Energy Of Love 2

Energy Of Love 2
Energi Cinta


__ADS_3

Energi cinta menyatukan dua sejoli yang pernah terpisah oleh jarak. Energi cinta menyatukan dua sejoli yang mulanya belum mencintai hingga saling mencintai. Energi cinta bermekaran di musim gugur di Kanada.


***


Dua hari setelah insiden menegangkan, Fira hanya diperbolehkan baring di kasur. Kondisi Fira masih menurun, apalagi ia sedang mengandung jadi dokter menyarankan agar istirahat penuh sampai benar-benar pulih. Insiden tersebut membuat Fira masih terkejut, stress dan takut. Lefia dan Ratih bergantian untuk merawat serta menjaga Fira di hari yang berbeda.


Zayn, Zema dan Alira belum diperkenankan membesuk mamanya. Sebab setelah kejadian itu, Fira jadi pendiam dan murung. Baru kali ini ia berhadapan dengan pertikaian mengerikan antara Rafi dan Sultan. Jika Fira mengingat suara tembakan, ia merintih ketakutan. Selain butuh dokter kandungan, Fira juga butuh psikologis dan psikiater.


Hari ini Lefia yang menjaga dan merawat Fira. Wanita berjilbab instan itu menyuapi Fira dengan bubur dan sayur. Lefia iba melihat bosnya yang diterpa ujian bertubi-tubi. Terkadang kesuksesan belum tentu menjamin hidup terlepas dari ujian dan rintangan. Itulah hidup di dunia akan berhadapan dengan ujian. Jika ingin lulus dari ujian dunia, kelak nanti ketika kita di surga-Nya.


Fira dan Henry memang sukses dalam duniawi, namun pernikahan keduanya diuji dengan kehadiran Rafi dan Sultan yang berusaha memisahkan Fira dengan Henry. Kisah cinta Fira dan Henry juga pernah jadi gunjingan netizen yang tidak suka dengan status Fira sebelumnya, yaitu janda dua anak. Sebelum menghadapi ujian sekarang, Fira pernah diuji saat menikah dengan Kirsandi hingga menjanda.


"Yang buat saya salut dengan Bu Fira, walaupun di hadapkan pada ujian, beliau masih teguh iman kepada Allah. Seberat apapun masalahnya, pasti Bu Fira ingat salat dan berdzikir," batin Lefia.


"Betapa bersyukurnya Pak Henry menikahi Bu Fira. Bu Fira sudah sayang keluarga, sukses, setia dan taat agama. Memperkerjakan orang-orang dengan baik. Beliau tidak segan-segan membantu orang yang membutuhkan. Bu Fira dan Pak Henry sama-sama pengusaha muslim yang tetap rendah hati," sambungnya.


"Barangkali Allah masih menolong beliau karena selama ini beliau selalu membantu orang dan menyantuni anak yatim piatu. Saya betah bekerja dengan Bu Fira bukan karena gaji yang besar yang saya dapatkan, tapi saya jadi punya keluarga kedua. Zayn, Zema dan Alira juga sudah seperti anak-anak saya. Bu Fira bukan hanya bos, tapi sahabat yang mau mendengar curahan hati saya."


"Saya sudah kenyang," kata Fira. Suaranya serak basah.


"Enggeh, Bu," ucap Lefia. (Iya, Bu.)


Lefia meletakkan piring di meja, kemudian mengambil dua macam obat dan segelas air putih. Fira satu per satu mengkonsumsi obat kemudian meneguk segelas air putih. Setelah itu, Fira merebahkan diri miring ke kiri. Lefia memijat lembut punggung Fira. Sepasang mata sayu Fira mulai terpejam.


"Mbak Lefia." Suara bisikan itu dari Lucky di sela-sela pintu kamar yang sedikit terbuka. Lefia yang sedang memijat Fira lantas menoleh ke belakang.


"Lucky, ada apa?" lirih Lefia. Ia tidak ingin karena suaranya mengganggu Fira tidur.


Lucky melambaikan tangan supaya Lefia menghampirinya. "Sini sebentar."


Lefia melirik ke Fira yang ternyata sudah tertidur pulas. Dengan langkah mengendap-endap, Lefia keluar dari kamar VIP tempat Fira di rawat khusus. Saat sudah berada di luar kamar, wanita dengan balutan gamis motif bunga itu tercengang melihat Lucky dan seorang pria yang duduk di kursi roda. Wajah pria itu masih berbalut perban putih, tapi mata, hidung dan bibirnya terlihat.


"Loh, ini Kakaknya sampeyan?" ucap Lefia.


