
Dua hari kemudian, tepat pada waktu pagi menjelang siang, mobil Elfhard putih berhenti di depan rumah. Rumah yang dihuni oleh Fatih dan keluarga. Dimana tiga anak Fira dan Henry menginap di sini. Seorang supir turun dari mobil, bergegas menuju ke bagasi mobil guna mengeluarkan barang-barang majikannya. Disusul oleh Henry, Fira dan Bryan yang turun dari mobil. Begitu tiga orang ini keluar dari mobil, raut wajah itu terlihat lelah dan sayu.
Perjalanan jauh cukup menguras energi mereka. Mulai dari Kanada, transit ke beberapa negara hingga ke Bandara Soekarno-Hatta menuju ke Bandara Achmad Yani Semarang dan kini tiba di Tembalang. Sudah pasti Henry, Fira dan Bryan sangat lelah.
Namun Fira berusaha menampilkan kesegaran wajahnya saat disambut tiga buah hatinya nanti. Fira sudah mengerti rasa lelah itu akan terobati jika melihat Zayn, Zema dan Alira. Fira merindukan pelukan hangat untuk anak-anaknya. Saking tidak sabarnya, Fira berlari menuju ke teras rumah. Sedangkan Henry dan Bryan masih menata barang bersama supir.
"Kalau begitu saya permisi, Pak Lee," ucap seorang pria setengah baya. Supir yang menjemput Henry, Fira dan Bryan dari Bandara Soekarno-Hatta sampai tiba di sini.
"Sampaikan rasa terima kasih saya ke Kim Jae Young, ya. Karena telah mengirim Anda untuk menjemput saya, istri dan adik ipar saya," ucap Henry.
"Baik, Pak. Akan saya sampaikan ke Pak Kim Jae Young."
"Oh, iya, ini rezeki untuk Anda." Henry lantas menyodorkan sebuah amplop berisi sejumlah uang untuk supir pribadi Kim Jae Young.
Pria itu lantas menunjukkan kesepuluh jarinya, menandakan ia menolak halus pemberian dari Henry. "Maaf, Pak. Kata Pak Kim Jae Young, saya tidak bisa menerima pemberian dari Pak Lee."
"Oh, ya, sudah, kalau begitu. Anda hati-hati di jalan."
"Baik, Pak. Saya permisi pamit, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Supir itu lekas masuk ke dalam mobil. Ia mengemudi mobil menyusuri jalanan, hingga bayang-bayang mobil telah tiada. Henry dan Bryan saling gotong royong membawa koper masing-masing dan juga tas. Dua pria ini tampaknya juga tidak sabar untuk membanting tubuh mereka ke kasur masing-masing.
Di dalam rumah, ketiga anak itu gembira dan antusias menyambut kepulangan papa, mama dan omnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Fira lantas memeluk erat Zayn, Zema dan Alira. Kedua tangan Fira membelai rambut tiga anaknya. Ternyata benar, rasa lelah itu menjadi reda karena obatnya melepas rindu kepada anak-anak. Henry pun mengalami hal seperti Fira. Batinnya seolah sudah terpatri oleh batin tiga anak sambungnya. Rasa rindu mereka kini telah terobati.
"Kangen Mama dan Papa," ungkap tiga anaknya sepenuh hati.
"Mama dan Papa juga kangen kalian," ungkap Henry dan Fira.
Fira merenggangkan pelukan dari ketiga anaknya. Tangan kanannya lantas menyentuh satu per satu dahi Zayn, Zema dan Alira. Suhunya masih terasa panas. Henry pun merasakan demikian.
"Anak-anak Mama bisa barengan gini sakitnya," ucap Fira.
"Kak Zayn duluan, Ma, yang demam dan flu, terus Kak Zayn jail bersin ke Zema dan Alira. Jadi, Zema dan Alira ikut sakit. Kak Zayn nakal!" geram Zema mengadu ke Fira dengan wajah polosnya. Alira mengangguk sambil mengiyakan, bibirnya lantas mengerucut.
"Zayn sudah minta maaf ke adik-adik kok, Ma. Kamu senang, ya, ngadu ke Mama, biar Kak Zayn dimarahi Mama," sela Zayn.
"Enggak ada yang marah sama Zayn. Mama ingin Zayn tidak mengulangi lagi. Kasihan adik-adik, ya." Fira membelai lembut pipi tiga anaknya.
