
Kelap-kelip bukan hanya milik bintang di langit malam. Pemandangan malam jika dilihat dari atas Bukit Gombel, Semarang, ada kelap-kelip lampu menyinari Kota Semarang. Terasa lengkap dengan semilir angin malam yang menyejukkan suasana.
Dua sejoli yang baru saja melaksanakan lamaran ini, berdiri di balkon Restoran Alam Indah. Lima tahun tanpa bersua, kini Henry dan Fira saling berbagi cerita sembari menikmati pemandangan malam di Bukit Gombel.
Henry dan Fira tidak berdua saja, restoran itu diramaikan dua keluarga besar dari Henry dan Fira. Sedikitnya adalah orang-orang yang berkunjung di restoran tersebut. Anak-anak yang riang gembira berlari ke sana ke mari. Sementara sebagian orang dewasa dari mereka mengobrol hangat penuh keseruan sembari menunggu hidangan malam.
"Masyaallah, aku bangga sama kamu bisa meraih prestasi sampai kuliah di Universitas Hervard," sanjung Fira.
"Tapi, belajar di sana itu bersungguh-sungguh. Orang-orang di sana begitu jenius dan cerdas. Kalau aku masih banyak belajar, hehehe," ucap Henry.
"Ah, kamu merendah untuk meroket, ya? Buktinya kamu juga pengusaha sukses. Aku tahu kamu selain cerdas juga ..."
"Juga apa?"
"Juga sukses bikin aku kagum, hehehe."
"Oh, itu belum seberapa, bisa jadi setelah kita menikah, kamu bakalan klepek-klepek sama aku," canda Henry.
"Masa?" Fira menyunggingkan senyum.
"Apa kamu baper sama aku?" tanya Henry.
"Emm, gimana, ya?" pikir Fira. Ia sambil mengetuk bibirnya dengan jari telunjuk.
"Sudah pasti baper kan? Pasti selalu baca perasaan yang tertulis di buku harianku, ngaku deh!"
"Astaghfirullah, pede banget sih, kamu!"
Henry dan Fira tertawa lepas, tiada lagi kecanggungan di antara keduanya. Hati Henry berbunga-bunga melihat wanita pujaannya itu tertawa. Pandangnya tidak lepas dari wajah ayu wanita berkacamata bening itu. Tawa Fira seakan memancarkan kebahagiaan dari hati.
"Wah-wah, mentang-mentang kalian mau nikah, serasa dunia milik berdua, ya," sela Intan. Maminya Henry hadir di belakang Henry dan Fira. Intan masih terlihat bugar dan ayu dengan balutan tunik, celana kulot dan hijab segitiga.
__ADS_1
"Eh, nganu, Mam," ucap Henry lantas salah tingkah. Ia lantas menggaruk tengkuk.
"Bu Intan dan Pak Lee," ucap Fira terkejut dengan Intan dan Lee Hyun Joong, papinya Henry.
Fira sigap menyalami dua tangan Intan dan Lee Hyun Joong penuh hormat. Lee Hyun Joong duduk di kursi roda hanya bisa melihat tersenyum melihat Henry dan Fira. Meskipun beliau tidak bisa berbicara, tapi dalam hati beliau terenyuh melihat kebahagiaan putra satu-satunya bersama wanita yang dicintainya ini.
"Kok manggilnya Bu-Pak, sih? Mami-Papi dong," tutur Intan.
Fira menggaruk hijab sembari berkata, "Fira jadi malu, hehehe."
"Dibiasakan loh, manggil Papi dan Mami."
"Emm, baik Mami dan Papi."
Melihat calon istrinya pemalu, Henry lantas tertawa kecil, walau sebenarnya Henry sangat gemas dengan sifat pemalu Fira. Sesekali Fira melirik Henry karena sadar diperhatikan oleh Henry. Fira jadi salah tingkah dibuatnya.
"Sifat pemalunya itu membuat wajahnya sangat imut," batin Henry.
"Berarti Heyli dan Fira bisa berduaan dong, Mam," ujar Henry sengaja menggoda Fira dan maminya.
"Eh, enggak sebebas itu, Heyli. Nanti ditemani Jae Young dan Naomi dong."
"Hadeh, Kak Naomi dan Jae Young lagi!"
"Maaf, Heyli itu panggilan Henry, ya, Mam?" sela Fira penasaran.
"Waktu kecil Henry belum bisa nyebut namanya Henry--- jadinya Heyli," kata Intan sembari menirukan suara anak kecil.
"Heyli?" Fira memutar bola mata, merasa tergelitik menyebut panggilan kecil Henry.
