Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Marry You


__ADS_3

Ketika Fira berjalan di ruang tengah, ia melihat Bryan sedang memakai sepatu. Wanita itu menilik dari kemeja merah marun yang dikenakan Bryan. Tidak biasanya Bryan segagah dan serapi ini. Fira yang penasaran pun menghampiri adik laki-lakinya.


Bryan menyadari kakaknya ada di belakang. Pemuda itu lantas berdiri di hadapan Fira. Bryan cengengesan sembari menggaruk tengkuk saat berhadapan dengan Fira. Sementara Fira melihat adiknya penuh keheranan.


"Kamu mau ke mana, Bry?" tanya Fira.


"Eh, Kakak. Sebenarnya Bryan enggak enak ngomong gini ke Kakak, tapi Bapak dan Ibu sudah tahu kok," jawab Bryan.


Fira mengernyit dahi. "Maksudnya?"


"Di saat Henry hilang dan Kak Fira sedih, Bryan malah membuat momen spesial. Jadi Bryan enggak enak ngomong ke Kakak."


"Ya, momen spesial itu gimana? Kedai kopi kamu lagi ada syukuran gitu? Atau yang lain?"


"Emm, insyaallah, malam ini Bryan mau melamar Anna, Kak. Maafin Bryan, ya, Kak."


"Lah, kirain apa? Kenapa minta maaf sama Kakak? Enggak apa-apa kali, Bry. Kakak bahagia kalau lihat adik laki-laki Kakak ini jadi pria dewasa dan ada kemajuan. Lagi pula Anna sudah mualaf, kalau kalian jodoh pasti ada jalannya."


Fira menepuk pundak Bryan untuk menyemangati adiknya, kemudian kakak adik ini saling berpelukan. Fira bahagia karena Bryan memiliki iktikad baik untuk melamar kekasih hati. Meski di tengah kesedihan, tapi Fira sesekali ingin gembira atas hari kebahagiaan Bryan. Kakak beradik itu melepaskan pelukan. Fira antusias merapikan rambut Bryan agar lebih tampan dan berwibawa.


"Tunggu, tapi Anna atau orangtuanya sudah tahu kalau kamu mau melamarnya?" kata Fira.


"Alhamdulillah, Bryan sudah minta restu orangtua Anna dan Papa Mama Anna merestui kami. Kata Papa Mama Anna, Anna juga jatuh cinta sama Bryan, tapi Bryan enggak mau kege-eran dulu, Kak. Anna belum tahu kalau Bryan hendak melamarnya. Malam ini tepat di depan Balai Kota Toronto, insyaallah, akan menjadi saksi bisu kisah cinta Bryan dan Anna," jelas Bryan.


"Adikku ini harus semangat berjuang!"


"Harus itu, Kak!"


Seluruh keluarga hadir di tengah-tengah Fira dan Bryan. Wajah haru dan bahagia terpancar dari Ratih dan Fatih. Kini putra keduanya akan memperjuangkan cinta menuju ke jenjang lebih serius. Bryan lantas berpelukan dengan kedua orangtuanya. Dari sudut mata Bryan menitikkan air mata. Ia bersyukur pada akhirnya Ratih dan Fatih merestui hubungan antara Bryan dan Anna.


Bryan, pemuda yang selama dua puluh enam tahun belum pernah jatuh cinta kepada gadis manapun, kini ia telah merasakan jatuh cinta pandangan pertama kepada Anna. Bryan yang tidak tertarik menjalin hubungan seperti pacaran, ia lebih memilih fokus pada pendidikan dan karier, kini serius untuk meminang seorang gadis Kanada.


Bryan melepas pelukan dari kedua orangtuanya. Fatih menepuk pundak anak laki-laki satu-satunya itu, tidak menyangka jika putranya kini telah menjadi pria dewasa dan tangguh.


"Alhamdulillah, Mas Bry, akhirnya menemukan jodohnya di Kanada. Wis Mas Bryan enggak dikira jeruk makan jeruk lagi, hehehe," canda Lefia.


"Iya-ya, Lef, saking Bryan lama jomlo, hehehe. Alhamdulillah, Bryan sukses jadi jomlo dari lahir, hahaha," kelakar Bryan.