"Kalau anak-anak Papa masih sakit, nanti kita ke dokter lagi, ya," usul Henry.
Anak-anak itu mengangguk. Melihat sang paman berdiri sambil terpejam, tiga bocah itu jadi tertawa. Bryan tampaknya sangat lelah dan lesu, meski sedang membawa koper, tapi ia bisa terlelap walau sedang berdiri.
"Awas Om Bryan, nanti ngiler, kan jorok!" tegur Zayn.
Bryan sontak menggeliat seraya menguap. "Om Bryan capek banget. Om mau tidur ke kamar dulu. Bilangin Tante Ressa dan Nina biar ngurusin barang-barang Om, ya, bye."
Langkah Bryan gontai menuju kamarnya. Berkali-kali ia menguap, pemandangan itu menjadi perhatian tiga keponakannya. Sementara di tengah-tengah keluarga cemara ini, Ratih hadir sembari menyambut putri sulung dan menantunya. Henry dan Fira secara giliran mencium punggung tangan ibunya dengan santun.
"Baru nyampe, Nak," ucap Ratih.
"Soalnya begitu kami tiba di Bandara Soekarno-Hatta, kami istirahat dulu di berbagai tempat, Bu," ucap Henry.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu. Pasti lelah sekali setelah perjalanan jauh."
"Tapi, Zema dan Alira masih pingin sama Mama dan Papa, Nek," protes Zema.
"Anak-anak sama Nenek. Pada minum obat dulu, yuk. Perbanyak minum air putih biar demamnya lekas sembuh. Nanti kalau Papa dan Mama sudah enakan atau enggak capek lagi, bisa main sama kalian," bujuk Ratih.
__ADS_1
"Insyaallah, nanti malam Papa temani kalian main, ya," ucap Henry.
Zayn mengacungkan jempol. "Bener, ya, Pa? Oke, Papa istirahat dulu."
"Bryan mana?" tanya Ratih.
"Bryan sudah tidur duluan di kamar, Bu," jawab Henry.
"Oalah, anak itu. Enggak ngerepotin kalian kan?"
"Alhamdulillah, enggak, justru dianya yang ngenes lihat keromantisan Henry dan Fira, hehehe." Henry cengengesan.
Ratih geleng-geleng kepala sambil tertawa. "Ada-ada saja kalian ini."
"Bapak mana, Bu?" tanya Fira.
"Biasalah Bapakmu itu, kan semenjak pensiun, sukanya perkumpulan Bapak-bapak komplek sama Pak RT," jawab Ratih.
"Oalah, Bapak."
Fira dan Henry membawa koper masing-masing. Untuk saat ini keduanya melepas penat di kamar, setelah melakukan perjalanan jauh, tentu tubuh mereka seperti remuk semua. Di ruangan keluarga, Zema asyik bermain game, Zema bermain mobil-mobilan dan Alira bermain masak-masakan. Ratih mengambil obat untuk ketiga cucunya di kotak P3K.
***
Malam ini Fira kembali segar dan semringah. Buktinya sekarang Fira menyuapi Zema dan Alira di ruang keluarga sambil menonton televisi. Wanita yang mengenakan daster ini begitu telaten dengan gizi anak-anaknya. Fira ingin Zayn, Zema dan Alira kembali sehat. Untung saja sebelumnya Fira sudah terbiasa mengurusi anak sakit secara bersamaan, jadi ia tidak kaget lagi.
Di ruang makan, Zayn justru makan bersama sang papa, nenek, kakek, om dan dua tantenya. Putra sulungnya ini sepertinya akan mengikuti jejak Henry sebagai pengusaha. Karena setiap kali Zayn berbicara dengan papanya, gayanya bak seorang dermawan diimbuhi maskulin. Henry tertawa sambil memperhatikan Zayn yang sepertinya mengidolakan papanya ini.
"Gimana pas kalian di Kanada kemarin?" tanya Fatih.
"Ya, gitu deh, Pak. Bryan melas di sana. Kak Fira dan Henry ini loh gelendotan melulu kayak perangko. Kadang sumuk, kadang pusing dilihatnya," jawab Bryan dengan segala keluhannya. (sumuk \= gerah)
Bryan menyeringai kemudian tertawa. "Wah, jangan bikin aku galau dong. Aku berusaha move on dari Anna nih!"