"Kalau kamu jangan panggil aku Heyli dong. Kelihatan banget aku brondongnya kamu," protes Henry kepada Fira.
__ADS_1
"Tapi, lucu dan kiyut gitu, hihihi."
***
Hidangan malam yang lezat telah tersaji di meja besar. Keluarga besar Henry duduk memanjang dan berlawanan arah dengan keluarga besar Fira. Silahturahim dua keluarga, selain syukuran atas lamaran Henry kepada Fira, juga sebagai bentuk keakraban satu sama lain. Mereka begitu menikmati hidangan malam yang lezat dan istimewa.
Meski di sana ada Lefia sebagai asisten Fira, tetap Fira yang menyuapi makanan kepada Zayn dan Zema. Kebetulan dua anak laki-laki ingin bermanja dengan sang mama. Sebagai seorang mama, Fira memilih untuk tidak makan pedas saat menyuapi dua putranya. Zayn dan Zema melahap ayam panggang dengan beberapa sayuran segar yang sudah dikukus matang.
Di sisi lain, Henry sebentar-sebentar memperhatikan wanita berbalut abaya krem sambil menyantap makanan. Semakin terpanah hati Henry karena sikap keibuan Fira kepada dua anak laki-lakinya. Fira telaten dan sabar menyuapi Zayn dan Zema dengan tingkah yang begitu aktif. Kadang mereka duduk dan kadang berlari.
"Aku tidak salah lagi memilihmu menjadi istriku, Fira. Insyaallah, aku berusaha membuatmu dan anak-anak bahagia. Membangun keluarga sakinah mawadah warahmah," gumam Henry tersenyum manis.
Merasa sorotan mata Henry itu tertuju pada Fira, wanita yang akan menjadi istri Henry ini lantas terpaku. Fira jadi menjeda menyuapi makan dua putranya, kemudian membalas senyum kepada Henry. Seketika pria berbalut kemeja putih gading itu salah tingkah dan lanjut menyantap makanan.
"Ya Allah, semoga Henry adalah laki-laki yang baik. Yang dengannya, semakin mendekatkan kami kepada-Mu. Yang bersamanya, membawa kami selalu di jalan-Mu," batin Fira.
Beberapa menit menatap Henry, sorotan mata Fira lantas melirik ke belakang Henry. Sosok pria dari kejauhan berdiri memaku sambil menatap Fira. Jaraknya sepuluh langkah kaki dari tempat Fira. Sehingga Fira terkesiap melihat sosok pria yang tidak asing lagi baginya. Meski kacamata hitam bertengger di dua mata pria itu, Fira sangat mengenali wajah pria itu. Hanya yang berbeda dari pria itu mempunyai kumis dan berewok.
Ketika pria berpakaian kemeja hitam itu membuka kacamatanya, Fira membulatkan mata. Sekujur tubuhnya seketika merinding. Ia semakin terkejut dengan kehadiran sosok pria itu. Pria yang mencintainya dalam diam--- sejak bersahabat dari kecil itu justru tersenyum sembari melambaikan tangan kepada Fira.
"Astaghfirullah, Rafi!" gumam Fira.
"Fir, kamu lihat apa sih? Zayn dan Zema nungguin disuapin Mamanya tuh," tegur Henry melambaikan tangan di hadapan wajah Fira.
"Bukan apa-apa," kilah Fira sambil berkedip-kedip.
Begitu Fira melihat kembali ke arah Rafi berdiri di sana. Ia tidak menemukan sosok Rafi lagi. Begitu cepatnya Rafi menghilang bagai kilat. Fira memejamkan mata kemudian membuka matanya kembali. Tidak menemukan sosok Rafi lagi.
Daripada Fira memikirkan hal yang tidak-tidak. Wanita berkacamata bening itu mengalihkan pikiran dengan menyuapi Zayn dan Zema. Fira kembali menoleh ke tempat Rafi berdiri. Namun lagi, tidak ada penampakan Rafi.
Fira membatin, "Ya Allah, sosok Rafi barusan, apa cuma halusinasi atau beneran sih? Ya Allah, aku berharap kepada-Mu, semoga kedepannya baik-baik saja."
__ADS_1
Firasat Fira mendadak gelisah dan tidak nyaman saat melihat sosok Rafi di sana. Namun sebisa mungkin Fira menepis firasat tidak nyaman itu dengan berprasangka baik dan berpikir positif. Bibirnya terus bergumam menyebut istighfar hingga asma Allah, supaya bisa meredakan kegelisahan.