"Bu Fira dapat jodoh orang Korea Selatan. Mas Bryan insyaallah dapat jodoh orang Kanada. Masyaallah, keturunan kalian nanti jadi blasteran pasti bagus-bagus. Kalau saya dan Mas Irwan Jawa tulen, hehehe," puji Lefia.


"Yang penting keturunan yang sholih dan sholihah, Lef. Kamu juga semangat punya keturunan," ucap Fira.


"Saya dan Mas Irwan masih santai, Bu Fira. Kalau dikasih momongan cepat, alhamdulilah. Kalau belum, ya, ikhtiar dan doa lagi. Soalnya saya udah sayang sama Mas Zayn, Zema dan Dik Alira. Mereka juga kayak anak saya sendiri."


Bryan menyela, "ya, sudah, kalau begitu Bryan berangkat dulu. Khawatir Anna sudah menunggu Bryan di sana."


"Jangan lupa pakai coat tebal, Bry. Soalnya suhu di luar cukup dingin," ujar Fira.


"Udah Bryan siapin coatnya. Assalamu'alaikum semuanya!" seru Bryan. Pemuda itu bergegas mengenakan coat hitam kemudian melambaikan tangan kepada keluarganya.


Mereka menjawab salam Bryan dengan serentak. "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


***


Bryan berlarian ke sana dan ke mari di antara kerumunan orang. Ia sambil celingak-celinguk mencari sosok gadis yang telah menjadi mualaf. Pemuda tampan itu sudah tiba di depan Balai Kota Toronto. Bryan agak kesulitan mencari keberadaan Anna karena terhalang oleh pengunjung di Balai Kota Toronto tersebut.


Dua kaki Bryan yang menggunakan sepatu pantofel berhenti seraya mengatur napas yang tergopoh-gopoh. Karena malam ini ia terlalu bersemangat untuk melamar Anna. Namun di sisi lain, jika Bryan melihat kalimat Toronto dihiasi lampu terang, ia jadi ingat waktu liburan bersama Fira dan Henry. Bryan diam-diam juga merindukan kakak iparnya tersebut. Betapa baik dan serunya memiliki kakak ipar yang usianya selisih setahun dengan Bryan.


"Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, sampai aku belum bisa bantu Kak Fira untuk mencari Henry. Insyaallah, setelah aku melamar Anna dan lamaranku diterima, aku akan membantu mencari Henry," ucapnya penuh tekad.


"Loh, kamu bukannya adiknya Bu Fira, ya?" Tiba-tiba suara laki-laki itu membuat Bryan terkejut, hingga Bryan berbalik badan.


"Oh, kamu, to, Lucky. Saya kira siapa?" kata Bryan.

__ADS_1


"Ngapain Mas Bryan di sini? tanya Lucky.


"Saya mau kasih kejutan ke seseorang, hehehe," jawab Bryan.


Bryan melihat Lucky sedang membawa sebuah gitar. Ia menilik Lucky dari ujung rambut hingga ujung sepatu, seolah Bryan punya ide sesuatu supaya malam ini terkesan romantis. Di sisi lain, Lucky justru keheranan dilihat oleh Bryan, seperti ada keanehan pada dirinya di mata Bryan.


"Ada apa, Mas? Kok lihat saya kayak gitu?" tanya Lucky.


"Saya bisa minta tolong sesuatu kah?" Bryan berbalik tanya.


Lucky menggaruk kepala walaupun tida gatal. "Minta tolong apa?"


"Malam ini kamu pasti mau konser sederhana sama band-mu kan? Aku ingin malam ini kamu dan band-mu bawaan lagu spesial untuk saya dan seseorang yang akan saya lamar," jelas Bryan.


"Oh, saya tahu, pasti Mas Bryan mau melamar seorang gadis, ya," goda Lucky.


"Ya, iyalah lamar seorang gadis, masa laki? Memangnya tampang saya kayak jeruk makan jeruk, ya?"


"Hahaha, efek jomlo kelamaan kayaknya Mas. Bercanda doang. Oke, siap!"


"Nanti saya kasih kamu dan band-mu bayaran, ya."


"Wah, enggak usah, Mas. Kami sih menghibur saja udah cukup."


"Anggap saja bayaran dari saya buat pengobatan Kakakmu. Kata Kak Fira, Kakakmu lagi operasi wajah."