"Sudah risiko, Bry. Makanya kalau mau liburan ke luar negeri itu sama Bapak-Ibu atau kamu sendiri," ucap Fatih.
"Bapak-Ibu, yo, sama aja. Malah yang nikahnya udah bertahun-tahun itu makin uwu, Pak, Bu. Bapak bisa gandeng Ibu. Henry bisa gandeng Kak Fira. Bryan cuma bisa gandeng koper, oalah dasar aku si joim, jomlo imut," gerutu Bryan.
"Berarti kamu sudah ketemu sama gadis itu?"
"Sudah, Pak. Asyik juga sih jalan sama dia, hehehe. Oalah, iya, Bryan hampir lupa---ada oleh-oleh khas Kanada dari dia. Sik, Bryan ambilkan dulu di kamar."
Bryan beranjak dari duduk. Pemuda bercelana selutut itu berlari menuju ke kamarnya. Fatih dan Ratih melihat putra keduanya sambil geleng-geleng kepala. Antara resah dengan Bryan karena belum lekas menikah, tapi juga Bryan perlu diingatkan soal percintaan.
"Gimana, Hen, perusahaan kamu di sana?" tanya Fatih.
"Alhamdulillah, Pak, semua berjalan lancar. Henry merasa saat menikah dengan Fira ini---ada saja jalan rezekinya. Ternyata benar, janji Allah, sepasang insan yang menikah, insyaallah, dibukakan pintu rezeki," jawab Henry.
"Kamu benar, Nak. Dulu Bapak juga begitu pas menikahi Ibu. Malah dulu bisa dibilang hidup Bapak-Ibu sederhana, masih menetap di kost, itu Bapak-Ibu baru lulus kuliah. Bapak baru cari kerjaan. Alhamdulillah, adanya dukungan dan doa Ibu, rezeki dari Allah itu mengalir tanpa diduga, Nak Henry."
"Masyaallah, kisah Bapak-Ibu luar biasa, apalagi Ibu tetap setia pada Bapak. Perlu dicontoh nih, hehehe."
"Bapak sudah percaya sama kamu. Kamu bisa menjadi kepala keluarga yang amanah, bijaksana, tanggung jawab dan penyayang. Ditambah sekarang anak-anakmu ada tiga, jadi kamu terus belajar menjadi Papa yang bisa jadi contoh baik bagi anak-anak."
"Insyaallah, Pak, Henry selalu menjaga amanah dari Allah berupa istri sholihah dan anak sholih serta sholihah."
"Untuk tahun pertama pernikahan, kamu masih dikasih lihat indah dan mudahnya pernikahan. Kayak lurus aja gitu jalannya. Tapi, waktu terus berjalan, kamu akan diperlihatkan bahkan menghadapi ujian dalam rumah tangga. Entah itu di tahun keempat atau kelima pernikahan, di situ hati suami-istri akan diuji. Bapak-Ibu pernah mengalami ujian, bisa melewati itu semua. Begitu pula Fira punya pengalaman soal itu. Kamu bisa sharing sama istrimu yang sebelumnya pernah menikah itu."
"Henry dan Fira akan terus belajar. Kami masih adaptasi mengenal satu sama lain, meski kami sudah kenal dari dulu. Insyaallah, Henry menikah dengan Fira karena Allah. Karena mengingat, untuk mendapatkan cinta Fira itu tidaklah mudah, maksudnya waktu Fira berstatus janda dulu. Apalagi meyakinkan hati anak-anak supaya Henry dipercaya sebagai Papa mereka."
__ADS_1
"Bapak harap kamu selalu mengingat itu. Apapun masalah dalam pernikahan kalian, selesaikan dengan baik. Jangan mudah mengucap kata pisah, kalian sudah ada tiga anak. Ya, meskipun anak-anak itu ..."
Henry tersenyum. "Anak-anak itu sudah Henry anggap anak sendiri, Pak."
"Alhamdulillah, Bapak bahagia punya menantu sepertimu."
***
Bryan kembali di ruang makan dengan membawa empat paper bag besar. Diletakkannya paper bag tersebut di atas meja makan. Bryan mulai mengeluarkan isi dari paper bag besar.
Oleh-oleh pertama adalah lima botol sirup maple, kemasannya berbentuk daun maple. Oleh-oleh kedua ada dua toples maple cookies atau kue maple, kue tersebut juga berbentuk daun maple, dengan varian rasa berbeda. Terakhir adalah tiga kotak permen maple, bentuknya juga sama seperti kue dan sirup tadi.