"Sebenarnya ini bukan Kakakku, Mbak Lef. Aku buat alasan Kakakku supaya bisa membiayai operasi wajah beliau. Hari ini ingin beliau ingin bertemu dengan Bu Fira. Aku juga ingin menjelaskan sesuatu," jelas Lucky.


"Tapi, kondisi Bu Fira sekarang sedang down. Bu Fira stress karena masih mengingat kejadian dua hari yang lalu."


"Saya yakin dengan kehadiran saya, Fira kembali membaik. Fira pasti sedang butuh dukungan saya. Masa mau ketemu istri sendiri enggak boleh?" sela Henry.


Lefia lantas melongo. "Masyaallah, ja-jadi ini Pak Henry, to?"


"Iya, ini saya Henry. Saya sudah rindu Fira dan calon anak saya." Henry tersenyum di balik lilitan perban.


"Alhamdulillah, ini kabar bahagia. Ya Allah, saya sampai nangis kalau mengikuti kisah Pak Henry dan Bu Fira. Monggo, Pak, masuk ke dalam kamar. Bu Fira pasti bahagia sekali." (Monggo \= silakan)


Lefia membuka pintu untuk Henry. Sementara Lucky mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh Henry. Meskipun wajah Henry berbalut perban, auranya bahagia karena rindunya terobati dengan bertemu belahan jiwanya.


Lucky menghentikan rem kursi roda yang ditumpangi oleh Henry tepat di hadapan Fira. Tangan kanan Henry pelan-pelan membelai lembut jilbab yang dikenakan Fira hingga pipi sang istri. Ada getaran energi cinta dalam hati Henry. Di sisi lain, Henry merasa bersalah karena tidak melindungi Fira dari bahaya. Justru Rafi yang melindungi Fira dari jeratan Sultan.


Henry jadi ingat untuk kedua kalinya Rafi menyelamatkan Fira yang membahayakan nyawanya. Pertama, ketika Rafi menyelamatkan Fira dari kecelakaan maut di Malaysia, kemudian Rafi bersedia mendonorkan darah untuk Fira. Kedua, kejadian sekarang ini, Rafi harus mengalami luka tembak akibat tembakan dari Sultan.


"Pak Henry, apa saya dan Lucky keluar dulu?" kata Lefia.


"Iya, biarkan saya dan Fira berdua di sini," ucap Henry.


"Kalau ada apa-apa panggil kami, ya, Mas," ujar Lucky.


Henry lantas mengangguk. "Oke, siap."


***


"Sayang, aku ada di sini," bisik Henry. Ia berbisik di hadapan Fira.

__ADS_1


Mendengar bisikan dari sang suami, Fira perlahan membuka dua mata. Pandangan Fira masih samar-samar melihat sosok pria yang wajahnya berbalut perban. Sejenak Fira memijat kepala yang merasa pusing. Namun ketika Fira hendak beranjak, Henry menahan Fira supaya tidak perlu duduk.


"Kamu tiduran aja. Kamu masih sakit," ucap Henry.


"Kamu itu Kakaknya Lucky, kan?" kata Fira.


"Hehehe, bukanlah. Masa enggak kenal sama suaraku? Hayo, kamu tega sama aku," goda Henry.


Fira lantas terbeliak dengan mata berkaca-kaca. "Ya Allah, He-Henry?"


Henry membelai lembut pipi Fira. "Iya, sayang."


"Aku ingin peluk kamu, tapi kondisi kita lagi kayak gini."


"Untuk sementara kita tahan dulu buat pelukan. Ya, walaupun kita saling rindu."


"Aku kangen kamu, Henry."


Dua sejoli yang ditakdirkan jodoh itu saling menggenggam tangan dengan erat sebagai pengganti pelukan. Fira tidak menyangka jika sosok pria dengan wajah berbalut perban itu adalah suaminya. Pantas saja ketika Fira melihat sosoknya batinnya tersentuh.


"Kalau tahu gini, dari kemarin aku ingin menjagamu di kala sakit. Aku tuh kayak ngerasa itu kamu. Selama ini aku mencarimu. Aku yakin kamu masih hidup," ungkap Fira.


"Harusnya aku yang minta maaf kalau aku belum bisa melindungimu dari marabahaya. Aku justru jadi suami yang tidak berdaya di kala istriku sedang terancam," ujar Henry.


"Enggak perlu minta maaf, Henry. Aku justru paham posisimu sekarang. Kamu pasti bisa sembuh. Aku tetap mencintaimu saat kondisimu seperti ini."


"Kamu juga sembuh, ya, sayang. Biar kita bisa kumpul lagi, ditambah ada adik bayi di rahimmu." Henry lantas mengelus perut Fira.


"Aku jadi ada energi lagi saat bertemu denganmu. Terus kondisi wajahmu gimana?"