Lucky bergumam, "andai Mas Bryan tahu soal seseorang yang sekarang sudah melewati operasi wajahnya."


"Hei, kok kamu melamun?" Bryan lantas menepuk bahu Lucky, hingga Lucky sadar dari lamunan.


"Saya dan anak band siap-siap dulu, Mas."


"Oke, Lucky!"


Beberapa menit kemudian, Anna berdiri tepat di hadapan Bryan. Bryan sontak terkesima dengan kehadiran sosok gadis yang dicintainya. Seketika jantung Bryan berdetak kencang dan sepasang matanya tidak berkedip. Bryan masih tidak menyangka jika Anna kini berpakaian muslimah, lengkap dengan hijab, menambah keanggunan Anna.


"Assalamu'alaikum, Bryan. Sebab kita lama tidak berjumpa, kamu jadi canggung, ya, Bryan," ucap Anna.


"Wa'alaikumsalam, Anna, hehehe, bisa jadi seperti itu," ujar Bryan. Sejenak ia menghela napas hingga ada asap yang keluar dari mulut Bryan sebab saking dinginnya suhu di Toronto.


"Sebentar lagi menuju ke musim dingin, jadi wajar jika malam ini begitu dingin. Apa kamu ingin minum kopi atau cokelat panas?"


"Sebenarnya saya ingin berbicara sesuatu kepadamu, Anna."


"Tentang apa?"


"Saya masih terkesima melihatmu hijrah menjadi mualaf."


"Sejak lama saya ingin memeluk Islam tapi tahun ini hati saya baru mantap dan terketuk hidayah. Alhamdulillah, saya banyak menemukan teman-teman muslimah yang membuat saya semangat menjadi mualaf," terang Anna.


"Aku turut bahagia. Emm, Anna, bisakah kita menyaksikan konser di sana?"


"Oh, kamu suka dengan Lucky Band?"


"Tidak. Hanya saja saya kenal dengan Lucky. Dia guru bimbingan belajar untuk tiga keponakan saya."


Bryan mempersilakan Anna untuk jalan terlebih dahulu. Selagi belum banyak kerumunan, Anna dan Bryan bisa leluasa berjalan. Sementara Bryan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku coat. Lagi-lagi ia tidak sabar untuk segera mengungkapkan iktikad baiknya melamar Anna.


***


Walaupun Lucky sebagai gitaris, ia juga vokalis. Sedangkan teman band lainnya memainkan alat musik lain. Anna dan Bryan menikmati lagu yang dibawakan oleh Lucky. Lagu yang dinyanyikan oleh Lucky berjudul tanya hati, lagu ini sempat terkenal dan dinyanyikan oleh Pasto, grup musik asal Indonesia. Seluruh orang yang berkunjung di sana juga menikmati lagu yang dinyanyikan oleh Lucky, meskipun Lucky menyanyikan lagu tersebut berbahasa Indonesia.


Bryan melihat sekitar, di sana pengunjung semakin ramai berdatangan. Kebetulan ia dan Anna berdiri di paling depan. Namun seketika Bryan dikejutkan saat Lucky berhenti bernyanyi. Lucky sejenak berdehem untuk mempersiapkan bicara sesuatu di mikrofon. Bryan tidak menyangka ini di luar konsep, ternyata Lucky peka terhadap momen romantis antara Bryan dan Anna.

__ADS_1


"Good night all. Tonight we will witness a romantic moment between Brother Bryan and his girl," ungkap Lucky. (Selamat malam semuanya. Malam ini kita akan menyaksikan momen romantis antara saudara Bryan dan gadisnya.)


Mendengar nama Bryan disebutkan, Anna lantas menoleh ke arah Bryan. Sementara Bryan hanya cengengesan. Ia semakin salah tingkah tapi sebisa mungkin ia memberanikan diri untuk melamar Anna.


"What moment?" tanya Anna. (Momen apa?)


Dengan tegas, Bryan menjawab, "Anna Lichia, a few days ago I came to your house. I ask for the blessing of your parents. I fell in love with you for a long time. Will you marry me?" (Anna Lichia, beberapa hari yang lalu saya datang ke rumah Anda. Saya meminta restu dari orang tua Anda. Saya sudah lama jatuh cinta padamu. Maukah Anda menikah dengan saya?)