Sekeluarga terkesima melihat oleh-oleh yang ditunjukkan oleh Bryan. Apalagi Zayn, Zema dan Alira yang terpanah dengan kue serta permen itu. Wajah tiga bocah itu seakan memburu cemilan berasal dari Kanada. Namun sebisa mungkin mereka menahannya, kecuali jika Bryan menawarkan kepada mereka.
"Ini ada sirup maple, kue maple dan permen maple dari Kanada. Insyaallah, halal dan enak tenan. Padahal belum coba makan," jelas Bryan. (tenan \= sekali / banget)
"Dari siapa itu, Bry?" tanya Fatih.
Bryan menjawab, "dari Anna, Pak, hehehe."
"Bryan di sana sudah ketemu sama orangtuanya Anna, loh, Pak, Bu," sahut Fira.
"Wah, wah, Kak Fira enggak asyik nih. Enggak bisa diajak kerjasama," sahut Bryan.
"Astaghfirullah, Bapak-Ibu enggak ikutan, yo. Bryan sudah dewasa, jadi hadapi sendiri urusan cintamu itu."
"Bryan mengusahakan biar bisa move on dari Anna, Pak. Bryan memutuskan berteman sama Anna. Enggak lebih."
"Kamu belum ungkapin perasaan?"
Bryan menggelengkan kepala. "Belum, Pak."
"Syukurlah, kalau begitu."
Ratih lantas mengambil dua botol sirup maple tersebut. "Yowis, ketimbang debat terus, mending Ibu buatin sirup maple ini untuk kalian. Biar kita minum bersama. Adem rasanya." (ketimbang \= daripada)
Tiga keponakan Bryan mendekati omnya. Bryan sontak tercengang melihat Zayn, Zema dan Alira mendesak dirinya. Enam mata anak-anak itu tampak berkaca-kaca seolah ingin meminta kue dan permen itu. Bryan gemas dengan tiga keponakannya, ia mencubit pipi mereka dengan lembut.
"Sini, Om bagikan kue dan permen tapi cuma beberapa, ya, enggak boleh banyak-banyak. Nanti biar Mama Fira yang simpan di kulkas," terang Bryan. Ia sembari memberikan kue dan permen kepada tiga keponakannya sesuai porsi yang adil.
"Terima kasih, Om," ucap tiga anak itu.
"Terus, ini makanan Zayn gimana? Kok enggak dihabiskan?" tanya Henry.
"Udah kenyang, Pa, hehehe," jawab Zayn.
"Loh, piye, to? Katanya udah kenyang malah makan kue sama permen."
"Ya, kamu habiskan itu sisa makanan Zayn. Belum sah jadi Papa kalau belum ngerasain sisa makanan anak, hahaha," kelakar Bryan.
"Bukannya Mamanya, ya, yang biasanya habisin sisa makanan anak, hahaha," canda Henry. Ia lantas menoleh ke Fira.
Fira lantas menyahut seraya tertawa. "Apa? Aku udah biasa loh, ya, ngabisin sisa makanan anak dari mereka mulai makan diusia enam bulan."
"Tapi, luar biasa, loh, kamu, Fir. Tetap saja langsing."
Malam ini keluarga terasa lengkap. Suasana menjadi berwarna dan hangat dengan berbagai cerita. Rasa penat dan beban hilang begitu saja, ketika berkumpul dengan keluarga. Senyum mekar terpancar dari setiap wajah mereka. Sepertinya pula Zayn, Zema dan Alira mulai pulih dari sakitnya. Dan benar, obat rindu paling manjur untuk anak-anak adalah berkumpul dengan mama dan papanya.
***
__ADS_1
Dukung selalu kisah Energy Of Love dari Famala Dewi (season satu maupun dua) dengan cara like, vote, rate dan komentar. Supaya yang author juga semangat update terbaru. Kalau kamu suka kisah Energy Of Love ini rekomendasikan ke teman-teman, keluarga dan kerabatmu. Jangan lupa klik ikon love jadikan Energy Of Love 2 favorit di rak buku kamu, supaya dapat muncul notifikasi update terbaru. Terima kasih untuk kamu yang selalu mengikuti kisah ini. Saranghae.