi Mercedes Benz? Kenapa sayang?"
__ADS_1
"Aku suka merk mobil itu dan karena aku mengagumi sosok Karl Benz."
Banyak yang Arjuna belum tahu tentang Sekar begitu juga sebaliknya. Aku harus tahu banyak tentang Sekar.
"Kalau kakiku sudah sembuh, kamu akan aku antar dan temani ke kedua tempat itu" janji Arjuna.
"Yang penting kakimu dulu mas, soal lihat Eiffel dan museum Mercedes-Benz bisa kita lakukan kapan-kapan" senyum Sekar tanpa sadar membuat Arjuna semakin semangat untuk sembuh.
Bisa kita lakukan kapan-kapan. Kalimat yang membuat jantung Arjuna berdetak kencang. You'll never leave me kan Sekar.
"Iya. Sekarang kamu tidur, ini sudah jam sepuluh malam." Arjuna membenarkan posisi tidurnya dan Sekar pun membereskan bekas makannya lalu membuangnya ke tong sampah yang berada di dekat pintu lalu gadis itu masuk ke kamar mandi.
"Sekar..." panggil Arjuna setelah istrinya mencuci tangan dan gosok gigi.
"Iya mas?"
"Bisakah kamu tidur disini?" pinta Arjuna yang tidak mau jauh-jauh dari istrinya. Moment ini yang dia tak mau lewatkan.
Sekar tertawa. "Mas, tempatmu itu sempit nanti kamu nggak nyaman."
"Kakiku tolong digeser dan aku akan beringsut ke kiri. Please?"
Sekar hanya tersenyum dan memindahkan kaki kanan Arjuna yang masih digantung dan membantu suaminya untuk bergeser.
"Naik sini" Arjuna menepuk sisi kosong kanannya. "Besok aku minta tempat tidur yang besar."
"Aku tidur so..."
"Tidur denganku sini. Manut lah Sekar."
Sekar pun akhirnya naik ke tempat tidur dan langsung dipeluk oleh suaminya. Arjuna mencium pucuk kepala Sekar. "Tidurlah."
Sekar pun memeluk suaminya karena posisinya memang sempit dan mau tidak mau dia harus tidur menyamping.
Mendengar suara dengkuran halus Sekar, Arjuna pun ikut terlelap. Keduanya tidur dengan saling berpelukan.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Harusnya aku udah upload tadi malam tapi apa daya aji sirep lebih kencang jadi... ketiduran deh 😅😅😅
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1