"Masyaallah, secepat ini?" Anna lantas menutup mulutnya dengan tangan karena saking terkejutnya.


"Saya memang tidak ingin lama-lama apalagi pacaran. Jika saya jatuh cinta itu sama dengan saya serius menjalin hubungan hingga ke pernikahan. Namun jika kamu belum siap, saya tidak bisa memaksa."


Bryan mengeluarkan sebuah kotak merah dari saku coat. Anna semakin terkesima dengan momen mendebarkan hati ini. Rasanya gadis berdarah Kanada itu tidak mampu mengucapkan apapun. Pipinya seketika jadi ranum karena tersipu-sipu.


Anna tertegun karena pemuda yang awalnya ia temui di kedai kopi di Temanggung. Pemuda yang memperkenalkan berbagai variasi kopi. Pemuda yang minum kopi bersamanya. Kini secara kasat mata, pemuda itu telah meminang Anna untuk diperistri. Semua orang yang menyaksikan terharu sekaligus bahagia melihat momen yang terbawa perasaan ini.


"How do you answer, Miss Anna?" tanya Bryan. (Bagaimana jawaban Anda, Nona Anna?)


"Ah, emm, I'm, eee. Ya, I want to marry you, Bryan," jawab Anna meskipun terbata-bata karena salah tingkah.


Saking bahagianya, Bryan berteriak, "alhamdulillah! I'm getting married, guys! Wow, this is amazing!"


Pengunjung yang menyaksikan momen romantis tersebut seketika bersorak gembira sambil bertepuk tangan atas diterimanya lamaran Bryan kepada Anna. Lucky turut bahagia melihat momen yang menyentuh hati itu. Lucky dan band-nya kemudian mempersembahkan lagu marry you yang dipopulerkan oleh Bruno Mars untuk menyambut dua sejoli yang akan melangkah ke pernikahan.


It's a beautiful night, we're looking for something dumb to do


Hey baby, I think I wanna marry you


Is it the look in your eyes, or is it this dancing juice


Who cares baby, I think I wanna marry you


Well I know this little chapel on the boulevard


We can go


No one will know


Oh, c'mon girl


Who cares if we're trashed


Got a pocket full of cash we can blow


Shots of Patron


And it's on girl


Don't say no, no, no, no no


Just say yeah, yeah, yeah yeah, yeah


And we'll go, go, go go, go


If you're ready, like I'm ready


Bryan menyerahkan sebuah kota merah kepada Anna. Anna menerima kotak itu dengan malu-malu. Gadis bermata cokelat itu berkaca-kaca melihat cincin perak putih di kotak merah. Cincin perak putih bukti keseriusan Bryan mempersunting Anna.


Anna memakai cincin itu sendiri, karena ia menyadari antara dirinya dengan Bryan kini belum resmi menikah, jadi belum halal untuk bersentuhan tangan. Cincin lamaran itu telah melingkari jari manis Anna. Bryan tidak kalah berkaca-kaca melihat gadis pujaannya kian cantik memakai cincin itu.


Walaupun hati dalam keadaan berbunga-bunga karena lamarannya diterima oleh Anna, tapi ia tidak berani memeluk Anna. Bryan juga menyadari Anna belum halal baginya. Bryan harus sabar beberapa hari kemudian, hingga pernikahannya dengan Anna di depan mata. Yang harus Bryan siapkan saat ini adalah latihan mengucapkan ijab kabul. Dua sejoli yang baru saja menyatakan keseriusan, juga perlu persiapan menuju pernikahan.


Balai Kota Toronto menjadi saksi bisu kisah cinta Bryan dan Anna. Air mancur seakan turut bahagia dengan momen malam ini. Bulan purnama, bintang dan terang lampu di balai kota juga menghiasi momen lamaran Bryan dan Anna. Cinta keduanya yang selama ini terpendam dalam hati menjadi nyata hingga melangkah ke jenjang pernikahan.

__ADS_1


***


Gimana dengan alur ceritanya kali ini? Makin seru, ya? Nah, supaya kisahnya makin baper, seru dan bermakna, ayo dukung novel ini. Dengan like, komentar, vote dan rekomendasikan novel Energy Of Love ke orang-orang terdekat kalian maupun sosial media kalian. Ayo dukung author! Supaya author semakin semangat berkarya.


__ADS_2