Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Perseteruan


__ADS_3

"Ya Allah, ampunilah dosaku, Sabrina dan Mas Kirsandi. Terimalah amal ibadah mereka di sisi Engkau. Pertemukanlah dan persatukanlah mereka berdua di keabadian-Mu," gumam Fira. Ia pilu seraya menyeka air mata dari balik kacamata hitam, di dekat makam Sabrina.


"Aku enggak tega melihat Bu Fira begitu tegarnya menghadapi berbagai ujian. Entah terbuat dari apa hati dan iman Bu Fira? Kalau aku di posisi Bu Fira pasti sudah enggak kuat dan stress berat. Pak Henry beruntung sekali mempunyai calon istri sekuat Bu Fira. Aku harus ngomong ke Pak Henry supaya menjaga Bu Fira seumur hidupnya," gumam Lefia. Ia berdiri sambil menatap Fira dengan rasa terenyuh. Dirangkulnya juga Zayn dan Zema.


Pagi menjelang siang, semua orang berpakaian hitam hadir di peristirahatan terakhir Sabrina. Termasuk Henry, Naomi dan Jae Young. Sementara Alira menangis terisak-isak di pelukan Ratih. Betapa pilunya Alira ditinggalkan oleh ibu kandungnya. Alira masih kecil seakan belum siap jika harus berpisah dengan ibunya secepat ini.


Fira lantas menoleh Alira yang berada di sampingnya, dipeluknya gadis kecil itu penuh kasih. Alira harus kehilangan ibu dan ayahnya di usia yang terlalu dini. Fira ikut merasakan apa yang dirasakan Alira. Terpukul, berduka dan tidak ada semangat.


Di sisi lain Zayn justru menatap rasa tidak sukanya pada Alira. Tatapan juga seolah tidak terima jika mamanya memeluk Alira. Lain halnya dengan Zema, ia turut menangis seolah juga merasakan duka adik tirinya itu.


Zayn mendongak menatap Lefia. "Mbak Lef, Zayn ke mobil aja, ya. Zayn capek!"


"Oh, iya, enggak apa-apa, Mas Zayn. Nanti Mbak Lefia sampaikan ke Mama," ucap Lefia.


"Enggak usah! Mama sibuk dengan anak barunya!" gertak Zayn.


"Eh, astaghfirullah! Enggak boleh gitu. Itukan Adik Mas Zayn juga," tegur Lefia.


"Adik Zayn cuma Zema dan adik dari Mama dengan Om Henry kalau udah nikah!"


"Astaghfirullah." Lefia geleng-geleng kepala sembari mengelus dada mendengar ucapan ketus dari Zayn.


Zayn melangkah pergi. Dua sepatu yang dikenakannya menendang tanah hingga lebur. Zayn sangat gusar pada Alira yang tiba-tiba datang di kehidupannya.


Jika mengingat kembali sekelumit masa lalu, meski dulu Zayn masih kecil, ia tidak sengaja melihat pertengkaran antara Fira dan Kirsandi. Ayahnya dulu jika marah tak jarang melontarkan kata hinaan untuk mamanya. Fira lagi-lagi menangis terluka. Zayn kecil hanya bisa bersembunyi dengan rasa ketakutan.


Zayn kecil melihat bayi Zema tidur di atas kasur. Zayn mempunyai tekad untuk menjaga mama dan adiknya jika sudah dewasa kelak. Diciuminya adik bayi yang tak berdosa itu, kemudian Zayn memeluk bayi Zema penuh kasih sayang hingga tertidur pulas. Zayn sadar dari ingatannya. Ia terus berjalan dengan menghentakkan kaki.


"Zayn enggak membenci Ayah. Cuma Zayn takut jika Ayah marah ke Mama. Pasti Ayah nyakitin Mama ada sebabnya. Penyebabnya Tante dan anaknya itu!" gumam Zayn semakin dongkol hatinya.


***


Usai prosesi pemakaman, semua orang mulai pulang ke kediaman masing-masing. Terkecuali Fira, Alira dan Ratih masih di dekat makam. Masa duka seperti ini, Henry tidak ingin menganggu Fira yang sedang berduka itu. Ia memutuskan pergi bersama Naomi dan Jae Young. Henry terkesan gagah saat berbalut kemeja panjang berwarna hitam. Kulitnya yang putih itu jadi terpancar.


Melihat langkah kepergian Henry, Lefia lantas menggendong Zema. Lefia dengan sekuat tenaga berlari menyusul Henry, Naomi dan Jae Young. Zema keheranan melihat raut wajah Lefia yang tampak tegang itu. Namun Zema juga senang karena akan bertemu dengan calon papa sambungnya.