"Alhamdulillah, kondisi wajahku proses pemulihan, walaupun enggak seganteng dulu."


"Yang penting aku tetap cinta kamu."


Henry dan Fira saling menatap penuh cinta. Jika tidak terhalang oleh sakit masing-masing, mungkin keduanya akan berciuman. Namun untuk sementara waktu, dua sejoli itu menahan diri untuk bermesraan. Yang tadinya Fira lemas dan lunglai, sekarang ada Henry, ia jadi mulai semangat menjalani hidup. Fira telah menemukan separuh napasnya, yakni Henry. Rindu yang bersemai di hati, kini terobati dengan saling bersua.


"Alhamdulillah, aku udah ketemu Papi dan Mami. Papi sekarang menjalani terapi supaya beliau pulih kembali. Aku kemarin udah lihat Rafi sedang dirawat di ruang isolasi, kata dokter, Rafi mengalami pendarahan. Enggak tahu sekarang gimana kondisi Rafi," terang Henry.


"Ternyata Rafi dan Sultan yang membuat siasat untuk membunuhmu," geram Fira.


"Tapi, Rafi sudah menolongmu dari Sultan. Itu yang aku syukuri, karena Rafi masih punya hati nurani walaupun demi kamu. Aku enggak bisa bayangkan kalau Rafi juga akan mencelakaimu."


"Apapun itu, aku sulit memaafkan Rafi dan Sultan. Keduanya ingin sekali melenyapkanmu, aku yang menderita karena kehilanganmu."


"Iya, sayangku, Fira."


"Bisakah kita jangan bahas Rafi? Kita bahas tentang kita saja. Aku masih shock kejadian dua hari yang lalu itu."


"Ya, sudah, sekarang bisakah aku minta tolong sama kamu untuk panggil Lucky dan Lefia?"


"Memang kenapa manggil mereka?"


"Aku tahu kamu pasti penasaran kenapa Lucky bisa menemukanku. Benar, enggak?"


"Tahu aja sih, kamu."


"Hmm, tapi aku jadi senang loh waktu kamu manggil aku dengan sebutan Mas. Aku jadi pengen dipanggil Mas Henry sama istriku."


Fira tertawa kecil mendengar ucapan Henry. Ia memang ingat waktu ia bertemu dengan sosok pria yang hendak operasi wajah, ternyata itu adalah Henry. Fira pun pernah menyebut Henry dengan panggilan Mas, karena Fira waktu itu tidak tahu jika sosok pria itu adalah Henry.


"Coba panggil Mas Henry gitu. Soalnya kamu malu-malu kalau manggil aku sayang," kelakar Henry.


"Hmm, gimana, ya? Kan waktu itu aku enggak tahu kalau itu kamu," ucap Fira tersipu-sipu.

__ADS_1


"Enggak ada salahnya kan---kalau manggil kesayangan untuk suamimu ini."


Fira memutar bola matanya. "Mas Henry? Kayak gimana gitu, hehehe."


"Mentang-mentang aku ini tiga tahun lebih muda darimu. Suami brondong gitu, ya."


"Eng-enggak, enak aja. Aku tahu yang awet muda, hihihi."


Henry mencubit gemas hidung mancung istri tercintanya. "Iya-iya, istriku yang awet muda deh. Gih, panggilkan Lucky dan Lefia. Aku belum boleh teriak."


***


"Kok pada menatap saya kayak gitu? Saya kan jadi malu," kata Lucky.


"Malu itu kalau kamu berbuat salah. Lagian kamu udah menolong Pak Henry. Buruan jelasin kejadian kamu menemukan Pak Henry," desak Lefia.


"Saya malah ingat Mbak Lefia mengejek saya Lucky ducky, memangnya saya bebek apa?" Lucky mengerucut bibir.


"Nah, itu kalau kamu manyun jadi kayak bebek, hahaha."


"Lefia," tegur Fira.


Lefia menggaruk tengkuk. "Punten, Bu Fira, hehehe."


Sebelum menjelaskan tentang Lucky bisa menemukan Henry, Lucky terlebih dahulu berdiri tegap seraya menghela napas. Ia merasa grogi saat berhadapan dengan Henry dan Fira. Sementara Henry dan Fira saling menatap dan keheranan melihat Lucky. Lefia hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah Lucky.


"Jadi malam itu, waktu saya lagi hangout sama teman-teman band saya. Pas motor kami berhenti di pinggir jalan, dan di situ ada sungai. Saya sempat melihat ada tiga orang kayak lagi buang sampah, tapi kok kayak ada asapnya gitu. Maaf, saya kira itu sampah. Cuma ada kejanggalan dalam hati saya, kemudian saya dan teman-teman inisiatif untuk mencari tahu setelah tiga orang misterius itu pergi," terang Lucky.