"Pak Henry!" teriak Lefia.


Henry lantas berbalik badan dan menoleh Lefia. "Oh, Lefia. Ada apa, Lef?"


"Huft, huft, sekedap Pak, saya atur napas dulu!" Lefia menurunkan Zema dari gendongannya. (sekedap \= sebentar)

__ADS_1


Naomi dan Jae Young juga turut menghentikan langkah. Zema berlari kecil menghampiri Henry. Henry menyambutnya dengan gembira dan mengelus pipi bakal putra sambungnya itu. Dibelainya rambut Zema hingga anak itu tertawa kecil.


"Om Henry sama Zema aja di sini. Sambil nungguin Mama, ya," ucap Zema.


"Ya, sudah, kalau Zema mintanya begitu," ucap Henry menyetujui permintaan Zema.


"Zema boleh manggil Om Henry itu Papa, enggak?"


"Masyaallah, gemes banget, sih, Zema!" geram Naomi melihat keimutan Zema saat mengucapkan seperti itu.


"Boleh, boleh banget! Om Henry jadi bahagia kalau Adik Zema manggil Papa," jawab Henry kepada Zema.


"Asyik! Zema peluk Papa, ya. Soalnya Zema belum pernah ngerasain dipeluk sama Papa." Zema lantas memeluk Henry dengan erat layaknya anak dan papanya.


"Papa sayang Zema dan Kakak Zayn." Henry membalas pelukan bakal putra sambungnya itu penuh kasih sayang.


Zema merenggangkan pelukan dari Henry. "Kok cuma Zema dan Kak Zayn. Kan sekarang ada Adik Alira. Tuh Adik Alira sama Mama. Zema juga mulai sayang sama Adik Alira."


"Insyaallah, Papa akan belajar meneriman Adik Alira, ya."


"Nah, gitu dong, Pa. Jangan kayak Kakak Zayn yang enggak suka Adik Alira, ya!"


Henry mengangguk-angguk sambil tersenyum. Naomi dan Jae Young juga tersenyum melihat keakraban Henry dan Zema. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Naomi bergegas mengambil gawai dari dalam tas, kemudian ia memotret momen keakraban Henry dan Zema. Rasanya Naomi tidak sabar melihat Henry berkumpul dengan keluarga kecilnya nanti.


Henry berdiri tegap seraya menggandeng tangan Zema. "Katakanlah, Lefia!"


"Saya ingin jenengan terus mencintai dan menjaga Bu Fira dan anak-anaknya. Kalau jenengan tahu, selama saya berkerja dengan Bu Fira, waktu pertama kali Bu Fira merintis salonnya. Bawaannya pengen nangis terus, Pak. Enggak tega lihat Bu Fira pontang-panting kerja demi keluarga. Belum lagi mendapat ujian yang enggak disangka-sangka. Terus dapat cibiran orang lain, yang memandang sebelah mata seorang janda. Padahal Bu Fira itu orangnya baik dan bisa menjaga diri. Kalau Pak Henry menikahi Bu Fira, saya tolong banget cintai Bu Fira setulus hati Bapak," ungkap Lefia. Ia berderai air mata jika mengingat perjuangan Fira menata masa depan untuk anak-anak maupun keluarganya.


Henry, Naomi dan Jae Young jadi terenyuh sekaligus menitikkan air mata mendengarkan ungkapan Lefia yang begitu jujur. Henry melirik Fira dari kejauhan. Ia juga tahu dari dulu Fira adalah wanita kuat dalam menghadapi ujian. Sampai Fira punya trauma dengan rumah tangga sebelumnya, tapi Fira tetap berdiri kokoh menjadi wonder mom untuk kedua anaknya.


"Kalau Bu Fira marah-marah atau galak itu wajar. Pak Henry harus bisa menerima. Soalnya marah atau galaknya Bu Fira karena lagi capek, sensitif atau untuk kebaikkan," sambung Lefia, "Pak Henry, belum tahu, to, galaknya Bu Fira?"


"Saya malah sudah tahu galaknya Fira. Waktu dulu ketemu sama Fira di lapangan bola. Saya masih SMA," ucap Henry.


"Oalah, iya, to. Wah, saya belum tahu sebenarnya kisah kalian."


"Insyaallah, saya mencintai dan menjaga Fira serta anak-anaknya. Mereka bakal jadi bagian keluarga saya."


"Saya doakan dilancarkan pernikahan Pak Henry dengan Bu Fira. Menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah."


"Aamiin yaa rabbal alamin."