"Kamu enggak lihat wajah tiga orang itu kayak gimana?" tanya Fira.


"Enggak, Bu. Soalnya wajah tiga orang itu ke tutup masker dan topi warna gelap lagi," jawab Lucky.


"Terus-terus."


"Nah, pas kami tiba di pinggir jalan, kami kaget, kok ada bungkus hitam sebesar badan manusia? Saya dan teman-teman gotong royong membuka bungkusan itu, ternyata benar isinya manusia. Ya, Pak Henry ini, tapi waktu itu saya tidak tahu jika beliau Pak Henry. Soalnya wajah Pak Henry terbakar di bagian kening, dagu dan dua pipi. Kami bergegas membawa Pak Henry ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan pertama kali," lanjut Lucky.


"Kenapa kamu enggak bilang ke saya kalau kamu nemu Henry?"


"Awalnya saya tidak mengenal wajah Pak Henry karena luka bakar itu. Jadi, saya bingung. Walaupun ada pemberitaan seorang pengusaha entertainment hilang, tapi saya belum tahu kalau Masnya itu Pak Henry. Ibu saya bilang Masnya ini akui sebagai Kakak saya. Saya tahu Pak Henry saat perban di wajahnya dilepas, dokter sempat melepas perban tapi sebentar karena pemulihan kulit wajah Pak Henry."


Ammar, James, Kim Jae Young dan Reza masuk ke kamar tersebut. Fira, Henry, Lefia dan Lucky tercengang dengan kehadiran mereka. Mata Kim Jae Young berkaca-kaca melihat rekan bisnisnya tepat di depan mata. Ia refleks memeluk Henry, hingga Henry sesak dibuatnya.


"Henry, bogo sipeoyo," ungkap Kim Jae Young dalam logat Korea. (Henry, aku rindu padamu.)


"Jae Young-ah, oraenmaniya," ucap Henry dalam logat Korea. (Ah, Jae Young, lama kita tidak berjumpa.)


Kim Jae Young melepas pelukan dari Henry. "Kamu tahu, selama Excellent Entertainment and Advertising tidak ada dirimu, semua merindukanmu. Para artis, aktor dan idol turut sedih atas kehilanganmu kemarin. Aku bersyukur kamu bisa dipertemukan kembali. Lekas sembuh, kawan!"


"Aku juga rindu kalian. Insyaallah, aku semangat supaya bisa sembuh dan beraktivitas seperti sedia kala."


"Saya turut bahagia karena Nyonya Fira bersatu kembali dengan Tuan Henry," tutur Ammar.


"Your wife is a loyal and great woman. You have to take care of it," ungkap James. (Istri Anda adalah wanita setia dan hebat. Anda harus menjaganya.)


"Thank you, Mr. Ammar and Mr. James is pleased to work with my wife on this conflict mission," ujar Henry. (Terima kasih Mr. Ammar dan Mr. James berkenan untuk bekerjasama dengan istri saya dalam misi konflik ini.)


"We are happy to work with your wife. We have already arrested the Sultan and three suspects. But if Rafi can't we hold it because he's still sick," jelas James. (Kami senang bekerjasama dengan istri Anda. Kami sudah menangkap Sultan dan tiga tersangka. Namun kalau Rafi belum bisa kami tahan karena masih sakit.)


Reza, pengacara andalan Henry berkata, "insyaallah, persidangan kasus ini tetap berjalan. Kami sudah menemukan banyak bukti dan saksi. Termasuk Lucky ditetapkan sebagai saksi."


Dengan tegas, Ammar berujar, "kami akan selalu di pihak Tuan Henry dan Nyonya Fira. Karena kasus ini menyangkut nyawa kalian, maka mereka harus membayar hukuman berat."


Henry lantas bersalaman dengan Ammar, James dan Reza sebagai ucapan terima kasih. Untuk sementara waktu, hanya menunggu Henry, Fira dan Rafi sembuh. Begitu ketiganya sudah sehat nantinya, akan di gelar persidangan kasus penculikan, rencana pembunuhan dan tindakan asusila di pengadilan Kanada.

__ADS_1


***


Kabar bahagia buat teman-teman yang setia mengikuti kisah Energy Of Love 2, insyaallah, sebentar lagi novel ini akan segera tamat. Sebagai bentuk apresiasi terhadap penulis Energy Of Love dengan like, vote, komentar dan rekomendasi novel ini ke orang-orang. Rekomendasi ke keluarga boleh, ke teman-teman boleh, ke sosial media kalian juga boleh. Baca Energy Of Love akan semakin seru kalau bacanya rame-rame.


__ADS_2