__ADS_1


***


Henry, Naomi, Lefia dan Jae Young menunggu Fira di sisi mobil milik Fira. Zayn dan Zema tertidur pulas di bagian tengah mobil. Ratih dan Fira berjalan menuju mobil. Fira menggendong Alira sembari menciumi pipinya. Fira melihat Henry. Begitu juga dengan Henry. Dua sejoli ini saling tersenyum. Hati Henry bertambah cinta kepada Fira dengan sikap keibuan Fira.


Namun ketika Fira hampir dekat dengan mereka, lengan kanan Fira tiba-tiba dicengkeram oleh Rafi. Henry terbelalak melihat kehadiran Rafi secara tiba-tiba. Fira tak kalah terbelalak dengan kedatangan Rafi. Tatapan Rafi kepada Fira tampak tajam. Pria yang lama bersahabat dengan Fira itu tersenyum menyeringai, seakan ia menang telah bertemu dengan Fira.


Api cemburu dalam hati Henry lantas membara. Pandangannya berang mengarah ke Rafi. Padahal Henry sudah memberi peringatan kepada Rafi. Namun sepertinya Rafi bebal dengan peringatan dari Henry. Henry bergegas lari menuju ke Rafi. Kalau saja tidak dalam keadaan duka, ingin rasanya Henry menghajar Rafi tanpa ampun.


Ratih mencoba melepaskan cengkeraman Rafi kepada Fira. Namun Rafi semakin kuat mencengkeram lengan Fira. Padahal posisi Fira sedang menggendong Alira. Fira merasakan kesakitan akibat cengkeraman Rafi. Rafi seakan tidak peduli dengan sekitar. Ia terus menatap Fira dengan nanar.


Kedatangan Henry di tengah Rafi dan Fira agaknya bisa mencairkan suasana. Henry dengan santun mengarahkan Ratih itu untuk membawa Alira ke mobil. Ratih mengambil Alira dari gendongan Fira.


Henry mencengkeram kuat tangan Rafi. Sekuat energi Henry memaksa supaya Rafi melepaskan cengkeraman di lengan Fira. Henry berhasil membuat Rafi melepaskan cengkeraman di lengan Fira. Rafi merintih kesakitan sebab cengkeraman Henry seakan sedang menghajarnya.


"Jangan sentuh, Fira!" tegur Henry. Ia menatap sinis Rafi.


"Fira itu sahabatku!" gertak Rafi.


"Kamu dan Fira bukan anak kecil lagi! Aku, kamu dan Fira juga punya batasan! Kalau kamu menyentuh Fira, orang lain mengira Fira janda tidak tahu diri. Padahal kamu sendiri yang nekat menyentuhnya, walaupun lengan saja! Inilah yang membuat janda sebaik Fira dan lainnya dipandang sebelah mata orang lain," hardik Henry.


Rafi tersulut emosi itu lantas menarik kerah kemeja Henry secara kasar. "Kenapa kau selalu menghalangiku dengan Fira? Harusnya kau hengkang dari kehidupanku dan Fira!"


"Sudah! Sudah! Padahal aku tidak ingin ada keributan di antara kalian! Kamu juga Raf, udah tahu ini momen duka, kamu malah ke mari," hardik Fira.


"Aku cuma mau ketemu sama kamu, Fira!" geram Rafi.


"Tapi, ini momen enggak pas. Kan bisa lain waktu. Lagi pula aku juga enggan bertemu denganmu."


"Kamu sudah lupa dengan apa yang aku korbankan untukmu?"


"Aku masih ingat dan aku berterima kasih padamu. Jadi, kamu pamrih?"


"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Itu saja, tidak minta banyak!"


"Sekarang sudah ketemu aku kan? Jadi, kamu mau bicara apa? Katakan!"


"Ada Henry, pemandangan jadi rusak karenanya!"


"Henry sebentar lagi menjadi suamiku. Jadi wajar aku dan Henry selalu bersama. Dan lagi, aku akan menikah dengan Henry, kami berkomitmen untuk saling terbuka." Fira menegaskan lagi kepada Rafi.


Rafi bungkam. Fira merasa tidak perlu ada yang diperpanjang. Fira membuka kacamata hitamnya. Ia memberi isyarat kepada Henry melalui indera penglihatan untuk meninggalkan Rafi. Henry mengiyakan isyarat yang ditunjukkan Fira.

__ADS_1


Sesak sudah dada Rafi melihat perubahan sikap Fira terhadap dirinya. Wanita yang selama ini dicintainya mengabaikan kehadirannya. Rafi mengepal kuat tangannya, menahan emosi dan cemburu.


Fira dan Henry sudah berada di dalam mobil masing-masing. Rafi sendirian di pemakaman umum itu, tak kuasa ia membendung tangisnya. Betapa sakitnya diabaikan seorang yang pernah dekat dengannya sejak kecil itu.


__ADS_2